
Mami Juan dan papi Leo menyambut kedatangan putri nya dan juga menantunya dengan ramah. Sudah sekian lama Zian tidak mengunjungi kedua orang tua nya itu.
"Bagaimana kabar kalian? Semoga kedatangan kalian membawa kabar baik untuk kami sebagai orang tua," ucap papi Juan.
"Kami sehat papi mami!" sahut Zian yang sudah duduk di sebelah papi Leo.
"Syukur lah!" kata mami Juan dan juga papi Leo secara bersamaan. Semuanya sontak tertawa bersama.
"Sebenarnya, mami papi sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu," kata mami Juan sambil melihat ke arah Zian.
"Iya mami! Semoga Tuhan mengabulkan doa kita semua nya dan memberikan kepercayaan kepada Zian dan juga bang Genta menitipkan seorang anak. Mungkin saja semua ini karena kami belum pantas atau belum siap jika menjadi orang tua. Buktinya saat ini kami sedang membutuhkan pekerjaan. Bagaimana jika kami sudah memiliki putra tapi kami tidak bisa memberikan kehidupan yang layak. Kira-kira mami papi bisa memberikan kami pekerjaan untuk bang Genta tidak? Jika perlu aku juga ikut bekerja di sini juga. Mami papi sudah mendengar bukan, jika bisnis bang Genta sudah mengalami kebangkrutan," terang Zian.
__ADS_1
Mami Juan dan papi Leo saling pandang lalu akhirnya tersenyum lebar.
"Benarkah kalian ingin bekerja di perusahaan mami papi di sini? Justru kami sangat senang jika kalian berdua ikut bergabung bekerja dan mengembangkan perusahaan keluarga ini. Kami tentu saja akan membuka kedua tangan kami lebar-lebar menerima kalian bekerja di sini," kata mami Juan sambil melihat ke arah papi Leo.
"Hem, syukur lah jika mami papi kasih peluang untuk kami ikut bergabung bekerja di perusahaan ini. Oh iya mami papi, kalau boleh tahu kami akan mendapatkan posisi apa di perusahaan ini?" tanya Zian.
"Soal itu, biar papi nanti yang mengaturnya. Oke?" sahut mami Juan.
"Kalian tunggu informasi dari papi saja. Yang penting kalian besok bisa ke kantor," kata papi Leo.
"Oh iya, Zian! Mami ingin bicara dengan kamu! Biarkan papi dan Genta disini terlebih dahulu," kata mami Juan.
__ADS_1
"Hem, mau di mana ma?" tanya Zian.
"Di ruangan kerja mami saja, yah!" jawab mami Juan.
"Terserah mami saja!" sahut Zian. Zian segera mengikuti langkah mami nya yang keluar dari ruangan itu setelah meminta ijin dengan pak Leo.
"Ini ruangan mami! Ayo masuk, Zian!" kata mami Juan. Mami Juan kini sudah duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Zian duduk di kursi. di depan mami Juan.
"Oh iya, Zian! Sudah lama mami tidak memberikan kamu uang. Mungkin saat ini kalian sangat membutuhkan bukan? Ditambah Genta mengalami kebangkrutan dan juga beberapa bulan menganggur. Kamu Terima yah! Ini buat kebutuhan kamis sehari-hari di rumah bersama suami kamu. Kalian perlu makanan yang bergizi juga.Tentu saja mami tidak tega jika melihat kamu dalam kondisi kekurangan lantaran sudah minim keuangan," kata mami Juan.
"Mami, terimakasih banyak! Tapi seperti nya aku tidak boleh menerimanya. Zian kan sudah berkeluarga dan ini sudah menjadi tanggung jawab suami, Zian! Lagi pula Zian masih ada tabungan kok, ma! Nanti setelah bekerja di sini, Zian dan juga bang Genta akan kembali aman perekonomian kami," tolak Zian dengan pelan-pelan.
__ADS_1
"Zian, pokoknya kamu harus Terima ini. Jika kamu menolak nya, mami marah loh!" ancam mami Juan. Zian diam lalu tersenyum kepada mami nya.
"Mami selalu seperti itu! Baiklah! Daripada menjadi anak durhaka, lebih baik menerima pemberian dari mami," kata Zian sambil tersenyum. Mami Juan segera merangkul putri tunggalnya tersebut.