Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 7


__ADS_3

Malam hari tiba. Papi mami sudah duduk di ruang makan. Papi mami sudah menunggu Zian keluar dari dalam kamarnya. Memang Zian tiba di rumah sudah sore menjelang malam tepatnya jam lima sore.


Setelah pulang kuliah, Zian langsung belajar mengaji atau mempelajari huruf-huruf hijaiyah dalam bacaan alquran. Mariah dan Fauzi lah yang menemani Zian belajar mengaji di rumah Zian. Namun Fauzi hanya sebentar saja menemani Zian di rumah Mariah karena ada kepentingan. Zian memang belajar mengenal bacaan alquran dari Mariah sendiri dan dibantu oleh bunda nya Mariah yang bernama Bunda Salimah.


Kemauan dan tekad Zian untuk mempelajari ilmu agama sangat kuat. Walaupun Zian sudah menginjak diusia dewasa, namun Zian tidak malu untuk belajar dari awal atau nol. Bagi Zian lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pintu hatinya terbuka dan terketuk untuk lebih memahami agama yang telah di pilih oleh Zian.


Kembali ke ruangan makan di mana Pak Leo bersama dengan bu Juan sudah duduk di kursi makan itu. Di depannya meja makan sudah tersaji makanan dengan lauk dan sayuran lengkap. Minuman hangat kesukaan laki-laki dan wanita dewasa itu sudah ada di depan mereka masing-masing. Namun malam ini mereka tidak memanggil bibi Retno. Pak Leo dan juga bu Juan sengaja berbicara serius terlebih dahulu dan bertanya dengan Zian soal keyakinan nya saat ini. Alasan utama apa yang membuat Zian nekat dan menentukan pilihan nya memeluk keyakinan baru itu. Zian dan kedua orang tuanya selama ini tidak memeluk salah satu pun agama yang ada di negari. ini. Mereka hanya berpaham atheisme dan tidak meyakini agama mana pun.


Bu Juan lahir dari lingkungan keluarga kaya dan modern demikian juga dengan pak Leo. Namun berbeda dengan keluarga Bu Juan, keluarga bu Juan menganut kepercayaan dan keyakinan salah satu agama di negeri ini dan terbilang religius. Namun karena bu Juan telah menikah dengan Pak Leo, akhirnya dirinya terbawa oleh paham seperti Pak Leo yang tidak melakukan ibadah dari setiap agama mana pun yang ada di negeri ini.


"Zian kok belum juga turun, untuk makan malam, mi! Coba kamu ke kamarnya dan suruh Zian turun dan makan malam bersama-sama. Setelah makan kita akan berbincang-bincang serius dengan Zian secara dewasa dan kepala dingin. Kita mengesampingkan ego kita dan biarkan Zian memutuskan jalan hidup nya sendiri," kata Pak Leo.


"Baiklah, papi! Kalau begitu mami ke atas dulu dan memanggil Zian di dalam kamarnya," sahut mami Juan. Namun sebelum Mami Juan berdiri dan melangkah ke anak tangga, Zian sudah terlihat mulai menuruni anak tangga dan melangkah ke ruang makan.


"Zian, kamu lama sekali sayang!" sahut mami Juan.


"Maaf mami, papi! Zian tadi berendam mandi dulu. Seharian aktivitas membuat lelah badan Zian," alasan Zian.


"Ya sudahlah, ayo kamu makan! Ini ada menu enak-enak yang harus kamu cicipi," suruh mami Juan. Papi Leo tersebut menatap putri nya yang kini sudah mengambil piring nya dan mau makan mengambil lauk yang sudah tersaji di atas meja makan.

__ADS_1


Namun Zian mulai ragu-ragu untuk mengambil lauk di salah satu piring di atas meja itu. Lauk yang berupa daging namun dibumbui dengan sambal.


"Kenapa Zian? Makanlah! Itu daging b@bi dibuat dendeng dengan sambel merah nya," terang mami Juan. Zian menyipitkan matanya.


"Kalau ini kulit b@bi yang dibuat oseng-oseng sambel hijau. Ini rasanya bukan main lezatnya. Kamu harus mencobanya, sayang!" terang Mami Juan. Dengan lemas Zian mengurungkan niatnya mengambil dua menu yang diterangkan oleh mami nya.


Zian akhirnya mengambil tempe dengan ayam madu beserta sambel terasi kesukaan nya. Mami Juan dan Pak Leo menatap ke arah putri nya. Keduanya hanya ingin membuktikan bahwasanya Zian sudah benar-benar masuk atau menganut agama dan kepercayaan nya saat ini. Dan daging yang telah disebutkan oleh mami Juan adalah haram hukumnya jika dimakan oleh Zian. Apalagi masih banyak makanan yang lain di sana.


