Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
Hadiah tak terduga


__ADS_3

Maya merasa sangat bahagia setelah berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar sarjana cum laude. Dia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya untuk merayakan kesuksesannya bersama seluruh keluarga dan orang-orang terdekatnya. Dia ingin berbagi kebahagiaan ini dengan mereka yang selalu memberikan dukungan dan semangat padanya selama perjalanan studinya.


Maya memberitahu orang tuanya tentang rencananya untuk pulang ke kampung halaman saja merayakan ini bersama semua orang-orang terdekat dalam dua hari lagi karena dia harus berbenah mengeluarkan semua barang-barangnya dari asrama kampus. Kepala desa ayah Siska yang tau akan hal itu segera mempersiapkan segala sesuatu bersama beberapa warga untuk menyambut kepulangan Maya dengan penuh kegembiraan.


Ayah Merlin yang juga kepala sekolah menengahnya dulu merasa campur aduk saat mendengar cerita tentang keberhasilan Maya dan rencananya untuk merayakan dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Dia merasa bangga melihat perkembangan Maya yang begitu gemilang dan berhasil meraih gelar. Namun, di saat yang sama, ia juga merasa malu dan menyesal karena pernah menjegal Maya di masa lalu.


Ayah Merlin menyadari bahwa sikapnya yang dulu telah menyebabkan kekecewaan dan penderitaan bagi Maya. Dia merasa menyesal karena telah menempatkan ambisi dan kesuksesan anaknya sendiri di atas kebahagiaan dan kesuksesan Maya. Ayah Merlin menyadari betapa besar potensi Maya dan betapa pentingnya memberikan dukungan dan semangat pada anak-anak untuk meraih impian mereka.


Disisi lain Merlin, yang kebenciannya terhadap Maya semakin mengakar, memutuskan untuk menghasut ayahnya dengan cerita palsu tentang keberhasilan Maya dan acara di desa. Dia merasa bahwa jika upayanya di kota untuk menjegal Maya tidak berhasil, mungkin dia bisa mencoba di desa dengan memanfaatkan kedudukan ayahnya. Dalam pikirannya, ayahnya sebagai kepala sekolah desa memiliki kekuasaan yang cukup untuk menghancurkan keberhasilan dan reputasi Maya di hadapan masyarakat desa.


Dia meraih ponselnya dan ingin segera menghubungi ayahnya dengan penuh ketegangan mengajukan rencananya itu. "Ayah, kamu tahu kan tentang keberhasilan Maya kan? Dia akan mengadakan acara besar di desa besok untuk merayakan prestasinya," ucap Merlin dengan nada berapi-api.


Ayah Merlin, yang sebelumnya telah merasa campur aduk dengan keberhasilan Maya, mendengarkan cerita yang diceritakan oleh Merlin dengan penuh minat. "Benarkah? Aku sudah mendapatkan kabar bahwa akan diadakan oleh Maya dan keluarganya apakah itu mewah?" tanya Ayah Merlin dengan rasa penasaran.


Merlin tersenyum puas ahaaa masuk perangkap dan ia pun melanjutkan ceritanya dengan berbagai detail palsu. Dia menceritakan tentang acara yang mengesankan dengan hiburan dan panggung yang megah, serta kehadiran orang-orang terkenal dan pejabat tinggi. Dia menambahkan bahwa acara itu akan menjadi sorotan media dan semua orang akan memuji Maya sebagai tokoh sukses di desa.


Ayah Merlin terlihat terpesona dengan cerita yang dibawakan oleh Merlin. Dia mulai memikirkan peluang untuk menggunakan kedudukannya sebagai kepala sekolah desa untuk menghadang keberhasilan Maya. Dalam pikirannya, jika dia bisa menghentikan acara di desa, maka reputasi Maya akan tercemar dan dia tidak akan lagi dianggap sebagai sosok yang sukses di mata masyarakat desa.


"Kita harus menghentikan acara itu, Merlin. Saya akan menggunakan posisi saya sebagai kepala sekolah untuk mengatur segalanya," ujar Ayah Merlin dengan tekad yang membara.


Merlin merasa senang seperti mau salto tapi takut kejedut saat mendengar ayahnya terpengaruh oleh ceritanya. Dia merasa semakin dekat dengan tujuannya untuk menjegal Maya dan membalas dendam atas kebenciannya yang telah terpendam selama ini. Dia berencana untuk mengatur segalanya dengan hati-hati dan memastikan bahwa rencananya berhasil.


