
"Jadi kamu yang namanya Miska itu?" tanya nyonya Desi ketus.
"Benar tante! Kenapa tante? Apakah bang Genta sering cerita tentang saya dengan tante?" sahut Miska. Nyonya Desi tersenyum sinis.
"Oh, tidak, tidak! Aku hanya mendengar cerita tentang kamu dari Fauzi. Genta mana suka cerita-cerita tentang wanita lain kalau tidak cerita soal Zian istrinya. Genta itu hanya menyukai istrinya saja. Jika dia dikejar-kejar wanita lain itu sudah dari masa lajangnya dulu," cerita nyonya Desi. Miska tersenyum saja, dia tidak memahami sindiran dari nyonya Desi.
Nyonya Desi memperhatikan Miska. Gerak-geriknya sangat mencurigakan sekali. Dia terlihat sering memperhatikan dan mencuri pandang ke arah taman kecil di belakang rumah dekat dapur. Di sana ada Genta sedang bersama dengan Fauzi memanggang ikan. Nyonya Desi tidak salah lagi dalam menduga kalau wanita yang saat ini di dekatnya menyukai Genta.
"Ehem!" nyonya Desi berdehem saat melihat Miska senyum-senyum sendiri ketika melihat Genta yang memanggang ikan sambil bercanda dengan Fauzi.
"Eh, ada apa tante? Mau saya ambilkan minum?" sahut Miska yang melihat nyonya Desi yang tiba-tiba berdehem.
"Tidak ada! Jadi kamu menyukai putraku, Genta? Sejak kapan? Apakah kamu tidak tahu kalau putraku sudah memiliki istri dan berumah tangga? Apakah kamu suka merusak rumah tangga orang?" rentetan pertanyaan nyonya Desi sangat memojokkan Miska. Miska tidak bisa menjawab. Sesaat lamanya Miska terdiam.
"Maaf tante, saya tidak seperti itu tante. Saya.. saya.. saya," ucap Miska tidak bisa bicara. Disaat bersamaan Genta mendatangi mama nya.
"Mama! Ayo kita makan bersama-sama!?" ajak Genta yang sudah siap memanggang ikan.
Genta dan Fauzi menyiapkan ikan yang sudah di bakar tadi di meja makan. Pembantu di rumah itu pun ikut menyiapkan makanan dan minuman yang lainnya di atas meja makan.
"Kami mau makan. Aku akan makan bersama-sama anak-anak ku. Kamu ikut bergabung?" tawar nyonya Desi.
Sebenarnya sudah terlihat malas dengan kedatangan Miska di rumah itu. Entah kenapa? Yang jelas naluri seorang ibu melihat kalau gelagatnya Miska tidak baik dan mencoba mendekati putranya yang sudah berumah tangga itu. Sebagai seorang mama, nyonya Desi tidak menghendaki rumah tangga anak nya berantakan hanya karena pengkhianatan dan perselingkuhan.
__ADS_1
Dengan tanpa sungkan Miska mengikuti langkah nyonya Miska duduk di ruang makan bersama dengan Genta dan juga Fauzi. Pak Fendy kebetulan masih ada urusan di kantor sehingga tidak ada di rumah itu.
"Silahkan Miska dicicipi ikan bakar nya!" kata Genta terkesan memberikan perhatian.
"Eh, iya! Terimakasih Genta!" sahut Miska.
"Setelah makan dan kenyang lebih baik kamu pulang!" sambung Fauzi yang masih menunjukkan tidak suka dengan kedatangan Miska.
"Eh???" Miska tentu saja terkejut. Rasanya juga ingin marah tapi ada nyonya Desi dan juga Genta. Dia harus menunjukkan sikap hormat dan sopan kepada keluarga Genta.
"Dik! Jangan begitu dong! Miska datang kemari kan ingin bermain dengan kamu! Masak kamu bersikap begitu dengan teman kamu!" protes Genta. Miska yang merasa dibela oleh Genta pura-pura tidak enak gara-gara dirinya adik dan kakak menjadi tidak sepaham.
"Oh, iya Genta! Nanti kamu bawakan ikan bakar untuk Zian istri kamu yah! Kenapa juga tadi kamu ke rumah mama tidak mengajak Zian sih?" ucap nyonya Desi.
