Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 24


__ADS_3

Hari libur, Miska sengaja datang dan bermain di rumah Fauzi. Ingat Fauzi bukan? Fauzi adalah adiknya Genta. Di mana Fauzi sampai sekarang belum menikah sama seperti Mariah. Fauzi dan Mariah adalah sahabat dari Zian yang usianya juga sama.


Fauzi sendiri masih tinggal bersama kedua orang tuanya yaitu mama Desi dan pak Fendy. Miska celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Fauzi menjadi penasaran siapa yang ingin di cari oleh Miska.


"Ada apa Miska? Kamu mencari abang Genta?" tanya Fauzi. Miska malu-malu melemparkan senyuman manisnya. Dari senyuman nya Miska membenarkan ucapan Fauzi. Benar, jika dirinya saat ini ingin melihat Genta. Itu mungkin bisa mengobati rasa rindunya. Entah kenapa setelah peristiwa di kafe itu yang awalnya hanya bermain api dengan Genta berbuntut pada rasa lain yang timbul pada diri Miska. Padahal sebelumnya antara Miska dengan Genta pun selayaknya teman dan bahkan sering adu mulut dan bertengkar. Namun karena kesalahan yang telah dibuat Genta itulah akhirnya membawa Miska ke suatu pengharapan. Padahal Genta sendiri melakukan itu karena pelampiasan dari hasratnya.


"Bang Genta sudah menikah dengan kak Zian. Jadi sudah tidak tinggal di sini lagi. Bang Genta tentu saja tinggal bersama istrinya. Kalau boleh tahu, ada urusan apa kamu mencari bang Genta?" ucap Fauzi.


"Tidak penting kok! Hanya ingin ketemu dan melihat wajah abang mu itu saja. Itu sudah cukup," jawab Miska. Fauzi mengerutkan dahinya mendengar ucapan Miska.


"Bang Genta sudah menikah dan menjadi suami orang. Kamu jangan mengganggu hubungan suami istri itu yah, Miska," sahut Fauzi dengan nada yang ketus.


"Eh, siapa juga yang mau mengganggu mereka? Aku hanya ingin melihat abang kamu itu saja kok," kata Miska.


"Kenapa? Kamu rindu dengan abang ku? Awas loh! Rindu itu berat! Nanti kamu benar-benar jadi suka dan berharap untuk memiliki bang Genta," tuduh Fauzi.


"Enggak, Fauzi! Itu tidak mungkin! Bang Genta bukan tipe aku. Percaya deh dengan aku," sahut Miska.


"Baiklah! Tapi aku harus selalu mengingatkan kamu, Miska! Kalau istri bang Genta juga sahabat ku. Dia wanita yang baik untuk abang ku," kata Fauzi.


"Iya, iya kok kamu jadi takut sekali kalau aku mau merebut suami orang," ucap Miska.


"Karena zaman sekarang ini, suami dan istri orang lebih menarik daripada seorang gadis dan seorang bujangan," sahut Fauzi.


"Hem, apakah kamu juga mengalami nya?Maksudnya kamu juga menyukai suami orang?" tuduh Miska membalikkan fakta.


"Ya, enggaklah! Aku bukan tipe wanita perebut suami orang. Pemuda yang masih muda dan lajang saja masih banyak, ngapain juga ingin merebut suami orang," kata Fauzi ketus.


"Oke, oke! Kok dari tadi kita ribut saja sih!" sahut Miska.


"Habis kamu yang memulainya sih!" kata Fauzi.


Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar di depan rumah. Fauzi dan Miska saling pandang. Fauzi menatap curiga Miska. Sedangkan Miska sendiri penuh tanda tanya menatap Fauzi.

__ADS_1


"Itu mobil bang Genta! Apakah kamu sudah janjian dengan bang Genta kemari?" tuduh Fauzi.


"Ya Tuhan! Kenapa kamu menuduh aku sih? Aku justru tidak tahu kalau itu mobil abang kamu yang baru datang," sahut Miska.


"Semoga saja bang Genta datang bersama dengan Zian! Jadi kamu tidak ada kesempatan untuk menggoda abang ku," ucap Fauzi sewot. Miska mengerutkan dahinya.


"Ih kamu ini aneh loh, sejak tadi kamu menuduh aku terus kalau aku ingin merusak kebahagiaan abang kamu dengan istrinya?" protes Miska.


