Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 26


__ADS_3

Genta segera meninggalkan rumah kediaman orang tuanya. Genta sebenarnya ingin mengejar Miska yang pamit dari rumah mama nya dengan perasaan yang marah. Bukan tidak tahu kalau mama nya serta adiknya bersikap ketus dengan Miska. Genta memilih pura-pura tidak tahu saja daripada ribut-ribut dengan mama serta adiknya.


Genta menjalankan mobilnya bukan menuju jalan ke rumah Zian. Melainkan ke arah rumah Miska. Genta merasa tidak enak juga atas sikap Fauzi serta mama nya, nyonya Desi yang kurang ramah terhadap nya saat di rumah tadi.


Kini Genta sudah menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Miska. Adzan maghrib sudah terdengar berkumandang di masjid sekitar rumah Miska. Genta mencoba menghubungi nomor Miska di handphone nya.


Namun belum diangkat oleh Miska. Sampai beberapa saat Miska mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


"Halo, Miska! Kamu di mana? Aku di depan gerbang rumah kamu, nih!" ucap Genta.


Tidak berapa lama terlihat gerbang rumah Miska dibuka lebar-lebar. Satpam di rumah itu mempersilahkan Genta untuk masuk dan memarkirkan mobilnya.


"Terimakasih pak!?" ucap Genta kepada Satpam di rumah Miska itu yang kira-kira berumur tiga puluh tahunan.


"Parkir di sini saja, bang!" ucap bapak satpam itu yang badannya tinggi besar tidak kalah dengan Genta. Genta mengikuti apa kata satpam rumah itu. Mobil itu berhenti dan diparkirkan tidak jauh dari pos satpam. Genta turun dari mobilnya dan dengan ramah menjabat tangan pada satpam di rumah Miska.


"Saya Genta pak! Mau bertemu dengan Miska!" kata Genta ramah.

__ADS_1


"Saya Johan pak! Silahkan masuk saja bang! Tadi nona Miska sudah memberitahu kalau ada teman non Miska. Makanya Saya langsung bukakan gerbang nya," jelas satpam rumah itu yang mengaku bernama Johan. Genta tersenyum lebar.


"Baiklah kalau begitu! Saya Langsung ke dalam saja, pak! Mungkin nona Miska sudah menunggu di dalam!" ucap Genta.


Genta segera melangkah menuju pintu utama. Namun sebelum Genta sampai mendekati pintu utama rumah besar dan mewah itu, Miska sudah berdiri dan menyambut kedatangan Genta. Senyuman Miska terlihat lebar ketika melihat Genta.


Saat Genta sudah mendekat ke arah Miska, Miska tanpa malu segera memeluk Genta. Genta dengan kaku menerima pelukan Miska yang tiba-tiba.


"Aku sudah sangat yakin kalau kamu akan mengejar ku ke sini!?" ucap Miska. Genta menyipitkan bola matanya.


"Hah? Aku pikir kamu akan menjadi marah padaku lantaran sikap dari mama dan Fauzi terhadap kamu," sahut Genta. Miska menarik tangan Genta dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja Miska tidak ingin terlihat begitu dekat dan intim pada Genta oleh satpam nya.


"Oh Genta! Kenapa aku bela-belain datang ke rumah kamu, itu karena aku sudah sangat kangen banget dengan kamu?" ucap Miska. Genta menyipitkan kedua bola matanya. Genta tidak mengerti kenapa Miska bilang kangen dengan dirinya.


Miska masih menarik tangan Genta melewati ruangan tengah dan kursi sofa di rumah itu. Kini Miska mengajak Genta sampai ke suatu kamar. Setiba nya di kamar itu, Miska dengan cepat menutup pintu kamar itu. Tangan itu sudah dilepaskan. Kini menyisakan wajah heran dan terkejut dari Genta. Berdiri mematung Genta menatap heran wajah Miska. Dada itu sudah naik turun menatap Genta. Pandangan nya Miska seperti penuh minat.


