
Maya, yang baru saja merayakan kelulusannya, memutuskan untuk menghabiskan waktu beberapa minggu di desa kelahirannya sebelum kembali ke kota. Desa yang tenang dan damai memberinya kesempatan untuk bersantai dan menenangkan pikirannya setelah perjuangannya selama bertahun-tahun di kota.
Sementara itu, Rani dan Siska telah kembali ke kehidupan kota mereka yang sibuk. Mereka kembali kepada rutinitas kuliah, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari. Maya merasa sedikit kesepian tanpa kehadiran kedua sahabatnya, namun dia memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan prioritas masing-masing.
Di desa, Maya terlibat dalam banyak kegiatan lokal. Dia mengunjungi keluarga dan teman-teman lamanya, membantu di kebun dan sawah, serta terlibat dalam kegiatan komunitas. Maya merasa terhubung dengan akar dan identitasnya yang sesungguhnya, dan ini memberinya rasa kedamaian yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Setelah beberapa minggu berlalu, Maya memutuskan untuk kembali ke kota. Dia merasa segar dan siap menghadapi tantangan baru yang menantinya. Saat tiba di kota, Maya bertemu dengan Rani dan Siska untuk pertemuan yang lama ditunggu-tunggu.
Mereka bertukar cerita tentang pengalaman mereka selama berpisah, tertawa dan bercanda seperti dulu. Maya bercerita tentang masa-masa di desa yang menyenangkan, sementara Rani dan Siska menceritakan tentang kesibukan dan hal-hal menarik yang mereka temui di kota.
Dan di karenakan Maya belum memiliki tempat permanen untuk tinggal, saat ini ia tinggal sementara di apartemennya Rani. Meskipun perjalanan mereka berbeda, kebersamaan dan persahabatan mereka tetap kuat. Maya menyadari bahwa meskipun mereka berada di jalan yang berbeda, mereka selalu dapat mengandalkan dan saling mendukung satu sama lain. Mereka sepakat untuk terus membangun dan menjaga hubungan mereka yang berharga, meski hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.
Dalam kota yang ramai, Maya, Rani, dan Siska kembali bersama, memulai babak baru dalam kehidupan mereka dengan semangat, persahabatan yang kokoh, dan harapan untuk masa depan yang cerah.
**
Malam itu Maya duduk di atas tempat tidurnya, tangan gemetar saat mengetik pesan teks di ponselnya. Dia bernapas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum mengirim pesan penting ini kepada Melan, asisten pribadi CEO Trotoarts. Akhirnya, dengan hati yang berdebar-debar, ia menekan tombol kirim.
Maya mengetik melalui pesan Whatsapp. “Halo ibu Melan, ini Maya. Mohon maaf mengganggu malam-malam begini. Saya ingin mengonfirmasi bahwa hari Senin saya akan berkunjung ke kantor. Mohon bantuannya untuk memastikannya? Terima kasih.”
Beberapa saat kemudian, balasan dari Melan pun tiba.
Melan; “Halo Maya! Aku sudah menunggu kabar darimu. Jam 9 pagi saya tunggu di kantor. Apakah ada yang ingin di tanyakan seputar pertemuan ini?
Maya merasa lega mendapat konfirmasi dari Ibu Melan. Namun, ada satu hal yang ingin dia pastikan sebelum memulai perjalanan barunya di perusahaan tersebut.
__ADS_1
Maya; “Makasih bu. Saya hanya ingin mengetahui apakah ada persiapan khusus yang perlu saya lakukan sebelum pertemuan ini. Jika ada dokumen atau informasi yang harus saya siapkan, mohon beritahu saya. Saya ingin memastikan semuanya berjalan dengan lancar.”
Melan; “Semua dokumen mu sudah ada sama saya, kamu hanya perlu datang saja. Namun, saya juga ingin menekankan bahwa yang paling penting adalah Anda menjadi diri sendiri dan menunjukkan potensi Anda. Percayalah pada diri sendiri, dan semuanya akan berjalan baik.”
Maya tersenyum membaca pesan dukungan dari Melan. Dia merasa terinspirasi untuk menghadapi tantangan baru yang menantinya.
Maya; “Terima kasih atas dukungannya, Melan. Saya akan berusaha yang terbaik dan menunjukkan dedikasi saya di Trotoarts. Saya sangat bersemangat untuk memulai perjalanan baru ini.”
Melan; “Senang mendengarnya, Maya! Percayalah, Anda memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa. Saya yakin Anda akan sukses di Trotoarts. Jangan ragu untuk menghubungi saya jika ada hal lain yang perlu Anda diskusikan sebelum pertemuan. Semoga hari Senin nanti berjalan dengan lancar. Sukses untuk Anda!”
