Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 43


__ADS_3

Rombongan Zian kini sudah duduk di restoran. Papa Leo banyak memesan makanan dan minuman di restoran itu. Karena Zian ingin makan makanan masakan nusantara, akhirnya mereka ke tempat restoran langganan mereka. Sengaja papa Leo dan juga mami Juan ingin memanjakan Zian. Kerena mulai hari ini Zian akan kembali menjadi tanggung jawab nya lagi setelah bercerai dengan suaminya, Genta.


Duduk di saung tidak jauh dari tempat saung Zian bersama orang-orang yang menyayangi Zian duduk, ada Sandro bersama asisten pribadinya yaitu Dori. Saung mereka saling berhadap-hadapan, sehingga sangat jelas dan leluasa Sandro melihat ke arah keluarga kecil Zian.


"Mas Sandro, kenapa memilih saung ini? Ini akan jelas terlihat oleh mereka," protes Dori.


"Tidak apa! Aku ingin lihat, apakah Zian masih mengingat aku apa tidak," sahut Sandro.


Pramusaji masih mencatat pesanan yang diminta oleh Sandro dan juga Dori.


"Mbak, dua porsi iga bakar dengan porsi jumbo serta dua juz buah naga ini nanti antar kan di meja depan itu yah!" ucap Sandro. Dori yang mendengar nya jadi melebar matanya.


"Baik, tuan! Pesanan semuanya akan kami siapkan dan mohon dengan sabar menunggu," ucap pelayan pramusaji di restoran itu.


"Kamu yakin?" tanya Dori.


"Yakin apa, Dori?"


"Yakin mengantarkan makanan itu ke sana? Pasti wanita yang mas Sandro incar itu sudah pasti memesan makanan dan minuman yang mas Sandro kirim ke tempat duduk itu," ucap Dori.


"Tidak apa-apa! Biar nanti Zian makan banyak kalau lihat makanan yang dia sukai," ucap Sandro santai. Dori menarik nafasnya dan membuangnya kasar. Dori semakin tidak mengerti akan jalan pikiran majikannya itu.


*****


"Zian, kamu makan yang banyak yah sayang! Ini iga bakar kesukaan kamu di habiskan!" ucap mami Juan sambil mendekatkan piring yang berisi iga bakar di depan Zian.


"Mami, ini sudah habis banyak aku. Mariah ayo ini bantu aku menghabiskan nya," kata Zian.


"Zian, sebenarnya aku lagi diet. Jadi tidak makan banyak apalagi makanan berlemak seperti ini," bisik Mariah.


"Hehe sudah dietnya libur dulu hari ini. Kita makan sepuasnya dulu," ucap Zian ikut berbisik.


"Nanti aku bisa kena protes mas Anhar sama suamiku juga," ucap Mariah.


"Oh iya? Suami kamu juga masih suka komplent kalau kamu kegendutan yah?" tanya Zian.

__ADS_1


"Heem, benar! Kamu tahu sendiri bukan? Kami juga sudah beberapa tahun belum mendapatkan keturunan. Entar kalau kegemukan disalahkan lagi sama dokter nya. Soalnya kami sedang mengikuti program kehamilan," jelas Mariah.


"Oh begitu yah! Kalau mas Anhar sendiri juga ikut bawel dengan kamu?" tanya Zian.


"Mas Anhar suka begitu sama aku. Apalagi kalau video call dari Turki hanya sekedar memastikan aku harus banyak buah, sayuran untuk diet. Mas Anhar suka usil dan ngeledek aku," cerita Mariah.


"Seneng banget yah punya saudara kandung. Aku tidak punya saudara kandung. Mami. papi hanya memiliki aku sebagai putri tunggalnya," kata Zian.


"Ih Zian! Anggap saja aku saudara kamu yah! Biar kita tidak satu darah," sahut Mariah.


"Heem! Tapi bagaimana bisa program kehamilan kami bisa secepatnya berhasil jika kamu dengan suami kamu selalu LDRan. Kamu di kota ini sedangkan suami kamu sering di luar kota," kata Zian.


"Tapi kan satu minggu sekali, suamiku pulang, Zian!" kata Mariah.


"Bagaimana kalau sekali-kali kamu bikin kejutan dengan suami kamu dan tiba-tiba kamu mendatangi nya di luar kota tempat suami kamu itu bekerja," usul Zian.


