Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 38


__ADS_3

Langkah kaki lebar kini berjalan mendekati ruangan mami Juan. Dia adalah Genta dengan penampilan nya yang rapi datang ke kantor. Genta tahu kalau saat ini istrinya sedang di ruangan mami Juan. Walaupun Genta sudah melakukan kesalahan tetapi Genta tidak mau bercerai dengan Zian. Dia masih menyayangi istrinya walaupun pengkhianat itu nyata ia lakukan.


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pintu itu terdengar dan wangi parfum Genta sudah sangat dihapal ditelinga Zian.


"Bang Genta!" panggil lirih Zian. Mami Juan menatap menantu nya itu dengan tatapan tidak suka. Namun dirinya tetap menjaga wibawa dan tetap menjadi seorang mertua.


"Duduk lah Genta! Mami ingin bicara dengan kalian berdua," perintah mami Juan pada menantunya itu. Genta duduk di samping Zian. Namun sebelumnya Genta mengulurkan tangannya memberi tangannya pada istrinya itu. Zian masih menerima tangan itu dan selayaknya istri, Zian mencium punggung tangan Genta. Sorot mata mami Juan kini melihat ke arah putri nya dan juga menantu nya itu saling bergantian.


"Genta! Mami di sini sebagai orang tua tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Sekarang apa yang akan kamu putuskan setelah kejadian ini. Zian bahwasanya sudah mengetahui kalau kamu sudah mengkhianati dirinya," kata mami Juan.


"Mami, sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya nya telah mengecewakan mami papi dan juga Zian. Namun dari lubuk hati yang paling terdalam, saya masih sangat menyayangi Zian. Terlepas saya sudah berbuat jahat dan berselingkuh dengan wanita lain. Namun saya akui bahwa semua yang saya lakukan adalah kekhilafan dan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan lagi. Namun saya minta, beri satu kali kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini," ucap Genta.


Sebagai pemimpin yang pernah mengurus perusahaan nya sendiri dan sudah terbiasa dengan diplomatik, tentu saja Genta sudah sangat pandai berkata-kata.


"Mami di sini tidak bisa memutuskan. Ini rumah tangga kalian. Namun jujur mami sudah sangat kecewa dengan kamu. Tapi semua mami kembalikan pada Zian, apakah mau memaafkan kamu dan memberikan. kesempatan itu pada kamu. Rumah tangga kalian akan kalian pertahankan atau kalian sudahi. Namun yang jelas, apakah wanita ketiga dalam pernikahan kalian itu tidak akan kembali mengganggu kalian lagi. Apakah kamu bisa memastikan kalau kamu tidak akan berhubungan kembali dengan wanita itu, Genta? Bahkan kamu tidak satu, dua kali berhubungan dengan wanita itu, bukan?" kata mami Juan.


"Saya janji tidak akan berhubungan dengan wanita itu lagi, Mi! Saya ingin rumah tangga saya tetap bertahan dan saya tidak menginginkan perceraian itu terjadi. Maafkan aku Zian! Aku salah! Aku akan memperbaiki semuanya," kata Genta.


"Bagaimana, Zian?" sahut mami Juan.

__ADS_1


"Bang Genta! Aku sudah memaafkan kamu, bang! Namun seperti nya aku tidak bisa jika harus bersama dengan kamu lagi bang. Aku menuntut perceraian itu. Dan tolong abang jangan mempersulit semuanya karena bagaimana pun aku sudah tidak bisa menerima abang lagi sebagai suami Zian," kata Zian.


"Tapi Zian! Apakah kamu sangat membenci aku setelah apa yang aku lakukan? Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Zian! Tolong aku, Zian! Aku menyesal. Benar-benar menyesal dengan semua yang sudah aku lakukan terhadap kamu," ucap Genta.


"Maaf, bang Genta! Aku tidak bisa jika harus melanjutkan hubungan suami istri ini," ucap Zian tegas.


Buliran air mata itu kini jatuh dari sudut mata Genta. Dia benar-benar menyesal. Dia tidak ingin bercerai dengan Zian. Mami Juan yang melihat serta memperhatikan Zian dan juga Genta menjadi sedih. Walaupun bagaimana pun manusia tempat nya salah. Namun dalam hati kecil mami Juan juga tidak menghendaki perceraian itu terjadi. Tetapi kalau sudah mengingat pengkhianat itu, mami Juan merasa marah dan seperti nya sangat mendukung jika Putri nya berpisah dari Genta.


