
Zoe duduk di kursi teras rumah dengan baju yang basah. Karena ia keluar dari mobil, dan menuju ke teras tidak membawa payung. Ia merasa kedinginan, karena bajunya yang basah, dan masih tertiup air hujan yang terbawa angin.
Untuk menghilangkan sedikit rasa dingin yang mendera, ia mencoba merogoh mantel nya dan mengambil satu puntung rokok dari bungkus nya, kemudian ia menyulutkan api, dan menghisap nya.
Terlihat Zizi datang menghampiri dari balik tirai jendela yang ia sibak kan. Zoe yang tahu dari cahaya lampu yang di bawa Zizi, segera berdiri dan menghampiri Zizi.
" Tidurlah, jangan lupa minum susu sebelum tidur. " kata Zoe dengan di tambah bahasa bibir juga gerak tangan, karena suara hujan dan angin membuat suara di luar tidak di dengar sampai dalam
Zizi tak segera pergi, namun kemudian ia pergi. Tak berselang lama, pintu utama di buka. Dan ternyata yang membuka adalah Zizi.
Zizi memberikan selimut untuk Zoe, kemudian menyuruh Zoe agar segera tidur pula. Zoe pun langsung menggendong Zizi ke dalam rumah. Zoe tidak mau Zizi terpercik air hujan, yang kemudian akan membuat Zizi demam.
Pandangan Zoe dan Moa beradu, karena Moa masih terduduk di sofa menunggu Zizi, agar ikut masuk ke kamar. Mereka saling pandang sejenak, kemudian Moa tersadar dan membuang wajahnya memutuskan pandangan mereka.
" Cepatlah tidur. Jangan membuat Mommy marah atau bersedih oke. " bisik Zoe di telinga Zizi yang kemudian diangguki.
Zoe keluar kembali keluar, yang kemudian pintu di tutup oleh Zizi, kemudian di kunci oleh Moa. Moa sempat mencuri pandang ke luar, di lihat Zoe sedang melamun dengan sesekali menghisap rokok, yang tadi sempat ia letakan, karena Zizi datang menghampiri.
Moa hanya bisa menarik nafas, ketika melihat Zoe merokok. Karena selama ini ia jarang sekali ia menemukan Zoe merokok.
Di dalam kamar, Moa memeluk Zaza yang kemudian gadis kecil itu langsung tertidur. Begitu pun dengan Zizi, ia pun juga langsung tertidur. Berbeda dengan Moa, ia masih sibuk mencari sinyal untuk menanayakan keberadaan Davin, karena ini sudah terlalu larut malam.
Kemudian Moa membayangkan kembali Zoe yang tidur kedinginan di luar. Moa sebenarnya merasa iba melihat Zoe yang tak gentar untuk pergi. Dia memilih tidur di teras bermandikan air hujan demi untuk melindung mereka bertiga, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
__ADS_1
Namun kemudian Moa mengingat betapa jahatnya Zoe mendustai cinta tulus nya. Kebencian itu kembali memanas dan meruntuhkan rasa iba itu.
" Tapi kenapa bisa Dia ada di sini?? " batin Moa memikirkan bagaimana bisa Zoe ada di villa ini.
" Zee . Ini semua pasti ulah Zee. " Moa mulai berpikiran buruk, jika Zee masih berkomunikasi dengan Zoe, walau Moa sudah memgancam Zee, jika ia memberitahukan kepada Zoe, Moa tak segan untuk Moa untuk mengusir Zee dari apartemen milik nya.
Moa mulai berpikiran buruk tentang Zee, jika semua ini sudah di rekayasa oleh nya. Zee membawa pergi Davin dan Zoe di hadirkan. Pikiran pikiran buruk tentang Zee mulai bermunculan. Akhirnya tidak bisa memejamkan mata malam ini.
Moa mencoba keluar keluar kamar saat kedua anak nya mulai terlelap. Pelan pelan ia melihat keluar, ternyata Zoe masih duduk di kursi teras belum tertidur, padahal waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Moa semakin cemas, karena Zee juga Davin belum kembali.
Moa memutuskan menunggu di sofa, yang pada akhirnya ia pun tertidur di kursi itu.
****************
Moa melihat Zoe masih tertidur di kursi dengan posisi duduk, dan berselimutkan selimut pemberian Zizi semalam. Ada rasa kasihan, namun buru buru Moa tepis. Ia memutuskan kembali ke dalam dan menutup pintu kembali.
Moa mengambil ponselnya, namun ternyata sinyal belum ada karena aliran listrik juga belum menyala. Pagi ini Moa menyiapkan sarapan dengan bahan bahan pemberian Zoe. Moa tidak menyangka jika Zoe mempersiapkan semua keperluan di dalam koper yang sangat banyak. Ia pun berniat ingin membagi makanan untuk Zoe pagi ini. Namun pikiran buruk tentang masa lalu dengan Vivian bermunculan kembali membuat dada Moa panas kembali. Ia pun mengurungkan niat nya untuk memasak.
Entah kenapa sejak semalam, pikiran Moa hanya tertuju pada Zoe dengan Vivian. Bayang bayang masa lalu itu bermunculan dalam benak nya. Sampai Moa mendatang kan pertanyaan, kenapa Zoe disini. Lalu bagaimana dengan Vivian dan anak nya. Bukan kah kemarin Ia melihat Vivian dan anak nya di Paris. Dan Moa berpikir, jika mereka liburan nya pasti bersama Zoe. Dan benar saja sekarang ia melihat Zoe di sini. Tapi kenapa Zoe memilih tinggal disini, dari pada menemani Vivian dalam situasi seperti ini.
Moa mencoba menghapus bayang bayang kebersamaan Zoe dengan Vivian, dan menyakinkan hati nya jika ia bisa bahagia dengan Davin. Toh cinta pertama Moa dulu, memang untuk Davin.
" Mommy...... " yang sudah bangun lebih dahulu mendekati Moa di dapur yang sedang melamun.
__ADS_1
" Mommy kenapa ?? " tanya Zizi yang melihat raut wajah Moa seperti sedang sedih.
" Tidak apa apa sayang. Kamu udah sikat gigi ?? " ucap Moa mengalihkan pembicaraan dan mencium anak lelakinya yang sudah wangi.
" Sudah Mom. Zizi pengen minum Susu Mom. " pinta Zizi, kemudian Moa pun membuatkan.
Zizi melihat jendela luar yang masih hujan.
" Uncle Davin dan Anty Zee belum pulang Mom?? " tanya Zizi
" Belum sayang. " jawab Moa, mengingat kembali Davin dan Zee yang belum kembali. Pikiran buruk mulai menyelimuti.
" Mom.... bolehkah aku memberi sedikit susuku untuk Paman Zoe ?? " tanya Zizi dengan hati hati.
" Tidak perlu. " jawab Moa mulai menyibukan diri untuk mempersiapkan sarapan.
Zizi pun diam tidak menjawab. Ia tidak ingin membantah Mommy nya, karena Zizi sangat menyayangi Mommy nya.
Moa menatap Zizi yang tak menghabiskan susu nya dan hanya melihat pun trenyuh.
" Apa mungkin Zoe sudah memberi tahu Zizi, jika Zizi anak nya. Tapi apa mungkin Zoe sudah tahu jika Zizi dan Zaza adalah anak nya. Tidak mungkin... Davina tidak mungkin memberitahukan pada Zoe. " Moa melamun berdialog dengan dirinya sendiri.
" Berilah..... " pada akhir hati Moa tidak tega melihat Zizi bersedih, karena memang selama ini Zizi sama sekali tidak melawan apa pun apa yang dikata kan Moa.
__ADS_1