Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 13


__ADS_3

Genta mendekati Zian. Fauzi dan juga Mariah menjadi menyipitkan bola matanya melihat Genta seperti ada modus mendekati Zian.


"Oh iya, bagaimana kalau aku. mengantarkan kamu pulang?" kata Genta berusaha menawarkan diri. Fauzi, adik nya Genta jadi memutar bola matanya melihat sikap kakaknya yang sedang berusaha mendekati Zian. Zian melihat ke arah Fauzi dan juga Mariah secara bergantian.


"Tidak apa-apa Zian, rumah kamu dengan rumah kami satu arah. Berbeda dengan rumah Mariah yang berbeda jalurnya," sahut Fauzi yang juga mulai mengerti jika abangnya seperti ingin mendekati sahabatnya itu.


"Nah, bukannya kebetulan bukan? Jadi, kamu tidak ada alasan untuk menolak tawaran kami. Jika kami mengantarkan kamu pulang ke rumah," kata Genta.


"Hem, tapi kata mami, beliau akan menjemput ku. Kalau begitu aku harus menghubungi mami dulu supaya tidak menjemput ku ke kampus," jelas Zian.


"Benar, Zian! Ya sudah, kamu telepon tante Juan supaya tidak menjemput kamu ke kampus ini," sahut Fauzi bersemangat.


"Baiklah!" ucap Zian akhirnya.


"Mariah, aku pulang dulu yah! Kamu tidak apa-apa kan pulang sendiri?" tambah Zian yang melihat Mariah masih berada di sana.


"Iya, jangan khawatir sayang! Aku kan naik motor sendiri loh," sahut Mariah. Zian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya yah, aku sampai lupa kalau hari ini kamu bawa motor sendiri," sahut Zian.


"Zian, ayo!" ajak Fauzi sambil menarik tangan Zian menuju parkiran dimana mobil bang Genta berada.


Zian kini sudah berada di dalam mobil Genta bersama dengan Fauzi.


"Kalian pikir, aku sopir taksi, hah? Salah satu duduk di depan dong!" protes Genta. Fauzi dan Zian saling pandang dan akhirnya Fauzi yang berkata.


"Ya sudah! Zian, kelihatan nya abang kesayangan ku ini sudah menyukai kamu. Kamu bisa pindah duduk di depan di samping abang Genta," ucap Fauzi.


"Hah, aku? Kamu saja lah, Fauzi! Kamu kan adik kandung nya," kata Zian.

__ADS_1


"Ayolah, tidak apa-apa!" desak Fauzi.


"Hai, siapa saja salah satu duduk di sini! Kalau tidak ada yang duduk di depan bersama dengan abang, ini mobil. tidak akan jalan loh," ucap Genta.


"Ya sudah, aku yang duduk di depan!" sahut Zian akhirnya. Zian segera turun dari mobil itu dan berpindah duduk nya di kursi depan di sebelah kemudi yang akan di jalankan oleh Genta.


"Nah, gitu dong! Dekat dengan cowok ganteng tidak usah takut," ucap Genta. Zian tersenyum saja sambil menatap lurus jalanan di depannya.


Fauzi memperhatikan abangnya dan juga Zian secara bergantian. Ada ide muncul dipikirannya. Fauzi ingin mendekatkan abangnya itu dengan Zian, sahabat nya. Fauzi sangat menyukai kepribadian Zian dari dulu. Selain Zian tidak suka aneh-aneh sebagai gadis remaja dalam bergaul. Selama ini Zian, diketahui belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Apalagi Fauzi juga belum pernah dengar kalau Zian dekat dengan Laki-laki mana pun. Zian, bagi Fauzi adalah sahabat yang baik dan selalu mendukung hal-hal yang baik. Selain itu Zian juga suka menasihati Fauzi jika Fauzi meminta pendapat memutuskan suatu hal.


"Di mana rumah kamu?" tanya Bang Genta saat sudah melintasi perumahan permata indah.


"Eh iya! Lurus saja bang! Ini sudah benar masuk ke perumahan Permata indah. Tapi kenapa bang Genta bisa mengetahui kalau aku tinggal di perumahan ini?" sahut Zian. Genta tersenyum lebar.


"Itu, yang kasih tahu orang yang duduk di belakang kita," ucap Genta. Fauzi hanya nyengir kuda.


