Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 15


__ADS_3

Seusai menonton film, Genta mengajak Zian ke apartemen nya. Zian sebenarnya sudah menolak lantaran malam sudah semakin larut. Karena kondisi hujan deras dan petir, itulah yang menjadi alasan mengajak Zian mampir ke apartemen Genta. Padahal Genta saat mengajak malam mingguan membawa kendaraan beroda empat.


"Duduklah Zian! Aku akan buatkan minuman hangat untuk kamu! Oke?" ucap Genta ketika keduanya sudah berada di dalam apartemen itu.


"Heem, kamu tinggal di sini sendirian bang?" tanya Zian mengikuti Genta yang sedang membuat minuman untuk dirinya. Genta tersenyum menatap ke wajah Zian.


"Benar sekali! Habis calon istriku belum mau aku ajak tinggal bersama denganku jika kami belum resmi menikah," sahut Genta. Zian menyipitkan bola matanya.


"Kita belum halal, bang! Nanti kalau sudah halal aku mau kok diajak kemana saja dengan kamu," kata Zian. Genta tersenyum lebar dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ini minuman untuk kamu! Ayo kita duduk di kursi sofa saja," Ajak Genta.

__ADS_1


"Baiklah! Setelah habis aku meminumnya, kamu harus secepatnya mengantarkan aku pulang yah, bang! Aku takut mami papi mencemaskan kita lantaran jam segini aku belum pulang," kata Zian.


"Aku rasa kedua orang kamu sudah mempercayai aku, Zian! Buktinya mami papi kamu tidak mencoba menghubungi aku menyuruhku mengantarkan kamu kembali ke rumah," kata Genta.


"Hem, apakah sedemikian percaya nya pada kamu, bang?" sahut Zian.


"Kita ini masih berpacaran. Kita belum menikah dan menjadi suami istri. Duduk berdua-dua seperti ini yang ketiga akan ada setan. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan," ucap Zian. Zian semakin gugup ketika kembali Genta meraih pergelangan tangan Zian dan meremasnya. Tiba-tiba Zian merasakan gelenyar aneh menjalar di tubuhnya. Padahal ini baru dipegang tangannya. Bagaimana kalau yang lain?


"Zian, bolehkah aku mencium bibir kamu, sayang? Sebentar saja!? " ucap Genta dengan pandangan penuh nikmat.


"Hem, abang sudah tidak sabar menunggu lagi setelah kita menikah?" tanya Zian.

__ADS_1


"Hanya ciuman saja kok, masa tidak dikasih sih!" protes Genta.


"Ya sudah! Tapi sebentar saja yah, bang!" kata Zian akhirnya menutup kedua matanya.


Genta tersenyum melihat bibir Zian yang benar-benar membuat jantung nya berirama lebih kencang. Genta mendekatkan bibir nya dengan bibir Zian hingga akhirnya menempel sudah. Rasanya begitu manis dan dingin. Genta ingin lebih lama memainkan bibir itu. Semakin lama Genta tidak melepaskan ciuman itu. Padahal Zian tidak membalas ciuman itu dan hanya menerima nya. Mata Zian membulat sempurna ketika Genta semakin lama semakin menyesap bibirnya tanpa ampun. Zian berusaha mendorong tubuh Genta dan menjauhkan dirinya pada Genta. Namun tangan Genta sudah mengunci tubuh mungil Zian.


"Hmmmmp, bang Genta! Lepaskan!?" Zian meronta. Namun Genta semakin menjadi dan bahkan tangannya sudah sangat nakal menjelajahi bagian-bagian terdalam Zian. Zian sudah gemetaran antara rasa takut dan merasakan sensasi aneh ditubuh nya. Hingga akhir nya Genta mendorong pelan, Zian hingga terbaring di atas kursi sofa.


"Jangan takut, Zian! Aku akan menikahi kamu!" ucap Genta sambil melepaskan kaos oblong yang ia kenakan.


Di apartemen dengan dingin ber AC itu Genta nekat membuat Zian sah menjadi seorang wanita. Seorang wanita yang sudah merasakan hubungan badan dengan lawan jenisnya. Kedua sudut mata Zian menetes kristal bening air matanya. Zian tidak menyangka jika Genta akan melakukan itu sebelum menikahi dirinya dan halal. Kecewa tentu saja yang dirasakan oleh Zian. Kenapa seorang Genta yang memiliki ilmu agama yang lebih daripada dirinya melanggar ajaran agama. Penyesalan hanya tinggal penyesalan saja yang sudah dirasakan oleh Zian. Kenapa sepulang dari nonton film, Zian mau diajak singgah ke apartemen milik Genta. Jika tidak? Zian dan Genta tidak akan penasaran ingin melakukan tindakan yang seharusnya mereka lakukan nanti setelah menikah.

__ADS_1


"Jangan menangis dong, sayang! Maafkan aku sayang! Semua karena aku sudah tidak bisa menahan diriku untuk melakukan ini dengan kamu. Jangan khawatir, Zian! Setelah ini aku akan menikahi kamu! Secepatnya! Oke? Tersenyum dong! Jangan menangis!" kata Genta berusaha menghibur kekasihnya. Akhirnya Zian tersenyum dengan hati yang terpaksa.


__ADS_2