Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Sok Kuasa


__ADS_3

"Kak Sena jadi pindah?" Tanya Nina dalam pesan ponselnya.


"Jadi Na. Kenapa?" Tanya Sena.


"Kamar Kakak nanti buat Nina saja. Nina mau tinggal di rumah bunda lagi." Balas pesan Nina.


Nina memang sempat balik ngekos lagi karena mulut Kakak iparnya yang usil suka cari gara-gara.


"Ya udah , nanti Kakak rapihkan sekalian." Balas Sena.


"Terima kasih, Kak." Balas Nina.


Sena mulai mengepak. Rencananya Sena dan Fajri akan pindah hari Sabtu sepulang kerja Fajri.


Batuk Sena makin menjadi.


"Sena... Apa gak sebaiknya Kamu berobat. Biar tahu sakit apa." Pinta Bunda.


"Ya Bun, besok Sena ke puskesmas." Jawab Sena yang masih sibuk mengepak.


_____________________


Sena sudah berada di puskesmas, ikut motor Fajri yang sekalian berangkat kerja.


Ternyata ada beberapa tes Lab yang harus Sena lakukan. Tak lama dia sudah akan pulang membawa obat dan botol kecil untuk dahaknya.


Dokter menyarankan pada Sena untuk tes dahak karena batuk Sena sudah cukup lama. Dan jika malam tiba, Sena merasa gak enak badan, juga sering gak nafsu makan. Tubuh Sena pun makin kurus.


Esok hari Sena kembali ke puskesmas untuk mengembalikan botol dahaknya. Sena hanya menaruh botol itu saja ke Lab, kemudian dia langsung pulang.


Hari Sabtu tiba, mobil yang Sena sewa untuk membawa barang-barangnya sudah tiba. Fajri dibantu teman kerjanya mengangkat barang-barang milik Sena.


Ria tetangga Sena pun membantunya.


Sena dan Fajri berpamitan pada Bunda. Sena melihat Lana yang sibuk memindahkan barang-barangnya ke kamar Sena.


"Kak... Kamar Sena mau dipake Nina." Kata Sena.


Tapi Lana seperti tidak punya telinga, dia tetap memindahkan barang-barangnya.


Sena tak dapat berbuat apa-apa. Fajri sudah memanggilnya karena mobil pengangkut barang akan berangkat.


____________________


Barang-barang Sena sudah sampai di kontrakan.


"Besok saja dibereskan, Sena. Aku cape." Kata Fajri.


"Nanti Kita tidur dimana Mas, kalau tempat tidurnya gak dipasang?" Tanya Sena.


"Kita gelar saja dulu kasur sebelah. Kamu pasang sepreinya. Kita tidur berdua." Kata Fajri.


Sena hanya mengangguk. Tapi tangan Sena juga tak dapat berhenti. Dia gak betah beristirahat kalau masih berantakan.


Sena menaruh kompor ke dapur agar bisa masak air untuk minum dan sekedar bikin teh atau kopi.


Fajri sedang duduk berselonjor menikmati rokoknya. Sena membuatkan kopi untuknya.


"Terima kasih Dek." Kata Fajri.

__ADS_1


Sena kembali mengerjakan yang kira-kira bisa dia kerjakan. Sena sangat bersemangat bisa tinggal di kontrakan berdua tanpa harus mendengar sindiran-sindiran tak mengenakan dari Kakak iparnya atau dari Adiknya Fajri.


Ponsel Sena berdering. Sena mengangkatnya.


"Kak... Kok kamarnya ditempati Kak Lana, sih?!" Nina langsung nyerocos.


"Mang Kakak gak bilang, kalau Aku yang mau tempatin?!" Kata Nina lagi terdengar nada kecewa.


"Tadi Kakak udah bilang sama Kak Lana, kalau kamar Kakak, Kamu yang nempatin. Tapi Dia kaya gak punya kuping." Jelas Sena.


"Iya ih kesel banget. Aku tadi pulang, Dia lagi mindahin barang-barangnya ke kamar Kakak." Nina tambah sewot.


Sena menghela nafas.


"Sok kuasa banget sih dia?! Udah deh, Aku balik aja ke kosan. Malas di rumah." Kata Nina.


"Ya... hati-hati." Kata Sena pelan.


Nina mematikan sambungan telponnya.


"Ada apa?" Tanya Fajri.


"Nina kesal, kamar Aku ditempati Kak Lana, padahal Nina udah pesan sama Aku. Aku juga dah bilang sama Kak Lana tadi. Tapi Kak Lana kaya gak peduli." Jelas Sena kesal.


Fajri tak berkomentar. Dia kembali menghisap rokoknya.


___________________


Dua Hari Kemudian.


Ponsel Sena berdering. "Bunda...." Sena terlihat senang.


"Kamu gimana kabarnya?" Tanya Bunda.


"Sena baik Bun. Disini udaranya segar." Kata Sena.


"Tadi Adikmu, Anto. Ke puskesmas mengambil hasil tes dahak Kamu. Dokter nanya kenapa bukan Kamu yang ambil. Hasil tes nya positif. Kamu harus segera diobati." Kata Bunda.