"Wah semoga setelah ini ada kabar baik dari Zian. Zian segera hamil dan mengandung anak kamu," sahut nyonya Desi.
"Aamiin! Tapi ini periksa ke dokter kandungan bukan karena Zian telat kok, ma! Tapi memastikan kalau Zian rahimnya tidak bermasalah dan semua alat reproduksinya bagus. Dokter kandungan akan memberikan solusi yang baik untuk kami supaya bisa secepatnya mendapatkan keturunan," urai Genta.
"Iya, itu tidak masalah! Mama berharap setelah ini kalian bisa segera memberikan mama cucu yang lucu. Oh iya, bagaimana kalau weekend nanti kalian berlibur di puncak villa. Anggap saja kalian berbulan madu. Mungkin kalian perlu suasana baru untuk proses membuatkan cucu untuk mama," kata nyonya Desi sesekali matanya melirik ke arah Miska. Ada kecemburuan di wajah Miska yang hanya nyonya Desi saja yang paling paham itu.
"Hem, nanti saya sampaikan ke Zian dulu mau apa tidak dengan acara liburan weekend nanti," sahut Genta.
"Pasti Zian mau, bang! Tapi ingat, ini liburan hanya kalian berdua saja loh! Jangan mengajak yang lain," sambung Fauzi. Mata Fauzi melihat ke arah Miska. Kini kata Miska melotot tajam ke arah Fauzi.
__ADS_1
"Hem, maaf tante! Saya permisi pulang dulu!" ucap Miska tiba-tiba. Dada nya menahan sesak dan amarah. Sejak tadi dia merasa tidak diterima dengan baik di keluarga Genta.
"Loh, kok terburu-buru sih Miska! Makanan kamu belum habis tuh!" sahut Genta yang ikut berdiri dari kursinya.
"Tidak apa-apa bang! Saya pulang dulu!?" ucap Miska dan dengan cepat menyambar tasnya.
Genta melihat Fauzi dan mama nya saling bergantian. Keduanya mengangkat kedua bahu mereka.
"Aku juga ikut balik ma!" kata Genta.
"Eh, Genta! Tunggu dulu! Mama siapkan ikan buat Zian dulu!?" nyonya Desi menahan langkah Genta yang seperti hendak menyusul Miska. Sedangkan Miska sudah berjalan cepat meninggalkan rumah itu.
Suara deru mobil Miska terdengar dari dalam rumah. Fauzi dan mama Desi pura-pura tidak perduli. Genta tentu saja sadar kalau mama dan juga adik nya bersikap ketus dengan Miska.
"Ini ikan bakar buat istri kamu, Genta! Dan ini brownis kukus yang mama beli semalam. Salam buat Zian yah! Ingat, weekend nanti kalian harus ke villa untuk liburan," kata nyonya Desi.
"Iya, mama! Terimakasih!" sahut Genta mencium pipi kanan dan kiri putranya itu.
"Genta! Apapun yang terjadi, mama hanya ingin cucu dari istri kamu Zian! Kamu jangan menyakiti dan mengkhianati istri kamu! Banyak godaan dan ujian sebagai seorang suami diluar sana. Kamu harus kuat dan jangan mudah tergoda! Pada dasarnya rasa syukur itulah dan niat untuk setia lah yang menjadikan rumah tangga akan langgeng dan awet. Selain saling menghargai sesama pasangan," kata nyonya Desi.
"Baik, mama! Aku akan selalu mengingat nasihat mama!" sahut Genta.
"Genta, anakku! Kamu laki-laki yang tampan dan sudah mengalami jatuh dalam membangun bisnis. Sekarang sudah bisa bangkit kembali karena apa? Karena istri kamu mendukung kamu saat kamu jatuh! Jadi ingat itu! Zian wanita yang baik. Jangan sia-sia kan wanita seperti Zian, Dia sudah soleha, nurut dengan suami dan tidak aneh-aneh," kata nyonya Desi.
__ADS_1
"Tuh, denger bang! Zian adalah sahabat ku! Kalau abang menyakiti Zian sama juga menyakiti aku!?" sambung Fauzi. Genta spontan mengacak-ngacak rambut Fauzi.