After Love

After Love
Bab. 29 Rayuan Moa


__ADS_3

" Katakan, apa yang kamu sembunyikan dariku Moa?? " tanya Zoe dingin


" Ah...Emmt... Tidak ada apa apa Tuan. " jawab Moa gugup. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya kabur atau tidak hadir di acara nanti malam. Karena ia nyakin, kehadiran pria itu untuk menghadiri acara yang di gelar nanti malam.


Zoe pun semakin penasaran melihat kegugupan Moa. Sejak ia membuka pintu, Moa menunjukan aura kecemasan.


Zoe yang penasaran dengan sesuatu di luar pun mencoba berdiri,dan berjalan ke arah pintu. Sedangkan Moa mulai ketakutan, jika ia melihat pria itu di luar dan akan mengetahui keberadaan nya di sini.


Zoe membuka pintu, dan dirinya di kejutkan dengan wajah wanita yang sangat dekat dengan nya kini. Bahkan secara reflek Zoe memundurkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan wanita itu.


" Sedang apa kamu di sini?? " tanya Zoe


" Sssaya mau mengantarkan dokumen untuk Anda pelajari. " jawab Wanita itu takut takut.


" Lalu kenapa kamu mengantarkan ke sini?? " Zoe menelisik sebuah jawaban, apa karena wanita ini Moa menjadi cema.


" Bukankah saya seharusnya menyerahkan pada Asisten pribadi Anda. Biar dia yang memberikan pada Tuan. "


" Bagus jika kamu tahu prosedur. " jawab Zoe mengambil alih dokumen yang di pegang wanita itu.


Wanita itu mencuri curi pandang ke dalam, mencari keberadaan Moa.


" Lalu kenapa kamu masih berdiri disini?? " tanya Zoe dingin dan juga raut wajah sangat menakutkan.


Wanita itu masih saja menilisik ruangan dalam, menghiraukan pertanyaan Zoe.


" Untuk apa kamu masih berdiri di sini?? " sentak Zoe mengagetkan wanita itu. Seketika wanita itu ketakutan dan pergi meninggalkan Zoe menuju lift.


Moa yang dari dalam mendengar samar samar suara Zoe berbincang dengan seorang wanita pun penasaran dan mendekati pintu.

__ADS_1


Akhirnya Moa bisa melihat jika Zoe sedang berbicara dengan teman nya.


" Davina... " panggil Moa sedikit menggeser tubuh Zoe agar beralih tidak menghalangi langkahnya.


Zoe merasa jengkel dengan tingkah Moa, yang sudah berani menggesernya.


Davina menoleh, lalu berbalik dengan mengembangkan senyumnya.


" Masukkkk ..... !!!! " perintah Zoe penuh penekanan.


Membuat keduanya mematung, menanggalkan senyum mereka yang semoat saling merekah.


" Tapi Tuan ----- "


" Maaaa......suk !!! " intonasi Zoe sudah menurun namun masih penuh penekanan.


Nyali Davina pun ikut menciut melihat perlakuan Zoe pada Moa. Akhirnya ia memilih masuk ke dalam lift yang terbuka, karena sempat ia tekan tombol ke bawah.


" Aku sudah seperti anak tk yang di larang main oleh ayahnya. Ya dia sudah seperti ayahku, dan lebih pantas menjadi ayahku. " gumam Moa


" Apa kamu sedang mengolok ku?? " tanya Zoe yang sedikit mendengar gumaman Moa. Hatinya menjadi panas, saat Moa menganggapnya ayah.


" Tidak mungkin saya berani mengolok Anda Tuan. Anda begitu sempurna, sampai tidak ada cacat yang bisa aku olok. " kata Moa yang sudah pandai menjilat kata.


Semenjak dekat dengan Zoe, membuat nya menjadi pribadi yang sangat pandai bermuka dua, dan pandai menjilat kata di depan Zoe.


Sebenarnya Zoe tahu jika Moa sedang berbohong. Karena ia mendengar betul apa yang di gumam kan Moa. Namun Zoe sudah cukup senang mendengar jawaban yang di lontarkan Moa.


" Dasar Davina. Dia bilang akan membantu membuat Zoe bertekuk lutut. Di depan Zoe saja sudah seperti tikus bertemu kucing, berupaya keras supaya bisa kabur. Bagaimana bisa membantu jika seperti itu. Tak bisa di percaya mulut lemez. " batin Moa mengingat Davina yang langsung kabur melihat pintu lift terbuka tanpa memberinya salam dan sebagainya.

