
Zian segera meluncur pulang menuju ke kediamannya. Namun sebelumnya Zian membeli sesuatu untuk bisa di makan bersama dengan Fauzi. Zian akan mampir ke tukang ketoprak yang biasa mangkal di pinggir jalan. Bagi Zian, ketoprak nya sangat enak dan cocok di lidah. Selain itu Zian akan mampir ke supermarket untuk membeli minuman kemasan dan juga cemilan. Fauzi, adik dari Genta sangat suka ngemil seperti dirinya kalau sedang mengobrol.
"Ketoprak dan makanan ringan sudah terbeli. Cuaca panas seperti ini kok jadi pingin salad buah yah. Hem, di toko bakery seperti nya juga ada salad buah. Lebih baik aku ke toko kue saja sekalian aku mau beli bolu di sana," gumam Zian.
Zian segera masuk ke parkiran toko bakery untuk memarkirkan mobilnya. Setelah nya Zian turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam toko kue tersebut. Zian mulai memilih-milih kue yang dijual di sana serta mencari salad buah yang diinginkan Zian. Karena Zian melihat beberapa puding dengan rasa yang berbeda-beda, Zian mengambil juga puding dengan segala varian.
Karena asyik memilih beberapa makanan yang menarik mata Zian, Zian sampai menabrak seseorang hingga nampan yang berisi roti-roti yang sudah dibungkus milik seseorang yang ditabrak itu berhamburan jatuh di lantai. Zian menjadi panik.
"Eh, maaf! Saya tidak sengaja menabrak anda!" ucap Zian lirih. Segera Zian meletakkan nampannya sendiri yang berisi kue, puding, salad buah yang sudah di kemas. Kini Zian mulai mengambil roti-roti milik seseorang yang jatuh itu. Beruntung semua barang yang dibeli oleh orang itu semua nya adalah roti-roti yang sudah dibungkus plastik. Jadi kalaupun jatuh tidak kotor dan masih higienis.
Zian meletakkan kembali roti-roti itu di atas nampan, lalu memberikan nya pada seseorang yang ditabraknya.
"Maaf, ini roti-roti yang Anda beli. Maaf saya tadi tidak sengaja menabrak anda sehingga jatuh semua barang-barang yang akan anda beli," ucap Zian. Sesaat orang tersebut menatap wajah Zian tanpa berkedip. Seolah sangat terpesona dengan kecantikan Zian.
"Bang! Ini barang-barang anda! Hem jika abang tidak mau biar saya yang membelinya karena roti-roti ini semua nya jatuh di lantai," ucap Zian yang membuyarkan lamunan seseorang itu.
"Eh, tidak perlu! Ini masih bersih dan higienis kok! Biar aku bayar dan tetap membelinya," sahut seseorang itu dengan jenis kelamin laki-laki. Dia berperawakan tinggi besar datang sendirian di toko bakery.
"Oh begitu yah! Terimakasih kalau abang tidak mempermasalahkan nya," sahut Zian.
"Kalau begitu, saya permisi dulu! Saya sudah harus membayar makanan yang sudah saya ambil," kata Zian lalu berbaris di antrian untuk membayar kue, puding, salad dan juga roti yang telah Zian ambil. Laki-laki itupun mengikuti Zian baris di antrian untuk membayar roti-roti nya.
"Kamu beli banyak makanan, untuk siapa?" tanya laki-laki itu yang berbaris di belakang Zian.
"Eh, abang! Untuk saya dan juga nanti ada teman yang akan datang ke rumah," jelas Zian.
"Oh, begitu!" sahut laki-laki itu.
"Abang juga beli banyak, apakah untuk istri dan anak-anak abang juga?" tanya Zian. Laki-laki itu mengerutkan dahinya ketika Zian menganggap dirinya membeli roti-roti itu untuk istri dan anak-anaknya.
"Eh? Aku kebetulan belum menikah, nona!" ucap laki-laki itu.
"Oh iya, namaku Alex sandro! Kamu bisa memanggilku dengan Sandro!" tambah laki-laki itu yang memperkenalkan dirinya dengan nama Alex Sandro.
__ADS_1
"Oke. Saya bayar dulu ke kasir makanan saya ini," ucap Zian lirih sambil meletakkan nampan yang berisi makanan yang sudah diambil nya.
Setelah selesai membayarnya, Zian segera keluar dan menuju ke parkiran di mana mobilnya terparkir di sana. Namun sebelum Zian masuk ke dalam mobil itu laki-laki yang bernama Alek Sandro itu menyusul Zian.
"Ini roti-roti buat kamu saja! Anggap saja buat perkenalan. Kalau boleh tahu, aku harus memanggil kamu apa?" tanya Sandro.
"Zian! Panggil saja Zian!?" jawab Zian.
"Oke, semoga kita bisa berjumpa lagi. Ini roti-roti nya diterima," kata Sandro lalu dengan cepat meninggalkan Zian yang masih berdiri mematung dengan membawa dua kantong plastik berisi belanjaan kue yang dia beli dan satu lagi roti-roti yang di beri oleh laki-laki yang baru dikenal oleh Zian.
