
Suara azan subuh berkumandang, Zian masih terbuang dari tidurnya. Suara ketukan pintu kamar Zian terdengar disertai dengan panggilan nama Zian. Suara itu adalah suara mami Juan yang ingin membangunkan putrinya. Zian dengan cepat terbangun dan turun dari atas peraduan nya. Pintu kamarnya pun telah dibukanya pelan. Didapati senyum mami Juan lebar menatap putrinya yang masih baru saja bangun.
"Mami!" ucap Zian seraya kembali lagi naik di atas peraduan hendak tidur kembali.
"Hai, putri mami sayang! Ayo bangun dong sayang! Apakah kamu tidak sholat subuh?" ucap mami Juan seraya membelai rambutnya Zian yang lurus. Zian duduk dan menatap ke arah mami Juan.
"Heem, mami! Tapi masih ngantuk, mami!" ucap Zian manja.
"Katanya mau jadi muslim yang taat beribadah. Ayo bangun dan cuci muka kamu, sayang!" ucap mami Juan.
Walaupun mami Juan belum memeluk agama seperti agama yang dipilih oleh Zian, mami Juan ingin putrinya harus konsekuen mengikuti perintah agama dengan mendirikan dan menunaikan sholat wajib. Bagaimana pun ini terasa berat bagi Zian karena ini masih awal dia menjadi mualaf.
"Terimakasih mami! Kalau begitu Zian ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri dan juga gosok gigi," ucap Zian bergegas bangkit dari duduknya. Mami Juan menatap putri nya dengan penuh kasih sayang. Senyuman lebarnya tersungging dari kedua sudut bibir nya.
"Semoga Zian bisa istiqomah dalam menjalankan ibadah sesuai ajaran dari agama yang telah dipilihnya," gumam Mami Juan.. Mami. Juan segera beranjak dari kamar Zian dan keluar dari sana. Langkah kaki nya mulai menuruni anak tangga kembali ke kamar utama di mana Pak Leo masih tertidur di dalam kamarnya.
"Besok pagi aku akan memberikan hadiah kepada Zian alat sholat dan juga baju muslimah yang cocok dengan Zian," gumam mami Juan.
"Zian seperti nya akan terlihat cantik dan Anggun jika mengenakan pakaian Muslimah seperti gamis dengan hijabnya. Banyak model-model baju muslimah yang tidak kalah keren dan kekinian. Zian pasti akan menyukai nya," pikir mami Juan.
Mami Juan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Seperti biasanya mami Juan akan menyiapkan sarapan pagi untuk pak Leo suaminya dan juga Zian. Walaupun di rumahnya sudah ada asisten rumah tangga, namun mami Juan sudah terbiasa memasak makanan dan menyiapkan sarapan untuk suami dan juga putri nya.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1
Setelah mandi di waktu subuh itu, mami Juan segera ke dapur untuk mempersiapkan segala sesuatu nya. Mami Juan ingin membuat makanan untuk sarapan pagi. Rencananya adalah membuat nasi gurih dengan ayam goreng dengan sambal ati kentang..
"Nanti kalau Zian dan pak Leo mau membawa ke tempat kerja dan ke kampus, bisa aku siapkan bekal untuk mereka," pikir Mami Juan dengan tersenyum lebar.
"Bibi Retno sudah sholat subuh?" tanya mami Juan ketika bibi Retno mendekati dirinya dan membantu pekerjaannya.
"Sudah nyonya!" sahut bibi Retno. Mami Juan tersenyum senang mendengar nya.
"Syukur lah! Oh iya, bibi Retno! Zian juga sudah menjadi seorang mualaf. Tolong dibantu dan dibimbing yah, bibi. Zian mungkin saja masih awam untuk paham agama itu. Bibi Retno tahu sendiri, aku dan juga pak Leo tidak mengetahui agama yang dianut dan dipilih oleh Zian," ucap mami Juan. Bibi Retno tersenyum senang mendengar nya.
"Bibi Retno sudah sholat subuh?" tanya mami Juan ketika bibi Retno mendekati dirinya dan membantu pekerjaannya.
