Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Panggilan Kerja


__ADS_3

Satu minggu sudah Sena tinggal di kontrakan Nina dan Septi. Nina merasa senang karena ada Kakak nya, Dia tak terlalu boros makan di luar. Karena Sena selalu masak untuk Mereka.


Dan Sena selalu membuatkan bekal untuk Nina dan Septi manakala Mereka akan berangkat kerja.


Tapi kesenangan Nina tak berlangsung lama.


Ponsel Nina berdering.


"Bunda....." Gumam Nina.


"Ya Bun...." Sapa Nina.


"Kakak mu masih disana?" Tanya Bunda.


"Masih Bun. Mang kenapa?" Tanya Nina.


"Bunda gak enak badan. Sepertinya Bunda kecapean. Sejak gak ada Kakakmu, semua Bunda kerjakan sendiri." Keluh Bunda.


"Loh kan ada mantu kesayangan Bunda.... Masa Dia gak bantuin Bunda..??" Canda Nina.


"Huuuuhhhh.... Tambah seenaknya aja Dia gak ada Sena." Bunda terdengar kesal.


"Jadi Bunda mau nya Kak Sena balik ke rumah?" Tanya Nina.


"Ya Nak.... Tolong bilangin sama Kakak mu. Pelan-pelan aja ngomongnya. Kalau Dia gak mau jangan dipaksa." Pesan Bunda.


"Ya Bun, nanti Nina bilangin sama Kak Sena." Kata Nina. Nina pun memutus hubungan telepon. Dia menghela nafas.


"Ada apa Dek?" Tanya Sena.


"Bunda gak enak badan Kak. Bunda kecapean." Kata Nina.


Sena menghela nafas. "Jadi maksud Kamu, Kakak disuruh pulang?" Tanya Sena.


Nina mengangguk. "Kasihan Bunda, Kak. Tuh kunyuk tambah seenaknya aja di rumah, gak ada Kakak." Jelas Nina.


__________________________


Sena baru saja merapihkan posisi barang-barang di warungnya. Sudah seminggu Sena dan Rizki kembali ke rumah Bunda.


Sena gak tega mendengar Bunda yang kecapean karena mengurus rumah sendiri.


Selama di rumah Bunda, Sena tak pernah menggubris atau menegur Lana atau Bang Tino. Baginya adalah yang terpenting Bunda baik-baik saja.


Sena mulai kembali membuat es mambo. Bunda mulai beraktifitas di mesin jahitnya.


Tak ada kejadian yang aneh-aneh atau kabar yang tidak-tidak. Fajri pun sepertinya sudah letih mengganggu Sena.


Tiga Bulan Kemudian


Sena mendapat berita dari Dijah kalau perusahaannya membuka lowongan lagi.


Sena mempersiapkan semua nya. Dia sudah ijin dengan Bunda ingin bekerja. Walau bagaimana pun penghasilan Sena dari ngewarung tidak bisa membiayai hidupnya berdua Rizki. Apalagi Rizki tambah kuat minum susu nya.


Sena gak mau terus-terusan membebani Nina untuk membelikan Rizki susu. Apalagi bergantung sama Bang Tino yang notabene, semua uang Bang Tino dipegang istrinya.


Jangankan untuk membelikan susu untuk anaknya Sena, untuk beli beras kebutuhan Mereka makan saja masih suka ngambilin di warung Sena.

__ADS_1


Sena tak habis pikir, Bang Tino dapat hasil dari dagang sangat banyak. Sena juga setiap hari melihat Kak Lana jajan. Tukang dagang apa aja yang lewat, pasti Dia jajan. Tapi untuk bayar beras di warung Sena sangat berat.


Apalagi Bunda sekarang sering mengeluh, listrik belum di bayar. Padahal Keluarga Bang Tino yang paling boros memakai listrik.


Sena sering mendengar Bunda ribut sama Bang Tino karena Bang Tino ngeles terus kalau dimintai uang listrik.


____________________________


Akhirnya Sena diterima menjadi seorang satpam. Sena tinggal menunggu telpon untuk pendidikan selama satu minggu di roof gedung kantor.


Sore hari saat Sena sedang membungkus es mambo, ponselnya berdering. Sena mengangkatnya.


"Ya Pak... Siap... Baik Pak.... Terima kasih Pak."


"Siapa Sena?" Tanya Bunda.


"Alhamdulillaah Bun. Mulai besok Sena sudah pelatihan. Itu berarti Sena sudah diterima kerja." Kata Sena.


"Alhamdulillaah... Ya sudah selesai bungkus es, Kamu istirahat saja." Pinta Bunda.


"Ya Bun." Sena terlihat senang. Sena menyelesaikan membungkus es mambo.


Setelah selesai membungkus es, Sena memasukan kedalam Freezer. Kemudian Sena merapihkan semua peralatan yang tadi Sena pakai. Mencucinya dan meletakannya ditempat semula.


Kemudian Sena mempersiapkan setelan baju olahraga dan sepatu. Karena dari kantor memang diperintahkan memakai pakaian olahraga selama pendidikan.


Bunda memberikan celana training nya pada Sena. Karena Sena pasti memerlukan nya selama satu minggu.


"Tapi Kamu gak nginep kan disana?" Tanya Bunda.


