Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 47


__ADS_3

Di malam perayaan natal. Saat ini Mariah sedang bersama suaminya jalan-jalan untuk mencari makan. Mariah ingin sekali makan soto betawi. Dengan ditemani suaminya yang baru tiba tadi sore dari luar kota, Mariah sangat bersemangat mengajak suaminya keluar untuk membeli soto betawi. Namun beberapa warung soto langganan mereka sudah tutup karena habis dagangan nya. Dengan cemberut, Mariah harus kecewa karena soto betawi yang diinginkan nya tidak ia dapatkan.


"Ayolah, sayang! Banyak menu makanan yang lezat selain soto betawi kan? Bagaimana kalau ayam bakar? Atau iga bakar? Atau Bebek panggang? Atau masakan Jepang?" semua disebut oleh suami Mariah. Namun Mariah tidak tertarik dengan semua yang ditawarkan oleh suaminya.


Saat kedua nya melintasi jalanan, di mana di sana ada sebuah bangunan peribadatan umat Kristiani, mereka harus memutar arah karena macet. Banyak jamaah yang keluar dari peribadatan itu. Mungkin mereka telah selesai mengikuti misa natal di malam itu. Namun ada beberapa orang di mana di sana rombongan sedang berjalan menuju ke area parkiran mobil. Mariah melihat sosok laki-laki yang cukup familiar wajahnya. Pandangan nya tertuju pada sosok laki-laki itu yang berjalan bersama anggota keluarga nya.


"Kamu lihat apa sayang?" tanya suami. Mariah. Mariah masih berusaha mengingat wajah laki-laki itu yang pernah dilihatnya. Tapi di mana, Mariah juga masih berusaha mengingatnya.


"Eh, itu seperti nya teman dekat Zian. Kenapa dia ada di sini? Apa yang sedang dia lakukan? Dia tadi keluar dari gereja itu," gumam Mariah.


"Oh, mereka selesai merayakan malam Natal, sayang! Kenapa kamu terlihat bengong seperti itu sih?" tanya suami Mariah.


"Tidak! Tidak kok! Aku hanya kaget saja, kenapa dia ada di sini?" Ucap Mariah. Selama ini apa yang dia ketahui dari Zian, Sandro satu server dengan Zian. Tapi apa yang dilihatnya malam ini begitu mengejutkan Mariah.


"Namanya juga merayakan hari raya sesuai agama dan kepercayaan mereka," ucap suami dari Mariah.


"Iya, kamu benar mas! Oh iya mas, daripada pulang tidak bawa apa-apa, bagaimana kalau kita beli bebek bakar saja," kata Mariah. Suami Mariah tersenyum menatap istrinya.


"Bukannya tadi aku sudah menawarkan bebek bakar juga?" sahut suami Mariah.


"Hehehe iya, kita beli itu saja mas! Daripada daripada, yah kan?" kata Mariah tidak mau disalahkan. Suami Mariah hanya bisa geleng-geleng kepala nya.


"Jadi putar arah lagi nih ke restoran bebek bakar," kata suami Mariah. Mariah tanpa merasa bersalah hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


*****


Sesampainya di rumah, Mariah masih memikirkan apa yang sudah dilihatnya tadi. Sandro. Benar! Mariah masih memikirkan laki-laki itu karena merasa ada yang salah dalam anggapan diri nya juga Zian sendiri. Padahal hampir setiap hari Zian bercerita mengenai laki-laki itu dengan nada bicara yang terkesan sangat tertarik, simpati dengan Sandro. Bahkan Zian bercerita kalau hubungan nya dengan Sandro sangat dekat. Mungkin lebih dari sekedar teman. Walaupun tidak ada komitmen kalau mereka berpacaran. Namun kedua nya sering ngopi bersama atau sekedar berbelanja bersama.


Zian bercerita kalau dengan Sandro ini saling mengingatkan waktu nya sholat dan lain sebagainya. Bahkan Zian sendiri menganggap kalau Sandro memiliki keyakinan dan kepercayaan yang sama. Mariah semakin tergelitik untuk membahas masalah ini pada Zian.


Setelah makan bersama dengan suami nya, dan suami Mariah sudah tertidur pulas, Mariah menuliskan pesan chat pada Zian. Dan Zian cepat sekali membalas pesan chat nya.


"*Zian kamu lagi ngapain?" tulis Mariah dalam pesan chat nya.


"Lagi rebahan sambil bermain handphone. Ada apa, Mariah?" balasan pesan chat Zian.


"Aku tadi lihat teman dekat kamu, kak Sandro," pesan chat Mariah.


"Cie.. cie.. cie.. Yang sedang dekat dengan cowok tampan," pesan chat Mariah.


"Hahaha, Mariah! Aku jadi malu deh! Oh iya, tadi kamu belum jawab pertanyaan ku. Di mana lihat kak Sandro?" pesan chat Zian.


"Tapi janji kamu jangan kaget dan terkejut yah," pesan chat Mariah.


"Iya, aku janji tidak terkejut dan jantungan," pesan chat Zian.


"Aku lihat kak Sandro keluar dari gereja bersama keluarga besar nya," pesan chat Mariah.

__ADS_1


"Oh, kak Sandro sangat toleransi sekali yah! Mungkin kak Sandro mendampingi anggota keluarga nya yang beragama nasrani. Benar-benar hebat, kak Sandro toleransi nya. Aku salut loh, Mariah," pesan chat Zian.


"Eh?? Kamu benar-benar tidak terkejut yah, Zian?" pesan chat Mariah.


"Tidak dong! Kenapa aku harus terkejut, Mariah? Hal seperti ini sudah biasa. Umat lain saling menjaga toleransi beragama saat merayakan hari besar nya," pesan chat Mariah.


"Tapi di sini aku malah beranggapan lain, Zian," pesan chat Mariah.


"Beranggapan lain bagaimana, Mariah?" pesan chat Zian.


"Beranggapan kalau kak Sandro sebenarnya beragama nasrani dan tadi sedang mengikuti perayaan natal atau misa," pesan chat Mariah.


"Ah, Mariah! Kamu salah besar! Bahkan aku sendiri menyaksikan dengan kepalaku sendiri kalau kak Sandro juga sholat jumat di masjid, kok," pesan chat Zian.


"Oh, tapi apakah kamu benar-benar lihat kalau kak Sandro melakukan ibadah sholat jumat dan tidak sekedar masuk masjid saja," pesan chat Mariah.


"Eh? Aku tidak melihat nya, Mariah! Sudah lah mungkin kamu salah lihat, Mariah! Mungkin apa yang kamu lihat itu seseorang yang mirip dengan Sandro. Tetapi bukan Sandro," pesan chat Zain.


"Ya sudah deh! Besok tanggal merah kan? Bagaimana kalau kita ketemuan dan makan bersama," pesan chat Mariah.


"Oke siap! See you, Mariah!" pesan chat Zian.


"See you to!" pesan chat Mariah*.

__ADS_1


__ADS_2