"Oh kirain saja ada keturunan dukun yang bisa tahu rumah orang," kata Zian ceplas-ceplos.


"Oh, itu yah rumahnya!" gumam Genta. Genta segera menepikan mobilnya dan mulai berhenti di depan pagar depan rumah Zian.


"Terimakasih banyak, bang! Terimakasih banyak Fauzi. Kamu tidak mampir dulu?" tawar Zian.


"Em tidak usah Zian! Terimakasih, kapan-kapan saja!" sahut Fauzi.


"Eit, tapi aku haus tuh, boleh dong kalau mampir bentar sekedar minum es sirup atau makan cemilan roti kering," ucap Genta. Fauzi dan Zian kini saling pandang dan melemparkan senyum nya.


"Ayo kalau begitu bang!" ajak Zian ramah dan segera turun dari dalam mobil itu. Sedangkan Fauzi menjulurkan lidahnya ke arah abangnya.


"Modus yah?" sindir Fauzi. Genta hanya terkekeh saja lantaran adik nya sangat paham apa yang menjadi niat dan pikiran abangnya.

__ADS_1


"Kalau sudah mengenal orang tuanya, abang mu ini bisa mendekati putri nya lalu bisa mengambil nya menjadi istri. Benarkan?" ucap Genta sambil turun dari mobilnya diikuti oleh Fauzi.


"Baiklah! Aku juga setuju kok kalau Zian menjadi istri abang. Tapi bukannya nenek sudah menanti kedatangan kita, bang?" kata Fauzi. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya baru teringat kalau dirinya menjemput Fauzi adiknya itu lantaran neneknya mencari adiknya itu.


******


"Silahkan di minum bang Genta, Fauzi! Ini juga ada kue buatan mami tadi pagi," kata Zian sambil meletakkan tiga gelas minuman dingin dan juga satu piring dengan beberapa potongan kue di atasnya.


"Terimakasih, Zian! Jadi repot-repot nih!" sahut Fauzi. Fauzi segera mengambil satu gelas yang berisi minuman dingin itu. Itu adalah es sirup dengan rasa mangga.


"Alhamdulillah, segarnya!" ucap Fauzi. Genta akhirnya ikut mengambil satu gelas minuman dingin miliknya. Dengan semangat meminumnya, minuman es sirup rasa mangga itu habis diminum Genta sampai tandas. Zian sampai melongo dibuatnya.


"Haus yah, bang? Mau tambah lagi?" tanya Zian. Genta terkekeh saja.


"Ini minum punya saya, kan masih utuh belum aku minum," tambah Zian sambil menyodorkan satu gelas milik Zian. Tanpa rasa malu dan sungkan, Genta mengambilnya dan kembali meminumnya sampai habis. Fauzi sampai geleng-geleng kepalanya melihat abangnya seperti kehausan telah dua hari tidak masuk air di kerongkongan nya.


"Mami papi kamu di mana, Zian?" tanya bang Genta.


"Mereka kebetulan belum kembali dari kantor, bang!" jawab Zian.


"Oh, niatnya mau kenalan dulu sama mami papi kamu. Siapa tahu berjodoh, aku bisa dijadikan calon menantu nya," kata Genta. Fauzi terkekeh mendengar abangnya mulai menggombal. Zian tiba-tiba menjadi memerah wajahnya.


"Cie cie Zian malu-malu tuh, bang!" goda Fauzi.


"Apaan sih?" sahut Zian.


"Kue ini enak juga yah!" ucap Genta sambil mencicipi kue yang berada di piring.


"Mami memang pandai bikin kue, bang! Soal masak memasak, mami lah jagonya," tambah Zian.

__ADS_1


"Oh iya? Bagaimana dengan kamu? Kamu pasti juga pandai memasak bukan? Wah senangnya jika punya istri seperti kamu kelak dikemukakan hari," goda Genta. Kini wajah Zian benar-benar seperti kepiting rebus yang merah padam.


"Hahaha, sudahlah bang Genta! Ayo kita pulang! Jangan menggoda dan gangguin Zian terus. Lihat, Zian jadi malu tuh!" kata Fauzi. Genta malah terkekeh sambil menatap wajah Zian yang semakin merona lantaran dilihat oleh dirinya tanpa berkedip.


__ADS_2