Wife CONSIDERED GARBAGE

Wife CONSIDERED GARBAGE
ISTRI PENGGANTI BOS MAFIA


__ADS_3

Ariana Delania seorang gadis yang memiliki wajah cantik dan murah hati. Ia bekerja sebagai karyawan di perusahaan.


Saat ini Ariana sedang berada di cafe. Ia melepas rasa lelahnya di cafe itu karna terus bekerja seharian.


Ia merindukan mendiang ibunya yang sudah lama meninggalkannya.


Sesekali Ariana mengusap air mata nya karna merasakan sesak di dada.


Begitu perih yang ia rasakan saat melihat ketidak adilan yang di lakukan ayahnya pada nya.


Ayahnya selalu membanding bandingkan dirinya dengan kakak tirinya.


Saat ini, Ariana pulang dari cafe.


Ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan berkecamuk di dada. Ia juga tidak mendapatkan kabar dari kekasihnya.


"Baru pulang...??? Dari mana aja Lo" ujar bela berdiri di ambang pintu kamar nya


"Kakak, apa yang kau lakukan di kamarku..???"


"Ohh, aku hanya ingin mengambil ini" ujar bela menunjukkan kalung berliontin huruf A milik ibunya yang diberikan padanya.


"Jangan kak, itu milikku kau tidak bisa mengambilnya begitu saja" ujar Ariana berusaha merebut kalung yang di pegang kakaknya.


"Siapa yang mengatakan aku tidak bisa mengambilnya...??? Hari ini kau terakhir melihat kalung ini" ujar bela segera memutus kalung tersebut dan membuangnya hingga manik manik kalung itu bertaburan ke mana mana.


Ariana hanya bisa menangis, ia ingin mengadu pada ayahnya namun ayahnya malah akan memarahinya.


Bela tersenyum puas melihat penderitaan di wajah Ariana. Bela iri karena Ariana lebih cantik dari nya dan lebih unggul dimana mana membuat nya terbakar api dendam yang membara


Bela beranjak dari kamar Ariana sementara gadis itu masuk kedalam hendak mengeluarkan tangisannya.


Ariana hanyalah gadis yang memiliki hati lemah dan berpura pura kuat ketika di luar rumah.


Namun akan menunjukkan kelemahannya di rumah karna perbuatan biadap keluarganya.


Sementara Laura yang kesal karna makan malam belum di siapkan dengan langkah cepat menuju kamar Ariana dan menggedor pintu itu dengan kuat.

__ADS_1


"Keluar atau ibu akan menghancurkan pintu ini"


Ariana dengan cepat membuka pintu kamar dan menatap seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya sekarang.


"Ada apa Bu" tanya Ariana dengan lembut.


"Mengapa makan malam belum ada? Jangan berfikir mentang mentang ada pelayan kau seenaknya disini, ingat..!!! Ayahmu menyerahkan mu padaku jadi kau harus menuruti perkataan ku" terisak Laura di depan Ariana.


"Maaf Bu aku tadi membersihkan diri" ujar Ariana berusaha menahan tangisnya.


"Sudah tidak usah merasa paling tersakiti, sekarang cepat siapkan makan malam" ketus Laura meninggalkan Ariana.


"Ya tuhan, mau sampai kapan aku akan hidup seperti ini" tangsi Ariana pecah


Gadis itu segera melangkah ke dapur untuk membuat makan malam takut ibu nya marah padanya.


Ariana takut pada ayahnya, jika ia membantah perkataan ibu tirinya maka ia akan di usir dari rumah dan Ariana sangat bingung ingin tinggal dimana


Hari sudah malam.


Jaya kembali ke kediamannya di sambut sang istri tercinta


"Papa"


"Mengapa kalian hari ini terlihat senang???" Tanya jaya tersenyum ke anak anak nya.


"Tidak ada apa apa, hanya saja kami memang merasa senang hari ini" ujar bela


"Pa Billi mau beli mobil boleh kan?"


"Boleh sayang, besok papa belikan yah"


"Pah, Bella mau beli laptop baru pa karna laptop bela sudah usang " ujar bela dengan manja.


"Sudahlah, papa kalian baru pulang kalian sudah meminta yang aneh aneh" ujar Laura menggelengkan kepalanya.


Mereka tertawa bersama menikmati harmonisnya keluarga mereka, tanpa mereka sadari sepasang kedua mata menatap mereka dari kejauhan.

__ADS_1


Dengan mengepalkan tangannya dan merasakan hati yang sakit, dan celemek yang masih nempel di tubuhnya.


Ariana menatap iri mereka, ia teringat saat ia kecil dulu. Ia juga di perlakukan seperti itu saat ibunya masih ada.


Kini ia menjadi pembantu di dalam keluarga dan anak tak di anggap.


"Akan sangat bahagia jika aku berada di posisi itu" ujar Ariana menangis dalam diam. Ia meninggalkan tempat itu dan menuju dapur untuk kembali menyiapkan makan malam.


*


*


*


*


Kini mereka berada di meja makan


Mereka menyantap makanan mereka masing masing, sementara Ariana pergi meninggalkan mereka menuju kamar


Ariana menuju balkon di dalam kamar. Duduk di kursi yang ada di sana menatap terangnya rembulan yang di hiasi dengan bintang bintang.


Ia membayangkan betapa indahnya jika ibunya di sana.


"Mengapa aku tidak ikut ibu? Aku ingin bahagia Bu" ujar Ariana menangis meratapi kehidupannya yang sudah lama menyedihkan.


Ariana masih betah dengan kesedihan nya. Hingga pintunya di ketuk dari luar.


"Siapa"


"Aku" ujar Billi sang adik tiri.


Ariana segera mengusap air matanya dan segera menuju pintu. "Billi ada apa kau kemari, ayo masuk" ujar Ariana tersenyum tulus pada billi. Namun di rendahkan oleh Billi.


"Tidak usah sok baik di hadapan ku, aku hanya ingin memberitahumu jika papa memanggilmu"


"Mengapa kau, dan tidak menyuruh bi anggun saja yang memanggilku nanti kau kelelahan"

__ADS_1


"Ckck bisa tidak kau tidak usah banyak bicara, cepat kesana...!!!" Bentak Bili dengan kasar 


__ADS_2