"Siapa sih laki-laki itu? Baru juga kenal dekat sudah kasih roti-roti sebanyak ini," gumam Zian.
Zian segera masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mobilnya. Zian segera menjalankan mobilnya kembali pulang ke rumah nya.
Namun tanpa sepengetahuan Zian, di belakang mobil Zian ada satu unit mobil mewah mengikuti nya dengan pelan. Mobil itu berwarna putih milik laki-laki yang baru saja berkenalan dengan Zian. Dia adalah Alexa Sandro.
Sandro sangat penasaran dengan Zian. Selain cantik, Zian memiliki aura yang bersinar terang. Hal ini membuat Sandro ingin tahu lebih jauh dengan kehidupan Zian.
"Semoga wanita itu belum menikah dan belum memiliki suami. Seandainya saja! Aku akan memastikan kalau wanita itu masih single dan belum berkeluarga," gumam Sandro sambil tersenyum-senyum saat mengingat kejadian di toko bakery tadi yang tanpa sengaja Zian menabraknya hingga roti-roti nya yang akan dibeli jatuh semua di lantai.
"Jadi ini rumahnya, yah? Jangan-jangan wanita itu sudah menikah," gumam Sandro yang tiba-tiba saja lemas badan nya. Namun saat Zian turun dari dalam mobil nya dan membawa beberapa tas plastik belanjaannya, Zian disambut oleh seorang wanita dengan sangat ceria.
"Halo Zian! Assalamu'alaikum! Aku sudah menunggu kamu lama banget loh. Kamu baru datang," protes Fauzi.
"Maaf, tadi aku banyak mampir-mampir. Dan ini hasil mampir-mampir nya," kata Zian sambil menunjukkan beberapa kantong plastik yang berisi makanan yang beraneka jenis.
"Astaghfirullah, banyak sekali sih kamu belanjanya, Zian!" sahut Fauzi.
"Ini ada yang kasih orang! Nanti aku ceritain deh!" kata Zian. Fauzi menyipitkan bola matanya.
"Pasti cowok yah?" tebak Fauzi. Zian tersenyum saja.
"Ayo masuk! Kita makan-makan dulu!" ajak Zian. Fauzi mengikuti langkah Zian di belakangnya. Sedangkan Sandro menatap kedua wanita itu dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sepertinya aku bisa mendekati wanita anggun dan berjilbab itu," gumam Sandro. Sandro menatap hasil jepretan foto Zian saat bersama dengan Fauzi yang sempat lama bicara di luar rumah. Di ponsel mewah itu, Sandro memandangi wajah Zian dan mengedit nya.
"Semoga saja ada jodoh diantara aku dan wanita itu untuk bertemu lagi," gumam Sandro.Dengan senyuman yang lebar, Sandro kembali memutar mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
*****
Di dalam rumah, Zian menyiapkan semuanya untuk makan bersama dengan Fauzi.
"Ayo kita makan dulu Fauzi! Oh iya, kamu benar-benar sudah lama menunggu aku yah?" ucap Zian sambil memberikan satu porsi ketoprak itu pada Fauzi. Sedangkan Zian sendiri menikmati iga bakar yang dibawakan oleh Fauzi.
"Memangnya aku suka berbohong? Kamu lama banget sih? Ayo cerita, sebenernya ngapain aja kamu selain mampir beli makanan ini semua nya?" tanya Fauzi ingin tahu.
"Ini roti-roti pemberian seorang laki-laki yang bernama Sandro! Dia orang yang aku tabrak saat aku milih-milih kue di toko bakery," cerita Fauzi.
"Itu saja? Tidak menarik! Hem, tapi lumayan tampan juga sih!" sahut Fauzi.
"Ngomong-ngomong iga bakar ini selalu saja bikin nagih loh Fauzi," ucap Zian.
"Demikian juga ketoprak yang kamu beli ini juga tidak kalah enaknya. Kamu beli di mana, Zian?" tanya Fauzi.
"Beli di pinggir jalan kok! Enak yah?" jawab Zian. Fauzi melebar matanya.
"Aku pikir kamu membelinya di restoran mewah," kata Fauzi.
"Tidak semua makanan enak harus kita beli dan dapatkan di restoran mewah, Fauzi. Nyatanya aku beli ketoprak gerobak di pinggir jalan juga tidak kalah lezat dan bumbunya lengkap," kata Zian.
"Oke deh!" sahut Fauzi.
"Zian, kedatangan ku kemari sebenarnya aku ingin memohon kepada kamu," ucap Fauzi. Zian seketika menyipitkan bola matanya.
"Kenapa? Soal perceraian aku dengan bang Genta? Kalau soal itu, maaf Fauzi! Aku tidak bisa merubah keputusan aku," kata Zian.
Beberapa lama keduanya diam larut dalam pikiran masing-masing. Tentu saja Fauzi tidak bisa memaksakan diri untuk merubah segala keputusan Zian.
__ADS_1
"Fauzi, kamu harus cobain ini deh! Ini salad buah untuk cuci mulut nya," ucap Zian berusaha mencairkan suasananya kembali.
"Heem, Zian! Nanti aku akan cobain semuanya makanan ini," sahut Fauzi dengan tersenyum yang dipaksakan.