
Setelah beberapa minggu berkumpul dengan keluarganya di desa, Maya merasa waktu sudah tiba untuk kembali ke kota. Ia merasa bersyukur atas momen yang menyenangkan bersama orang tuanya, namun kini tugas dan persiapan wisuda menanti di depannya. Maya memutuskan untuk pamitan kepada orang tuanya.
"Ibu, Ayah, saya harus kembali ke kota sekarang. Persiapan wisuda sudah menunggu." Ucap Maya sambil memeluk ibunya
"Sayang, hati-hati di perjalanan. Semoga persiapanmu lancar dan wisudamu sukses." Jawab Ibu sambil memegang tangan Maya
"Semoga langkahmu selalu diberkahi, Maya. Kami bangga padamu dan doakan yang terbaik untukmu." Kata Ayah maya tersenyum
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Saya akan tetap berusaha yang terbaik dan mempersembahkan kebahagiaan untuk kalian."
"Izin pamit juga, Bu, Pak. Saya akan mengantar Maya kembali ke kota dengan aman." Kata edi berpamitan.
"Terima kasih, Edi. Hati-hati di jalan."
"Terima kasih, Edi. Jaga baik-baik Maya." Ucap ibunya
Maya mengucapkan salam perpisahan kepada keluarganya, merasakan kehangatan dalam pelukan dan doa-doa yang diucapkan oleh orang tuanya. Ia tahu bahwa mereka selalu mendukung dan menyayanginya dalam perjalanan hidupnya. Setelah pamitan, Maya dan Edi kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan kembali ke kota.
**
Tapi sebelum itu Maya memutuskan untuk mampir ke rumah Rani sebelum kembali ke kota. Ia ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kedua orang tua Rani yang telah memberikan kesempatan berharga baginya untuk kuliah dengan beasiswa yang diberikan. Maya merasa bahwa kedatangannya kali ini adalah momen yang tepat untuk mengucapkan terima kasih dan memperlihatkan penghargaannya karena kuliahnya sudah di puncak dan akan selesai.
__ADS_1
Maya tiba di rumah Rani dan langsung disambut hangat oleh kedua orang tuanya.
"Hai Maya, sudah mau balik ke kota?"
"Iya bu, Aku datang kesini lagi untuk mengucapkan terima kasih kepada Anda dan Ayah atas kesempatan berharga yang telah diberikan kepada saya sekalian mau pamitan."
"Tidak perlu terima kasih, Maya. Kamu adalah orang yang pantas mendapatkan kesempatan itu. Kami hanya senang bisa membantu, selamat jalan dan berhati-hatilah." Kata ayah Rani.
"Dari lubuk hati yang terdalam aku sungguh berterima kasih atas bantuan dan dukungan Anda. Tanpa beasiswa tersebut, saya tidak akan bisa mewujudkan impian saya untuk kuliah dan mencapai apa yang saya capai sekarang, di masa depan dengan pengetahuan yang saya peroleh saya akan membantu sebisa saya bantu pak, bu." Jelas maya memberi hormat.
"Sudahlah Kamu memang pantas mendapatkan semua kesuksesan yang kamu raih, Maya. Kami selalu mendukungmu." Ucap ibu rani
Maya merasa hangat di dalam hati melihat senyuman dan dukungan dari kedua orang tua Rani. Mereka adalah sosok yang berperan besar dalam perjalanan hidupnya, dan Maya ingin mereka tahu betapa berharganya mereka baginya.
Setelah berbincang sejenak dan berpamitan dengan penuh rasa terima kasih, Maya meninggalkan rumah Rani dengan hati yang penuh rasa syukur. Ia kembali merasakan betapa pentingnya dukungan dan cinta dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Dengan semangat yang baru, Maya melanjutkan perjalanannya kembali ke kota untuk melanjutkan persiapan wisuda dan meraih impian-impian berikutnya.
Maya memulai perjalanannya dari desa menuju kota dengan membawa kenangan indah dari masa kecilnya. Setiap sudut jalan, setiap pemandangan yang ia lewati, mengingatkannya pada momen-momen berharga yang pernah ia alami di desa. Maya merasa sedih meninggalkan desa yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, tetapi juga penuh antusiasme menghadapi perjalanan baru yang menanti di kota.
Saat melewati ladang gandum yang luas, Maya teringat bagaimana ia sering bermain di tengah ladang bersama teman-temannya. Mereka berlarian di antara bulir-bulir gandum yang menguning, tertawa dan bermain tanpa henti. Maya merasa terharu melihat betapa subur dan hijaunya ladang gandum tersebut, sebagai simbol kehidupan dan kerja keras orang-orang di desa.
