
Kedatangan Genta di rumah Miska, di sambut hangat oleh Miska. Miska bahkan sudah menunggu Genta di ruang tamu. Jadi ketika suara mobil berhenti di depan gerbang rumahnya, Miska segera mengintip dan ternyata benar kalau seseorang yang sangat dinantikan kedatangannya telah tiba. Walaupun kedatangan Genta sangat dipaksakan lantaran ancaman dirinya sendiri. Miska dalam keadaan baik-baik saja. Semua isi pesan chat nya hanyalah ancaman belaka supaya Genta mau datang ke rumahnya.
"Senang sekali kamu bisa datang ke rumah aku, Genta! Kamu tahu, kalau aku tidak pernah bermain-main dalam perkataan ku," kata Miska kini bergelayut manja di lengan Genta.
"Lepaskan tanganku, Miska! Aku ini sudah beristri. Kamu tidak pantas menjeratku lagi," kata Genta. Miska mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Genta.
"Setelah semua yang sudah kamu lakukan terhadap ku, kamu mengatakan itu Genta? Benar-benar laki-laki yang egois! Awalnya kamu memaksaku dan melanggar tubuh ku disaat aku memberontak. Setelah itu kamu pun tidak sanggup menolak nya juga kan? Kamu benar-benar munafik, Genta! Setelah aku mulai suka dan merasakan kenyamanan dari kamu, kamu ingin menjauh dan menghindari aku," ucap Miska.
"Maafkan aku Miska! Aku benar-benar minta maaf! Aku bahkan sudah berjanji dengan istriku untuk tidak mengkhianatinya lagi. Aku pikir kita melakukan nya hanya suka sama suka saja dan setelah itu tidak ada saling menuntut dan tanpa komitmen. Tapi kenapa kamu menjadi seperti ini? Bukankah kamu selalu berhubungan dengan banyak pria? Tapi sekarang kenapa kamu ingin mengikat aku dengan sebuah ikatan dan komitmen? Asal kamu tahu, Miska? Aku pria yang sudah beristri. Tidak mungkin aku meninggal istriku hanya demi kamu. Zian lebih baik segala-galanya daripada kamu," kata Genta yang kini mulai membandingkan Miska dengan Zian, istrinya.
"Cukup! Aku tidak pantas jika dibandingkan dengan wanita yang tidak berkelas seperti istri kamu itu! Aku wanita berkelas dan memiliki derajat yang tinggi dibanding istri kamu itu. Lihat saja penampilan istri kamu itu yang norak dan penampilan nya sangat kampungan sekali," ucap Miska yang sudah mulai mendidih kepalanya.
Miska kini mengeluarkan benda tajam di saku nya. Kini Miska mulai mengancam kembali. pada Genta.
"Aku lebih baik mati di depan kamu daripada kamu menjauh darimu, Genta! Aku sudah terlanjur mencintaimu, Genta! Rasa ini benar-benar menyiksaku!" ucap Miska yang kini tangan kanannya memegang benda tajam berupa pisau yang tajam. Miska menempelkannya di bagian tangan kiri nya tepat di urat nadinya.
"Miska jangan lakukan itu! Tolong Miska! Bunuh diri adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama dan juga Tuhan. Jangan lakukan itu!" ucap Genta yang kini mulai panik kalau Miska benar-benar menyayat urat nadinya sendiri dengan pisau tajam itu.
"Tidak, Genta! Aku lebih baik mati karena kamu tidak menghendaki aku menjadi kekasih kamu," ucap Miska.
"Kekasih? Itu tidak mungkin Miska! Aku laki-laki yang sudah beristri. Ada Zian yang sudah menjadi istri aku," kata Genta.
__ADS_1
"Aku rela kok, jika menjadi selingkuhan kamu saja, Genta! Aku tidak menuntut kamu untuk menikah dengan aku," kata Miska.
"Tidak! Itu tidak benar Miska! Bahkan aku sudah insyaf dan bertaubat untuk tidak melakukan pengkhianatan dan perzinahan lagi," sahut Genta.