Obrolan mereka berlanjut dengan perencanaan jahat dan cara-cara untuk menggagalkan acara di desa. Merlin memanfaatkan pengetahuan dan pengaruh ayahnya untuk mengatur segala sesuatunya, mulai dari izin hingga dukungan masyarakat desa. Mereka berdua semakin terlibat dalam rencana jahat ini, dengan keyakinan bahwa mereka akan berhasil menghancurkan keberhasilan Maya dan mengubah acara itu menjadi malapetaka bagi reputasinya. Tapi tanpa di ketahui Ayah siska yang merupakan kepala desa tersebut telah duluan mempersiapkan segala sesuatu tanpa hambatan berarti.

__ADS_1


^^


Ketika Maya tiba di kampung halamannya bersama kedua orang tuanya sore itu, dia disambut dengan sorak-sorai kebahagiaan dari penduduk desa karena telah lahir seorang yang berprestasi di desa mereka dan berharap untuk memberikan perubahan secara signifikan kedepannya. Semua orang berkumpul di rumah Maya untuk merayakan kesuksesannya. Ada set panggung yang telah di siapkan oleh kepala desa ayah Siska dengan warga. Panggung megah itu berdiri di tengah tanah kosong samping rumah orang tua Maya, siap untuk menjadi tempat di mana harapan dan kebanggaan berpadu. Banyak makanan lezat yang disajikan, lagu dan tarian yang menggembirakan, serta cerita-cerita hangat dan tawa yang mengisi udara.


Maya merasa sangat bersyukur atas dukungan dan kasih sayang yang diberikan oleh seluruh keluarga dan teman-temannya. Dia merasa sangat bahagia bisa kembali ke akar-akarnya dan berbagi kebahagiaan ini dengan mereka. Maya merasa bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk menghargai dan menghormati perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.


Dalam suasana yang penuh kegembiraan dan haru, acara di desa untuk merayakan keberhasilan Maya dimulai. Orang-orang desa berkumpul, dipenuhi dengan senyum dan kebanggaan atas prestasi yang telah diraih oleh Maya.


Namun, tiba-tiba suasana itu berubah. Ayah Merlin, dengan wajah serius dan penuh pengaruh sebagai kepala sekolah desa, naik ke panggung. Dia mengambil mikrofon dan memberikan pengumuman yang tak terduga kepada semua orang yang hadir.


"Mohon matikan musiknya sebentar dan mohon minta waktu sebentar. Ok terima kasih atas kehadiran kalian semua di acara ini. Saya memiliki sebuah pengumuman penting yang harus disampaikan," ujar Ayah Merlin dengan suara yang terdengar jelas dan tegas.


Semua mata tertuju padanya, termasuk Maya yang penuh harap-harap cemas. Ayah Merlin melanjutkan pengumumannya dengan penuh keyakinan, "Sayangnya, saya harus memberitahukan bahwa acara ini tidak memiliki izin resmi dan tidak sah. Semua informasi yang beredar tentang Maya dan keberhasilannya adalah palsu."


Suasana hening dan terkejut menggantikan kegembiraan yang sebelumnya mengisi udara. Orang-orang desa saling berbisik dan bertanya-tanya tentang kebenaran dari kata-kata Ayah Merlin. Maya merasa terpukul dan bingung, tidak menyangka bahwa acara yang seharusnya menjadi momen kebanggaan malah berubah menjadi kekecewaan yang mendalam.


“Siapa yang bilang acara disini tidak sah, dan apa kompetensimu untuk memberikan ijin?” Ayah Siska sebagai kepala desa tidak terima karena merasa di langkahi.


Saat melihat keadaan yang semakin kacau, Rani, teman baik Maya, dengan tegas berdiri di hadapan semua orang. "Tunggu sebentar! Apakah ada bukti konkret tentang klaim ini? Apakah ada saksi yang mendukung pernyataan ini?" ujarnya dengan suara lantang.


Orang-orang desa, termasuk beberapa yang awalnya terpengaruh oleh pengumuman Ayah Merlin, mulai mempertanyakan kebenaran pernyataan tersebut. Mereka merasa bahwa ada yang tidak beres, bahwa mereka tidak boleh begitu saja mempercayai tuduhan palsu tanpa bukti yang jelas.


Saat suasana tegang sedang berlangsung ada empat mobil mewah berhenti di dekat tenda, dan itu mencuri perhatian semua orang yang hadir di acara di desa. Tepat di belakang mobil-mobil itu, turunlah sekelompok pria berjas, menunjukkan kesan kemewahan dan kekuasaan yang mereka miliki. Semua orang menoleh, penasaran dengan kedatangan mereka yang mengejutkan.

