
"Ini kopi nya bang!. Dan ini pisang goreng. Tadi pagi aku sudah menyiapkan pisang goreng ini untuk kedatangan kamu, bang!" ucap Zian. Genta menyalakan rokok nya dan masih terdiam. Kopi buatan istrinya kini telah diseruput nya.
"Apakah uang untuk berbelanja sehari-hari masih ada?" tanya Genta.
"Masih bang! Aku masih ada tabungan yang insyaallah akan cukup sampai tiga bulan. Kalau boleh, aku akan bekerja di perusahaan papi mami, bang!" ucap Zian. Genta melotot matanya menatap wajah polos istrinya.
"Eh, em kalau bang Genta tidak mengizinkan juga tidak apa-apa kok. Aku bisa membuat kue-kue kering dan bisa aku jual secara online," kata Zian.
"Zian! Bagaimana kalau aku saja yang bekerja di perusahaan mami papi kamu. Kamu bisa tidak bicara masalah ini dengan kedua orang tua kamu itu, bahwa saat ini aku membutuhkan pekerjaan," kata Genta.
__ADS_1
"Kamu mau bang? Jika bekerja di perusahaan mami papi? Kamu tidak malu atau gengsi kan, bang?" tanya Zian menegaskan.
"Tidak, sayang! Aku harus bekerja untuk memberikan nafkah lahir kepada istriku. Maaf, Zian! Jika aku beberapa minggu ini sudah berkata kasar kepada kamu! Kamu mau kan memaafkan kesalahan ku?" tanya Genta. Zian mengangguk pelan lalu senyuman lebar dan manis itu terukir di kedua sudut bibirnya.
"Bang Genta! Hem, kalau boleh saya tahu. Sebenarnya semalam abang tidur di mana? Maaf, jika aku ingin tahu. Sungguh tadi malam aku sangat gelisah dari malam hari. Ditambah bingkai foto pernikahan kita jatuh serta pecah kacanya. Aku benar-benar menjadi risau, takut abang Genta terjadi sesuatu," kata Zian. Genta menyipitkan matanya.
"Aku tidur di apartemen nya Thomas! Thomas memaksa aku menemani nya. Soalnya Thomas lagi kurang enak badan," kata Genta bohong. Genta merangkum kedua pipi Zian dan menatap kedua bola matanya.
"Mungkin saja kamu kangen aku, sayang! Karena sudah hampir satu minggu ini, aku tidak menyentuhmu. Itu disebabkan pikiran ku sedang kacau dan suntuk. Sungguh tidak enak jika menjadi laki-laki pengangguran. Apalagi sudah satu bulan ini aku tidak memberikan nafkah lahir pada istri tercinta ku ini. Maaf yah, sayang!" ucap Genta sambil membelai rambut panjang Zian. Saat ini Zian sedang tidak mengenakan hijab saat di rumah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bang! Semua ini adalah ujian! Mungkin saat ini kita sedang di uji dengan perekonomian kita. Sehingga emosi kita semakin tidak stabil. Kita menjadi mudah tersinggung, hingga berprasangka buruk," kata Zian. Genta tersenyum menunjukkan gigi nya yang rapi.
"Bagaimana kalau sekarang saja kita masuk ke kamar, Zian!" ucap Genta.
"Hem, sudah sangat siang. Mau ngapain kita ke kamar, bang? Katanya kamu mau kerja di tempat mami papi? Lebih baik kita ke perusahaan orang tua ku untuk membicarakan masalah pekerjaan. Semoga masih ada posisi bagus untuk kamu bang! Atau jika perlu, aku dan kamu juga kerja bersama di perusahaan papi," kata Zian.
"Besok saja, kita ke perusahaan papi. Aku mau menghabiskan seharian ini bersama kamu di dalam kamar," ucap Genta seraya mengedipkan matanya genit. Zian seketika merona wajahnya lantaran malu.
"Hem, kita sudah lama menikah loh, sayang! Kamu masih saja malu-malu jika aku ajak gituan," kata Genta seraya merengkuh tubuh Zian lalu menuntunnya ke dalam kamar.
__ADS_1