
Moa bersandar dinding toilet untuk menenangkan diri. Ia sangat kecewa dengan nasib nya. Disaat ia sudah bisa meraih mimpi nya, kenapa dia sekarang harus mengandung anak dari laki laki yang sangat ia benci.
" Aborsi . "
Satu jalan yang ada di pikiran Moa saat ini. Bagaimana pun ia tidak mau lagi berurusan dengan laki laki b*jing*n itu lagi. Apa lagi sampai mengandung anaknya.
Moa segera merapikan peralatan yang ia bawa, kemudian keluar dari toilet umum itu
Moa berjalan gontai dengan pikiran yang berkecamuk. Ia enggan untuk menyetop taxi, untuk membawa nya kembali ke Apartemen. Moa justru masuk begitu saja, pada sebuah kafe yang lokasinya tak jauh dari apotek itu.
" Pepsi. "
Jawab Moa saat seorang waiters menawarkan menu. Moa benar benar akan menggugurkan kandungan janin yang bersemayam di perut nya. Oleh sebab itu sengaja memesan minuman bersoda keras.
Moa browsing di internet tentang dokter kandung di Paris yang bisa melayani aborsi. Moa sudah benar benar melupakan dosa yang akan ia tanggung nanti. Yang jelas ia sangat membenci anak ini. Apalagi jika bayangan Zoe bersama Vivian yang sangat dekat membuat dadanya kembali panas dan saat itu juga Moa meremas perutnya agar anak itu terluka.
Brukkkkk
Seseorang menyenggol tangan Moa yang sedang memainkan ponsel, karena orang itu terlihat tergesa gesa sampai tak melihat, ia akan menyenggol tubuh Moa.
" I'm Sorry... !!! " ucap Wanita itu dengan mengambil pinsel yang jatuh terpelanting ke lantai, karena kondisi Moa yang terkejut, membuat ponsel nya melayang begitu saja dari genggaman nya.
Sejenak wanita itu sempat membaca apa yang tertulis di daftar pencarian di ponsel milik Moa. Kemudian menatap wajah orang ia tabrak, karena penasaran. Kenapa ada wanita yang sekejam itu, rela membunuh bayi yang tidak bersalah.
" Moa !!! "
Panggil wanita itu memastikan, jika apa yang ia lihat adalah benar benar Moa sahabat nya.
" Davina . "
Gumam Moa pelan. Ia terkejut juga gugup kenapa bisa ia bertemu dengan sahabat lama nya di sini. Bukan kah seharusnya ia bahagia dengan Zack di Indonesia.
Moa melihat sekeliling kafe, ia takut jika Davina sedang berbulan madu dengan Zack. Karena ia tidak mau lagi bertemu dengan keluarga Ackerley satu pun. Baik itu Tuan besar Ackerley, Zack maupun Zee, apalagi Zoe. Semua orang itu tidak ingin Moa lihat di kehidupan sekarang ini.
" Davina, kenapa bisa kau di sini? " tanya Moa
__ADS_1
" Aku yang seharusnya bertanya, Kenapa bisa kamu di Paris? " jawab Davina sambil menarik kursi samping Moa, bahkan ia melupakan jika dirinya tadi tergesa gesa.
" Tak perlu kamu tahu. Dengan siapa kamu di sini? " tanya Moa memastikan keadaan
" Aku sendiri. " jawab Davina mulai terlihat kecewa lagi
" Dimana pangeran tampan mu? Bukankah kata mu tinggal selangkah lagi akan bersama. " ucap Moa seakan mengejek
" Sudahlah. Aku tak mau mengingat, apalagi mendengar nama nya lagi di kehidupan ku. Aku mau melupakan kebodohan ku sudah mencintai dia. " ucap Davina
Mendengar jawaban Davina, Moa seakan bernasib sama. Ia justru bersemangat ingin mendengar alasan Davina, kenapa dia ingin menjauh dari keluarga Ackerley.
Davina menarik nafasnya panjang. Seolah ia merasakan perih nya luka yang sempat kering.
