
Obrolan mereka terhenti sesaat karena pelayan kafe itu tiba dengan membawa pesanan makanan dan minuman mereka. Tidak banyak obrolan saat mereka menikmati makan itu bersama-sama di kafe itu. Yang pasti dalam hati Zian terbersit doa yang baik untuk mami nya. Seandainya saja mami nya bisa sama satu keyakinan dalam memeluk agama yang dipilihnya, pasti hari raya tahun depan akan semakin hangat dan lebih berkesan.
Setelah mereka menikmati makan bersama di siang itu, mami Juan mengajak ketiga gadis perawan itu berbelanja. Tentu saja Zian, Mariah dan juga Fauzi sangat antusias ketika di ajak kembali berbelanja ria. Walaupun sebelum mami Juan tiba mereka sudah berbelanja.
"Kita ke bagian busana muslimah yuk!" ajak mami Juan kepada ketiga anak-anak remaja yang saat ini sudah bergelar mahasiswa semester tujuh. Yah, sebentar lagi mereka akan menyelesaikan kuliahnya.
Ketika sudah berada di toko yang menjual berbagai kelengkapan busana muslim itu, mami Juan menarik Zian. Mami Juan mulai memilihkan pakaian Muslimah yang cocok dengan usia Zian.
"Sayang! Coba kamu pakai dulu di ruang ganti! Sepertinya sangat cantik dan anggun jika sudah kamu pakai, sayang," ucap mami Juan. Zian menerima pakaian yang bermodel gamis warna kecoklatan itu. Bahannya pun juga adem dan modelnya sederhana tidak terlalu terlihat mewah dan norak.
"Ini yah, mami? Hem, tapi ini harganya sangat mahal, mami! Nanti saja kita datang ke toko langganan Mariah yang busana muslimah nya murah-murah dan bahanya juga adem seperti ini," ucap Zian yang rasanya sudah tidak enak jika mami nya membelikan pakaian dengan harga yang mahal.
"Ayolah, Zian! Tidak apa sayang! Tidak apa-apa kalau kita ambil dia atau tiga setel pakaian yang mahal. Selebihnya nanti kita belanja di toko langganan Mariah. Oke?" desak mami Juan. Zian masih tidak bergeming atas desakan mami nya untuk mencoba pakaian Muslimah itu.
"Mariah, Fauzi kamu juga harus mencobanya. Ini supaya Zian mau mengambil pakaian Muslimah yang mami pilih ini," kata mami Juan. Fauzi dan juga Mariah saling pandang.
"Tidak usah, tante! Kami sudah banyak memiliki pakaian Muslimah. Jadi tidak usah tante, biar Zian saja," tolak Mariah. Fauzi juga membenarkan ucapan Mariah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Tante kan belum pernah membelikan pakaian Muslimah untuk Fauzi dan juga Mariah," desak mami Juan.
"Nah ayo Fauzi, Mariah, kita mencobanya bersama-sama. Kalau begini aku harus ambil pakaian Muslimah yang dibelikan oleh mami, supaya Fauzi dan Mariah juga mau menerimanya," kata Zian.
Akhirnya ketiga gadis perawan itu sama-sama menuju ke ruangan untuk mencoba pakaian Muslimah yang telah dipilihkan oleh mami Juan. Setelah beberapa saat ketiga nya keluar dan menunjukkan kepada mami Juan. Mami Juan yang melihat nya menjadi melongo dengan penampilan Zian, putrinya yang semakin cantik dan anggun.
"Benarkah ini kamu, Zian? Kamu cantik sekali sayang," ucap mami Juan. Zian tersenyum menatap mami nya. Sedangkan Fauzi dan Mariah yang sudah terbiasa mengenakan busana muslimah masih biasa dilihat oleh mami Juan. Namun bukan berarti tidak cantik dan anggun.
"Fauzi dan Mariah juga terlihat sangat cantik sekali," tambah mami Juan.
"Terimakasih tante!" sahut Fauzi.
"Terima kasih, tante Jian!" kata Mariah ikut mengucapkan terimakasih.
"Sebentar! Tante akan mengabadikan momen ini terlebih dahulu. Tante akan memfoto kalian bertiga dengan pakaian Muslimah dengan model yang sama, oke?" ucap mami Juan sangat bersemangat. Ketiga nya segera memposisikan dengan gaya yang anggun. Pelayan toko yang di dekat mereka tersenyum memperhatikan pelanggan mereka yang seperti nya cocok dan akan membeli pakaian Muslimah itu.
