Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 54


__ADS_3

Di serambi masjid mereka duduk berdua. Di jam istirahat itu keduanya jadi serius berbicara. CEO muda dan asisten pribadinya itu kini saling bertukar pikiran. Dua orang itu adalah Sandro dan Dori.


Setelah menjalankan ibadah sholat dhuhur itu, Dori sang asisten pribadi Sandro duduk mendekati Sandro yang sejak tadi menunggu nya di serambi masjid sambil bermain dengan ponselnya.


"Mas Sandro yakin ingin menjadi mualaf dan belajar ilmu agama?" tanya Dori memastikan setelah obrolan panjang dan cerita dari Dori yang dulu nya juga menjadi mualaf.


Dori menjadi mualaf bukan karena ingin mengambil hati kekasihnya dulu yang beragama muslim. Atau supaya bisa menikah dengan kekasihnya. Namun Dori memutuskan memilih pindah keyakinan karena atas dasar kemauannya sendiri dan tanpa paksaan serta pengaruh siapapun. Tiba-tiba saja tidak ada angin dan badai, Sandro sang CEO muda itu mengatakan ingin belajar ilmu agama yang dianut oleh Dori.


"Aku sudah yakin sekali, Dori! Tekad ku sudah bulat! Kamu tahu dimana aku harus belajar ilmu agama dan menjadi mualaf," kata Sandro. Dori menyipitkan bola matanya menatap lekat laki-laki dengan perawakan tinggi besar itu.


"Masalah itu nanti akan saya antar pada ahlinya. Tetapi sekali lagi saya ingatkan pada mas Sandro. Masalah memeluk agama dan pindah agama tidak boleh ada paksaan dan juga karena suatu sebab yang mengharuskan mas Sandro harus berpindah agama. Contohnya gara-gara Mas Sandro sudah mencintai nona Zian, mas Sandro ingin mengikuti keyakinan dan kepercayaan non Zian. Ditambah mas Sandro ingin segera menikahi non Zian akhirnya mas Sandro ingin menghapus perbedaan itu dengan merubah status agama pada diri mas Sandro," ucap Dori.


"Sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik ingin belajar dan masuk dalam kepercayaan dan keyakinan itu. Ditambah aku sangat tertarik dengan wanita dan laki-laki yang berbondong-bondong mengenakan pakaian muslim masuk ke tempat peribadatan ini. Ketika aku mendengar bacaan kitab suci dan suara panggilan adzan, rasanya hatiku mulai bergetar hebat. Aku ingin menangis tapi aku juga bingung apa yang menjadi penyebab nya," cerita Sandro.


"Hati mas Sandro bergetar saat mendengar suara adzan dan lantunan ayat suci Al-Quran. Ini menandakan bahwa hati mas Sandro menyakini kebenaran dari firman Tuhan," jelas Dori.


"Benar! Sekarang aku tidak mau menunda-nunda nya lagi! Aku akan menjadi mualaf, Dori! Antar kan aku ke tempat yang kamu bilang ahlinya," ucap Sandro.


"Baiklah! Kalau ini sudah menjadi kemauan dan tekad mas Sandro. Tapi bagaimana dengan orang tua serta keluarga besar mas Sandro jika mengetahui mas Sandro menjadi mualaf?" tanya Dori.


"Mereka memiliki toleransi yang tinggi, Dori. Ditambah aku sudah sangat dewasa untuk menentukan jalan yang harus aku pilih. Selagi tujuannya baik, mereka akan mendukung ku. Kami sama-sama mempercayai adanya Tuhan dan tujuan utama adalah menjalankan perintah Nya dan menjauhi laranganNya. Itu yang utama," terang Sandro.


"Benar-benar beruntung mas Sandro memiliki keluarga yang memiliki toleransi beragama ya ng tinggi. Hidup di keluarga seperti itu serasa tinggal di surga Nya," ucap Dori.


"Kamu bicara seperti sudah pernah merasakan surga saja, hehehe," sahut Sandro.

