Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 41


__ADS_3

"Bagaimana perkembangan kasus tuntutan perceraian dari istri kamu, Genta?" tanya Miska kepada Genta yang saat ini Genta sudah bekerja di perusahaan Miska.


"Lusa sidang keputusan. Berapa kali mediasi dilakukan tetap saja Zian tidak merubah keputusan nya untuk bercerai dengan aku," jelas Genta. Miska tersenyum lebar. Setelah Genta resmi menjadi duda mungkin dirinya akan serius mengajak Genta menikah.


"Apakah kamu masih berharap kamu bisa kembali dengan Zian dan mempertahankan pernikahan kalian?" tanya Miska sambil duduk di atas dua paha Genta.


"Nyatanya itu semua sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Orang yang ingin aku pertahankan memilih menjauh dari pergi dari aku. Ya sudah, aku tidak mungkin memaksa nya lagi. Lagipula ada kamu saat ini yang membantu aku ketika aku jatuh. Apakah aku pantas jika tidak memperdulikan kamu, Miska?" kata Genta. Miska tersenyum lebar.


"Wow, aku akan ikut dipersidangan keputusan nanti. Dan hari itu nanti, akan menjadi hari kemenangan ku karena aku akan memiliki kamu seutuhnya," ucap Miska.


"Hem, tidak perlu menunggu hari lusa untuk merayakan kebersamaan kita. Sekarang juga bisa kok. Nyatanya aku dan Zian sudah bukan lagi suami istri secara agama. Kami sudah pisah ranjang dan tidak lagi tinggi satu atap lagi," kata Genta.


"Sekarang?" tanya Miska.


"Benar! Kamu mau di mana?" tantang Genta.


"Di.sini saja, di ruangan kamu ini. Aku ingin mendapatkan fantasi itu di sini bersama kamu," kata Miska.


"Lakukan lah dan kunci dulu pintu nya!?" sahut Genta.


*****


Pagi itu, Zian sudah tiba lebih awal di tempat kerjanya. Dia sudah mulai berkutat di depan laptop nya. Namun sebelum itu Zian membuka-buka sosial media nya. Zian mendapati permintaan pertemanan di salah satu sosial media nya.


"Hem, Alexa Sandro? Dia ternyata CEO muda di perusahaan ternama itu. Pantas saja mobil yang di bawanya kemarin super keren dan mewah. Penampilan nya juga tidak kalah mentereng. Hem, anak gembala rupanya," gumam Zian.


Zian mengkonfirmasi pertemanan itu. Baginya dia tidak akan pilih-pilih dalam berteman dan berbisnis untuk mengembangkan perusahaan keluarga nya.


"Tampan, menarik dan seperti nya memiliki kepribadian yang kuat," gumam Zian.


Setelah menjelajahi media sosial nya, Zian kembali fokus bekerja. Namun tiba-tiba pintu ruangan nya diketuk seseorang.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk!" sahut Zian. Seorang wanita yang merupakan karyawan di perusahaan itu membawa buket mawar berwarna kuning dan paper bag di tangannya. Karyawan itu mendekati meja kerja Zian.


"Ada apa mbak Utik?" tanya Zian yang melihat karyawan nya sudah kerepotan membawa buket mawar berwarna kuning dan juga paper bag yang mungkin saja isinya makanan di dalam nya.


"Nona Zian! Ada seseorang yang mengantarkan buket mawar berwarna kuning ini disertai paketan makanan untuk Nona Zian," Ucap karyawan itu. Zian menyipitkan bola matanya melihat buket itu yang terlihat indah.


"Dari siapa mbak Utik?" tanya Zian.


"Kurir yang mengantarkan buket ini tidak menyebutkan nama nya. Mungkin di dalam buket bunga mawar warna kuning ini ada nama pengirim nya Nona, Lihat saja!" jawab Mbak Utik. Zian menerima paket itu dan mencari kartu pengirim nya di dalam. Zian menyipitkan matanya dan belum mendapatkan nama itu di sana.


"Terimakasih banyak mbak Utik. Mbak Utik bisa kembali bekerja," ucap Zian.


