Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 16


__ADS_3

Flasback off.


Zian menangis tersedu-sedu mendengar makian yang dilontarkan oleh suami nya pada dirinya. Selama mengenal Genta, Zian belum satu kali pun ia mendengar ucapan kasar pada Genta pada dirinya. Tapi sekarang? Apa yang Zian dengar membuat shock dan sakit hati. Entah masalah apa yang membuat Genta menjadi tertekan hingga Zian menjadi sasaran amukan kemarahan nya.


"Dasar istri tidak berguna! Gara-gara kamu aku selalu mengalami kesialan dan tidak beruntung. Keluarga kamu yang kafir itu bikin seret langkah ku. Aku benar-benar menyesal telah menikahi kamu yang memiliki keluarga tidak memiliki agama dan tidak pernah percaya dengan adanya Tuhan. Sekarang apa? Dengan menikah dengan kamu, walaupun kamu sudah ikut memeluk agama seperti aku, tapi kamu bikin beban dengan ku. Urusan bisnisku selalu mengalami kerugian terus menerus dan bahkan kita sudah beberapa tahun tidak juga memiliki keturunan," ucapan suami Zian, Genta yang membuat Zian semakin terisak-isak.


Hati Zian sangat sakit hati ketika Genta harus mengungkit dan kembali menyangkut pautkan segala masalah kehidupan rumah tangga nya dengan kedua orang tua Zian yang tidak memiliki agama.


"Jangan nangis! Kamu itu kalau di bilangin bisa nya hanya nangis, nangis dan nangis saja! Sekarang, buatkan aku kopi! Pusing aku dengan masalah perusahaan yang kacau," perintah Genta. Zian segera berdiri membuatkan kopi yang diminta oleh Genta. Zian tidak ingin Genta kembali memarahinya lagi.


Secangkir kopi hitam itu sudah dibuat oleh Zian, ditemani sepiring pisang goreng tadi pagi yang tentu saja sudah dingin di piring itu lantaran sudah sore. Zian berjalan mendekati Genta, suaminya.


"Ini kopi nya, mas! Dan ada pisang goreng tadi pagi," kata Zian sambil meletakkan satu cangkir kopi dan satu piring pisang goreng di atas meja. Genta buru-buru menyeruput nya sambil di antara jarinya sudah terselip batang rokok yang sudah menyala.


"Kopi apa ini? Pahit sekali! Sudah berapa lama kamu menjadi istriku, hah? Membuatkan kopi sesuai selera aku saja masih tidak bisa, hah? Pahit, sangat pahit seperti hidup kamu itu yang bikin susah suami kamu saja," umpat Genta tanpa ampun.

__ADS_1


"Bang Genta! Maaf, gula di dapur telah habis. Jadi, kopi nya belum aku beri gula," Zian mulai berani mengutarakan nya pada suaminya. Genta melotot tajam ke arah Zian.


"Hah, seharusnya kamu bisa beli dong! Pakai duit kamu sendiri dari tabungan kamu. Jangan mengandalkan uang dari suami kamu. Suami kamu saat ini sedang nganggur. Dan kamu tahu, kebangkrutan suami kamu itu lantaran dari kamu. Kamu istri pembawa sial, Zian!" ucap Genta.


Genta dengan amarahnya segera membanting secangkir kopi nya ke lantai. Hingga suara pecahan gelas cangkir itu mengagetkan Zian. Tentu saja Zian kembali menangis histeris dan ketakutan atas sikap kasar suaminya.


"Apa kamu! Bisanya hanya nangis, nangis saja! Contoh si Dara itu! Sudah cantik pandai nyari duit lagi. Beruntung sekali suami nya yang memiliki istri seperti Dara. Sedangkan kamu? Hah, sudahlah!" ucap Genta mulai membandingkan wanita lain yang merupakan mantan pacarnya dulu.


"Bang Genta! Mau kemana bang?" tanya Zian sambil menahan kedua kaki Genta supaya tidak pergi dari rumah itu malam-malam. begini.


