
"Benar-benar jahat sekali bang Genta! Dia melakukan perzinahan itu seolah dia lupa akan ajaran agama yang sudah dia pelajari. Apakah bang Genta tidak takut dosa? Bahkan membuat kamu menangis seperti ini. Apakah bekas tamparan bang Genta masih sakit, Zian?" kata Mariah sambil memegang tangan Zian. Punggung tangan Zian diusapnya pelan.
"Mariah, sepertinya keluarga ku terutama mami papi tidak akan memaafkan perzinahan yang dilakukan bang Genta.Bahkan pertama kalinya aku mengetahuinya dari mereka, Mariah. Aku benar-benar tidak menyangka kalau bang Genta yang memiliki pengetahuan agama yang dalam bisa mudah terpengaruh atas godaan wanita di luar sana. Aku yang salah, Mariah! Aku lah yang salah dalam hal ini. Kenapa bang Genta bisa melakukan perzinahan di luar sana. Mungkin saja aku kurang dalam memuaskan bang Genta. Akulah yang tidak bisa menyenangkan bang Genta, Mariah," ucap Zian yang menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.
"Hai, itu semuanya bukan salah kamu Zian! Bang Genta lah yang kurang bersyukur memiliki istri seperti kamu. Bahkan disaat bang Genta mengalami kebangkrutan kamu masih mau membantu bang Genta dan membuatnya bangkit. Bahkan keluarga kamu seperti mami papi ikut memberikan ruang untuk kembali bekerja bang Genta. Kalau sudah seperti ini apakah Genta tidak malu jika bekerja di kantor mami papi kamu? Sedangkan dirinya telah menyalahgunakan kepercayaan kamu dan keluarga kamu," kata Mariah panjang lebar.
"Wanita itu memiliki banyak harta, Mariah! Aku rasa bang Genta akan mendapatkan apa. yang dia mau dari wanita itu. Tanpa aku dan keluarga ku bang Genta juga akan bisa bekerja di tempat wanita itu," jelas Zian.
"Ya Tuhan! Astaghfirullah, ternyata wanita itu juga memiliki banyak harta? Pantas saja!"gumam Mariah.
"Benar, Mariah! Sepertinya aku tidak bisa mempertahankan lagi pernikahan ku lagi, Mariah!" kata Zian kembali menitikkan air matanya. Mariah kembali merangkul Zian. keduanya menangis sesenggukan.
"Kamu yang sabar yah, Zian! Semuanya adalah ujian kehidupan kamu," kata Mariah.
"Heem, Mariah! Tetapi aku benar-benar tidak pernah membayangkan kalau aku harus menjadi seorang janda dan bercerai dengan suamiku karena perselingkuhan yang dilakukan oleh suami ku. Apa salahku, Mariah? Kurangnya apa pada diriku? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Bahkan aku selalu mengikuti apa perintah dan kemauan suamiku walaupun kadang tidak sesuai dengan inginku. Tetapi kenyataannya, bang Genta masih saja mengkhianati aku dan bermain cinta dengan wanita lain," curhat Zian. Mariah mengusap punggung Zian supaya lebih tenang.
"Zian, jangan salah kan kamu yah! Bang Genta mungkin bukan pria yang baik menurut kamu," sahut Mariah.
Tiba-tiba Mariah tersenyum saat mendengar bunyi perut Zian. Zian pun menatap ke arah Mariah dan ikut terkekeh seketika.
"Hehehe kamu lapar yah? Tuh kan, kamu sampai lupa makan. Ayo lebih baik kita makan saja! Aku tidak mau jika kamu jatuh sakit. Jangan dibuat pusing lagi. Laki-laki seperti bang Genta tidak perlu ditangisi lagi. Semoga setelah ini rejeki kamu semakin melimpah ruah setelah menghadapi masalah rumah tangga kamu yang rumit ini," kata Mariah yang menarik tangan Zian untuk mengajak nya makan bersama.
__ADS_1
"Tapi Mariah, aku malu," sahut Zian. Mariah menyipitkan bola matanya.
