
"Mariah, aku pulang yah!" kata Zian setelah beberapa menit menghabiskan makanan nya. Mariah dan juga Bisma menyipitkan bola matanya dan sama-sama menatap ke arah Zian.
"Kamu yakin, pulang malam ini Zian? Aku takut kalau suami kamu pulang ke rumah dan nanti kalian ribut-ribut lagi. Aku tidak mau kalau kamu ditampar lagi oleh bang Genta," ucap Mariah. Bisma yang mendengar semua yang diucapkan oleh adik nya, Mariah seketika membulat matanya.
"Apa? Suami kamu berani menampar kamu, dik?" sahut Bisma yang ikut nyambung atas pembicaraan mereka. Zian jadi malu akan permasalahan rumah tangganya.
"Benar, kak! Laki-laki yang sudah berani main fisik dan kasar terhadap istrinya tidak pantas disebut laki-laki. Dia tidak sadar kalau dirinya lahir dari rahim seorang ibu dengan susah payah melahirkan nya," tambah Mariah.
"Mariah, tapi aku harus pulang! Ini sudah larut malam. Bagaimana pun juga aku belum resmi berpisah dengan bang Genta dan aku masih menjadi istri sah nya. Aku tidak pantas keluar rumah tanpa ijin darinya," kata Zian. Mariah dan Bisma saling pandang. Keduanya akhirnya hanya bisa menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Keduanya tidak bisa menahan Zian untuk kembali pulang ke rumah nya. Karena semuanya adalah urusan pribadi Zian.
"Tapi biar aku ikut bersama kamu, Zian! Aku takut suami kamu berkata kasar dan menampar kamu lagi," kata Mariah.
"Maaf, Mariah! Tidak usah, aku bisa sendiri kok! Aku yakin bang Genta tidak akan bersikap kasar lagi kepadaku," sahut Zian. Mariah tidak bisa memaksakan diri lagi. Dia hanya mengantarkan Zian sampai di depan pagar rumahnya.
"Semoga kamu baik-baik saja, sahabat ku! Semoga secepatnya kamu bisa menyelesaikan segala masalah keluarga yang terjadi diantara suami kamu. Aku hanya bisa mendoakan dan menjadi pendengar curhatan dan keluhan kamu saja," gumam Mariah sambil melambaikan tangannya ke arah Zian yang sudah menjalankan mobilnya.
Di sebelah Mariah berdiri diam kakak Mariah.
"Wanita seperti itu sepantasnya mendapatkan pria atau suami baik. Tapi dia mungkin wanita yang kurang beruntung bertemu laki-laki yang seperti itu. Coba dari dulu aku ketemu wanita seperti itu," kata Bisma. Mariah yang mendengar nya jadi cekikikan.
"Makanya cari cewek seperti Zian! Cepat nikahi! Jangan suka membujang saja. Umur sudah kepala tiga tapi masih saja belum mau menikah," sahut Mariah sewot.
"Belum ketemu yang pas, dik!" kata Bisma sambil mengacak kepala Mariah yang mengenakan kerudung panjang.
__ADS_1
"Halah, kakak terlalu banyak pertimbangan dan milih-milih sih. Jadi tidak menemukan yang cocok. Sebenarnya wanita seperti apa sih yang masuk dalam kriteria calon istri, kak Bisma?" tanya Mariah.
"Minimal seperti kamu dik! Atau seperti sahabat kamu itu yang penurut dengan orang tua dan juga suaminya," jelas Bisma. Mariah terkekeh.
"Awas yah kakak! Jangan-jangan kak Bisma sudah naksir dengan Zian. Hayo? Dia masih istri orang loh, kak!" kata Mariah.
"Enggak lah! Kakak juga tahu itu kok! Kamu tadi nanya kriteria seperti apa calon istri untuk kakak bukan? Jadi kakak ingin memiliki istri yang mengenakan hijab. Selain itu mandiri dan sederhana. Tapi satu, jangan cengeng seperti kamu yah! Suka nangis tidak jelas. Nonton drama Korea saja bisa nangis sepanjang hari. Apalagi mendengar curhatan dari sahabat kamu tadi," kata Bisma.