"Bang Genta! Bukankah dulu bang Genta yang melarang ku bekerja dan menjadi wanita karier? Tapi kenapa sekarang, bang Genta menginginkan aku bekerja dan mencari uang?" sahut Zian.


"Itu dulu! Saat aku masih sukses dan banyak duit. Sekarang? Usahaku mengalami kebangkrutan dan itu disebabkan karena kamu, wanita pembawa sial!" kembali Genta menghina Zain.


"Bang Genta! Abang sungguh tega menyalahkan semua itu padaku," kata Zian dengan terisak.

__ADS_1


"Nyatanya seperti itu! Sudahlah! Awas minggir! Lepaskan tangan kamu! Aku mau pergi mencari udara segar di luar sana!" kata Genta sambil melepaskan tangan Zian yang menahan kedua kaki nya. Zian tentu saja terjerembab.


"Bang Genta!!! Jangan pergi!! Hiks.. hiks.. hiks.. " ucap Zian disertai air mata yang mengalir deras.


"Bang Genta! Kenapa kamu bisa berubah seperti itu?" gumam Zian dengan menangis tersedu-sedu.


Zian tidak ingin berlarut- larut dalam kesedihan dan meratapi nasib nya yang malang. Segera Zian bangkit dan melangkah menuju kamar mandi dan mencari kran untuk mengambil air wudhu. Zian mulai berniat membersihkan diri dari hadis kecil nya dari membasuh tangan, berkumur, membasuh muka, membersihkan kedua tangan, sampai akhir nya membersihkan kedua kaki nya sampai betis. Setelah nya Zian mencari mukena nya dan mulai menutup auratnya.


Zian mulai menjalankan ibadah sholat sunah tobat. Ini lebih baik daripada dirinya harus menangis meratapi kesedihan dan mengingat kata-kata yang menyakiti hatinya dari mulut suaminya. Selain itu Zian ingin mendoakan yang terbaik untuk suaminya supaya bisa lebih sabar dalam menghadapi masalah perekonomian nya.


Mungkin saja benar, jika Genta saat ini begitu stress menghadapi kebangetan usahanya yang telah dijalani nya. Sehingga ekonomi rumah tangga nya saat ini mulai kacau. Ditambah selama ini Genta memang tidak mengijinkan Zian bekerja di luar rumah. Sehingga Zian benar-benar menjadi istri yang patuh menunggu suami kembali dari kerja di luar. Zian benar-benar merasakan kesepian ditambah hampir beberapa tahun ini dirinya juga belum mendapatkan putra dari pernikahan nya dengan Genta. Namun Zian tetap bersabar lantaran semua nya adalah titipan dari Tuhan untuk nya jika dia hamil dan mengandung.


"Ya Allah, ampuni lah segala dosa-dosa ku baik aku sengaja maupun tidak aku sengaja serta terlupakan. Berikanlah kami petunjuk ke jalan yang Engkau ridho. Dan berikan lah kami kesabaran dalam menghadapi segala ujian kehidupan dan permasalahan hidup ini. Jadikanlah aku makmum yang selalu patuh terhadap imam nya. Aamiin," doa singkat Zian.


Zian mengambil kitab suci Al-Quran. Beberapa tahun ini Zian sudah semakin lancar membaca nya. Setiap hari Zian membaca ayat-ayat suci Al-Quran itu walaupun hanya setengah juz saja setiap hari. Setelah itu Zian juga perlu membaca arti dari semua yang sudah ia baca. Mungkin dibandingkan Mariah atau Fauzi, Zian masih memiliki ilmu agama yang belum dalam dan banyak seperti kedua sahabat nya itu.

__ADS_1


Namun setelah beberapa tahun ini menikah dengan Genta, Zian sudah sangat jarang sekali bertemu dengan Mariah. Namun sesekali masih bisa bertemu dengan Fauzi karena Fauzi adalah adik dari Genta. Fauzi sesekali mengunjungi kakak nya itu hanya sekedar mengantarkan makanan yang dibuat oleh mama nya. Selebihnya Fauzi juga tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kakak nya Genta.


__ADS_2