Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 14


__ADS_3

Perkenalan antara Genta dengan Zian akhirnya berkelanjutan. Semakin hari Genta semakin mendekati Zian. Dan sampai akhirnya Genta serius mengutarakan isi hatinya dan niatnya untuk mengajak Zian menikah muda. Padahal Zian masih kuliah dan belum menyelesaikan kuliahnya untuk mendapatkan gelar sarjana. Seperti saat ini Genta mengajak keluar Zian di malam minggu.Karena Genta sangat sopan dan meminta ijin kepada orang tua Zian untuk mengajak nya keluar rumah bermalam mingguan, mami papi Zian mengijinkan nya.


Genta mengajak Zian untuk menonton film di studio XXI. Sebenarnya Zian sudah menolak nya. Zian kurang suka nonton film di studio. Dia lebih suka melihat di rumah, itu lebih santai dan nyaman. Apalagi saat ini Zian bersama Genta. Bagaimana pun ini pertama kalinya Zian menonton film bersama seorang laki-laki tanpa ikut dua sahabatnya yaitu Mariah dan Fauzi.


"Kita gak usah nonton film yah bang! Bagaimana kalau kita pulang saja dan lihat film nya di rumah. Bagaimana, hem?" tawar Zian.


"Ah, Zian! Itu tidak seru dong! Aku maunya nonton bersama kamu dan di studio ini. Ini akan lebih romantis kan? Apalagi kita sudah resmi berpacaran dan orang tua kita sudah tahu kalau kita sedang berpacaran," desak Genta.


"Hem, ya sudah deh!" sahut Zian akhirnya.

__ADS_1


Genta mengajak masuk ke studio. Kali ini Genta sudah semakin berani meraih tangan Zian dan menggenggam nya. Zian sesaat melongo saja saat Genta mulai berani mengaitkan jemarinya dengan jemari tangannya dalam menggandeng tangannya.


"Apakah ini boleh, bang? Kita.. kita belum muhrim," ucap Zian pelan. Genta semakin mempererat genggam tangan itu. Dengan tersenyum lebar Genta tetap cuek menggenggam tangan Zian dan menggandeng nya masuk ke dalam studio karena film yang akan ditonton oleh mereka berdua akan segera diputar. Keduanya duduk di nomer kursi sesuai karcis. Dengan tenang akhirnya keduanya sama-sama menatap ke layar lebar di depan nya. Namun genggam tangan itu tidak juga dilepaskan oleh Genta. Zian semakin merasakan gelenyar aneh pada aliran darahnya. Apalagi Genta mulai mencium punggung tangan Zian dengan lembut.


"Setelah ini aku tidak ingin lama-lama berpacaran. Aku akan menikahi kamu secepatnya, Zian! Kamu harus mau yah? Apa kamu mau jika kita berlama-lama berpacaran dan sering mendekati zina seperti ini?" ucap Genta seraya mendekatkan kepalanya ke telinga Zian. Zian malah semakin takut jika Genta berbuat nekat lagi kepada dirinya. Karena suasana di studio saat ini benar-benar sangat mendukung. Di samping dingin, pencahayaan nya juga sengaja dibuat minim. Lantaran semua penerangan akan dipusatkan ke tayangan pemutaran film yang akan di tonton.


Film itu kini sudah diputar. Genta semakin menempel pada tubuh Zian. Bahkan tangan satunya sudah meraih pundak Zian seperti memeluk nya. Kepalanya juga ikut dekat di wajah Zian.


"Kita sedang pacaran, sayang! Tidak apa-apa! Jangan takut. Oke?" kata Genta kini dengan cepat mencium pipi Zian karena mendapat kesempatan. Sontak saja Zian sangat terkejut dibuatnya.

__ADS_1


"Bang Genta!" ucap Zian pelan.


Matanya melotot ke arah Genta. Kenapa jadi tidak layar lebar di depannya? Padahal film saat ini masih diputar.Karena melihat Zian cemberut bibir nya sedikit maju ke depan membuat Genta semakin nekat nyosor itu bibir. Sontak saja Zian nyungsep kepalanya ke bawah ketiak Genta. Genta tersenyum penuh kemenangan.


"Semakin kamu menolak dan protes, aku akan semakin nakal mencium kamu, Zian sayang!" ancam Genta sambil menahan tawanya.


"Kalau begini terus, lebih baik secepatnya kita menikah saja bang!" ucap Zian akhirnya.


"Nah, itu yang aku harapkan, sayang! Kita menikah dan buat anak yang banyak," sahut Genta di dekat telinga Zian. Zian terdiam lalu menatap layar lebar di depannya.

__ADS_1


Tangan itu masih dalam genggaman Genta. Zian sebenarnya ingin menarik telapak tangannya itu dari genggaman Genta. Namun sangat sulit. Akhirnya Zian pasrah tangannya digenggam terus menerus oleh Genta sampai film itu selesai diputar.


__ADS_2