
" Moa Banguun !! " Wina menggoyang goyangkan tubuh Moa yang tak kunjung bergerak. Melihat tak ada pergerakan, Wina mencoba kembali mengoyangkan tubuh Moa.
" Moa.... !!" Wina agak meninggikan suara nya, karena sejak setengah jam yang lalu, Wina sudah berusaha membangunkan Moa, namun tak kunjung bangun juga.
Kini sudah ada pergerakan dari Moa, Moa mulai mengerjabkan mata nya, dan ia sangat terkejut karena di hadapan nya sudah ada Wina. Moa menoleh di samping ranjang nya ternyata kosong.
Moa bersyukur, karena hanya mimpi. Moa bermimpi sedang tertidur di dalam pelukan Zoe. Itulah sebab nya Moa terkejut melihat Wina ada di hadapan nya, namun saat menoleh ke samping ranjang nya yang kosong, barulah ia sadar jika diri nya sedang mimpi.
Wina yang melihat tingkah Moa yang kebingungan, mengerutkan kening nya.
" Kenapa Moa?? Dan kemana kamu semalam, sampai tengah malam aku menunggu mu tak kunjung datang. " ucap Wina
" Semalam aku berkeliling hotel sini. Sejak kedatangan ku, aku belum pernah melihat keindahan hotel ini. " ucap Moa berbohong
" Biasanya kamu juga tidak mau, jika ku ajak jalan jalan. " jawab Wina sambil berjalan meninggalkan Moa. Ia sibuk lagi dengan membereskan keperluan untuk di bawa ke ruang kontes.
Moa memilih pergi membersihkan diri, dari pada ia menanggapi Wina. Moa takut, justru nanti nya akan ketahuan Wina, jika dirinya sedang berbohong.
Semua sudah beres, Pukul delapan Moa dan Wina sudah berkumpul di ruangan yang di tentukan. Karena hanya lima peserta, maka ruang mereka berganti, dan hanya menggunakan satu ruang seperti aula tanpa sekat, hanya meja meja yang berjauhan saja yang memisahkan mereka.
Moa tersenyum lebar, saat tidak melihat kehadiran Zoe. Ia membayangkan jika pasti Zoe juga kesiangan seperti diri nya, akibat malam panas yang mereka lalui semalam. Sama seperti diri nya pagi ini, Moa pun juga hampir kesiangan jika Wina tidak berusaha keras membangunkan diri nya.
__ADS_1
Namun senyum itu berlahan memudar saat menyadari, jika tidak hanya dia saja yang sendiri tanpa mentor. Teryata ada satu peserta yang tanpa mentor di samping nya. Setelah Moa melihat satu persatu mentor disamping pesertanya, ia baru sadar, ternyata Vivian juga tidak ada di sana.
" Tidak mungkin, mereka pasti tidak yuksedang berdua. " batin Moa menyakinkan diri nya sendiri, jika Zoe tidak sedang bersama dengan Vivian.
Briefing di mulai di tempat itu juga, hampir satu jam para mentor memberi masukan dan pengarahan, namun Moa tidak fokus dalam kegiatan ini. Mata nya terarah pada pintu yang tak kunjung ada yang membuka.
Setelah Briefing di akhiri, semua sudah boleh memulai. Karena hanya satu minggu, waktu yang di perlukan mereka dalam mendesain. Terlihat semua sudah fokus dengan di bantu model masing masing. Tapi tidak dengan Moa, ia semakin gelisah, pikiran juga firasat nya berkata, akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena tak sanggup lagi menahan gejolak dada nya yang semakin panas, Moa memutuskan keluar ruangan.
" Wina, aku mau ke toilet sebentar. " ucap Moa beralasan.
" Iya . " jawab Wina singkat, sambil menyelesaikan tugas yang diarahkan Moa pada nya tadi.
