
"Bang kamu kembali? Abang dari mana? Tadi aku mencoba menghubungi kamu tapi tidak aktif ponsel abang," kata Zian setelah Genta tiba di rumah itu di jam satu dini hari.
"Maaf, tadi seorang teman mengajakku makan bersama. Aku tidak bisa menolaknya Zian. Oh iya, apakah kamu sudah makan?" tanya Genta. Zian menggelengkan kepalanya. Genta menatap wajah teduh istrinya dengan tatapan lembut.
"Kalau begitu ayo aku temani kamu makan!" ajak Genta.
"Enggak usah! Aku sudah lega bisa melihat abang sudah pulang! Aku mau bobok saja, besok bangun pagi, ada meeting di perusahaan," jelas Zian.
"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu untuk makan di jam seperti ini," ucap Genta. Genta menjatuhkan tubuh nya ke atas tempat tidur di samping Zian. Beberapa lama Zian memperhatikan suaminya itu. Seperti ada sesuatu yang dipikirkan oleh Genta.
"Ada yang kamu pikirkan, bang?" tanya Zian. Genta menatap terkejut pada Zian.
"Eh, tidak ada!" sahut Genta. Akhirnya Genta mengekor ke samping membelakangi Zian.
__ADS_1
"Ada apa dengan bang Genta, sih? Tumben tidak ada ciuman dan pelukan sebelum tidur," batin Zian.
Akhirnya Zian berinisiatif memeluk suaminya dari belakang. Zian memejamkan matanya sambil memeluk suaminya itu. Sedangkan Genta pikiran nya masih terbang kemana-mana. Tentu saja Genta benar-benar merasa bersalah dengan perbuatan yang sudah Genta lakukan. Apalagi ketika melihat wajah teduh dan polos Zian, Genta semakin merasa berdosa sudah mengkhianati Zian.
"Maafkan aku, Zian! Aku berjanji tidak akan mengkhianati kamu lagi," batin Genta. Genta meraih tangan Zian yang berada di pinggangnya. Tangan itu dikecup oleh Genta.
"Hem, bang! Abang belum juga tidur?" tanya Zian.
Genta membenarkan posisi nya telentang lalu membiarkan Zian membenamkan kepalanya di bawah ketiak nya. Genta tidak menjawab pertanyaan Zian. Hanya saja tangannya yang kokoh kini mengusap lembut puncak kepala Zian. Zian semakin terlelap dalam tidur nya.
"Ya Tuhan, ampunilah aku semua dosa-dosaku baik yang aku sengaja maupun tidak aku sengaja dan yang terlupa. Jauhkan lah kami. dari perbuatan zalim yang sengaja kami lakukan. Jadikan lah kami orang-orang yang saleh dan beruntung mengikuti ajaran kebenaran Mu. Tetapkan kami dalam golongan orang-orang ahli surga. Aamiin!" ucap Genta.
Beberapa kali Genta melakukan sholat malam tahajud dan sholat sunat taubat hingga beberapa rakaat. Air matanya tumpah ruah mengingat kesalahan yang sudah Genta lakukan. Genta menyesali perbuatannya yang merugikan dirinya sendiri dan pikiran nya. Bahkan dirinya telah mengkhianati istrinya yang lugu.
__ADS_1
Sampai pukul lima pagi, Genta masih duduk beribadah beristighfar. Air matanya selalu mengalir jatuh saat mulutnya beristighfar dan hatinya bertasdik memohon ampunan.
Suara azan subuh terdengar keras dari luar. Zian membuka mata terbangun dari tidur nya. Zian melihat suaminya duduk beribadah sedang wiridan dan menangis dalam taubatnya. Zian segera turun dari tempat tidur nya dan bergegas mengambil air wudhu dan menggosok giginya. Setelah nya Zian memakai mukena nya dan duduk di belakang Genta untuk melakukan sholat berjamaah solat wajib dua rakaat subuh.
Genta berdiri lalu mereka mulai menjalani sholat subuh berjamaah.
*****
Di akhir salam, Genta mengulurkan tangannya. Punggung tangan itu dicium oleh Zian. Genta mengusap kepala Zian yang masih tertutup mukena. Setelah nya Genta berdiri dan melipat Sajadahnya.
"Kamu kalau masih mengantuk tidur lah kembali. Nanti aku akan membangun kan kamu, Zian!" ucap Genta. Zian mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Heem, aku bobok bentar yah bang!" sahut Zian. Genta mengecup kening istrinya dengan lembut. Setelah nya Genta keluar dari kamar itu menuju ke dapur. Genta ingin membuatkan sarapan untuk istrinya dan dirinya nanti.
__ADS_1
"Aku akan menebus semua kesalahan ku kepada Zian," gumam Genta sambil menyiapkan bahan-bahan. Kali. ini Genta akan membuat sarapan pagi nasi goreng spesial.