"Hem, ide yang bagus Zian! Baiklah minggu depan aku akan bikin kejutan dengan suamiku. Lagipula aku tidak pernah ke sana ke tempat kerjaan suamiku," ucap Mariah.


"Nah itu akan membuat suami kamu merasa spesial karena kamu mendatangi nya," sahut Zian.


"Loh, kami tidak memesan makanan dan minuman itu kok, mbak! Ini kami sudah menerima semua pesanan makanan dan minuman yang kami pesan tadi. Dan ini apa? Iga bakar dan juz naga? Mami papi, memesan lagi yah?" tanya Zian.


"Eh, tidak kok! Bukannya iga bakar dan juz naga nya sudah kamu nikmati yah, sayang!" ucap mami Juan.


"Nah, benar! Lalu siapa yang memesannya lagi?" tanya Zian.


"Maaf ibu, bapak, nona! Ini makanan dan minuman tadi yang memesankan dari saung di depan itu. Beliau memesankan ini semua untuk diantarkan ke meja ini," jelas pelayan restoran itu. Zian, Mariah serta mami papi langsung melihat ke depan di mana Sandro telah duduk di saung depan mereka.


"Eh, sepertinya aku mengenal nya. Tapi siapa yah? Aku lupa," gumam Zian.


"Siapa Zian?" tanya Mariah.


"Sebentar, aku akan berusaha mengingat nya dulu," kata Zian sambil berusaha menginginkan kembali wajah itu.


Hingga beberapa menit akhirnya Zian ingat siapa orang yang duduk di depan saung nya itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, dia Alexa Sandro! Orang yang sempat aku tabrak saat aku memilih kue dan roti di toko bakery. Eh pada akhirnya aku pulang malah dibawakan banyak roti. Aku yang salah malah dia yang minta maaf," cerita Zian. Mami papi tersenyum mendengar cerita dari Zian.


"Ya sudah, kamu sapa dulu sana!" suruh papi Leo.


"Aku yang menyapa duluan pi? Tidak salah kah itu?" protes Zian.


"Bilang terimakasih karena dia kasih makanan dan minuman favorit kamu ini ke meja ini. Lagipula dia seperti nya sudah sangat paham makanan favorit kamu serta minuman kamu.Ini nyatanya iga bakar dengan porsi jumbo serta juz naga," kata papi Leo.


"Banyak banget, siapa yang akan menghabiskan? Mariah diet juga. Mami papi sudah makan juga," ucap Zian.


"Ya sudah! Dibungkus saja lagi!" sahut Mami Juan.


"Oh, iya benar! Mbak tolong semua ini dibungkus saja yah! Kami sudah kenyang soalnya," kata Zian.


"Baik nona!" ucap pelayan restoran itu.


"Sudah sana, kamu samperin dan bilang terimakasih sana!" kompor Mariah. Mami papi saling pandang lalu tersenyum.


"Baiklah! Aku ke sana sebentar!" ucap Zian.


*****


Zian mendatangi saung tempat duduk Sandro beserta Dori.


"Eh, em kak Sandro!" sapa Zian. Sandro tersenyum saat Zian mendatangi nya. Sedangkan Dori tanpa berkedip menatap wajah Zian yang memiliki aura yang cerah dan terpancar. Sandro yang melihat Dori melihat Zian tanpa berkedip mencubit perut nya.


"Aww! Sakit mas Sandro!" teriak Dori.


"Kak Sandro! Itu tadi makanan dan minuman seharusnya tidak perlu dipesankan untuk aku. Aku tadi sudah memesan makanan dan minuman itu. Bahkan sudah habis aku makan," kata Zian.


"Tidak apa-apa! Nanti bisa di makan lagi di rumah," ucap Sandro.


"Jadi merepotkan kakak. Tapi terimakasih banyak kak sudah memesankan makanan favorit aku," kata Zian.


"Tidak merepotkan kok! Setiap hari aku bisa kirim makanan itu ke kantor kamu," sahut Sandro. Zian menyipitkan bola matanya menatap Sandro.

__ADS_1


"Eh? Jangan-jangan kak Sandro yang kirim buket mawar kuning dan juga makanan itu beberapa hari ini," pikir Zian. Sandro dan Dori tidak berhenti menatap kecantikan Zian sampai tidak berkedip.


__ADS_2