
Empat bulan kemudian.
Bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam telah tiba. Tahun ini adalah tahun pertama bagi Sandro menjalankan ibadah puasa ramadhan. Tentu saja Sandro sangat bersemangat untuk memulai belajar berpuasa. Namun sampai saat ini Sandro masih belum menyampaikan kepada orang tua nya serta keluarga besarnya bahwa dirinya sudah merubah keyakinan dan kepercayaan nya. Sandro masih belum berterus terang dan menyembunyikan semua itu.
Hari ini puasa pertama di bulan suci ramadhan di tahun ini. Sandro mulai menjalankan ibadah puasa setelah tadi malam, Sandro ke masjid mengikuti sholat taraweh berjamaah. Tadi malam Sandro sengaja mengajak Zian untuk pertama kalinya menjalankan sholat taraweh bersama di masjid agung di kota itu. Hingga sampai sahur, Sandro bersama dengan Zian di rumahnya, menunggu sampai sahur. Dan kebetulan Dori beserta istrinya mau diajak sama-sama menyambut bulan suci ramadhan dan sahur hari pertama di rumah Zian.
Setelah sholat subuh berjamaah, baru Sandro kembali pulang ke apartemen nya. Sedangkan Dori bersama dengan istrinya kembali pulang ke rumahnya.
Karena hari pertama puasa, Zian tidak masuk ke kantor. Mam papi nya memberikan libur pada Zian untuk bekerja. Sekarang Zian masih molor karena setelah sholat subuh berjamaah dan tadarusan bersama dengan Sandro di rumahnya, Zian kembali tidur lagi setelah Sandro, Dori beserta istrinya kembali pulang ke rumah masing-masing.
Suara ponsel Zian berbunyi. Zian segera mencari ponselnya berada dan langsung menyambarnya. Sambil menggeser ikon hijau di panggilan itu, Zian menerima panggilan suara dari mami nya.
"Halo sayang! Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan di tahun ini, sayang! Semoga bisa lancar satu bulan full deh!" ucap mami Juan di seberang sana.
"Terimakasih banyak, mami sayang! Tapi tidak mungkin bisa full,mami! Karena kepotong datang bulan..hehehe. Oh iya tadi baru saja pulang kak Sandro, Dori beserta istrinya setelah sholat subuh. Terus aku bobok lagi deh, mi!" kata Zian sambil memejamkan matanya.
"Oh ya? Wow pasti luar biasa sekali menyambut bulan suci ramadhan bersama sang kekasih. Coba kalian secepatnya menikah. Pasti lebih seru," ucap mami Juan.
"InsyaAllah, mami! Doakan secepatnya. Kak Sandro masih mencari waktu untuk berkata jujur dengan orang tua dan keluarga nya kalau kak Sandro sudah menjadi mualaf beberapa bulan ini," jelas Zian.
"Mami doakan keluarga besar Sandro lebih bijaksana seperti mami papi dulu.. hehehe," sahut mami Juan.
"Huum mami. Kalau ingat itu Zian jadi sedih dan terimakasih banyak untuk mami papi yang sebagai orang tua Zian memberikan kebebasan dalam memilih dan menentukan jalan hidup Zian," kata Zian.
"Ya sudah, semuanya sudah kita lewati, sayang! Oh iya, buka puasa untuk hari pertama nanti ke rumah mami yah, sayang! Ajak Sandro juga. Nanti mami buatin puding coklat kesukaan kamu, ya sayang!" ucap mami Juan sedikit meminta.
"Hem, nanti sore yah? Tadi sih belum ada pembicara mau buka puasa ke mana sih, mi! Baiklah aku akan menghubungi Sandro pagi ini dulu, supaya tidak buat janji dengan yang lain," sahut Zian.
"Nah, sekarang yah kamu hubungi Sandro. Dia kan banyak relasi. Mana tahu banyak undangan kunjung sana kunjung sini di acara buka puasa di berbagai tempat," kata mami Juan.
__ADS_1
"Baik mami! I miss you!" kata Zian.
"I miss you to, sayang!" sahut mami Juan. Panggilan suara itu terputus dan kini Zian mulai menghubungi Sandro untuk membuat janji kalau nanti sore ke rumah mami papi nya untuk buka puasa ramadhan di sana.
*****
"Kak Sandro, nanti sore ada jadwal tidak?" tanya Zian kepada Sandro saat panggilan suara keluar nya telah tersambung dengan nomer milik Sandro.
"Siang ini, aku ke rumah mami papi dulu, sayang! Di rumah ada arisan keluarga besar. Kamu mau ikut tidak?" jawab Sandro.
