
Siang ini Moa merasa kegerahan, ia memegangi perutnya yang terlihat buncit. Badan nya yang dulu ramping pun kini sudah rata, antara dada dan perutnya yang sama besarnya.
Moa tidak jadi menggugurkan kandungan nya. Karena semula, Moa yang bersikeras untuk menggugurkan kandungan, mengikuti saran Davina untuk memeriksakan keadaan kandungan nya terlebih dahulu. Namun ternyata kandungan Moa sangat sehat, terlebih kandungan Moa sudah berumur tiga bulan lebih, sehingga jika tetap di gugurkan, bisa membahayakan keadaan Moa nanti nya.
Semula Moa masih sangat membenci janin dalam kandungan nya. Terlebih janin yang Moa kandung adalah kembar. Mengandung satu anak dari Zoe pun Moa tak sudi, ini sekaligus dua yang akan ia lahirkan nantinya, membuatnya semakin membenci.
Namun Davina selalu memohon pada Moa untuk mau menyayangi anaknya. Terlebih Davina akan bersedia mengadopsi anaknya jika lahir, jika Moa tak sudi merawatnya nanti. Davina selalu memaksa Moa untuk meminum vitamin, susu setiap harinya. Lama lama Moa pun mulai luluh, apalagi setiap ada jadwal USG, Moa dapat melihat wajah anak kembarnya.
Setiap Moa merasa sedih,pasti anak laki laki dalam kandungan nya akan diam saja tak mau bergerak, seolah ikut merasakan kesedihan ibu nya. Itulah mengapa Moa jadi ikut kasihan, dan berlahan mulai mau menerima kehadiran nya.
Siang ini Davina di buat repot oleh Moa. Semenjak kandungan Moa, menginjak usia sembilan bulan, Moa sering sekali menyuruh Davina untuk mengupaskan mangga untuk nya.
Tapi hari ini berbeda dengan hari sebelum sebelumnya. Hari ini Moa sudah menghabiskan empat mangga, namun masih menyuruh Davina untuk mengupaskan lagi. Dengan setia Davina bersedia mengupaskan mangga lagi, walau mulutnya terus mengoceh memarahi Moa agar menyudahi makan mangga nya. Ia takut akan berakibat sakit perut karena terlalu banyak makan mangga.
" Aaa..... Davina.... Perutku mules banget !!!! " ucap Moa meringis sambil melepaskan garpu yang ia pegang untuk makan mangga tadi.
Davina pun di buat gugup, ia segera mencuci tangan nya dalam baskom, yang tersedia untuk mencuci mangga tadi. Ia segera sigap bangun untuk membantu Moa bangun, karena Moa sering kesusahan untuk bangun dari duduknya.
" Sudah ku bilang makan nya jangan banyak banyak, masih ngeyel. kan bener sekarang jadi mules. " cerocos Davina yang mengira Moa sakit perut karena terlalu banyak makan mangga
" Davina mules banget... !!! Aku udah gak tahan mau keluar. " teriak Moa mencoba untuk berdiri.
" Sabar Moa, jangan di sini. " kata Davina sambil membantu memapah Moa agar berdiri tegak.
Mata keduanya tertuju pada area wanita Moayang ternyata sudah keluar air.
" Davina aku udah gak tahan. udah pipis. " ucap Moa meringis masih serasa mau buang air lagi.
__ADS_1
" Moa... Ini bukan air kencing. Ini ketuban mu sudah pecah. Aduh gimana Moa,, ?? " ucap Davina panik
" Kamu sakit gak Moa?? "
Moa hanya menggeleng kan kepala dengan meringis. Ada keringat keluar dari dahi Moa, seperti menahan sesuat. "
" Davinaaaaa........ " teriak Moa pada akhirnya tak kuat lagi menahan sesuatu yang keluar begitu dari jalan lahir.
" Oek..... Oek......Oek .... !!! "
Bayi pertama berjenis laki laki keluar dari perut Moa.
" Aduh Moa kamu sudah melahirkan??? Bagaimana ini?? Aku harus gimana" Davina panik, ia bingung harus bagaimana. Ia justru gemetar melihat begitu banyak darah yang keluar dan menempel di bayi pertama Moa. Bahkan ia juga tak tahu bagaimana cara menolong.