__ADS_1


Zoe melihat berkas berkas di dalam file yang di berikan Davina tadi untuk di pelajari. Sedangkan Moa sedang melamun menyelami pikiran nya. Otaknya sedang traveling menyusun rencana untuk tidak ikut di acara nanti malam.


Zoe menutup berkas di meja karena di rasa sudah sesuai dengan prosedur dan pemikiran nya. Ia menatap Moa yang masih bengong memikirkan acara nanti malam.


Zoe mendekati Moa. Ia semakin jengkel karena Moa tidak memperhatikan nya.


" Jawab jujur !!! Apa yang sedang kamu pikirkan dan rencanakan?? " kata Zoe sudah memegang dagu Moa. Sontak membuat Moa terkejut lagi.


" Anda tahu Tuan. Aku bisa lebih bisa cepat mati jika bersanding dengan Anda. Karena Anda selalu saja membuatku terkejut. " jawab Moa tidak suka Zoe bersikap kasar padanya lagi.


" Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab Aku !! Ke... na... pa... ??? " kata Zoe penuh penekanan


Moa mulai ketakutan melihat Aura dingin dari wajah Zoe.


Moa yang gugup pun mulai berpikir keras, bagaimana membuat Zoe tidak menyiksa dirinya. Karena Moa nyakin Zoe bisa berbuat apa pun, apalagi dalam kondisinya yang sedang murka.


" Tuan Zoe, apa yang bisa aku sembunyikan dari Anda? Sedangkan bernafas pun aku harus mendapat ijin dari Anda, baru berani bernafas. " kata Moa


Moa sedikit berkata lebih manja, agar melunak kan amarah Zoe. Moa hanya bisa berharap dengan cara merayu Zoe, hatinya bisa hangat seperti saat di ranjang.


Moa menatap wajah Zoe dan semakin mendekat. Otaknya mulai bergeser saat melihat wajah tampan Zoe yang semakin jelas. Apalagi terasa hembusan nafas Zoe yang segar membuat dadanya menjadi bergemuruh. Moa mulai terhipnotis dengan ketampanan Zoe, ia dengan tidak sadar menempelkan bibirnya dan mulai mencium dengan lembut. Tidak di hiraukan wajahnya yang masih dalam cengkeraman Zoe. Namun berlahan cengkeraman itu semakin longgar dan semakin di lepaskan oleh Zoe.


Dengan mudahnya Moa merayu Zoe, hanya dengan sekali ciuman bisa meluluh lantakan segala amarah Zoe.


Zoe sendiri merasakan getaran hebat saat Moa menjawabnya dengan kata kata manja. Apalagi hembusan nafas Moa menampar wajahnya, menambah jiwa lelakinya terbangun.


Zoe mulai melupakan kemarahan nya, ia pun terhanyut dengan sentuhan bibir Moa yang hangat. Ia bahkan sudah melupakan janjinya pada Jenifer, jika tidak akan pernah tertarik bahkan sampai menyentuh Moa. Karena pada awalnya memang Zoe sangat membenci Moa. Melihat wajahnya yang masih terlalu muda, membuatnya enggan untuk bersahabat. Namun perasaan benci itu mulai hilang entah sejak kapan, Zoe sendiri juga tidak menyadarinya. Semua ucapan yang di lontarkan Zoe pada Moa, satu per satu justru ia ingkari sendiri. Ia menelan ludah yang sudah ia lemparkan pada Moa.


Hampir satu tahun ini mereka membina rumah tangga. Yang awalnya Zoe sangat berupaya ingin menyingkirkan Moa, pada akhirnya Zoe mulai merasakan adanya rasa cemburu saat Moa semakin dekat dengan Zack. Adanya rasa ingin melihat, jika satu hari tidak bertatap saat Moa masih menjadi Asisten Pribadi Zack. Dari sedikit rasa rasa itulah, kini Zoe semakin ingin mengikat Moa menjadi hanya milik seorang.

__ADS_1


Plisss...... Boleh Minta Gift nya ya.... Biar Karya Author bisa masuk rekomendasi 😉😉🙈🙈 Tapi jangan lupa pula buat Like.... ♥️♥️♥️


__ADS_2