Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 58


__ADS_3

"Papi! Sandro putra kita tadi ke rumah ini. Dia mengaku kalau dirinya sudah pindah keyakinan dan kepercayaan nya menjadi seorang mualaf," kata mami Natalia.


Papi Alexandria yang mendengar berita yang disampaikan oleh istrinya itu seketika menjadi terkejut. Ada amarah dan juga kekecewaan.


"Hebat sekali pacar Sandro! Dia sudah bisa mempengaruhi Sandro," tuduh papi Alexander.


"Sandro banyak berubah sekarang semenjak dia mengenal Zian ini. Aku secara pribadi suka kalau Sandro bersama Mayla. Dia wanita yang cantik, mandiri, dan satu kepercayaan dengan kita. Tapi sekarang Sandro sudah memilih dan memutuskan keyakinan nya. Kita sudah tidak berdaya lagi," kata mami Natalia.


"Aku akan mengancam Sandro untuk menarik aset, kuasa dalam memimpin perusahaan dan lain-lain nya. Aku ingin melihat seberapa kuat keimanan Sandro dalam meyakininya," ucap papi Sandro.


*****


Sandro kembali ke rumah kediaman utama papi mami nya untuk meminta maaf dan menyerahkan semua aset dan kuasa pimpinan perusahaan kepada papi nya.


Sandro duduk tertunduk di depan mami papi nya. Sandro tau kalau telah membuat kecewa kedua orang tua nya. Tatapan mata papi Alexander tajam kepada Sandro.


"Sombong sekali kamu, Sandro! Bahkan kamu sudah sangat siap menerima konsekuensi nya. Kamu rela menyerahkannya semua ini kepada mami papi. Dari kepemilikan perusahaan, kepemilikan hotel dan resort, kepemilikan penthouse, aku tidak menyangka semua ini karena wanita itu, bukan? Dia telah mempengaruhi kamu kan?" tuduh papi Alexander.


"Papi, jangan menyalahkan Zian dalam keputusan ku ini. Bukan dia yang membuat aku seperti ini dan memilih jalanku. Ini semua atas dasar kemauan ku sendiri, pi!" ucap Sandro.


(Tepuk tangan)


"Good, good, bagus Sandro! Sekarang kalau semua harta sudah kamu kembalikan kepada kami, lalu apa yang bisa kamu berikan kepada wanita itu untuk membahagiakan nya?" tanya papi Alexander.


"Aku pikir, Zian adalah Wanita yang bisa menerima semua nya. Aku akan mencari pekerjaan apapun itu yang penting halal pi!" kata Sandro.

__ADS_1


"Oke, aku ingin lihat! Seberapa besar cinta wanita itu kepada kamu! Sekarang aku tidak ingin melihat kamu lagi. Kamu sudah membuat hati papi hancur karena keputusan kamu. Papi sangat kecewa dengan kamu! Kamu yang sudah kami rawat sejak kecil sampai dewasa seperti ini. Akhirnya hanya bisa membuat hati kami kecewa," ucap papi Alexander.


"Maafkan Sandro, papi! Maafkan Sandro, mami! Maaf telah membuat hati mami papi kecewa dan bersedih. Tapi Sandro berjanji, hubungan orang tua dan anak kandung tetap Sandro tidak akan pernah aku lupakan. Walaupun mami papi sudah tidak menganggap aku sebagai anak lagi," ucap Sandro seraya bersimpuh di kaki papi mami nya.


Sandro meninggalkan kediaman rumah utama mami papi nya setelah menyerahkan semua kepemilikan yang diberikan oleh papi nya. Sandro sudah bertekad akan kembali memulainya dari awal. Bukankah harta ini adalah titipan Tuhan. Jika Tuhan sudah memintanya kembali kita tidak perlu bersedih hati dan merasa kehilangan.


*****


Di tempat kerja Zian. Sandro duduk lesu di ruangan itu. Zian berusaha menebak-nebak dengan semua yang telah terjadi. Zian masih berusaha fokus di depan laptop nya. Sedangkan Sandro duduk di kursi sofa dengan kepala disandarkan di kursi itu.


Setelah beberapa kerjaan sudah diselesaikan Zian, Zian duduk mendekati Sandro yang terlihat kacau.


"Kak Sandro! Ada apa?" tanya Zian. Sandro menatap wajah polos dan lugu milik Zian.