" Panggil Dokter Davina !!!! Tunggu apa lagi. " ucap Moa masih menahan mulas di perutnya serasa masih belum lega mengeluarkan satu anak.
" Davinaaaaaa !!!! Astaghfirullahaladzim ...... " ucap Moa sambil meringis
" Moa .... bagaimana ini. Kamu kan seharusnya lahir minggu depan. Kenapa sudah lahir sekarang?? " ucap Davina dengan mengelap keringat di dahi Moa
" Mana ku tahuuuuuuuh " Moa kembali berteriak
" Oek ......Oeeeeekkkkk....... Oeeeeekkkkkk...... !!! " bayi kedua berjenis kelamin Perempuan, ikut keluar, seolah tidak ingin di tinggal lama oleh sang kakak, segera menyusul ikut keluar.
Suara tangis bayi memecahkan keheningan Apartemen mereka. Bayi laki laki yang semula sudah terdiam, kembali menangis bersahut sahutan seolah menyambut sang adik yang menyusul kedunia bersama dirinya tanpa menunggu waktu lama.
Ting Tong.......
__ADS_1
Davina segera berlari, karena ia tahu pasti dokter sudah datang dengan membawa para perawat sesuai keinginannya.
Dengan di bantu dokter juga para perawat, Moa sudah bersih. Dan juga kedua bayinya yang semula di taruh di dada sudah mulai di bersihkan, dan di taruh dalam box masing masing yang sudah di persiapkan Mao juga Davina sebelum nya.
Setelah Moa di pindahkan ke kamar, karena memang sebelumnya mereka duduk di sofa, sedang menikmati mangga di ruang tamu. Sehingga Tadi Moa melahirkan mendadak di sofa. Untung saja sofa milik mereka tidak menyerap darah. Sehingga bisa di bersihkan dengan mudah.
Moa menyuruh Davina, agar membawa seorang ustadz yang sering mereka temui di Paris ini. Mereka ingin minta tolong agar kedua anaknya ada yang mengadzani. Karena tidak memungkinkan bagi Moa mengajak Zoe mendatangi mereka.
Moa dan Davina masih tak percaya, jika kedua bayi itu sekarang sudah tertidur dalam box. Padahal tadi siang Moa sama sekali tak merasakan tanda tanda akan melahirkan, seolah semua di permudah.
Davina tertawa jika mengingat kejadian siang tadi. Ia yang tidak tahu apa apa, hanya bisa gugup dan panik. Begitu juga Moa, ia sangat bersyukur karena kedua bayinya sama sekali tidak menyiksa dirinya. Seolah kedua bayi itu mengerti, jika ibunya tidak mengharapkan kehadiran nya
" Kamu sangat beruntung Moa, kamu sama sekali tidak mengalami morning sickness, juga ngidam dan membenci sesuatu. Bahkan kedua bayimu juga tidak merepotkanmu saat lahiran. Sehingga ia keluar lewat jalan nya, sebelum waktunya pula. " ucap Davina masih duduk menatap kedua bayi mungil milik Moa.
Padahal sebelumnya, Minggu depan Moa akan merencanakan operasi sesar. Davina takut Moa yang lemah, tidak kuat untuk mengejan. Sehingga sudah di tentukan tanggal kelahiran untuk anak Moa, yaitu minggu depan.
Namun ternyata bayi kembar Moa sudah tak sabar lagi untuk keluar melihat dunia.
Kebahagian terpancar dari wajah Moa dan Davina. Mereka seolah tak puas terus menatap bayi kembar itu, yang tertidur pulas, seolah sangat nyaman dengan kehidupan barunya.
" Moa, siapa nama yang akan kamu berikan, untuk mereka?? " tanya Davina, karena sebelumnya mereka sudah merencanakan banyak nama untuk anak Moa. Sehingga Davina tidak tahu nama mana yang akan di pilih Moa untuk bayi nya.
" Azizi dan Azaza " jawab Moa tersenyum pada kedua bayinya yang sangat tampan dan cantik walau sedang terlelap
Bersambung.......
__ADS_1