
Puasa ke dua.
Pagi itu Zian dan juga Sandro mengantarkan mami papi ke Alim ulama. Tekad mami dan papi untuk menjadi mualaf benar-benar diwujudkan dengan lisan, hati dan akal sehat.
Kini kedua-duanya sudah menjadi mualaf dan ingin mengenal Tuhan-nya.
Tangisan air mata jatuh di pipi mereka. Selama bertahun-tahun mereka mengikuti keras kepala dan hati mereka untuk tidak mengenal Tuhan-nya. Mereka kini seperti lahir kembali setelah mengucapkan kalimat syahadat itu dengan disaksikan beberapa saksi.
Zian memeluk mami papi nya. Air matanya ikut jatuh karena kebahagiaan dan keharuan yang dirasakan oleh Zian. Orang tua nya kini telah menjadi manusia yang beragama seperti dirinya. Harapan ini selalu terucap dalam bibir maupun hati Zian supaya mami papi nya kelak akan mendapatkan hidayah dan petunjuk. Dan hari ini di mana bulan penuh ampunan dan rahmat, mereka mami papi nya telah islam, tunduk patuh terhadap perintah Nya serta menjauhi larangan Nya.
"Sudah, mari kita kembali ke kantor! Kita akan bagi-bagi sedekah dan makanan untuk berbuka puasa untuk semua karyawan di perusahaan," kata papi Leo seraya mengusap air matanya.
"Selamat papi Leo! Semoga istiqomah," ucap Sandro seraya memeluk papi Leo.
"Terimakasih Sandro. Semua ini juga karena kamu. Kamu membukakan pintu hati papi untuk kembali mengenal Tuhan," sahut Papi Leo dengan derai air mata yang penuh penyesalan dan taubat.
"Papi, mulai sekarang kita tidak boleh makan daging babi lagi. Daging kesukaan papi, apalagi di panggang dengan bumbu kacang," kata mami Juan.
"Masih banyak daging yang lebih enak dan halal untuk di makan dan di masak bukan?" sahut papi Leo dengan tersenyum lebar. Zian dan Sandro serta mami Juan ikut tersenyum merasakan kebahagiaan hari itu.
"Kalau begitu, Zian, Sandro! Bagaimana kalau besok kita sahut bersama di rumah mami papi yah. Besok hari pertama bagi mami papi untuk memulai belajar berpuasa Ramadan," kata mami Juan. Zian dan juga Sandro saling pandang dan akhirnya Sandro mengangguk kan kepala nya.
"Terima kasih, sayang! Senang sekali bisa bersama-sama menunaikan ibadah puasa di bulan ini bersama dengan kalian," sahut mami Juan.
*****
"Mariah, aku sangat bahagia sekali hari ini," kata Zian kepada Mariah melalui sambungan di ponsel nya.
"Ada apa?" tanya Mariah.
"Kamu tahu, Mariah? Harapan dan doa ku dikabulkan oleh Allah. Mami papi ku sekarang menjadi mualaf. Dan besok mami papi akan menjalankan ibadah suci puasa ramadhan," cerita Zian.
"Alhamdulillah ya Allah! Aku ikut senang mendengar nya, Zian!" sahut Mariah.
"Terimakasih, Mariah! Kamu sahabat ku yang paling baik dan mengerti aku. Oh iya, hari ini kamu puasa tidak, Mariah?" ucap Zian.
"Tidak! Aku sedang dapat, Zian! Mungkin lusa aku baru mulai puasanya," kata Mariah.
"Oh, walah! Aku mungkin dapat nya di pertengahan bulan. Biasanya seperti itu," ucap Zian.
"Oh iya, Zian! Kamu kapan menghalalkan hubungan kamu dengan kak Sandro?" tanya Mariah.
"Hem, doakan saja secepatnya Mariah. Setelah kak Sandro bicara jujur dengan kedua orang tuanya beserta keluarga nya kalau dia sudah menjadi mualaf, baru kak Sandro mengambil keputusan untuk meresmikan dan menghalalkan hubungan kami," cerita Zian.
__ADS_1
"Semoga kalian tetap berjodoh yah, Zian!" ucap Mariah.
"Aamiin," sahut Zian.
"Zian, aku tutup dulu yah telepon nya. Aku harus menjemput Mas Anhar di bandara. Hari ini mas Anhar kembali dari turki," kata Mariah.
"Oh ya? Baik Mariah! Salam buat mas Anhar yah, Mariah," kata Zian.
"Akan aku sampaikan salam dari kamu untuk mas Anhar. Nanti setelah ini kita buat acara buka puasa bersama yah," ucap Mariah.
"InsyaAllah, Mariah!" sahut Zian.
*****
"Sandro, kamu bisa ke rumah sekarang sayang?" tanya mami Natalia.
"Ada apa mi? Sandro sedang di kantor siang ini," kata Sandro.
"Ini ada yang mencari kamu di rumah," ucap mami Natalia.
"Siapa mi?" tanya Sandro.
"Ada deh! Ini kejutan buat kamu! Yang pasti dia ini adalah teman kecil kamu dulu dan saat ini baru pulang dari luar negeri," kata mami Natalia.
"Siapa?" gumam Sandro berusaha mengingat seorang itu.
"Eh? Apakah Mayla? Eh Mayla? Iya mungkin dia!" Gumam Sandro seraya tersenyum mengingat wajah Mayla teman masa kecilnya dulu.