Perjalanan Maya dilanjutkan melewati kebun kopi dan teh yang terhampar luas. Aroma kopi yang harum dan dedaunan teh yang hijau membuatnya teringat akan waktu-waktu santai di pagi hari bersama keluarga, menikmati secangkir kopi atau teh hangat. Maya merasa bangga bahwa orang tuanya walau pun hanya sebagai petani gandum miskin tetapi memiliki segalanya, dan ia merasa terinspirasi untuk terus berusaha dan menggapai kesuksesan untuk mereka suatu hari nanti.
__ADS_1
Maya juga melewati sekolah tempatnya bersekolah di sekolah dasar dulu. Bangunan kecil yang sederhana namun penuh kenangan. Di sana, ia belajar, bermain, dan tumbuh bersama teman-temannya. Maya mengenang guru-gurunya yang penuh kasih sayang dan teman-temannya yang selalu memberikan dukungan. Ia merasa bersyukur memiliki masa kecil yang indah di desa.
Perjalanan dari desa ke kota telah membawa Maya melewati jalan kenangan yang berharga. Dalam hatinya, ia membawa cerita dan nilai-nilai yang ia dapatkan dari desa tersebut. Maya siap melangkah ke depan dengan keyakinan dan tekad untuk meraih impian-impian barunya di kota.
Saat akhirnya Maya tiba di kota, ia merasa seperti memasuki dunia baru yang penuh dengan potensi dan peluang. Kenangan-kenangan dari desa tetap ada dalam hatinya, memberikan kekuatan dan semangat untuk melangkah maju. Maya siap menghadapi tantangan dan menjalani perjalanan hidup yang baru di kota.
Perjalanan kembali ke kota pun berlangsung dengan lancar, Maya duduk di dalam mobil dengan pikirannya penuh harapan dan semangat. Persiapan wisuda dan langkah ke depannya sebagai lulusan yang sukses menanti di hadapannya. Ia merasa berterima kasih atas semua dukungan dan kesempatan yang diberikan kepadanya. Dengan semangat yang membara, Maya siap melangkah menuju masa depan yang cerah.
^^
Maya tiba di gerbang asrama dengan langkah yang tergesa-gesa. Dia merasa senang akhirnya sampai di kota dan kembali ke lingkungan asrama yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun. Maya membuka pintu gerbang asrama dan melangkah masuk, menyusuri koridor yang sudah sangat familiar baginya.
Sampai di depan pintu kamar, Maya menghela nafas lega. Dia merasa rindu dengan kenyamanan kamar tersebut, tempat di mana ia sering belajar, beristirahat, dan meluangkan waktu bersama teman-temannya. Maya membuka pintu kamar dan memasukinya tapi tidak menemukan Shanty di dalam kamar dan sepertinya ia sedang kuliah pikirnya.
Kamarnya terlihat sama seperti dulu, dengan meja belajar, lemari, dan tempat tidur yang nyaman. Maya meletakkan tasnya di meja belajar dan duduk sejenak di samping tempat tidur. Dia merasa sedikit lelah setelah perjalanan panjang dari desa.
Maya melihat sekeliling kamarnya, mengingat berbagai momen dan kenangan yang pernah dia alami di sana. Poster-poster motivasi yang menghiasi dinding kamar mengingatkannya untuk terus berjuang dan menggapai impian-impiannya. Maya merasa semangat kembali membara di hatinya. Tak lama berselang edi mengetuk pintu dan menyerahkan sisa bawaan dari dalam mobil dan pamitan untuk beristirahat juga.
Dengan semangat yang baru, Maya mulai merapikan barang-barangnya dan menyusun kembali buku-buku dan peralatan belajarnya. Dia merasa termotivasi untuk melanjutkan persiapan skripsi dan menyelesaikan studinya dengan baik. Maya tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir, dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi dia siap menghadapinya dengan tekad yang kuat.
Sambil tersenyum, Maya merasa senang bisa kembali ke kamarnya yang nyaman. Dia yakin bahwa dengan kerja keras, tekad, dan dukungan dari teman-teman serta keluarganya, dia akan mampu meraih impian-impian yang telah ia tuju. Maya siap memulai babak baru dalam hidupnya di kota dan terus berjuang untuk masa depan yang gemilang.
__ADS_1