Zian memandangi buket mawar berwarna kuning itu. Di dalam terselip kartu ucapan.


"Siapa yang mengirim semua ini? Apakah Bang Genta? Eh, tapi tidak mungkin dia. Seumur hidup mengenal bang Genta dan sampai menikah pun, bang Genta tidak pernah kasih buket mawar seindah ini. Padahal dulu sebelum bang Genta mengalami kebangkrutan, bang Genta berlimpah harta. Mungkin saja kau bukan wanita yang spesial untuk bang Genta. Mungkin saja ada wanita-wanita di luar sana yang mendapatkan buket mawar seperti ini dari bang Genta. Eh, astaghfirullah! Kenapa aku jadi berprasangka buruk pada mantan suamiku itu," gumam Zian.


Zian tersenyum lalu meraih paper bag nya. Di dalam ada porsi makanan kesukaan Zian. Zian tersenyum melihat isi paper bag itu.


"Siapa dia? Bahkan dia mengetahui kalau aku paling suka iga bakar. Salad buah ini juga lengkap isi buah-buahan nya," gumam Zian.


"Jangan lupa makan, wanita hebat! Jangan biarkan keindahan tubuh kamu lemah karena kejamnya permasalahan yang saat ini kamu hadapi. Eh, siapa sih dia? Seperti nya dia tahu kalau aku sedang menghadapi permasalahan rumah tangga," gumam Zian.


"Ah sudahlah! Suatu hari juga dia akan menunjukkan batang hidung nya sendiri bukan? Aku tidak perlu repot-repot mencari orang misterius ini," kata Zian. Kembali Zian tersenyum lalu mulai fokus dengan pekerjaan nya.


*****

__ADS_1


Mariah menelpon Zian, memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum, Zian! Bagaimana kabar kamu?" tanya Mariah di seberang sana melalui sambungan handphone.


"Alhamdulillah baik, Mariah! Lusa sidang keputusan perceraian ku, Mariah!" kata Zian.


"Baik, aku akan mendampingi kamu lusa. Oke? Kamu tidak apa-apa kan? Kamu pasti kuat dengan jalan ini," sahut Mariah.


"InsyaAllah Mariah! Lagipula perceraian ini akulah yang aku mau," ucap Zian.


"Oke, kamu jangan lupa makan yah Zian!" kata Mariah.


"Siap, Mariah! Oh iya Mariah! Kamu yah yang kirim aku buket mawar berwarna kuning dan juga paper bag berisi makanan di kantor ku?" kata Zian.


"Apa paketan? Tidak Zian! Cie.. cie.. ternyata sudah ada penggemar rahasia nih kamu," sahut Mariah.


"Hem, hehehe penggemar rahasia apaan sih? Ya sudahlah jangan lagi di bahas. Mariah aku bekerja dulu. Mami ku sudah menunggu laporan dari aku," kata Zian.


"Oke, selamat bekerja sayang!" sahut Mariah.


"Bukan Mariah? Lalu siapa lagi? Eh kenapa aku jadi penasaran sih? Ah biarkan saja lah! Lagi pula tidak penting!" gumam Zian.


*****


Jam siang sekitar pukul satu, kembali mbak Utik mengetuk pintu ruangan Zian. Mbak Utik kembali kerepotan membawa buket mawar berwarna kuning dan juga paper bag kembali. Zian membulat matanya dengan sempurna.


"Apakah tidak ada pengirim nya lagi, mbak?" tanya Zian.


"Tidak ada non Zian!" jawab Mbak Utik.


"Hem, ya sudah letakkan saja di atas meja itu! Mbak Utik bisa kembali," ucap Zian. Zian masih sedikit lagi menyelesaikan tugas nya. Setelah selesai, Zian mengambil paper bag yang baru datang. Isi nya masih sama yaitu iga bakar, salad buah dan juga puding vla coklat.

__ADS_1


"Hem, paketan makanan tadi saja belum di makan, ini sudah datang lagi. Baguslah, lebih baik aku kasih satu ke mami saja, hehe," gumam Zian lalu keluar dari ruangan kerja nya menuju ke tempat mami Juan dengan membawa paper bag berisi makanan.


__ADS_2