"Kakak Sandro, ayo cerita dengan ku! Apa yang sedang terjadi?" tanya Zian akhirnya.


"Zian, kita menikah yuk! Aku sekarang sudah bebas! Aku ingin secepatnya menghalalkan hubungan kita. Bagaimana? Kamu mau kan menikah dengan ku walaupun aku tidak memiliki apapun lagi?" ucap Sandro.


"Kak Sandro! Aku mau, kak Sandro!" sahut Zian.


"Tapi aku tidak bisa menikahi kamu tanpa pesta yang meriah, Zian! Bagaimana kalau aku bekerja dulu dan setelah berhasil aku akan memberikan kemewahan itu kepada kamu. Aku akan menjadikan kamu seperti seorang putri raja yang dilamar oleh seorang pangeran," ucap Sandro.


"Aku tidak perduli dengan itu semuanya, kak! Yang penting kita sudah halal dulu. Aku rela dan ikhlas kok tanpa pesta dan kemewahan seperti itu. Kita ijab kabul saja. Lagipula ini pernikahan ku yang kedua. Aku tidak mau pernikahan ku kali ini terlalu heboh. Lebih baik kita menikah sah secara hukum dan agama. Aku ingin kita bersama-sama beribadah di bulan suci ramadhan ini serta tahun ini kita bisa merayakan hari besar idul fitri dengan kemenangan," ucap Zian.


"Kamu yakin, kamu mau aku nikahi kamu tanpa adanya pesta dan semua hal kemewahan?" tanya Sandro. Zian mengangguk kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku ingin membicarakan semua ini kepada mami papi kamu dulu. Bolehkah aku menikahi kamu di saat aku tidak memiliki apapun. Setelah ini aku janji aku akan mencari pekerjaan dan menafkahi kamu, Zian!" kata Sandro.


"Kamu ingin bertemu mami papi sekarang?" tanya Zian.


"Iya! Aku akan menghadap mami papi ke ruangan kerjanya," ucap Sandro.


"Aku akan mendampingi kamu, kak Sandro!" sahut Zian.


"Ayolah! Aku sudah tidak sabar untuk menjadikan kamu istriku," kata Sandro. Zian tiba-tiba saja bersemu merah wajahnya mendengar ucapan Sandro.


*****


Di ruangan kerja papi Leo. Di sana juga ada mami Juan.


"Jadi seperti itu ceritanya?" tanya Papi Leo.


"Alangkah baiknya kamu jangan tergesa-gesa dulu, Nak Sandro! Aku yakin mereka hanya terkejut saja dengan semua jalan yang telah kamu pilih. Seperti yang sudah kami rasakan dulu ketika Zian tiba-tiba memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dan mengenakan pakaian hijab. Kami juga kecewa karena kami kecolongan. Sedangkan Zian adalah anak kami yang kami besarkan dari kecil," cerita Papi Leo.


"Jadi, alangkah baiknya kita tunggu saja sampai mami papi kamu tenang. Sambil menunggu kamu mendapatkan pekerjaan lagi. Kamu bisa bekerja di sini membantu papi, Nak Sandro! Bagaimana?" ucap Papi Leo. Sandro dan Zian saling berpandangan.


"Kenapa? Kalian sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan hubungan kalian sebagai suami istri? Sabar dulu dong! Kalian pasti akan segera menikah. Tetapi tunggu mami papi Sandro datang sendiri mencari Sandro. Aku rasa mereka hanya menguji kamu saja, nak Sandro! Aku yakin kalau pak Alexander orangnya sangat toleransi dan memiliki rasa pengertian yang begitu besar. Percaya dengan papi deh. Kita tunggu saja, cepat lambat Papi mami kamu akan mendatangi kamu atau menghubungi kamu kembali untuk datang ke rumah, hahaha," ucap papi Leo.


"Jadi mereka hanya menguji saya yah pi?" tanya Sandro.


"Bisa jadi seperti itu! Apa yang mereka rasakan itu sama persis dengan yang kami rasakan nak Sandro! Tapi akhirnya aku dan mami Zian mengikhlaskan Zian memilih jalannya sendiri waktu itu. Toh semua keyakinan dan kepercayaan itu tidak bisa dipaksakan," ucap papi Leo.

__ADS_1


"Semoga saja, papi mami Sandro seperti papi Leo dan mami Juan," gumam Sandro.


__ADS_2