"Hahaha kalai begitu aku juga mau kok kalau kamu menjadikan aku istri kamu yang kedua. Walaupun kamu menikahi aku secara agama saja," ucap Miska mendesak Genta. Genta menjambak rambutnya sendiri. Tentu saja dia bingung dengan Miska.
"Miska! Kenapa kamu memaksa aku? Bukankah laki-laki sangat banyak dan laki-laki lajang yang belum mempunyai istri banyak juga? Kenapa aku? Kenapa aku Miska?" tanya Genta.
"Karena aku mencintaimu, Genta!" sahut Miska berteriak.
"Tidak Miska! Aku tidak mau! Aku sudah berjanji dengan istriku kalau aku tidak akan Menyalahgunakan kepercayaan nya terhadap ku," kata Genta.
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja! Aku tidak mau hidup lagi. Aku tidak mau cintaku patah hati karena ditolak oleh kamu, Genta! Hiks hiks hiks," ucap Miska. Genta mau tidak mau mengusap kepala Miska.
"Miska, tenanglah! Duduk dulu! Ayo, kamu yang tenang yah! Jangan lakukan lagi tindakan konyol yang ingin membunuh dirimu sendiri," kata Genta yang kini menuntun Miska menuju ke kursi sofa di ruangan itu.
"Peluk aku, Genta! Menikah lah dengan aku kalau kamu takut apa itu dosa, dan pengkhianatan," rengek Miska sambil menenggelamkan kepala nya di dada Genta.
*****
Zian dan mami Juan berada di kafetaria. Keduanya makan bersama. Zian tidak menunggu Genta di rumah Miska. Zian memilih pergi dan makan siang bersama mami Juan di kafetaria yang ditentukan oleh mami nya.
__ADS_1
*****
Di kafetaria.
"Apakah suami kamu berada di rumah wanita penggoda itu?" tanya mami Juan. Zian menganggukkan kepalanya pelan.
"Sudahlah, Zian! Lebih baik kamu berpisah dengan Genta! Perselingkuhan dan bermain wanita, itu tidak bisa dimaafkan dan dibenarkan lagi. Mengapa kamu masih juga memaafkan pria seperti itu, hah? Bahkan Genta pernah juga berbuat kasar dengan kamu kan? " kata mami Juan.
"Tapi mami! Zian masih mencintai bang Genta! Zian yakin kalau bang Genta akan sungguh-sungguh minta maaf kepada ku dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan nya itu. Apalagi bang Genta tadi bilang akan menceritakan semuanya kepada ku setelah menjumpai wanita itu, mami," kata Zian.
"Dasar bodoh! Genta bicara seperti itu belum bertemu dengan Wanita penggoda itu. Lihat saja nanti kalau Genta sudah ketemu wanita itu. Genta pasti tidak bisa menolaknya lagi kalau dikasih daging segarnya," kata mami Juan.
Zian mulai berkaca-kaca mendengar ucapan mami nya. Bahkan Zian juga teringat akan video dan foto yang menunjukkan bahwa Genta telah berselingkuh dengan wanita lain, yaitu wanita yang saat ini dijumpai oleh Genta.
"Mami, sekarang lebih baik aku menjemput bang Genta di rumah wanita itu sebelum terjadi apa-apa dengan bang Genta," kata Zian.
"Nah, kamu saja mulai tidak mempercayai suami kamu bukan? Seorang laki-laki kalau sudah satu kali melakukan perselingkuhan dan pengkhianatan, dia akan melakukannya dia, tiga, empat lagi. Dia akan mengulangi terus menerus, Zian! Percaya sama mami, deh!" kata mami Juan.
"Tapi bang Genta sudah berjanji tidak akan mengulangi nya lagi, mami!" sahut Zian.
"Ah, sudahlah! Terserah kamu saja Zian! Mami tidak mau memaksakan kamu. Semua nya terserah kamu karena kamulah yang menjalani nya," kata mami Juan.
__ADS_1