Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 33


__ADS_3

Miska kembali merencanakan sesuatu. Genta saat ini tiba-tiba merasakan pusing kepala nya. Tatapan Genta penuh amarah menatap Miska.


"Kamu sangat licik, Miska! Kamu memasukkan obat perangsang di minuman ku, bukan?" tuduh Genta. Senyum seringai jelas tergambar dari wajah Miska. Senyum kemenangan karena satu langkah sudah berhasil ia laksanakan. Diam-diam Miska telah menyiapkan dua kamera dari dua tempat yang berbeda di ruangan itu. Hal itu dengan tujuan untuk menjerat Genta supaya tidak bisa terlepas dari cengkraman nya.


"Aku lebih baik pulang!" ucap Genta yang segera berjalan keluar dari ruangan itu menuju pintu keluar. Namun Miska kembali menahannya dan mendorong nya hingga Genta terjatuh di bawah. Miska tersenyum nakal. Dengan segala cara Miska segera melancarkan aksinya.


Sementara itu di luar pekarangan sudah menunggu Zian di dalam mobilnya. Zian melihat ke arah pintu utama rumah milik Miska itu. Namun belum ada tanda-tanda suaminya keluar dari rumah itu.


Satu jam berlalu, akhirnya Zian memutuskan turun dari mobil nya dan mendekati pos jaga rumah itu. Seorang pria dewasa segera bertanya kepada Zian.


"Mencari siapa bu?" tanya seorang pria dengan berpakaian seragam satpam di rumah itu.


"Maaf, saya mencari nona Miska. Apakah ada di dalam?" jawab Zian.


"Apakah ibu sudah membuat janji dengan non Miska?" tanya satpam di rumah itu.


"Sudah! Bahkan suami saya ada di dalam," jawab Zian.


"Suami? Apakah bang Genta itu suami ibu?" tanya satpam di rumah itu.


"Benar! Bisa tidak saya masuk dan menemui nona Miska beserta suami saya?" tanya Zian. Satpam di rumah itu sebenarnya sudah mendapatkan pesan dari Miska kalau ada tamu yang mencarinya supaya tidak memberikan ijin masuk dan membukakan pintu pagar atau gerbang. Namun Zian sangat menyakinkan satpam di rumah itu kalau Zian sangat mengenal majikannya itu. Bahkan suaminya, Genta sering ke rumah itu.


"Baiklah, bu! Saya antar ke dalam!" kata satpam di rumah itu sambil membuka pintu gerbang lebar-lebar.


"Tidak perlu di buka lebar gerbang nya, pak! Biar mobil saya parkir di luar saja," kata Zian.


"Oh, begitu yah bu! Baik! Mari saya antar ke pintu utama," ucap satpam rumah itu.


Setelah satpam itu mengantarkan Zian di pintu utama yang hanya di tutup saja, satpam rumah itu segera kembali ke pos jaga dan meninggalkan Zian duduk di ruang tamu menunggu si tuan rumah keluar dari kamarnya.


****


Sementara itu di dalam kamar, Miska menikmati pergumulan panas bersama dengan suami orang yaitu Genta. Genta sudah benar-benar dikuasai oleh hasrat nya yang bergejolak. Akal sehatnya sudah diselimuti kabut dorongan nafsu yang bergejolak. Beberapa jam berlalu, kini Genta lunglai lemas dalam kelelahan karena memenuhi api hasrat nya yang meledak- ledak.


Miska menatap wajah pria dewasa itu dengan senyuman puas. Akhirnya rencananya telah berhasil. Bahkan bukti bahwa Genta telah bermain dengan nya sudah ada digenggaman nya. Itu bisa menjadi alat untuk mengancam Genta memenuhi segala keinginan nya. Kalau tidak? Genta akan mengalami kehancuran rumah tangga nya bersama dengan Zian, istrinya.


Suara ketukan pintu kamar Miska terdengar. Pergumulan panas itu telah usai. Kini menyisakan Genta yang tidur kelelahan hingga mendengkur keras. Miska menyambar handuknya lalu membelitkan nya di bagian dada nya hingga sampai di atas lututnya. Miska segera membuka pintu kamarnya karena suara pembantu rumah tangga nya membuat berisik telinga Miska.