"Kenapa kamu gak makan dendeng b@bi dan sup nya, Zian?" tanya Pak Leo kepada Zian. Zian tersenyum memandang mami papi nya secara bergantian lalu tangan nya mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak papi mami! Aku pilih ayam dan juga tempe dengan sambal nya saja. Ini sudah bikin selera makan timbul dan bisa tambah makan lagi nanti," ucap Zian akhirnya. Kembali mami papi saling pandang lalu melemparkan senyuman.


Tidak jauh dari mereka berdua menikmati makan malam bersama di ruang makan, bibi Retno mengintip gerak-gerik satu keluarga kecil itu, terutama Zian yang sedang menikmati makan bersama kedua orang tuanya.


"Apakah non Zian makan dendeng atau oseng-oseng sambal ijo nya?" gumam Bibi Retno.


Di ruang makan itu mereka menikmati makanan nya tanpa ada suara dan ngobrol. Setelah beberapa saat kemudian barulah papi Leo memulai percakapan.


"Zian, apakah menurut kamu daging B2 itu haram dan tidak boleh dimakan dan dinikmati oleh manusia?" tanya Pak Leo membahas kembali. Zian melihat Pak Leo dan bu Juan secara bergantian.

__ADS_1


"Hem, menurut yang saya ketahui daging B2 memang haram hukumnya, papi mami! Namun begitu Zian belum bisa menjelaskan secara detail nya. Nanti coba Zian tanyakan kembali pada guru ngaji Zian," ucap Zian yang belum sadar sudah keceplosan bahwasanya selama ini Zian sudah belajar ilmu agama dengan guru ngajinya.


Mami Juan dan pak Leo saling pandang lalu mulai mengerutkan dahinya.


"Ups! Eh???" Zian mulai sadar kalau dirinya sudah keceplosan setelah beberapa lama mami papi nya terdiam dan memperhatikan dirinya.


"Baiklah! Secara tidak langsung kamu sudah memberitahukan kepada kami, kalau kamu sudah memeluk dan menganut agama yang turun dari timur Tengah itu?" tanya Pak Leo. Zian menunduk takut. Untuk beberapa saat semua terdiam. Pak Leo menarik nafasnya berusaha sabar karena telah dibohongi oleh putrinya selama ini.


"Jelaskan kepada mami papi, apa alasan kamu tiba-tiba berubah keyakinan kamu memeluk agama itu, Zian!" kata Pak Leo. Bu Juan diam dan hanya menyimak dengan serius. Cukup lama Zian belum menjawabnya hingga membuat kesabaran Pak Leo habis sudah. Pak Leo memukul meja makan yang ada di depannya. Zian dan juga mami Juan terkejut dibuatnya. Zian mengangkat kepalanya melihat ke arah papinya. Semua nya harus Zian hadapi dengan penuh keberanian. Ini sudah keputusan nya untuk menyakini agama yang sudah dipilihnya.


"Papi mami! Sebelumnya Zian minta maaf telah membohongi mami papi. Zian sudah dua bulan ini memeluk dan meyakini agama ini. Bahkan Zian Sudah belajar ilmu agama dan mengerjakan amalan yang diajarkan dalam agama yang Zian pilih. Namun begitu, Zian tetap menghormati mami papi yang tidak memeluk dan menyakini salah satu pun kepercayaan di negara ini," ucap Zian akhirnya.


"Saat itu Zian mendapatkan mimpi aneh. Dan mimpi itu sampai dua kali Zian alami dalam. tidur Zian. Hal. itulah yang membuat Zian ingin tahu dan menafsirkan artinya. Zian takut papi mami! Takut jika akan ada kehidupan lain setelah kematian. Itu sangat mengerikan sekali jika kita melakukan banyak dosa dan kesalahan sewaktu hidup di dunia ini. Ada balasan dari perbuatan kita," jelas Zian.


Mami papi Zian diam. Mereka memahami apa yang dijelaskan oleh Zian. Apalagi mami Juan dahulu nya sudah pernah menganut kepercayaan tertentu. Namun setelah menikah bersama dengan pak Leo, Mami Juan meninggalkan kepercayaan nya dan menjadi paham atheis dan tidak memeluk agama tertentu.


Mami Juan menangis namun dengan cepat menghapus air matanya.


"Bahkan aku dulu pernah menjadi manusia yang taat beribadah. Namun akhirnya aku murtad dan tidak mempercayai kalau bahwasanya ada Zat yang Maha Besar yang menciptakan alam semesta ini sebelum makhluk hidup dan manusia diciptakan di dunia," batin Mami Juan sambil menahan sesak di dadanya karena kesedihan nya.

__ADS_1


__ADS_2