*****
"Halo mami!" panggil Sandro saat sudah tiba di rumah kediaman mami papi nya. Sudah duduk di sana di ruang tamu ada seorang gadis muda dengan rambut lurus yang terurai panjang. Mami Natalia juga sudah duduk di sana bersama gadis itu. Ketika Sandro tiba keduanya berdiri menyambut hangat Sandro lalu memeluknya.
"Halo Sandro, sayang! Kamu kemarin kenapa gak datang arisan keluarga sih?" ucap mami Natalia seraya memeluk putra nya.
"Maaf mami, aku sudah ada janji dengan Zian hari itu," jawab Sandro. Gadis di sebelah mami Natalia mengernyitkan dahinya saat Sandro menyebutkan nama Zian.
"Oh iya Sandro! Kamu masih ingat tidak teman kamu semasa kecil. Sekarang dia sudah menjadi orang hebat dan penting loh," ucap mami Natalia. Sandro melihat gadis itu. Dia langsung memeluk Sandro. Rasanya Sandro ingin menolak dan menepiskan pelukan itu. Tapi takut jika gadis itu tersinggung.
"Sandro! Kamu ingat aku tidak? Aku sudah kangen sama kamu loh! Lama kita tidak bertemu, kamu semakin terlihat matang dan dewasa," kata gadis itu.
"Hem, sebentar! Kamu, kamu benar Mayla? Mayla teman kecil dulu?" tebak Sandro memastikan.
"Iya, benar! Aku Mayla teman kamu sewaktu kecil," ucap gadis itu yang mengaku bernama Mayla.
__ADS_1
"Oh iya, Mayla!" sahut Sandro.
"Hai, kalian apakah hanya berdiri saja tidak mau duduk? Duduk lah, biar mami buatkan es dingin dan cemilan," kata mami Juan.
Sandro duduk bersama Mayla. Mereka mengobrol panjang lebar. Sampai akhirnya mami datang membawa minuman dingin beserta makanan kecil.
"Ayo di minum dulu, Mayla! Sandro, ini minuman kamu!" ucap mami Natalia.
"Eh? Maaf, mami! Aku puasa hari ini," ucap Sandro.
"Puasa? Siang-siang dan panas-panas seperti kamu puasa? Kamu puasa apa, Sandro?" sahut mami Natalia seraya mengernyitkan dahinya.
Sorot mata nya tajam melihat Sandro. Sandro mulai bingung. Dia sudah keceplosan dan mau tidak mau hari ini dirinya harus bicara jujur dengan mami nya bahwa dia sekarang sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan yang baru.
"Mayla, sebentar yah aku tinggal dulu! Aku ingin bicara dengan mami ku dulu," ucap Sandro seraya merangkul mami nya ke taman belakang rumah. Kini di ruangan itu menyisakan Mayla yang dalam kebingungan. Sedangkan mami Natalia hanya bisa mengikuti apa kata Sandro yang. mengajaknya bicara. Walaupun banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Mami Natalia, ia tetap akan mendengar semua yang akan dibicarakan oleh putranya.
*****
Apa? Kamu sudah menjadi mualaf? Sandro! Kenapa kamu baru bilang pada mami soal ini?" ucap mami Natalia.
"Sandro, kamu yakin dengan semua yang kamu katakan? Kamu tidak sedang bercanda dengan mami kan?" tanya Mami Natalia.
"Tidak mami! Sebenarnya aku sudah menjadi mualaf sejak lima bulan yang lalu, mami! Cuma saat itu aku masih banyak belajar," kata Sandro.
"Jadi? Itu alasan kamu kenapa kamu suka pulang ke apartemen kamu daripada pulang ke rumah mami papi?" sahut mami Natalia.
"Maaf, mami! Aku perlu waktu supaya mami papi tidak terkejut dengan keputusan ku," kata Sandro.
"Nyatanya mami sangat terkejut dengan pengakuan kamu, Sandro! Kalau mami ada riwayat jantung lemah, mungkin saja mami akan tiba-tiba mengalami serangan jantung. Bisa jadi mama akan meninggal," ucap mami Natalia.
"Mami jangan bicara seperti itu dong! Maafkan aku, mami! Aku mengecewakan mami dan setelah ini aku akan mengecewakan papi dan keluarga besar kita," kata Sandro.
"Kamu tahu pasti kalau keputusan kamu akan berdampak buruk dalam diri kamu. Dan mungkin saja papi kamu akan menarik semua aset dan juga kekuasaan yang selama ini diserahkan kepemimpinan nya terhadap kamu," kata mami Natalia.
"Kalau itu sudah konsekuensi nya, aku harus menerimanya, mami! Aku akan mengembalikan semua aset-aset yang sudah diberikan kepada ku beserta kekuasaan perusahaan yang aku pimpin," ucap Sandro.
"Sandro! Kenapa kamu menjadi berubah seperti ini?" tanya mami Natalia.
"Aku tidak berubah mami! Aku masih seperti dulu," sahut Sandro.
"Tidak! Kamu sudah berubah. Dan mami. sangat yakin semuanya karena Zian! Zian Lah yang telah meracuni jalan pikiran kamu," kata mami Natalia.
"Mami, semua atas dasar kemauan ku sendiri! Zian tidak salah dalam keputusan ini," ucap Sandro.
__ADS_1