"Sudah nyonya!" sahut bibi Retno. Mami Juan tersenyum senang mendengar nya.
"Syukur lah! Oh iya, bibi Retno! Zian juga sudah menjadi seorang mualaf. Tolong dibantu dan dibimbing yah, bibi. Zian mungkin saja masih awam untuk paham agama itu. Bibi Retno tahu sendiri, aku dan juga pak Leo tidak mengetahui agama yang dianut dan dipilih oleh Zian," ucap mami Juan. Bibi Retno tersenyum senang mendengar nya.
Mami Juan menyiapkan semua hasil masakan nya di atas meja makan. Selama hampir satu jam sudah kelar semua bahan-bahan mentah yang tadi disiapkan dan berubah menjadi masakan yang sudah siap untuk dimakan.
Pak Leo dan juga Zian berjalan beriringan menuruni anak tangga. Entah bagaimana cerita nya kedua nya bisa bersama-sama keluar dari kamar dan berjalan bersama menuruni anak tangga itu menuju ke ruangan makan. Di ruang makan sudah duduk menunggu mami Juan. Dengan senyuman lebar mami Juan melihat dua orang kesayangannya berjalan mendekati dirinya.
"Selamat pagi mami cantik!" ucap Zian seraya mencium pipi kanan dan kiri mami Juan. Mami Juan pun menyambut nya dengan hangat.
"Wangi! Kamu sudah mandi kah Zian, sayang?" tanya mami Juan.
__ADS_1
"Sudah dong!" sahut Zian seraya menggeser tempat duduknya ke belakang dan menduduki nya.
"Selamat pagi istriku yang cantik!" ucap Pak Leo sambil mendekat istrinya yang duduk di ruang makan lebih dahulu. Pak Leo mencium lembut pipi kanan dan kiri istrinya itu. Mami Juan tersenyum hangat mendapatkan perlakuan manis dari Pak Leo. Pak Leo lalu menggeser kursi duduk di sebelah mami Juan lalu menduduki nya. Mami Juan mengambilkan makanan untuk suami tercintanya. Sedangkan Zian terlihat masih memainkan ponselnya.
"Sudah cukup, mami! Jangan banyak-banyak. Soalnya nanti ada acara ketemuan dengan klien di kafe, pasti di sana nanti papi harus makan lagi," terang Pak Leo.
"Jadi, mami tidak perlu membawakan bekal papi ke kantor nih?" sahut mami Juan dengan cemberut. Papi menyipitkan bola matanya.
"Hem, boleh saja kalau mami mau menyiapkan bekal untuk papi. Nanti bisa papi makan juga kok," ucap Pak Leo berusaha membuat senang dan tidak ingin membuat istrinya kecewa.
"Zian juga mau kok bawa bekal ke kampus," sahut Zian sambil mengambil makanan yang sudah tersaji di depan meja tempat duduknya.
"Wow, ini pasti sangat enak masakan mami! Apalagi mami memasaknya dengan penuh kasih sayang," puji Zian yang membuat mami Juan menjulurkan lidahnya. Zian memang sangat pandai mengambil hati mami nya dan juga papi nya.
"Oh, iya Zian! Kamu nanti selesai kuliah dan pulang ke rumah jam berapa, sayang?" tanya mami Juan.
"Hem, hari ini cuma empat SKS saja, mami! Dan hanya dua mata kuliah yang Zian ikuti hari ini. Namun setelah itu rencana Zian mau jalan bersama Mariah dan juga Fauzi ke mall. Ada barang yang ingin Zian beli," terang Zian.
"Oh, iya? Ke mall mana? Mami boleh menyusul tidak sayang?" tanya mami Juan.
"Mall yang biasa kita jalan dan shoping, mami! Nanti mami menunggu saja di kafe tempat kita membeli kopi," kata Zian.
"Baiklah, nanti mami akan menyusul kalian deh," sahut mami Juan. Pak Leo yang duduk di sana hanya menjadi pendengar setia saja.
__ADS_1