Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 6


__ADS_3

Pagi itu, Zian sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Demikian juga halnya dengan pak Leo yang hendak pergi ke kantor nya. Duduk lengkap di ruang makan itu ada bu Juan serta bibi Retno diajak duduk bersama, sarapan pagi saat itu. Bibi Retno tentu saja menjadi merasa canggung diajak makan bersama dengan majikannya. Sedari tadi Bibi Retno belum berani menyentuh makanan yang sudah tersaji di atas meja tersebut. Memang tadi pagi-pagi sekali, bu Juan sudah bangun mendahului Bibi Retno dan tentu saja Zian yang sudah bangun di dalam kamarnya. Bu Juan membuat makanan untuk sarapan pagi bersama. Hanya nasi uduk atau nasi gurih dengan ayam goreng serta nugget daging sapi serta ditambah sambal udang membuat sarapan menu pagi itu terlihat mewah. Zian terlihat lahap memakan sarapan pagi itu.


"Bibi Retno, ayo ambil nasi uduk dan juga ayamnya! Ini masakan mami ku yang paling lezat loh!" kata Zian sambil menikmati ayam goreng dengan dicocol kan sambal. Mami Juan mengambil mangkok sambal yang sudah ada di dekat Zian dan menjauhkan nya dari Zian. Zian yang melihat mami nya menjauhkan sambal kesukaannya itu hanya bisa meringis saja. Bibi Retno akhirnya dengan malu-malu mulai mengambil nasi uduk dan ayam goreng buatan majikannya.


"Masih terlalu pagi, jangan banyak makan pedas!" larang mami Juan. Zian paling suka sambal dan menjadi lupa diri kalau sudah ada sambal kesukaan nya. Apalagi sambal terasi.


Mami Juan melihat ke arah suaminya, pak Leo yang sedari tadi masih belum bicara mengenai hal serius tentang semalam yang dibicarakan oleh mami dan papi Zian. Mami Juan memberikan kode kepada pak Leo agar segera membahas masalah kemarin itu. Masalah yang bagi mami Juan dan pak Leo masalah penting namun sangat sensitif.


"Sepertinya, papi harus berangkat ke kantor dulu! Zian, nanti sore usahakan sampai di rumah lebih awal yah, nak! Jangan mampir-mampir atau bermain ke tempat kawan atau teman kamu. Papi mau bicara serius dengan kamu. Oke?" kata Pak Leo akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya dan berbicara masalah serius itu dengan Zian. Mami Juan melebar matanya. Sebenarnya mami Juan sudah tidak sabar ingin membicarakan semua nya dengan putrinya. Namun karena keputusan suaminya menundanya nanti sore, mau tidak mau akhirnya mami Juan ikut saja apa kata suaminya.


"Hem, sore yah pi? Bagaimana kalau malam saja, pi! Zian harus ke tempat Mariah mengerjakan tugas kuliah secara bersama, soalnya besok sudah dikumpulkan tugasnya. Gimana, pi!" sahut Zian.


"Oke, baiklah!" ucap Pak Leo akhirnya.


"Ya sudah! Kamu mau diantar papi atau naik motor sendiri?" tawar Pak Leo.


"Hem, berangkat sendiri saja pi! Biar Zian naik motor saja ke kampus," ucap Zian.


"Oke, kalau begitu! Papi berangkat dulu!" kata Pak Leo. Bu Juan segera berdiri dan bersalaman dengan suaminya.


"Hati-hati di jalan, papi!" ucap mami Juan.


"Mami papi, Zian juga berangkat kuliah," kata Zian ikut berpamitan dengan mami papi nya.


Papi Leo dan juga Zian kini keluar rumah itu. Sekarang menyisakan Bibi Retno dan juga mami Juan yang kini masih di ruangan makan.

__ADS_1


"Bibi Retno! Sebenarnya tadi kami ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Bibi Retno juga. Namun karena Pak Leo menundanya nanti malam, ya sudahlah!" kata bu Juan. Bibi Retno menyimak dengan serius ucapan nyonya majikannya.


"Perihal apa yah, nyonya?" sahut Bibi Retno.


"Itu loh, soal Zian. Apakah benar Zian sudah masuk agama seperti agama yang Bibi anut. Jika memang Zian sudah memutuskan dan menyakini pilihan nya itu, aku dan juga Pak Leo tidak akan lagi melarang nya," jelas mami Juan.


"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," sahut Bibi Retno ikut senang dan lega mendengar ucapan dari nyonya majikannya.


Di kampus.


Zian mencari-cari keberadaan Mariah. Tentu saja Zian akan bercerita panjang lebar mengenai masalah yang sedang Zian hadapi. Praduga dan sangkaan Zian dari papi mami nya mengenai dirinya yang telah ketahuan melakukan ibadah sholat subuh saat itu. Memang setelah itu mami papi tidak lagi membahas nya. Namun Zian sempat mendapatkan hukuman tidak jadi ikut berlibur ke luar negeri karena papi mami nya yang kecewa terhadap Zian karena diam-diam Zian sudah meyakini salah satu agama di negeri ini.