"Miska! Kenapa kamu membawaku ke kamar ini? Ini kamarmu?" tanya Genta sok polos. Miska tanpa banyak bicara menyerang Genta. Serangan itu seperti yang sudah dilakukan oleh Genta saat di toilet kafe itu yang tanpa ijin dan bicara langsung menyerbu habis dirinya.

__ADS_1


"Miska! Jangan lakukan ini! Aku.. aku tidak mau! Lepaskan! Aku bilang lepaskan, Miska!" Genta memberontak dan berusaha menghindari apa yang sudah Miska lakukan. Namun karena Miska wanita yang sudah berpengalaman dalam menggoda seorang pria untuk mengajaknya berbuat enak-enak, Miska paling tahu bagian mana yang akan membuat seorang laki-laki menjadi tidak bisa menolaknya lagi. Apalagi Genta sudah pernah melakukannya bersama dirinya berulang kali alias lebih dari sekali di toilet kafe itu dan di penginapan dekat kafe saat Genta dalam kondisi mabok dan banyak minum.


Genta tidak bisa berkutik lagi mendapatkan serangan yang membuat Genta enggan untuk menolaknya. Sedangkan Miska di dalam hati kecilnya bersorak penuh kemenangan.


"Diam lah Genta! Aku hanya sudah sangat rindu saat-saat ini! Kamu cukup menikmati saja! Oke?" kata Miska.


Miska kini mendorong Genta di tempat tidur nya. Badan Genta jatuh di atas kasur empuk kamar itu. Kini giliran Miska kembali beraksi melakukan sesuatu yang membuat Genta lupa kalau saat ini dirinya belum menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim. Genta melupakan kalau dirinya sudah ditunggu dan dinantikan oleh istrinya di rumah.


Satu kali Genta pernah melakukan pengkhianatan itu, menjadikan Genta menyepelekan kesalahan yang sudah dia lakukan. Apalagi pengkhianatan dan perselingkuhannya itu tidak diketahui oleh istrinya. Ini seperti membuka jalan yang mudah dan lancar untuk mengulangi nya lagi.


Di kamar yang dingin AC itu kedua anak manusia sedang melakukan kegiatan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Kembali Genta melakukan kesalahan dan pengkhianatan lagi terhadap istrinya. Dirinya melakukan itu dengan wanita lain yang nyata-nyata bukanlah muhrimnya.


Suara-suara yang senonoh kini sudah mulai tercipta dari mulut Genta. Miska masih mendominasi dan menjerat Genta dengan madu yang diberikan oleh Miska. Dan Genta sendiri sangat dengan senang hati menerima nya tanpa ada penolakan. Apakah ini namanya kucing diberi umpan dan sangat sulit menolak nya?


Kini keadaan sudah berubah. Genta membalikkan keadaan. Yang awalnya Genta berada di bawah kungkungan Miska, kini Genta lah yang sudah mengambil alih nahkoda kapal pelayaran itu. Keduanya kini sudah menyeberangi lautan luas. Keduanya fokus dengan rasa dan nikmat yang mereka rasakan. Dosa dan ancaman tidak lagi diindahkan. Walaupun sebenarnya mereka tahu antara benar dan salah tapi mereka tetap melakukan nya.


Kegiatan enak yang sesaat itu akan mendatangkan masalah. Kegiatan yang mendatangkan nikmat sementara itu akan berujung bencana bagi rumah tangga Genta. Namun nasi sudah menjadi bubur. Genta sudah bermain api menantang wanita agresif seperti Miska. Wanita tanpa malu datang dan ingin merusak rumah tangga orang. Wanita yang ingin mencuri suami orang pada wanita yang patuh menjadi istrinya.

__ADS_1


Bukan! Ini bukan lagi wanita nya yang ingin mencurinya. Namun ini sudah ada kesempatan untuk mencuri dan merebutnya. Karena laki-laki itu juga datang dan memberikan umpan nya sendiri. Dalam hal ini dua-dua nya lah yang salah. Genta salah dan Miska yang agresif tidak mau kalah.


__ADS_2