__ADS_1


Seorang pria yang menjadi pimpinan orang-orang tersebut melangkah maju dengan percaya diri menuju depan panggung di mana maya berada. Tanpa menaiki panggung dia menghadapi semua orang yang hadir, termasuk Maya, dengan sikap yang tegas dan penuh kepercayaan diri. Dalam tangan pria itu, tersembul kunci mobil yang indah, sebuah Audi A8 L yang megah.


Pria tersebut memandang Maya dengan tatapan yang penuh penghormatan dan berkata dengan suara lantang, "Maya, atas nama Trotoarts Inc., saya dengan bangga mengumumkan bahwa Anda adalah aset berharga perusahaan. Sebagai tanda penghargaan dan pengakuan atas prestasi dan dedikasi Anda, Pimpinan kami James Arthur memberikan hadiah ini kepada Anda sebagai hadiah kelulusanmu dengan predikat terbaik."


Maya, terkejut dengan hadiah yang tak terduga ini, merasa campur aduk dalam hatinya antara gugup dan cemas. Di satu sisi, dia merasa terharu dan bangga atas pengakuan yang diberikan oleh perusahaan. Namun, di sisi lain, dia juga merasa dilema tentang keputusan yang harus diambilnya.


Pria itu dengan bijak dan penuh perhatian, menambahkan, "Maya, Pak James mengundang Anda untuk kembali ke perusahaan dan melanjutkan perjalanan Anda bersama kami. Kami percaya bahwa potensi dan bakat Anda akan terus berkembang dan memberikan kontribusi besar bagi perusahaan."


Maya merasa terhormat dan berterima kasih atas tawaran tersebut, namun, dia juga menyadari bahwa ada pertimbangan lain yang harus dia pikirkan. Dia tidak ingin terjebak dalam dunia kekayaan dan kemewahan semata karena ia pun sudah terbiasa hidup sederhana, tetapi juga ingin memastikan bahwa keputusannya akan memberikan dampak positif bagi dirinya dan orang-orang terdekatnya terkhusus kedua orang tuanya.


Dalam hati, Maya menyimpan pertanyaan dan keputusan yang harus dia ambil. Dia tahu bahwa pilihan ini akan membentuk jalannya ke depan, dan dia harus memikirkannya dengan matang sebelum membuat keputusan akhir.


Pada saat itu, hening menyelimuti kerumunan orang yang hadir. Semua mata tertuju pada Maya, menunggu keputusan yang akan diambilnya. Maya merenung sejenak, mempertimbangkan nilai-nilai dan tujuan hidupnya.


Akhirnya, Maya mengucapkan terima kasih kepada Pak James melalui para perwakilan Trotoarts Inc. atas penghargaan dan kepercayaan yang diberikan. Namun, dia juga dengan tegas menyampaikan bahwa dia perlu waktu untuk mempertimbangkan tawaran tersebut dengan baik.


Keputusan Maya tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada masa depannya dan impian-impian yang telah dia bangun selama ini. Dia tahu bahwa dia harus menjalani perjalanan yang sesuai dengan hati nuraninya dan dengan keyakinan bahwa keputusannya akan membawanya ke arah yang benar.


Dengan demikian, Maya menyimpan hadiah tersebut, tetapi dengan hati yang berpikir dan berjiwa pemberani, dia akan menentukan jalan hidupnya sendiri yang sesuai dengan nilai-nilai dan impian yang dia anut.


Melihat hadiah mewah yang diberikan kepada Maya oleh Trotoarts Inc., Merlin dan ayahnya merasa seperti tenggelam dalam lumpur rawa emosi. Mereka merasa terjepit antara kecemburuan, kekecewaan, dan rasa frustrasi.


Merlin merasa dirinya terhina karena Maya, yang dianggapnya sebagai musuh dan saingan, kini mendapatkan pengakuan yang begitu besar dari perusahaan yang mereka impikan. Dia merasa dendam semakin membara di dalam dirinya, ingin menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan Maya.

__ADS_1


Ayah Merlin, di sisi lain, merasa bingung dan terkejut. Dia merasa dilematis karena sebagian hatinya merasa bangga dengan prestasi Maya, namun di sisi lain, rasa iri dan kekecewaan yang mendalam terus menyergapnya. Ayah Merlin memahami bahwa keberhasilan Maya adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi yang tak terbantahkan, tetapi perasaan cemburu dan iri masih sulit dihilangkan.


Dalam keheningan yang memenuhi hati mereka, Merlin dan ayahnya memandang Maya dengan pandangan penuh kebencian dan keinginan untuk membalas dendam. Mereka menyusun rencana jahat, mencari cara untuk menjegal Maya dan meruntuhkan segala hal yang telah dia bangun.


__ADS_2