Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
Perasaan Ivon


__ADS_3

Selama acara selamatan rumah baru Maya, suasana penuh keceriaan dan tawa terasa menghangatkan ruangan. Maya, sang tuan rumah, tersenyum lebar sambil berbincang-bincang dengan para tamu yang datang. Tidak jauh dari situ, James, sang bos di tempat kerja, berusaha untuk merasa lebih dekat dengan sahabat-sahabat dan teman-teman kuliah Maya.


"Sebaiknya mendekatkan diri lebih banyak, Ini kesempatan bagus buatku untuk mempererat hubungan pertemanan dengan Maya," batin James sambil mencoba tersenyum ramah kepada semua yang ada di sekitarnya.


James pun memutuskan untuk berbicara dengan Rani, Siska, dan beberapa teman lainnya. Ia ingin mengenal mereka lebih dalam dan sekaligus mengajak mereka berkolaborasi dalam proyek-proyek perusahaan. Dengan langkah mantap, ia mendekati Rani yang tengah asyik berbincang dengan sekelompok sahabatnya.


"Siska, Rani, apa kabar?" sapanya sambil meletakkan cangkir minumannya di atas meja yang berdekatan.


Rani melirik ke arah James, tersenyum hangat. "Hai, pak!"


"Sepertinya teman-temanku sedang sibuk hari ini."


Siska dan teman-teman yang lain juga ikut menyapa dengan ramah. Obrolan pun berjalan lancar, mencakup segala hal mulai dari acara selamatan, kuliah, hingga pekerjaan. James dengan cerdas mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan.


" Aku berpikir, mungkin kita bisa bekerja sama dalam salah satu proyek bersama. Pendapat kalian bagaimana?"


Rani dan Siska saling pandang, tampak tertarik dengan tawaran James. "Tentu, kami terbuka untuk kolaborasi," jawab Rani sambil tersenyum antusias.


Saat acara berlanjut, James terus berusaha membangun kedekatan dengan teman-teman Maya. Meskipun perasaannya semakin kuat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Maya, dia tetap memilih untuk menjaga hubungan ini dengan profesionalitas. Tidak ingin mempengaruhi dinamika kerja mereka, ia berusaha untuk menempatkan persahabatan di atasnya.


Seiring berjalannya pesta, obrolan semakin meriah dan tawa semakin keras terdengar. Semua orang terlihat menikmati momen berharga ini, termasuk James yang berbahagia bisa lebih dekat dengan teman-teman baru.


^^


"Acara ini sangat menyenangkan," Ucap James dengan senyuman ramah. "Kalian orangnya supel dan baik. Aku mendengar bahwa bisnis keluargamu rani sedang berjalan baik, dan aku berpikir, mungkin aku bisa membantu dengan menginvestasikan sebagian dana di sana. Aku juga senang bisa lebih dekat dengan teman-temanmu, termasuk kamu."


Rani tersenyum canggung, menyadari bahwa James sudah memiliki informasi tentangnya. "Pak james, senang berkenalan dengan Anda, aku sangat berterima kasih dan berharap bahwa Trotoarts bisa memberikan dukungan untuk bisnis keluarga saya."

__ADS_1


"Ya, tentu saja," kata James sambil mengangguk. "Kami benar-benar berharap bisa membantu. Pihak kami ingin berkontribusi dalam memajukan masyarakat dengan mendukung pengembangan usaha mikro."


Rani merasa haru dan terima kasih atas tawaran tersebut. "Terima kasih banyak, Pak," ujarnya dengan raut wajah yang penuh rasa syukur. Dia berharap bahwa percakapan ini akan membawa berita baik dan membantu membangun desanya menjadi lebih baik, khususnya dengan pertumbuhan bisnis keluarganya yang bisa menjadi lebih berkembang berkat bantuan dari Trotoarts.


^^


Setelah berbicara dengan Rani, James beralih ke Siska dan teman-teman lainnya. Ia dengan antusias mendengarkan cerita-cerita mereka, tertarik untuk lebih mengenal masing-masing dari mereka dan mengetahui pengalaman-pengalaman yang mereka bagikan. Obrolan berjalan seru, mengalir dengan tawa dan keceriaan.


Saat Siska mulai bercerita tentang pekerjaannya dan berbagai proyek yang tengah dia garap, James terlihat semakin tertarik. "Itu sangat menarik, Aku punya beberapa gagasan untuk proyek di perusahaan kalian juga. Mungkin nanti kita bisa duduk bersama dan membicarakannya lebih lanjut."


Siska mengangguk, terlihat senang dengan respon James. "Aku senang bisa berkolaborasi dalam proyek-proyek baru pak. Mungkin bisa saling bertukar gagasan dan pengalaman."


James menatap Siska dengan penuh antusiasme. Ia mulai memahami bahwa dengan lebih mendekati teman-teman Maya, ia bisa belajar banyak hal baru dan mengembangkan ide-ide segar dalam pekerjaannya. Meskipun ia merasa tertarik pada Maya, James tetap menjaga diri agar tidak menunjukkan perasaannya secara berlebihan. Baginya, menjaga profesionalitas dalam hubungan mereka adalah prioritas utama.