"Oh, begitu yah! Lain kali saja kak! Tidak enak kalau Zian datang ke rumah mami papi di waktu siang hari. Kita sedang berpuasa. Nanti mami papi malah tidak enak dengan Zian kalau mereka hendak makan-makan karena menghormati orang berpuasa," jelas Zian.
"Benar juga sih! Tapi kalau aku tidak apa-apa dong! Mami papi kan belum tahu kalau aku sedang puasa. Dan mereka juga tidak tahu kalau sekarang ini aku sudah menjadi seorang muslim," sahut Sandro.
"Iya, kakak tidak apa-apa ke rumah mami papi! Tapi kak Sandro jangan sampai lupa yah, kalau kak Sandro sedang berpuasa. Takutnya karena kak Sandro baru pertama kali puasa ramadhan, nanti lupa ikut makan-makan dan minum bersama. Lalu kalau mereka mengajak kak Sandro makan-makan bersama bagaimana kak Sandro akan menolak nya? Sedangkan mereka tidak tahu loh, kalau kak Sandro sudah menjadi orang Islam," ucap Zian panjang lebar.
"Eh, benar juga yah! Kalau begitu hari ini aku libur dulu tidak datang ke rumah mami papi acara arisan keluarga. Sebaiknya aku mencari alasan yang tepat dulu. Supaya mereka tidak kecewa kalau aku tidak datang hari ini," kata Sandro.
"Baiklah! Kalau begitu aku bilang ke mami papi kalau aku sedang jalan sama kamu saja," ucap Sandro.
"Kok, alasan nya itu sih kak?" protes Zian.
"Tidak apa-apa, dong! Mereka kan tahu kamu adalah pacar aku," sahut Sandro.
"Hem terserah kak Sandro saja deh! Oh iya kak! Baru saja mami menelpon aku dan mengundang kita buka puasa bersama di rumah hari ini. Kamu bisa tidak kak? Sore saja kita ke rumah mami papi nya kalau kakak Sandro tidak jadi ke rumah mami papi kak Sandro," kata Zian.
"Oke, baiklah nanti kita buka puasa pertama di rumah mami papi kamu. Setelah dari sana, ke rumah mami papi aku yah, Sayang!" ucap Sandro.
"Waduh itu waktu untuk sholat taraweh, kak Zian! Setelah itu tadarusan," kata Zian.
__ADS_1
"Oh iya, aku sampai lupa! Baiknya kita sholat taraweh ke mana Zian?" ucap Sandro.
"Ke masjid agung saja. Setelah buka puasa ke rumah mami papi ku dan sholat maghrib bersama, kita lanjut ke masjid agung untuk sholat taraweh di sana," kata Zian.
"Oke, siap!" sahut Sandro.
"Kak Sandro! Jangan lupa yah, kalau hari ini kak Sandro sedang puasa ramadhan. Entar lupa minum dan makan," kata Zian.
"Iya, Zian sayang! InsyaAllah tidak lupa dan selalu ingat. Karena sudah niat,' ucap Sandro.
" Ya sudah, kalau begitu Zian mau mandi dulu!" kata Zian.
"Iya, sampai ketemu sore nanti yah!" sahut Sandro.
"Huum!" ucap Zian.
*****
Sore itu Zian segera bersiap-siap karena akan pergi ke rumah mami papi nya. Zian sudah berdandan rapi dengan busana muslim yang senada warnanya. Busana muslim pemberian Sandro sangat cocok dengan warna kulit dan juga badan Zian yang masih langsing. Kini Zian tinggal menunggu Sandro yang akan datang menjemput dirinya.
Suara klakson mobil sudah terdengar. Mobil Sandro sudah datang dan masuk ke halaman rumah Zian. Zian segera keluar dari dalam kamarnya dan bergegas menyambut sang kekasih yang menjemput nya.
"Assalamu'alaikum, Zian! Weh sudah rapi rupanya. Aku pikir masih mandi atau dandan," sapa Sandro sambil turun dari mobilnya. Zian berdiri di depan teras rumahnya menyambut kedatangan Sandro yang kali ini berpenampilan mengenakan busana koko dengan warna yang sama dengan Zian.
"Wa'alaikum salam, kak Sandro! Kok warna baju kita sama sih?" ucap Zian. Sandro melihat kembali warna baju yang dia pakai ternyata sama dengan baju muslim yang dikenakan oleh Zian.
"Eh, benar! Kita sama milih warna bajunya. Berarti kita sehati kan? Padahal kita tidak saling janjian," sahut Sandro.
"Hehehe!" Zian terkekeh saja.
__ADS_1
"Sekarang saja kita berangkat ke rumah mami. papi yuk!" ajak Sandro.
"Ayok kita come on!" sahut Sandro.