Apa yang kau inginkan di dunia ini? Sedangkan harta, tahta, wanita sudah kamu dapatkan. Bukankah tiga macam itu sudah ada di genggaman kamu? Lalu, apalagi yang kau ingkari dari pemberian Tuhan itu terhadap kamu? Iya! Pasti kamu belum mendapatkan ketenangan, ketentraman dari rasa nikmatNya bukan? Tentu saja! Kamu bisa mendapatkan dan memperoleh ketenangan, ketentraman, dan juga kedamaian itu jika kamu masih ada iman. Iman itu ada di hati kamu. Satu titik atau biji sawi pun akan terasa tenang jiwa kamu, jika ada cahaya keimanan itu. Carilah! Tidak sekadar berikrar, bahwa kamu adalah orang yang beriman. Semua terwujud dalam tingkah dan aplikasi perbuatan kamu. Temukan semua cahaya yang bisa menuntun langkah kamu menuju jalan- jalan yang di ridloi Nya. Tidak sekadar mencari kesenangan dan kepuasan diri dan menuruti hasrat diri. Dengarkan suara- suara hati kamu, yang lembut dan nyaris tidak terdengar karena hawa nafsu mu. Cahaya Nya akan memberi kedamaian dan kenikmatan yang abadi, lebih dekat dengan Nya.
__ADS_1
Sesungguhnya, kenikmatan yang sejati adalah bisa dekat dan di samping Nya. Melayani Nya, menuangkan air minum di bejana yang terbuat dari perak dan makanan minuman yang tidak mendatangkan kotoran. Semoga kita menjadi manusia pilihan Nya, walaupun dalam tangis kenikmatan selalu merindukan kasih sayang nya. Yakinlah! Tuhan Maha Baik memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan segala sesuatu yang kita inginkan.
Senja hari yang berwarna jingga. Hati redup karena ingatan masih terpaku pada bayangannya. Kenangan manis yang tertoreh di hati membawa kerinduan yang tak pernah mungkin terulang karena sosok yang di damba kini sudah menyatu dalam alam. Jasadnya menyatu dalam tanah kuburnya. Dari tanah dan kembali ke tanah, ber peluk dengan aroma binatang yang ada didalamnya. Dalam gelap itu hanya cahaya kebaikan nya yang akan menerangi tempat kembali itu. Pasrah menanggung dan bertanggung jawab terhadap segala perbuatan nya. Ridlo terhadap kuasa Tuhan menghukum atau memberi imbalan sesuai perbuatan yang dilakukan.
*****
Akhirnya ketiga gadis perawan itu sama-sama menuju ke ruangan untuk mencoba pakaian Muslimah yang telah dipilihkan oleh mami Juan. Setelah beberapa saat ketiga nya keluar dan menunjukkan kepada mami Juan. Mami Juan yang melihat nya menjadi melongo dengan penampilan Zian, putrinya yang semakin cantik dan anggun.
"Benarkah ini kamu, Zian? Kamu cantik sekali sayang," ucap mami Juan. Zian tersenyum menatap mami nya. Sedangkan Fauzi dan Mariah yang sudah terbiasa mengenakan busana muslimah masih biasa dilihat oleh mami Juan. Namun bukan berarti tidak cantik dan anggun.
"Fauzi dan Mariah juga terlihat sangat cantik sekali," tambah mami Juan.
"Terimakasih tante!" sahut Fauzi.
"Terima kasih, tante Jian!" kata Mariah ikut mengucapkan terimakasih.
"Sebentar! Tante akan mengabadikan momen ini terlebih dahulu. Tante akan memfoto kalian bertiga dengan pakaian Muslimah dengan model yang sama, oke?" ucap mami Juan sangat bersemangat. Ketiga nya segera memposisikan dengan gaya yang anggun. Pelayan toko yang di dekat mereka tersenyum memperhatikan pelanggan mereka yang seperti nya cocok dan akan membeli pakaian Muslimah itu.
__ADS_1
Keempat wanita-wanita itu akhirnya meninggalkan pusat perbelanjaan itu dan kembali ke rumah dengan membawa banyak tas belanjaan. Mami Juan merasa sangat bahagia bisa membelikan banyak barang-barang yang sangat diperlukan oleh Zian sebagai seorang muslimah.