Acara selamatan berlanjut dengan riang, dan James berhasil membangun lebih banyak koneksi dengan teman-teman Maya. Ia mengambil inspirasi dari cerita Siska tentang bagaimana ia mengambil inisiatif dalam proyek-proyek yang ia garap. Setelah mendengar cerita itu, James berencana untuk juga mengambil langkah serupa dalam mengimplementasikan ide-ide barunya di tempat kerja.


^^


Di dalam rumah orang tuanya segalanya terasa sedikit suram karena hadirnya James di acara itu. Dia tidak ingin mengacaukan acara atau membuat orang lain khawatir tentang perasaannya untuk datang di acara tersebut secara dia juga tidak di undang. Meskipun begitu, rasa cemburu dan kehilangan masih terasa kuat di dalam dirinya.


Ibunya ivon merasa ada yang tidak beres. Dia merasa perlu berbicara untuk membuat Ivon anaknya dan ingin tau apa yang telah di lewatinya.


"Hey nak, apakah kamu baik-baik saja?" tanya ibu Ivon dengan penuh perhatian.


Ivon mencoba tersenyum palsu. "Apa yang baik-baik saja, james datang ke pesta perempuan kampong itu."


Ibu Ivon melihat melalui senyum palsu itu. "Ivon, Apa yang kawatirkan? Toh nanti james yang akan menikahimu"

__ADS_1


Ivon mengangguk pelan. "Ya, ibu benar. Tapi ini tidak seperti yang terlihat."


Ibu Ivon meletakkan tangannya di bahu Ivon dengan lembut. "Kamu tahu, Ivon, itu wajar untuk merasa seperti ini. Tapi ingatlah bahwa kebahagiaanmu tidak boleh tergantung pada kehadiran seseorang. Kamu harus kuat dan fokus pada dirimu sendiri."


Ivon merenung sejenak atas kata-kata Ibunya. Dia tahu bahwa ibunya benar. Dia tidak boleh membiarkan perasaannya terjebak dalam masa lalu. Dia harus membangun kebahagiaannya sendiri, terlepas dari siapa pun yang muncul dalam hidupnya.


Setelah berbicara dengan Ibunya, Ivon merasa lebih tenang. Dia berusaha untuk kembali menikmati acara selamatan dan menghabiskan waktu dengan teman-teman lainnya. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia berharga dan layak mendapatkan kebahagiaan.


Walaupun rasa sakit hati masih ada, Ivon tahu bahwa dia bisa mengatasi perasaannya dan melangkah maju. Dia tidak akan membiarkan masa lalu menghentikannya. Dengan dukungan dari teman-temannya, dia merasa lebih kuat untuk menghadapi situasi seperti ini di masa depan.


^^


Ivon sedang menghadapi dilema yang rumit dan sulit. Keinginannya untuk menikahi James demi mendapatkan harta miliknya adalah tanda bahwa dia mungkin merasa terluka dan ingin mendapatkan kembali kontrol dalam situasi ini. Namun, dia juga menyadari bahwa pernikahan harus didasarkan pada cinta dan komitmen yang tulus, bukan motifasi yang salah.


Dia berencana membuat beberapa langkah atas ide ibunya seperti:


Ivon perlu meluangkan waktu untuk merenung tentang alasan sebenarnya mengapa dia ingin menikahi James. Apakah ini murni tentang harta atau ada perasaan lain yang terlibat? Merenung tentang motivasi yang sebenarnya bisa membantunya memahami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dia inginkan.


Ivon bisa mencari teman atau keluarga yang bisa dia ajak berbicara secara jujur. Berbicara tentang perasaannya dengan seseorang yang dapat dipercaya dapat memberinya pandangan objektif dari luar dan mungkin memberikan nasihat yang berharga.


Ivon perlu menghadapi perasaannya terbuka dan jujur. Jika dia merasa terluka oleh hubungannya dengan James, penting untuk mengatasi perasaan itu terlebih dahulu sebelum membuat keputusan besar seperti menikahi seseorang.


Ivon perlu memahami nilai-nilai sejati pernikahan. Pernikahan seharusnya didasarkan pada cinta, saling pengertian, komitmen, dan kepercayaan. Menikahi seseorang hanya untuk alasan finansial atau harta bukanlah dasar yang sehat untuk hubungan pernikahan.


Jika Ivon merasa bingung dan kesulitan mengatasi perasaannya, dia bisa mencari bantuan dari seorang konselor atau terapis. Konseling dapat membantunya mengatasi perasaan dan dilema yang dia hadapi.


Ivon harus bisa memusatkan diri pada pertumbuhan pribadi dan pengembangan dirinya sendiri. Ini bisa melibatkan hobi, karir, atau peluang untuk belajar dan berkembang. Fokus pada dirinya sendiri akan membantunya merasa lebih kuat dan lebih berharga sebagai individu.

__ADS_1


Jika Ivon memiliki perasaan yang mendalam terhadap James, dia perlu menghadapinya secara langsung. Namun, penting untuk mengingat bahwa perasaan orang lain tidak selalu dapat diubah. Jika James tidak tertarik pada Ivon, maka mungkin lebih baik bagi Ivon untuk menerima kenyataan ini dan mencari cara untuk melanjutkan hidupnya.


__ADS_2