"Tolong aku, mami! Aku tidak ingin bercerai dengan Zian! Aku salah! Aku akan memperbaiki semuanya," ucap Genta seperti anak kecil. Mami Juan diam kini matanya tertuju pada Zian.


"Zian, kamu yakin dengan keputusan kamu untuk berpisah dengan Genta?" kembali mami Juan bertanya.


"Tekad ku sudah bulat, mami! Maaf jika keputusan ini akan menyakiti kalian semua dan keluarga besar kamu bang," ucap Zian.


"Zian! Zian sayang!" panggil Genta lirih.


Kabar perceraian antara Genta dengan Zian sudah sampai di telinga Mariah dan juga Fauzi. Keluarga besar Genta sangat menyayangkan keputusan perceraian itu. Apalagi Fauzi yang sangat sedih mendengarnya. Namun dia dan juga mama nya sangat paham kalau bang nya lah yang bersalah dalam hal ini.


"Mama, aku tahu semua ini gara-gara wanita itu! Miska telah menggoda bang Genta sehingga perselingkuhan ini terjadi," kata Fauzi.


"Semua sudah terjadi, Fauzi! Dan Zian tidak mau memberikan kesempatan pada abang kamu untuk memperbaiki hubungan mereka," sahut mama Desi.


"Benar, ma! Tapi aku sangat menyayangkan perceraian itu akan benar-benar terjadi. Padahal aku sangat tahu kalau bang Genta sangat mencintai Zian. Demikian juga Zian. Aku tahu bang Genta tidak benar-benar mencintai Miska. Bang Genta hanya mengikuti hawa nafsu nya saja," nilai Fauzi.


"Cinta dan nafsu hanya terpisahkan oleh benang yang sangat tipis, Fauzi! Cinta tanpa nafsu akan hambar demikian juga nafsu tanpa cinta seperti masakan tanpa garam, tidak ada rasa," sahut mama Desi.

__ADS_1


"Aku akan mendatangi Zian. Siapa tahu Zian akan merubah keputusan nya untuk menuntut cerai dengan bang Genta," kata Fauzi yang segera menyambar tas nya dan berdiri dari tempat duduk nya.


"Hai, mau kemana kamu Fauzi?" tanya mama Desi.


"Ke tempat Zian, mama!" jawab Fauzi.


"Apakah kamu melupakan sesuatu kalau hendak pergi?" kata mama Desi.


"Eh, iya! Aku pergi dulu ma!" ucap Fauzi sambil bersalaman dengan mama nya.


"Hati-hati di jalan, Fauzi! Tapi ingat! Bagaimana pun kamu tidak boleh memaksakan kehendak kamu pada sahabat kamu itu. Titip salam buat Zian yah!" kata mama Desi.


"Baik ma!" sahut Fauzi.


Betapa kejamnya masalah memperlakukan kita, berdamai lah dengan keadaan tanpa terus menerus mengingat kesalahan. Memaafkan lebih baik daripada mendendam.


"Zian! Kamu di mana? Aku akan ke rumah kamu sekarang!" kata Fauzi setelah sambungan telepon nya terhubung dengan nomor Zian.


"Hem, aku lagi di kantor Fauzi! Tapi sebentar lagi aku meluncur pulang ke rumah kok," ucap Zian di seberang sana.


"Oke, aku tunggu kamu kok kalau aku lebih duluan sampai di rumah kamu. Oh iya, kamu mau aku belikan apa? Kita makan-makan dulu sebelum ngobrol panjang di rumah kamu nanti," kata Fauzi.


"Tidak perlu repot-repot Fauzi. Nanti biar aku saja yang membelikan makanan buat kamu," sahut Zian.


"Tidak, tidak aku akan membelikan iga bakar kesukaan kamu deh," ucap Fauzi.

__ADS_1


"Oke, aku juga akan membelikan kamu ketoprak kesukaan kamu yah," sahut Zian. Keduanya terkekeh karena masing-masing ingat makanan favorit satu sama yang lain.


__ADS_2