Sena menghela nafas. "Ya Bun. Besok Sena ikut Mas Fajri sampe Puskesmas." Kata Sena.


"Ya sudah. Besok mampir kan?" Tanya Bunda.


"Ya Bun. Sena kan nunggu Mas Fajri pulang kerja." Kata Sena.


"Ada jahitan, lumayan banyak. Seragam Ibu-ibu pengajian. Nanti Kamu tolong Bunda menjahit celananya ya?" Pinta Bunda.


"Ya Bun. Besok sekalian Sena obras dulu sebelum dibawa." Kata Sena.


Sena pun berpamitan dan menutup pembicaraan Mereka.


Sena memang membawa mesin jahit milik Bunda. Karena memang niat Sena ingin membuka jahitan disini.


Tapi ternyata disini sangat sepi. Posisi kontrakan Mereka berada kedalam dari jalan kampung. Hanya Pak RT dan yang punya kontrakan yang tahu, kalau Sena buka jahitan.


Sena kembali mengerjakan pekerjaan rumah. Dia sendirian di kontrakan. Yang ngontrak pun baru Sena dan sepasang suami istri paling ujung. Tapi Mereka gak pernah keluar.


Paling sesekali terdengar mereka sedang bercanda.


Sena iseng. Dia melihat persediaan terigu dan margarin masih banyak di lemari makan. Sena berpikir mau bikin apa.

__ADS_1


"Tapi disini warung lumayan jauh. Huuuhhh..." Sena menghela nafas. Sena masih enggan keluar rumah kalau berjalan kaki, karena jalan setapak menuju jalanan kampung masih banyak semak. Sena takut ada ular. Apalagi yang punya kontrakan punya anjing. Anjingnya terus saja mengikuti Sena kalau Sena keluar.


Akhirnya Sena memasukan kembali bahan makanannya. "Nanti sore Aku minta antar Mas Fajri buat belanja." Gumam Sena.


Sena hanya duduk-duduk saja. Pekerjaan rumahnya sudah selesai. Mau menjahit, gak ada yang dijahit. Mau bikin kue, malas keluar rumah.... Mau nonton tivi, gak punya tivi. Sena benar-benar sepi hiburan.


___________________


Menjelang Maghrib Fajri tiba di kontrakan. Sena sangat senang. Dia bergegas menyambut Suaminya.


Fajri tersenyum manakala Sena terlihat senang menyambutnya.


"Mas... Besok Aku ikut Mas ya." Kata Sena.


"Kemana?" Tanya Fajri yang segera duduk berselonjor.


Sena sedang membuatkan teh manis untuk suaminya. Kemudian membawanya ke depan.


"Tadi Bunda telpon. Kata Bunda hasil tes dahaknya positif." Sena terlihat sedih.


Fajri merangkul bahu Sena. "Jangan sedih. Cepat tahu penyakitnya biar cepat diobati." Hibur Fajri.


"Tapi kan lama, masa 6 bulan minum obat." Kata Sena sambil mengrucutkan bibirnya.


"Kalau jadi sehat, gak apa Dek. Nanti Mas yang kontrol Kamu minum obat. Gak boleh mangkir kan?" Tanya Fajri.


Sena mengangguk. Memang waktu Sena tempo hari periksa, Dokter sudah memberi gambaran tentang penyakit TB Paru.


"Nanti Mas jemput ke rumah Bunda ya. Aku dari puskesmas ke rumah Bunda." Kata Sena.


"Iya... lagian mang Kamu tahu pulang kesini naik mobil apa?" Canda Fajri.


Sena menggeleng. "Aku gak tahu. Banyak kali ya turun naik bus nya?" Tanya Sena.


Fajri mengangguk. "Aku mandi dulu ya. Udah gak gerah." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Sena menyiapkan handuk untuk Fajri dan baju ganti.


Kemudian Sena menyediakan makan untuk Suaminya.


Tak lama Fajri sudah selesai berpakaian setelah mandi. "Kamu masak apa?" Tanya Fajri senang.


"Ini aja Mas. Aku masih takut keluar rumah. Anjing Pak Petrus ngikutin Aku terus." Kata Sena.


Fajri hanya tertawa. "Dek... Aku kepengen." Pinta Fajri.


Sena hanya diam. Tak ada reaksi.


"Kenapa diam? Kamu gak suka ya?" Tanya Fajri.


"Bukannya gak suka Mas. Tapi Aku bingung. Kata orang enak. Tapi Aku gak pernah ngerasa enak? Enaknya dimana? Cuma sakit aja, sudahnya perih." Kata Sena.


Fajri terperanjat. "Kita menikah sudah 6 bulan, Dek. Selama ini Kamu gak pernah ngerasain enaknya?!" Fajri tak percaya.


Sena mengangguk sambil menunduk.


Fajri tersenyum. "Istriku memang masih perawan waktu pertama kali Aku menyentuhnya. Dan Dia tak tahu harus ngapain." Batin Fajri.


"Ya udah... nanti Mas tuntun biar ketemu enaknya." Canda Fajri.

__ADS_1


Sena hanya diam. Sena malu.


__ADS_2