
"Mami papi, kenalkan ini Zian! Zian ini mami papi ku," ucap Sandro.
Zian dan Sandro kini sudah berada di rumah utama keluarga besar Sandro. Di rumah utama keluarga besar Sandro masih berkumpul anggota keluarga besar dari keluarga mami maupun keluarga besar papi Sandro. Sehingga di rumah itu ramai dengan canda tawa dan gelak tawa. Zian seketika melongo melihat penampilan mami Sandro dan beberapa saudara wanita Sandro yang saat ini berpenampilan memakai kalung dengan lambang salip.
Zian sekilas melihat ruangan di rumah utama Sandro yang ramai dan meriah dengan pohon natal. Ada patung yang merupakan lambang dari agama tertentu serta beberapa yang menunjukkan bahwa mereka memiliki keyakinan dan kepercayaan suatu agama tertentu.
Mami papi dan juga Alexa melihat Zian dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penampilan Zian menunjukkan suatu keyakinan tertentu. Namun mami papi serta Alexa terlihat sangat terbuka dan ramah tanpa membedakan seseorang dari penampilan maupun identitas.
"Duduk dulu nak! Ayo cerita dengan kami, bagaimana bisa mengenal dan bertemu dengan Alexa Sandro. Padahal dia itu dikenal sangat sulit dekat dengan seorang wanita," kata mami Natalia.
"Benar! Putra kami ini sebenarnya bukan karena tidak laku atau wanita-wanita tidak banyak yang menyukai nya. Namun Sandro ini sangat dingin terhadap seorang wanita. Tapi ini kok bisa sekarang membawa adik dan sudah berani mengenalkan pada kami," kata papi Alexander.
"Papi, mami, jangan dikerjain Zian loh, nanti tidak mau diajak kemari lagi loh," ucap Sandro. Zian hanya bisa tersenyum ramah dan menunjukkan senyumannya yang manis.
"Mami papi, ini Zian bawain kue-kue buat mami. Katanya untuk calon mertua," kata Sandro. Zian seketika merona wajahnya mendengar Sandro menyampaikan dengan bahasa seperti candaan nya tadi.
"Eh, wah kok repot-repot sih sayang! Kamu datang kemari saja kami sudah sangat senang kok. Kita merayakan Natal dengan penuh rasa cinta dan damai. Benarkah begitu pi?" kata mami Natalia.
"Iya, benar! Bagaimana kalau kita makan dulu bersama-sama. Sandro ajak Zian makan yuk!" ucap papi Alexander.
"Ayo kak Zian! Jangan malu-malu!" ajak Alexa sambil menarik tangan Zian.
__ADS_1
"Eh, iya!" gumam Zian seraya melihat ke arah Sandro yang masih duduk di dekat papi mami nya.
Alexa mengajak makan Zian menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja panjang. Beberapa anggota keluarga masih duduk mengobrol santai sambil menikmati kebersamaan mereka di hari bahagia penuh cinta.
"Kak Zian! Kakak ini kok bisa kenal dan dekat dengan kakak Sandro, bagaimana ceritanya?" tanya Alexa. Dia sebenarnya sudah tahu dari cerita kakaknya sendiri. Namun dia hanya berusaha lebih dekat dengan Zian supaya memancing Zian untuk bercerita dengan dirinya.
"Hem, panjang cerita nya Alexa! Nanti kamu tanya saja dengan kakak Sandro saja deh," jawab Zian yang seperti nya sudah malas berada di sana. Hal itu tertangkap oleh Alexa.
"Kak, ayo cicipi makanan di atas meja ini. Kakak Zian mau yang mana?" tawar Alexa ramah.
"Sebenarnya aku masih kenyang dek. Hem, aku ambil pusing coklat vla ini saja deh," kata Zian berusaha menghormati Alexa karena sudah mengajaknya menikmati makanan di sana.
Sementara di tempat duduk yang lain Sandro diberondong pertanyaan oleh mami papi nya. Namun Sandro berusaha tetap tenang dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.
"Sandro, mami juga sangat terkejut kamu mengenalkan Zian kepada kami. Kamu hanya menganggap Zian sebagai teman saja kan? Kamu tidak serius untuk menikahi nya bukan?" tanya Mami Natalia.