"Karena wajah kamu itu tipe wanita perusak rumah tangga orang dan suka mencuri suami. orang," sahut Fauzi tanpa memperdulikan perasaan Miska. Miska cemberut saja mendengar ucapan dari Fauzi.


Tok.


tok.


tok.


Suara langkah kaki dengan sepatu pria mendekati kedua wanita yang sedari tadi ribut dan adu mulut.


"Halo abang! Loh, kak Zian mana?" tanya Fauzi sambil melihat jauh ke arah pintu masuk rumah itu.


"Zian lagi periksa ke dokter kandungan bersamamu mami Juan!" jawab Genta.


"Wow, apakah Zian sudah hamil saat ini, bang?" tanya Fauzi.


"On proses, dik!" jawab Genta.


"Oh kirain saja!" sahut Fauzi kecewa.


"Miska, kamu sudah dari tadi disini?" tanya Genta.


"Lumayan, sih? Oh iya, aku bawain sesuatu buat kamu, Genta!" sahut Miska. Fauzi cemberut ketika Miska berusaha menarik perhatian Genta.


"Oh iya? Apa itu?" tanya Genta saat Miska memberikan paper bag kepada Genta. Genta mengintip isinya.

__ADS_1


"Wah terimakasih banyak yah! Aku memang suka brownies kukus. Ngomong-omong kamu kok tahu kalau aku menyukai brownies kukus?" ucap Genta.


"Tahu dong!" sahut Miska bangga. Fauzi semakin terlihat tidak suka jika Miska semakin ingin dekat dengan abangnya itu.


Fauzi segera menarik tangan abangnya itu menjauh dari Miska. Fauzi mengajak abangnya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa sih, dik?" tanya Genta penasaran dengan sikap adiknya yang seperti sangat protektif sekali jika ada Miska.


"Abang kenapa datang kemari? Abang janjian dengan Miska yah?" tuduh Fauzi. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak, dik! Malah aku tidak tahu kalau Miska ada di sini," jawab Genta.


"Awas saja kalau bang Genta bohong! Jika kalian ada apa-apa akan aku adukan pada kak Zian! Kak Zian adalah sahabat ku, jadi abang jangan macam-macam dan menyakiti kak Zian," ancam Fauzi. Genta menyipitkan kedua bola matanya.


Semenjak abangnya menikah dengan Zian, Fauzi memanggil Zian dengan kakak. Itu karena Zian sudah menjadi kakak iparnya.


"Tidak adikku yang bawel sendiri! Haduh, sejak kapan sih kamu jadi cemburuan seperti itu? Zian saja tidak cemburuan kok, kamu yang adikku sendiri menjadi cemburuan," kata Genta.


"Itu karena aku tidak mau abang menyakiti kak Zian. Hayo, jangan-jangan benar kalau diantara abang Genta dengan Miska ada sesuatu yah?" kata Fauzi kembali menuduh abangnya.


Kembali Genta menjadi bingung sendiri. Dibilang tidak ada sesuatu nyatanya antara dirinya dengan Miska pernah melakukan perzinaan dan itu nyata dan jelas sudah mengkhianati Zian. Walaupun tidak ada komitmen keduanya melakukan hubungan badan itu.


"Kenapa diam bang? Apakah sudah terjadi sesuatu antara abang Genta dengan Miska? Ayo ngaku bang!" cecar Fauzi.


"Tidak ada adikku sayang! Sudahlah, abang jadi bingung! Lebih baik abang pulang saja! Daripada dituduh yang macam-macam sama kamu!" kata Genta.


"Eh, jangan buru-buru pulang dong bang!" Fauzi menahan Abang nya.


"Habisnya dari sejak abang tiba, kamu seperti menuduh abang saja. Pasti kamu juga sudah menuduh Miska yah?" kata Genta.


"Habis nya kalian terlihat sangat aneh. Apalagi Miska pakai acara kesini dan kasih brownies ke abang. Itu sangat niat sekali dan bukan unsur kesengajaan datang kemari untuk bertemu dengan aku, bang! Tetapi ingin mencari abang," kata Fauzi menjelaskan.


"Ya Tuhan! Kenapa kamu dulu tidak menjadi detektif sih dik?" sahut Genta yang ngacir meninggalkan Fauzi di kamarnya. Fauzi kini masih bersikeras dengan analisa nya. Dia. tidak mungkin salah dalam memprediksi sesuatu. Karena itu adalah kelebihan nya dari sejak dulu.

__ADS_1


__ADS_2