" Siapa juga wanita yang mau selalu di dua tigakan. Aku juga wanita yang punya perasaan sakit, jika harus melihat orang yang kita cinta i, bersanding dengan wanita lain begitu mesra. " ucap Davina
" Kamu sendiri, bagaimana bisa kamu berada di sini? Aku dengar kamu sudah mendirikan usaha di Malang? " tanya Davina
" Dari mana kamu tahu? " tanya Moa
" Ceritanya panjang. " jawab Moa menerima pepsi yang diantar oleh seorang waiters.
" Aku akan mendengar nya. " jawab Davina
" Sampai kafe ini tutup pun juga tidak akan kelar ceritanya, saking panjang nya. " jawab Moa
" Ya sudah kita pulang saja. " ajak Davina
" Kemana? "
" Ke rumahmu lah. Mulai saat ini aku akan tinggal dengan mu. " ucap Davina antusias
" Mana bisa kamu memutuskan sepihak begitu saja, tanpa persetujuan dari ku. " jawab Moa
" Kamu itu pelit sekali pada teman. Mulai saat ini, aku akan tinggal bersama mu. Sebagai gantinya aku yang akan membayar sewa tiap bulan nya. " jawab Davina
__ADS_1
" Sudah... jangan banyak berfikir. Ayo pulang. " ucap Davina dengan memanggil waiters untuk membayar tagihan Moa. Akhirnya Moa mau tak mau ikut keluar karena sudah di tarik Davina keluar.
Sampai di Apartemen, Davina menatap sekeliling ruangan. Begitu bersih dan tertata rapi. Walau ada banyak kertas kertas yang berserakan di meja, bekas Moa membuat desain busana.
Davina mengambil kertas di meja salah satu, dan ia begitu mengagumi hasil karya Moa. Sedangkan Moa, ia duduk di sofa sibuk dengan ponsel nya.
Barulah Davina ingat, jika ia terburu buru, sampai menabrak Moa tadi karena ponselnya tertinggal di taxi. Akhirnya karena bertemu dengan Moa, ia merelakan ponselnya begitu saja hilang.
" Moa, bolehkah aku meminjam ponselmu? " ucap Davina yang sengaja ingin memblokir nomor yang ia pakai.
" Kenapa dengan ponsel mu? " tanya Moa
Davina pun menceritakan, jika dirinya baru saja sampai di Paris hari ini, dan naas nya ponselnya pun juga tertinggal di taxi. Tapi ia masih merasa beruntung karena bisa bertemu dengan Moa.
Setelah selesai dengan semua urusan tentang ponsel, Davina pun menyerahkan po sel itu pada Moa. Davina teringat jika ia sempat membaca di ponsel Moa tentang dokter praktik aborsi.
" Moa, kenapa kamu Mencari dokter aborsi? " tanya Davina hati hati.
Moa menoleh pada Davina, ia yang semula sibuk dengan ponsel, akhirnya meletak kan.
Davina mendekati Moa, dan ikut duduk di sebelahnya.
" Moa, apa kamu hamil?? " tanya Davina menelisik jawaban.
Moa menarik nafas panjang, ia bingung haruskah menceritakan beban hidup nya pada Davina.
Melihat tak ada jawaban dari Moa, Davina nyakin jika Moa memang benar hamil.
" Siapa Pria itu? " tanya Davina lagi, padahal pertanyaan tentang kehamilan Moa belum di jawab oleh Moa.
" Moa ?? " tanya Davina yang sudah tak sabar menanti jawaban Moa. Karena Moa justru hanya menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, dan menunduk.
" Davina, berjanjilah untuk tidak menceritakan semua ini pada siapa pun. " ucap Moa. Ya walau pun Moa tahu, Davina cerita pun tak ada guna nya, karena memang selama ini tidak ada yang perduli dengan Moa sedikit pun.
Plisss minta dukungan kalian semua dengan cara like, komen, gift juga Vote ya..... Author akan semangat jika mendapat dukungan dari kalian.
__ADS_1