__ADS_1


"Hehehe, tapi benar mas Sandro! Kalau saya berada di tengah-tengah keluarga mas Sandro rasanya begitu adem. Mami papi mas Sandro dan juga anggota keluarga besar yang lain begitu ramah dan baik. Suka menolong dan saling menghargai satu dengan yang lain. Keluarga mas Sandro sangat pantas dijadikan contoh dan tauladan bagi keluarga yang lain,' ucap Dori.


"Aamiin, aamiin! Sekarang lebih baik kita ketempat ahlinya saja yuk!" ajak Sandro.


"Semangat sekali mas Sandro! Baiklah! Mari mas Sandro! Alhamdulillah! Tapi kita mampir makan siang dulu mas! Perut saya sudah menuntut hak nya," kata Dori.Sandro tersenyum lebar sambil melihat ekspresi Dori yang kelaparan sambil memegangi perut nya.


"Oke, oke, ayo kita makan siang dulu! Di tempat biasa saja yah!" sahut Sandro seraya melangkah menuju tempat parkiran.


*****


Sandro sudah benar-benar menjadi mualaf dan mulai belajar mengerjakan ibadah yang wajib ia kerjakan. Walaupun belum hapal bacaan dalam gerakan sholat, Sandro tetap tidak menyerah walaupun dengan cara membaca bacaan nya yang ia tempel di dinding depan arah kiblat.


Setelah Sandro berikrar dihadapan ulama atau ustadz dan disaksikan oleh para saksi, Sandro mulai belajar kilat dengan pak ustadz. Setelah itu Sandro yang didampingi oleh Dori kembali ke kantor beberapa jam dan membagi-bagikan sedekah berupa nasi kotak ke semua karyawan.


"Aku balik dulu, Dori! Kamu urus semuanya yah di kantor! Aku akan pulang ke apartemen ku saja! Untuk sementara waktu aku akan pulang dulu ke apartemen. Aku masih belum siap untuk memberitahu kepada mami papi dan juga keluarga besar ku kalau aku sudah menjadi mualaf," ucap Sandro.


"Hem, nanti saja deh! Tapi aku akan mengirimkan makanan yang spesial untuk Zian untuk merayakan hari ini. Hari di mana aku seperti terlahir kembali," ucap Sandro.


"Selamat yah, mas Sandro! Semoga mas Sandro selalu istiqomah dan ditetapkan serta dimantapkan keimanan nya," kata Dori.


"Aamiin, terimakasih banyak Dori! Setelah ini aku nanti juga akan banyak belajar dari kamu juga," sahut Sandro.


*****


Di apartemen milik Sandro.

__ADS_1


"Kak Sandro! Kenapa kakak kirim banyak makanan ke rumahku dan ini juga ada beberapa pakaian Muslimah lagi. Pakaian Muslimah pemberian kak Sandro saja masih banyak yang belum aku pakai. Ini datang lagi yang baru," kata Zian melalui pesan suara di handphone nya.


"Tidak apa-apa sayang! Aku hari ini sangat bahagia dan seperti terlahir kembali. Dan busana muslim itu karena tadi dari salah satu karyawan butik menghubungi aku dan menawarkan model terbaru di butik nya. Akhirnya aku ambil saja. Sudah dicoba belum, busana muslim nya?" kata Sandro menerangkan.


"Belum dibuka kak! Tapi aku boleh tahu tidak kenapa kak Sandro bahagia dan merasa seperti terlahir kembali? Kasih tahu dong!" Ucap Zian.


"Hehehe, kasih tahu gak yah?" sahut Sandro.


"Kasih tahu dong, kak!" rengek Zian.


"Nanti saja deh, kalau kita ketemu lagi," kata Sandro.


"Baiklah! Kakak sudah makan?" tanya Zian.


"Sudah, tadi sama Dori! Kamu sudah sholat sayang?" Sandro balik nanya.


"Alhamdulillah sudah!" jawab Zian.


"Ya sudah, kalau begitu dimakan dulu makanan dari aku," kata Sandro.


"Hem, baiklah! Aku makan dulu yah kak!" ucap Zian.


"Iya, pelan-pelan saja makannya. Dan jangan lupa baca doa," ujar Sandro.


"Huum, kak Sandro!" sahut Zian.

__ADS_1


"See you, Zian!" kata Sandro.


"See you, kak Sandro!" sahut Zian.


__ADS_2