"Gak lah Bun. Kaya berangkat kerja aja, pergi pagi pulang sore." Kata Sena.


"Pakai aja Kak..." balasan pesan dari Nina.


_______________________


Pagi-pagi sekali Sena sudah bangun. Dia membantu Bunda mencuci piring dan bebenah. Sena juga sudah menyiapkan keperluan Rizki.


Rizki terbangun. "Mama... endong..." Rizki mengangkat tangannya minta digendong. Sena menggendongnya.


"Mama Au ana..." Kata Rizki yang melihat sang Mama sudah mandi dan rapih.


"Mama mau kerja, sayang... Kamu di rumah sama Uwo ya... Gak boleh cengeng. Mama kerja buat beli susu Kamu...." Kata Sena sambil mencium pipi Rizki.


"Nih... Mimi susu dulu..." Sena memberikan susu pada Rizki yang sudah Sena siapkan untuk anaknya.


Rizki senang menerima susu dari Mama nya. Dia segera meyedot susu itu hingga abis.


"Bun.... Sena berangkat ya... Sena titip Rizki ya Bun." Kata Sena berpamitan.


"Ya Kamu hati-hati. Kalau sudah selesai langsung pulang, ingat anak Kamu...." Pesan Bunda.


"Ya Bun." Sena mencium punggung telapak tangan Bunda. Kemudian Sena mencium Rizki yang sudah selesai menyusu.


"Mama berangkat ya Nak...." Sena mencium pipi Rizki. Rizki memeluk tubuh Sena dan mencium pipi Sena. Rizki berada diatas tempat tidur, Dia berdiri untuk bisa melakukan itu semua.


Sena menggendong tubuh Rizki dan membawa nya keluar. Bunda ikut mengantar keluar.

__ADS_1


Sena menurunkan tubuh Rizki. "Mama berangkat ya... Assalamu alaikum..."


"Mama ati-ati...." Rizki melambaikan tangan pada Sena. Sena tersenyum.


Sena mempercepat langkahnya. Karena menuju ke kantor nya, Sena harus naik 3 kali angkutan umum.


Satu Jam Kemudian


Sena sudah tiba di perusahaan itu. Dan ternyata sudah banyak peserta pendidikan berada disana. Rata-rata laki-laki semua.


Jam 7 pas, Seorang Danru mengarahkan peserta Didik untuk naik ke atas roof melalui tangga darurat.


"Ya Allah... tinggi sekali.... Harus menaiki tangga secara manual yang tinggi nya 8 lantai." Batin Sena.


"Ayo Sena... Kalau gak kuat, pulang saja." Ejek salah seorang Danru.


Sena meliriknya, Dia ingin tahu wajah orang yang meremehkannya. Sena melihat papan nama yang menempel di baju orang itu. "Budi.... Aku gak boleh nyerah... Ini semua demi Rizki." Batin Sena.


Akhir nya ke 20 peserta berada di atas Roof gedung. Ternyata peserta didik hanya Sena seorang yang perempuan, selebihnya laki-laki.


Danru Budi mulai mengabsen satu persatu peserta didik.


"Sena Fatimah...!"


"Hadir!" Teriak Sena.


"Adriansyah...!"


"Siap!" Teriak Adriansyah.


"Sudirman..!!"


"Maaf Ndan, Sudirman mengundurkan diri.... Dia dapat panggilan kerja di dekat rumah nya." Kata Adriansyah.


"Baik..." Kata Pak Budi. Dan Pak Budi meneruskan mengabsen.


"Sudirman...!? Nama yang bagus... Tapi kenapa ada rasa kecewa dihatiku, Dia gak ada? Ada apa ini?" Batin Sena. Sena merasa dada nya sesak karena ternyata Sudirman mengundurkan diri.


Seperti ada ketidak relaan dalam hati Sena. "Ah sudahlah.... Toh Aku juga tak mengenalnya..." Batin Sena menghibur diri.


Absen telah selesai dibacakan. Peserta didik mulai berlari mengitari roof sebanyak 7x putaran.


Tak ada kompensasi buat Sena. Semua disamaratakan. Tapi Sena juga gak mau disepelekan. Sena yakin Dia akan lulus tahap penyeleksian ini.


Pagi ini benar-benar digunakan untuk menguras tenaga. Setelah lari-lari, peserta didik yang laki-laki disuruh bertelanjang dada dan bergulingan. Hanya Sena yang tak membuka baju, tapi tetap ikut bergulingan.


Satu persatu peserta didik mulai muntah karena pusing bergulingan.


Sena hendak berdiri, Dia sudah selesai, tapi karena Sena melihat kaos nya terkena muntah, Sena pun jadi muntah karena geli. "Hueeekkk.... hueekkk...."


"Sena...! Kamu kenapa? Telat berapa bulan?" Canda Pak Budi.


Sena memejamkan mata sambil menunjuk ke arah kaos nya.


"Ya sudah yang lain pakai baju. Kamu bawa baju ganti, Sena?" Tanya Pak Budi.


Sena mengangguk. "Bawa Ndan." Kata Sena.

__ADS_1


"Ya sudah Kamu ganti di sana. Lima menit..!" Perintah Pak Budi.


Sena segera berlari dan menyembunyikan tubuhnya pada sebuah Diesel. Sena mengganti baju nya.


__ADS_2