"Mami papi, sebenarnya aku sudah mantap memilih Zian sebagai istri ku, pendamping hidupku. Tapi aku juga masih bingung dengan keputusan ku ini. Menurut papi mami bagaimana? Aku dan Zian tidak mungkin bisa bersama kalau di antara kami berbeda. Bukankah itu yang dimaksud oleh mami papi kan? Tapi aku sudah terlanjur mencintai Zian. Mungkin Zian juga sama halnya, menyukai aku. Bagaimana, aku harus memutuskan semuanya ini?" ucap Sandro.
"Hem, ternyata kamu pun juga masih bimbang! Ya sudahlah, semua nya terserah kamu yang menjalani nya. Dan kalian berdua lah yang harus memikirkan hal besar ini. Aku dan mami kamu tidak lagi membuat kamu pusing. Jalan masih panjang dan kalian sudah dewasa untuk memutuskan segalanya. Yang pasti kalian harus sama jika ingin bersatu. Namun mami papi berharap, kamu jangan mengecewakan mami papi. Karena sejak kecil kamu dibesarkan oleh kami dalam keluarga ini dengan keyakinan dan kepercayaan kita," ucap Papi Alexander.
"Semoga Tuhan memberkati kamu dan melindungi kamu dalam setiap langkahmu, nak! Mami papi hanya bisa berdoa untuk kamu supaya ditetapkan dalam keimanan ini," sahut mami Natalia.
__ADS_1
"Mami papi terimakasih untuk pengertian nya. Segala keputusan yang akan Sandro tentukan tidak akan didasari oleh paksaan," ucap Sandro.
"Kami mengerti Sandro, sayang!" ucap mami Natalia seraya memeluk putra nya itu.
"Mami papi aku akan menemani Zian dulu," kata Sandro akhirnya.
*****
Setelah berpamitan, Zian segera meninggalkan kediaman rumah utama keluarga Alexander. Kini Zian dan Sandro sudah di dalam mobil. Keduanya masih sama-sama diam dan Sandro belum berbicara satu katapun. Hingga sampai di rumah Zian, Zian langsung masuk ke dalam rumah tanpa mempersilahkan Sandro. Namun Sandro tetap mengikuti Zian masuk ke dalam rumah itu.
"Zian, beri aku waktu untuk berbicara dengan kamu," kata Sandro. Zian menghentikan langkah kakinya dan kini memilih duduk di kursi ruang tamu. Zian siap mendengar semua yang akan dikatakan oleh Sandro terhadap dirinya.
"Aku minta maaf, Zian! Bukannya aku bermaksud ingin membohongi kamu. Namun aku hanya butuh waktu untuk menyampaikan semuanya kepada kamu," kata Sandro.
"Tanpa aku bercerita dan menjelaskan semuanya, kamu sudah bisa menebaknya bukan? Sebenarnya aku dan keluarga adalah berbeda server dengan kamu, Zian! Tapi apakah salah jika aku mencintaimu walaupun kita berbeda?" ucap Sandro.
"Aku menyukai kamu dari pandangan pertama saat kamu menabrak aku di toko bakery dulu. Setelah itu aku berusaha ingin mengetahui kamu dan ingin dekat dengan kamu. Jujur aku memang menyukai wanita berhijab. Itu sejak dulu, aku sungguh-sungguh menyukai wanita yang tertutup. Maaf jika aku selama ini tidak berkata jujur kepada kamu. Apalagi saat kamu menyuruh ku untuk beribadah sholat jumat, dan aku tetap mengikuti apa kata kamu. Namun sejatinya aku tidak melaksanakan ibadah itu. Namun aku pergi ke mall. Aku hanya takut jika kamu mengetahui kenyataannya bahwa aku dan kamu berbeda, kamu akan menjauhi aku. Aku takut Zian," jelas Sandro.
"Tapi aku sudah terlanjur mencintai kamu, Zian!" tambah Sandro.
"Tapi kamu membohongi aku, kak Sandro! Kenapa harus bohong?" Aku tidak suka laki-laki yang suka berbohong!" ucap Zian.
__ADS_1
"Karena aku takut, Zian! Takut kamu menjauh dari aku. Aku takut kamu tidak mau dekat dengan aku. Karena kita berbeda," sahut Sandro.