"Ada apa, mbak?" tanya Miska setelah membuka pintu kamarnya itu.

__ADS_1


"Ada tamu mencari nona dan teman nona Miska," ucap asisten rumah tangga di rumah Miska.


"Tamu? Siapa?" tanya Miska. Miska mengeluarkan kepalanya melihat orang yang dimaksudkan oleh asisten rumah tangga nya itu.


"Wah, kebetulan sekali! Seperti nya aku harus membuat Genta dan Zian benar-benar berpisah dan rumah tangga mereka dalam kehancuran," pikir Miska.


"Oh, baiklah! Sudah kamu buatin minum tamunya?" ucap Miska.


"Sudah, nona!" sahut pembantu Miska.


"Baiklah, aku akan menjumpai tamu itu," kata Miska. Pembantu itu segera meninggalkan Miska dan kembali ke belakang.


Miska berjalan melenggang menjumpai Zian yang duduk menunggu di ruangan tamu. Sengaja Miska hanya menggunakan handuknya saja yang menutupi sebagian badannya. Pemandangan itu begitu indah dan sangat seksi. Miska tersenyum penuh kemenangan saat melihat siapa yang datang. Dia adalah Zian, istri dari laki-laki yang masih tertidur di dalam kamar Miska.


"Hai, halo!" sapa Miska. Zian melebarkan bola matanya. Saat ini Zian memperhatikan penampilan Miska yang hanya mengenakan handuk saja.


"Halo, aku Zian istri dari Bang Genta," kata Zian. Miska pura-pura terkejut dengan ucapan Zian.


"Istri? Bukankah Genta belum menikah mbak?" sahut Miska kini mulai berakting. Zian menyipitkan kedua bola matanya.


"Aku istrinya, mbak! Bahkan kami sudah menikah sudah hampir dua tahun ini," jelas Zian yang mulai masuk dalam perangkap Miska. Kini Miska menangis mengeluarkan air mata buaya nya.


Miska menangis tersedu-sedu. Hal itu membuat Zian menjadi larut dalam drama itu.


"Aku ingin bertemu dengan bang Genta!" kata Zian yang berusaha mengatur detak jantung nya yang kini berdebar lebih cepat karena menahan amarah, kecewa, terkejut, dan lain sebagainya bercampur aduk.


"Genta di dalam kamar. Dia masih tidur dalam kamarku, mbak. Mungkin Genta kelelahan karena Genta melakukan itu dengan ku sampai beberapa kali, mbak!" adu Miska. Sengaja membuat mendidih hati Zian jika mendengar bahkan mengetahui nya. Zian melotot matanya.


Zian segera berdiri dan memastikan kebenaran yang dikatakan oleh Miska. Zian segera berjalan menuju kamar Miska. Miska mengikuti Zian dan pura-pura menahannya.


"Jangan masuk, mbak! Genta masih tidur! Nanti kalau Genta bangun, aku yang kena marah," kata Miska kembali berakting. Padahal hatinya berharap, Zian akan melihat semua pose Genta saat ini dibalik selimut tebal di kamar Miska.


Zian melebar matanya dengan sempurna dan tanpa mengindahkan ucapan Miska, Zian segera membuka pintu kamar Miska.


"Bang Genta!??????" teriak Zian keras hingga membangunkan Genta yang tadi masih tertidur pulas.


"Zian?!!!! Zian sayang!??? Aku, aku, aku bisa menjelaskan semuanya padamu, sayang!" ucap Genta lalu dengan cepat turun dari tempat tidur mewah itu. Namun Genta lupa kalau saat ini dirinya masih polos tanpa sehelai pun benang menempel di tubuhnya. Hal itu membuat Zian melotot matanya.


"Bang Genta!?? Kamu jahat! Kamu telah mengkhianati aku. Kamu telah bermain dan berzina dengan wanita lain.Aku kecewa bang!" ucap Zian sambil memukul lengan Genta.