"Kamu malu kenapa?" tanya Mariah.
"Mataku pasti bengkak dan kelihatan banget kalau habis menangis. Aku takut bunda dan abah melihat aku menangis. Aku tidak enak dengan orang tua kamu," kata Zian.
"Kamu ini seperti baru mengenal mereka. Biar saja bunda dan abah tahu. Lagipula mataku juga ikut bengkak gara-gara ikut menangis lantaran baper dengan cerita dan apa yang kamu alami," kata Mariah. Zian tersenyum melihat mata Mariah yang juga ikut bengkak gara-gara menangis seperti dirinya.
"Kenapa kamu ikut nangis? Yang punya masalah aku, tapi kamu ikutan menangis," ucap Zian.
"Karena kamu adalah sahabat ku dan aku sudah sangat menyayangi kamu seperti saudara ku sendiri," jawab Mariah.
"Hem, terimakasih Mariah!" sahut Zian.
*****
Di ruang makan, kebetulan sudah duduk kakak Mariah, Bisma yang sedang menikmati makan malam. Zian menjadi merasa canggung ketika duduk bersama di satu meja itu. Kini Mariah, Zian dan juga Bisma duduk di sana.
"Kak Bisma! Cepetan makannya! Soalnya Zian mau makan di sini bersama aku. Kalau ada kak Bisma nanti sahabat ku ini jadi malu-malu untuk menikmati makanan nya," kata Mariah kepada kakak nya. Bisma menyipitkan bola matanya melihat ke arah Mariah dan juga Zian secara bergantian.
"Makan, makan saja! Ngapain malu ada kakak di sini! Lagi pula aku juga baru mulai duduk di sini dan menikmati makanan ku. Ngapain juga mau ngusir kakak?" protes Bisma pada Mariah.
__ADS_1
"Ih kakak ini! Benar-benar yah!" sahut Mariah.
"Sudahlah makan yang banyak! Kalian berdua habis nangis bersama bukan? Pasti sudah sangat lapar karena menguras air mata dan emosi kalian," kata Bisma. Mariah mengambilkan makanan untuk Zian. Dan memberikan nya pada Zian.
"Ini makan yang banyak yah sahabatku! Kamu harus makan yang banyak seperti apa. kata kak Bisma!" ucap Mariah sambil memberikan satu piring nasi lengkap dengan sayur, lauk di atasnya. Kini Bisma mengambil satu lagi lauk berupa ayam bakar di atas piring Zian.
"Ini tambah lagi lauknya supaya gemuk badan kamu," kata Bisma pada Zian. Mariah melebarkan bola matanya melihat tingkah kakak nya itu.
"Aku tidak diambil lauknya kak," protes Mariah.
"Ambil sendiri! Itu banyak di depan kamu," sahut Bisma. Mariah cemberut dengan sikap kakak nya.
"Awas nanti aku adukan pada suami aku, mas Anhar," kata Mariah.
"Yeah mas Anhar? Mas Anhar kurus begitu? Mana berani sama aku, kakak iparnya," sahut Bisma. Mariah menjulurkan lidahnya ke arah kakak nya. Zian yang melihat adik kakak saling berantem kecil itu hanya tersenyum saja.
"Ayo dimakan! Jangan pikirkan yang lain," ucap Bisma kepada Zian.
"Benar Zian! Ayo makan yang banyak! Setelah ini kita ngobrol lagi yah! Kamu di sini saja dulu tidak usah pulang. Nanti tidur di kamarku. Mas Anhar masih di luar kota kok. Jadi dia tidak akan menjemput ku malam ini," jelas Mariah.
"Terimakasih Mariah! Aku senang memilih sahabat seperti kamu," kata Zian.
__ADS_1
"Aku juga sangat senang memiliki saudara seperti kamu," sahut Mariah.
"Sudah jangan ribut! Ayo makan, dan jangan banyak bicara lagi," kata Bisma dengan mata yang tajam melihat ke arah adiknya. Zian tersenyum melihat nya.