Moa pun ijin pada para mentor di sana, dan keluar dari ruangan itu, sekilas ia melihat pintu ruangan yang tak terbuka, ia segera keluar menuju lift. Hati nya sangat mengganjal, ia ingin membuktikan jika pemikiran Zoe sedang berdua dengan Vivian adalah salah.
" Tok...Tok....Tok !! "
Tak berselang lama, pintu itu terbuka lebar.
Deg
Jantung Moa seakan berhenti saat ini. Sebuah firasat yang ia rasakan, kini terjawab sudah. Apa yang ia takutkan kini ia lihat dengan nyata.
__ADS_1
Moa menatap wanita yang berdiri di hadapan nya, dari atas sampai bawah. Karena orang yang membuka pintu untuk nya adalah Vivian.
Moa melihat Vivian hanya menggunakan kemeja Zoe, tanpa memakai bawahan juga alas kaki. Sejenak Moa terdiam melihat penampilan Vivian saat ini. Paha putih mulus terekpos begitu saja, seolah memang sengaja di pertontonkan pada yang ounya. Sesaat kemudian Moa tersadar, ia harus menguasai diri dan menahan emosi agar tidak terjadi kegaduhan.
" Kamu Moa ?? Anak bimbing dari Zoe ya ?? " tanya Vivian sok akrab,tanpa rasa malu atau canggung dengan pakaian yang ia kenakan.
Moa hanya menganggukan kepala.
" Zoe sedang mandi. Apa ada yang ingin di tanyakan sekarang, sampai kamu mencari kemari. Aku bisa membantu. " ucap Vivian lembut namun seolah meremeh kan
Moa terdiam saat melihat Zoe benar benar keluar dari kamar mandi. Dengan hanya mengenakan handuk melilit di paha nya. Walau handuk itu panjang, namun dada nya terbuka tanpa tertutupi suatua apa pun. Sehingga rambut nya yang basah, menetes sampai ke bagian dada.
Terlihat Zoe sangat terkejut melihat kehadiran Moa ada di depan pintu. Dengan tergesa Zoe mendekati pintu, namun Moa sudah pamit undur diri fan segera bergegas menuju lift.
Moa berusaha keras menahan air mata nya agar tidak terjatuh. Sebelum masuk ruangan Moa menuju kamar mandi. Ia membasuh muka yang terasa sangat panas.
Terlintas baru semalam ia melalui malam indah, tapi sekarang ia harus di hadapkan dengan kenyataan pahit. Ia merutuki kebodohan nya, kenapa ia percaya pada Zoe, seharus nya ia sadar jika Zoe hanya memainkan perasaan nya saja.
Lama Moa menenangkan diri di toilet, akhirnya ia memilih menghadapi semua ini dengan hati yang terbuka. Ia harus berusaha konsisten terhadap misi nya kali ini. Ia akan mengesampingkan perasaan nya, untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Moa berjalan menuju tempat nya. Ia terlihat serius terhadap apa yang akan ia rancang. Tak ia hiraukan Zoe yang sudah masuk bersamaan dengan Vivian.
__ADS_1
Moa menarik nafas panjang, agar bisa menghilangkan gemuruh di dada nya. Tak ia hiraukan kehadiran Zoe yang mendampingi nya. Moa masih mau menjawab pertanyaan Zoe, jika seputar dengan apa yang ia rancang. Di luar topik, Moa sama sekali tidak menggubris, seperti saat ini Zoe yang berulang kali ingin menjelaskan namun seolah Moa menghindar dengan berbicara pada Wina, untuk menghindari ada nya emosi merasuki pikiran nya nanti.
Sisa waktu satu minggu ini, akan Moa gunakan dengan sungguh sungguh. Ia akan selalu menempatkan Wina di samping nya, agar Zoe tidak ada kesempatan mendekati diri nya lagi. Hati Moa sudah benar benar kembali tertutup rapat. Ia sudah tidak perduli lagi alasan apa yang akan di jelaskan Zoe. Yang jelas, apa yang ia lihat tadi pagi sudah cukup menjadi bukti, jika cinta nya tidak pantas untuk di perjuangkan.