__ADS_1


"Maaf, Zian! Aku bisa menjelaskan semuanya, Zian!" ucap Genta sambil menahan tangan Zian.


Miska tersenyum penuh kemenangan dengan drama yang dilihat nya itu. Dirinya ikut berakting menangisi semuanya. Sedangkan Zian ingin melepaskan diri dari tangan Genta yang menahannya.


"Lepaskan aku, bang! Pokoknya setelah ini, aku minta cerai, bang!" ucap Zian. Tentu saja Miska sangat senang mendengar nya.


"Jangan lakukan itu, Zian! Aku mohon! Aku khilaf, Zian!" kata Genta.


"Mana ada khilaf! Bahkan kamu sudah melakukan nya berulang-ulang kali kan? Jangan dikira aku tidak mengetahui pengkhianatan dan perselingkuhan kamu dengan wanita ini sebelum nya, bang! Awalnya aku tidak mempercayai kalau kamu berselingkuh dan membohongi aku, bang. Tetapi mami papi menunjukkan video perselingkuhan kamu dengan Miska saat di penginapan itu. Kamu masuk dengan wanita lain ke kamar hotel," jelas Zian.


"Apa? Mami papi sudah mengetahui nya?" sahut Genta.


"Benar! Aku baru mengetahui nya tadi pagi. Dan mereka lah yang menunjukkan kebobrokan moral kamu bang," jelas Zian.


"Zian, maafkan aku! Aku khilaf, sayang! Aku tidak mau bercerai dengan kamu, Zian!" kata Zian.


"Lepaskan aku, bang!! Lepas aku bilang!!" kata Zian dengan suara keras.


Tangan itu ditampiknya namun entah kenapa Genta tiba-tiba saja berlaku kasar dengan Zian. Bahkan kini Genta mengancam Zian.


"Awas saja kalau masalah ini kamu sampaikan pada kedua orang tuaku! Aku tidak akan segan-segan menyakiti kamu, Zian!" ancam Genta.


"Apa? Kamu berani mengancam aku, bang? Aku tidak menyangka, laki-laki yang katanya dari keluarga terhormat, terpandang dan bahkan agamis kini melakukan perzinahan. Aku ingin tahu jika keluarga kamu mengetahui kebobrokan mental dari laki-laki yang sangat disayanginya," ucap Zian.


Plak.


plak.


Plak.


Tiga kali Genta menampar pipi Zian hingga pipi itu memerah. Hal itu semakin membuat Zian terkejut bukan main. Selama menikah dengan Genta, dirinya tidak pernah mendapatkan tamparan itu. Tapi sekarang? Zian harus merasakan kekasaran dari Genta. Miska tersenyum senang melihat Genta memperlakukan kasar pada istrinya itu. Pintu perceraian antara Genta dengan Zian sudah pasti terbuka lebar. Zian berkaca matanya. Namun sekuat tenaga Zian tidak ingin menangis hanya karena laki-laki yang sudah mengkhianati dirinya itu. Genta terkejut dengan semua yang sudah ia lakukan. Menampar Zian, bukan itu yang ia mau.


"Zian, Zian sayang! Maafkan aku! Aku, aku tidak sengaja. Bukan maksud aku untuk menampar kamu, sayang," ucap Genta.


Zian segera meninggalkan rumah itu dengan hati yang kacau. Sebisa mungkin ia tidak ingin menunjukkan rapuh di depan Genta. Miska tersenyum senang dengan kejadian hari ini.


"Zian! Maafkan aku!" gumam Genta. Genta tidak mungkin mengejar istrinya itu karena saat ini dia tidak memiliki mobil untuk mengejar Zian.


"Kamu puas? Kamu puas sekarang Miska? Sekarang rumah tanggaku sudah hancur! Itu semuanya gara-gara kamu, Miska!?" umpat Genta. Miska diam pura-pura merasa bersalah.

__ADS_1


"Halah, gara-gara aku? Bukankah kamu selalu saja menikmati tubuh aku ini, Genta?" batin Miska dalam hati.


__ADS_2