Zian kini masuk ke ruangan di mana ruangan itu nanti akan digunakan untuk kuliah paginya di mata kuliah yang Zian ambil. Di ruangan itu masih belum menemukan sosok gadis yang Zian cari yaitu Mariah. Zian memilih duduk di sudut kanan paling belakang. Di depannya ada Fauzi yang juga teman akrab Zian.


"Tumben Mariah belum terlihat barang hidungnya, yah!" kata Zian.


"Mungkin saja! Semoga Mariah dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apa," kata Zian akhirnya.


"Aamiin!" sahut Fauzi. Namun tiba-tiba saja suara panggilan dengan suara melengking terdengar dari pintu masuk ruangan itu.


"Zian!! Fauzi! Hay... who are you today?" teriak Mariah dengan gaya cerianya. Dua bola mata Zian dan juga Fauzi langsung tertuju pada gadis dengan hijau pasmina di kepalanya itu.


Mariah cantik, dan juga tipe gadis yang ceria. Walaupun mengenakan hijab modern ala pasmina yang kekinian, namun bukan berarti Mariah tidak tahu adab atau perilaku seorang muslimah.


Mariah mendekati teman akrabnya Zian dan juga Fauzi. Ada bangku kosong yang sengaja disiapkan oleh Fauzi. Jika ada temannya mau menduduki nya, Fauzi akan bilang kalau bangku tersebut sudah ada yang menempati. Mereka pikir kamar kost?

__ADS_1


"Kamu membawa apa Mariah?" tanya Fauzi yang melihat kotak makanan lalu di ambilkan dan dibagikan Masing-masing kepada Zian dan juga Fauzi.


"Ini ulangtahun bunda aku, say. Oh iya, do'akan bundaku selalu sehat wal afiat, murah rejekinya dan selalu menjadi bunda dan istri yang sholeh," kata Mariah.


"Aamiin! Wah terimakasih banyak Mariah! Aku pikir kamu terlambat karena apaan, ternyata bunda kamu sedang berulang tahun hari ini. Jadi pasti kamu sejak subuh sangat repot bikin nasi kotak ini yah?" kata Zian. Mariah tersenyum saja.


"Benar! Kamu mencari aku sejak tadi? Ada apa?" sahut Mariah.


"Iya, tapi nanti saja deh setelah mata kuliah ini selesai sambil makan nasi kotak nya," kata Zian. Fauzi ikut menyimak dan mulai penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Zian.


Fauzi sudah tahu kalau Zian sudah menjadi mualaf. Saat itu bersama Mariah dan juga Fauzi, Zian dikenalkan kepada pak kyai dan di masjid agung itulah beberapa ulama telah mengesahkan dan menjadi saksi kalau Zian mengikrarkan dua kalimat syahadat.


Mata kuliah pagi itu segera dimulai ketika seorang dosen telah masuk ke dalam ruangan itu. Zian, Fauzi dan juga Mariah mengikuti mata kuliah itu dengan serius tanpa ada canda lagi.


🦋🦋🦋🦋🦋


Setelah usai kuliah pagi, Fauzi, Zian dan Mariah duduk di bangku taman di kampus fakultas nya. Ketiga nya sambil menikmati nasi kotak yang tadi dibawakan oleh Mariah. Dengan lahap ke-tiga nya makan di taman kampus itu. Setelah usai menikmati makanan nya ketiga nya mencuci tangan dan mulai duduk santai di taman itu sambil menunggu jam kuliah kedua mereka yang akan mereka ambil.


"Jadi mami papi kamu sudah tahu, Zian? Kalau kamu sudah memilih dan memeluk agama seperti kami?" tanya Mariah. Zian mengangguk kan kepalanya.


"Benar! Memang reaksi pertama mereka saat itu sangat marah. Tapi setelah itu belum ada pembahasan lagi. Aku masih bisa melakukan ibadah sholat di dalam kamar. Walaupun kamarku telah aku kunci. Tapi aku yakin mereka pasti sudah tahu kalau aku tetap bersikeras dengan keputusan aku ini," terang Zian.


"Tapi nanti malam papi ku mau berbicara dengan aku. Aku pikir nanti Malam lah pembahasan ini akan terjadi. Bagaimana pun ini sudah keputusan aku. Jika papi mami ku marah, aku sudah siap menghadapi segala nya. Jika pun aku diusir dari rumah itu dianggap anak yang membangkang, aku sudah akan terima," kata Zian dengan segala praduga nya. Mariah mengusap pundak Zian.


"Pintu rumahku terbuka lebar untuk kamu, Zian! Jika. kamu benar-benar diusir dari rumah kedua orang tua kamu," sahut Mariah akhirnya.

__ADS_1


"Rumahku juga, Say! Kamu boleh tinggal di rumahku kok! Apalagi di rumahku saat ini asisten rumah tangga lagi pulang kampung," ucap Fauzi. Zian dan Mariah mencubit pipi Fauzi dengan gemasnya. Ke-tiga nya tertawa ria setelah nya. Obrolan mereka akan penuh kegembiraan jika mereka saling kompak dan saling menyayangi. Zian akan berasa bersama dengan saudara sendiri ketika sudah bersama Fauzi dengan Mariah.


__ADS_2