Mariah tersenyum lebar mendengar ucapan kakak nya.
"Kok bisa sih, Anhar menyukai kamu yang suka mewek dan manja?" ucap Bisma lagi.
"Loh, aku gini-gini penyayang loh kak! Dan yang pasti bisa membuat senang suami," jelas Mariah.
"Kalian sudah lama menikah kenapa belum memiliki anak sih?" tanya Bisma.
"Kenapa tidak ikut suami mu saja dik? Itu untuk mengurangi kesempatan perselingkuhan terjadi. Sahabat kamu yang satu kota dengan suaminya pun masih bisa berselingkuh bukan?" kata Bisma.
"Ih kakak! Semua itu kembali ke pribadi masing-masing kak! Nanti kalau kak Bisma pergi ke Turki untuk mengurus bisnis travel and tour, istri kakak juga bakal kakak tinggal. Apakah kakak juga akan berselingkuh?" sahut Mariah.
"Eh??? Astagfirullah," ucap Bisma.
"Nah semuanya kembali ke pribadi masing-masing kak!" kata Mariah.
__ADS_1
"Oke, oke! Kapan suami kamu pulang dari luar kota?" tanya Bisma.
"Mungkin lusa! Jumat malam tiba di kota ini," jelas Mariah.
"Oke, aku mengajaknya ngopi bareng dulu," kata Bisma.
"Asal jangan kakak ajari mas Anhar yang tidak-tidak yah," sahut Mariah. Bisma kembali mengacak kepala Mariah hingga berantakan kerudung nya.
*****
Sementara itu di rumah Zian.
Zian masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi dan menyuruh satpam di rumahnya mengunci pagar. Zian tidak ingin malam ini Genta tiba-tiba pulang dan mengajak ribut-ribut lagi dengan dirinya. Zian sementara ini ingin tenang dan beristirahat terlebih dahulu.
Masalah rumah tangganya membuat Zian menguras air matanya hari ini. Beruntung Zian memiliki sahabat seperti Mariah. Zian tidak mungkin pergi ke rumah Fauzi dalam keadaan seperti ini. Zian takut jika Genta pulang ke rumah orang tua nya. Mungkin juga masalah rumah tangga nya itu belum diketahui oleh mama papa nya termasuk Fauzi.
"Lebih baik aku tenang dulu! Namun mami papi pasti tidak menghendaki pernikahan ku dipertahankan. Memaafkan bang Genta itu tidak mungkin lagi. Mami papi sudah tidak respect dengan bang Genta. Bagaimana pun aku tidak akan mengemis cinta pada bang Genta. Nyata-nyata bang Genta sudah bersama Miska dan melakukan perbuatan seperti selayaknya suami istri. Tentu ini membuat aku muak. Terlebih lagi aku melihat sendiri bagaimana keduanya di kamar itu. Bang Genta masih berantakan setelah bersama dengan Miska di kamarnya," gumam Zian.
Tiba-tiba saja suara ribut-ribut di luar pagar terdengar sampai di dalam rumah. Zian yang masih duduk di ruang tamu sangat mendengar dengan jelas suara siapa yang berteriak itu.
"Zian! Bukakan pintu! Aku minta maaf, Zian! Tolong buka kan pintu!" teriak seorang laki-laki yang tidak lain adalah Genta.
"Bang Genta! Apa yang harus aku lakukan? Aku belum mau bertemu dengan bang Genta saat ini," gumam Zian.
__ADS_1
"Zian!!! Buka kan pintu pagarnya! Kalau tidak aku akan memanjatnya," teriak Genta. Zian yang mendengar semua itu segera mengintip dari gorden depan ruang tamu.
"Bang Genta memanjat pagar rumah ini. Bagaimana ini? Pokoknya aku gak mau bukain pintu! Lebih baik aku masuk ke dalam kamar saja dan mengunci pintu ini," gumam Zian sambil memastikan kembali pintu utama rumahnya sudah dikunci. Zian masuk ke dalam kamarnya dan kembali mengunci nya lagi.