Maya tersenyum lebih lebar saat membaca pesan dukungan terakhir dari Melan. Dia merasa beruntung memiliki orang seperti Melan yang memberikan dukungan dan peduli terhadap kesuksesannya.
Maya; “Oh iya bu, aku sangat menghargainya hadiah kemarin dan terima kasih untuk itu, tapi sementara saya meninggalkan di rumah orang tua di desa!”
Maya; “Maaf bu, saya tidak bisa menyetir semenjak hadiah itu datang dan edi di Tarik kembali.”
Melan; “Ya ampun maya. Ok baik, edi dalam beberapa bulan ke depan akan membantumu.” Di seberang Melan memukul keningnya sendiri dan tersenyum lucu mendengar kepolosan maya mengungkapkan kekurangannya.
Maya; “Baik, terima kasih bu sampai jumpa hari senin”
Setelah mengirim pesan terakhir, Maya meletakkan ponselnya di samping tempat tidur. Dia merasa lega tapi sedikit malu dengan bersemangat ingin segera memulai perjalanan barunya di Trotoarts. Dalam hati, dia bertekad untuk memberikan yang terbaik dan membuktikan potensinya di perusahaan tersebut.
^^
Malam itu, setelah menerima pesan dari Maya, Melan professional segera mengambil inisiatif untuk mengatur segala sesuatunya agar semuanya berjalan lancar. Dia tahu betapa pentingnya momen ini bagi Maya, dan dia ingin membuatnya merasa istimewa setidaknya dia betah dengan pelayanan ini dan suatu hari nanti bisa menggantikan posisinya. Tanpa sepengetahuan Maya, Melan membuat beberapa pengaturan yang akan untuk semuanya berjalan lancar.
__ADS_1
Melan segera menghubungi Edi sopir yang dulu di tugaskan melayani maya saat PKL dulu, untuk segera ke rumah orang tua maya di desa untuk mengambil dan memastikan kesiapan mobil Audi A8 L yang merupakan hadiah kelulusan Maya dari perusahaan kemarin. Dia menjelaskan bahwa mobil tersebut harus diambil. Dan digunakan pada pagi berikutnya harus di parkirkan di depan apartemen Rani. Dan dalam beberapa bulan ke depan edi harus selalu sigap melayani maya kemana pun ia pergi sebagai sopir pribadi maya.
Dengan pikiran tenang, Melan mempersiapkan diri untuk tidur malam itu. Dia berharap bahwa kejutan pagi hari nanti akan membawa senyum dan kebahagiaan bagi Maya, dan memberikan awal yang baik untuk perjalanan barunya di Trotoarts.
**
Pagi-pagi buta, Edi sudah tiba di apartemen Rani dengan mobil yang telah disiapkan olehnya yaitu Audi A8 L nya. Kedatangannya yang cepat membuat Maya dan Rani terkejut dan bingung.
"Mornin', Maya, Rani," sapa Edi dengan ramah sambil tersenyum. "Maaf kalau tiba-tiba datang begini pagi-pagi. Mulai hari ini, saya akan menjadi sopir pribadi untuk Maya dan mobil yang di desa sudah ada di parkiran bawah apartemen."
Maya dan Rani saling pandang, tak habis pikir dengan kejutan ini. Rani bertanya dengan keheranan, "Ada apa ini?" sambil melirik ke maya dengan tatapan meminta jawaban.
Edi menjawab, "Oh maaf, Ini sesuai instruksi dari kantor. Jadi, saya akan mengantar kemana pun maya pergi setiap hari."
“Tapi kan bukan ini konsepnya, koq pagi ini sudah disini?” Kata maya kaget campur malu.
“Maksudmu” Tanya rani bingung.
“Semalam saya menghubungi ibu melan dan membuat janji di hari senin bertemu, dan juga curhat jika saya belum bisa menyetir dan hadiah mobilnya masih di rumah bapak” Ucap maya dengan muka yang memerah polos.
“Huh dasar, lain kali sikap polos mu itu harus di simpan sendiri, bikin panik orang aja” Kata Rani sambil melengos pergi ke dalam melanjutkan tidurnya.
Maya masih terbengong-bengong bego dengan kejadian ini dan melihat bokong rani menghilang. Tetapi di satu sisi dia juga merasa terharu dengan perhatian dan dukungan yang diberikan oleh Melan. "Terima kasih banyak, Edi. Dan terima kasih juga pada ibu Melan. Aku benar-benar tidak mengharapkan ini," ucap Maya dengan suara hangat.
“Tidak apa-apa ini sudah menjadi tugas saya, dan saya akan berada di bawah jika butuh sesuatu kontak saja, permisi.” Jawab edi dan segera meninggalkan maya yang masih bingung depan pintu, entah lanjut tidur atau jalan-jalan karena ini adalah hari sabtu dan Rani pun tidak kuliah.
__ADS_1