
"Kamu unjukin kalau Kamu tuh istri setia. Menemani suami bukan saat senang aja tapi pada saat Dia sedang kena masalah seperti sekarang, Kamu tetap memberinya semangat." Nasehat Bang Tino.
"Mas Fajri selingkuh, Bang.... Hik.. hik... hik..." Sena terisak. Dia sangat kesal pada Fajri.
"Yang tahu Fajri itu bisa selingkuh, Kamu doang, Sena. Kamu yang bisa merasakan, apakah Dia mampu untuk selingkuh? Apa selama ini Dia kuat melayani Kamu atau tidak?" Tanya Bang Tino.
Sena berfikir selama ini Fajri payah di ranjang. Dia tak pernah lagi memberikannya nafkah batin. "Tapi bisa saja kan Dia tak melakukannya denganku karena sudah puas diluar?" Batin Sena.
Sena hanya diam dengan pertanyaan Bang Tino. "Terus....Itu Abang juga ngajar-ngajarin yang gak bener?" Sena memberitahu tentang cahaya biru itu dan barang yang Dia temukan.
"Itu sih Dia yang bawa... Dia kan sering ke pelabuhan..." Bang Tino mengeles membela diri sambil cengar cengir.
"Tapi kan Abang malah mendukung Dia...!? Bukannya negur Dia malah ikut-ikutan...!" Sena mengrucutkan bibirnya.
Bunda melotot pada Bang Tino.
Sekarang mana dia barangnya?" Tanya Bang Tino.
"Udah Sena buang..!! Sena ancurin sampe gak berbentuk lagi..!! Lo penyakit dibawa-bawa pulang!" Sena kesal sama Abangnya. Sebagai Abang malah gak ada wibawanya dimata Sena.
"Kenapa Lo buang?" Canda Bang Tino.
"Au ah...!!" Sena bergegas meninggalkan Bang Tino. Dia lelah... Sangat lelah... Lelah fisik dan lelah mental.
______________________
Sudah lima hari semenjak Fajri masuk sel. Sena gak nafsu makan. Dia kepikiran terus sama Fajri yang gak kunjung juga bebas.
Rizki juga mulai sakit-sakitan. Dia selalu mencari Ayahnya. Kadang Anto kalau sedang main ke rumah Bunda, Dia mengajak keliling Rizki naik motor bersama istrinya.
Sena baru berhasil dibujuk Bunda untuk makan. Baru saja Sena bisa memasukan makanannya 2 sendok ke mulutnya, Sebuah motor berhenti di depan teras rumah Bunda.
Sena masih coba menyuap, Rizki juga ikutan minta makan, mau nya sama dengan apa yang Mama nya makan.
"Assalamu alaikum..." Salam dari luar.
"Wa alaikumussalaam..." Terdengar suara Bunda menyahut dari dalam.
"Siapa tuh Dek?" Tanya Sena pada Rizki.
"Ndak au..." Kata Rizki yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sena....." Panggil Bunda.
"Uwo manggil Mama..." Kata Sena. Rizki mengikuti Sena ke ruang tamu sambil membawa piring makannya.
"Ada Ibu nya Fajri nih..." Kata Bunda setelah Sena menampakkan diri.
__ADS_1
Sena mencium punggung telapak tangan Ibu.
"Kabar Kamu gimana, Sena?" Tanya Ibu.
"Ya kaya gini Bu... Ini baru bisa maksa makan." Kata Sena pelan.
"Terus gimana ini masalah Fajri?" Tanya Ibu.
Sena kaget. Sena bingung mau jawab apa. Sena melihat kearah Bunda yang juga terlihat bingung.
"Sena..." Panggil Ibu. "Kok Kamu diam?"
"Sena bingung Bu. Sena mau jawab apa? Sena gak tahu harus apa Bu. Sena udah cape Bu... Mas Fajri bikin ulah terus." Kata Sena pelan.
"Ooohhh jadi Kamu sudah gak mau ngurus Fajri?!" Ibu langsung naik pitam.
"Bukan begitu maksud Sena Bu." Sena mencoba menjelaskan tapi Ibu terus saja mengoceh.
"Ya sudah nanti Ibu akan bilang sama Bapak nya Fajri, kalau Kamu sudah gak mau lagi sama Fajri. Nanti kalau masalah ini selesai, Kalian cerai saja!" Ibu sangat emosi.
Sena hanya menghela nafas. Mertua nya salah paham akan apa yang Sena utarakan.
"Mas Fajri juga selingkuh Bu...." Sena kembali terisak.
"Eehh...! Kamu kalau memang sudah gak suka sama Anak Saya, jangan ngejelek-jelekan Dia! Kalau Kamu sudah gak suka, pulangkan saja, Ibu masih terima anak Ibu kok?!" Ketus Ibu Fajri.
"Besaaann... Gak boleh begitu. Kita sebagai orangtua gak boleh menyuruh anak Kita untuk bercerai. Kita doakan saja yang baik-baik untuk anak-anak Kita." Kata Bunda bijak.
Bunda menghela nafas. Bunda tak menyangka ternyata sikap Ibu nya Fajri bisa sekasar ini pada Puterinya. Di depan matanya, Ibu berani membentak Sena padahal Fajri disini diperlakukan seperti Raja.
Ibu langsung keluar rumah Bunda dan menyuruh Reza segera meninggalkan rumah Bunda tanpa berpamitan.
"Tuh lihat kan Rino? Masa seperti itu orangtua?" Ada Tante nya Fajri juga ikut, Adenya Ibu.
"Maafkan Kakak Saya, ya Mama nya Sena... Dia dari kemarin sudah pusing gimana caranya ngeluarin Fajri." Kata Tante Fajri.
"Anak Saya disini juga stress... Ini Dia baru mau makan... Udah lima hari Dia gak nafsu makan karena mikirin Fajri terus." Kata Bunda.
"Asal Ibu dan Rino tahu saja ya, Fajri disini kaya Raja. Masih tidur, kopi sudah tersedia. Mau makan disediain sama anak Saya. Rokok tinggal ngambil di warung. Berapa sih untung nya jualan Rokok? Diambil satu batang, gak ada lagi untungnya. Ini setiap hari 1 bungkus ngambilin terus, bayar gak pernah. Saya sih bukannya mau ungkit-ungkit, cuma lihat juga dong anak Saya...Kasihan kan Dia. Sekarang malah dibentak-bentak sama Ibu nya Fajri." Ibu mulai terisak.
Tante nya Fajri menunduk merasa gak enak. Ponselnya berdering. Dia mengangkatnya. "Iya... Ini lagi ngobrol sama Ibu nya Sena..... Iyaaa..." Tante Fajri menutup ponselnya.
"Bu... Maaf ya... Saya permisi dulu... Kakak Saya marah-marah..." Kata Tante Fajri tak enak.
Rino dan Tante Fajri pun berpamitan.
Sena tak lagi mau makan. Dia segera minum dan kembali menangis.
__ADS_1
"Jadi selama ini begini perlakuan Mertua Kamu sama Kamu, Sena? Di depan Bunda, Dia berani bentak-bentak Kamu... Bagaimana kalau gak di depan Bunda? Hik... hik.. hik..." Bunda terisak.
Sena terdiam. Selama ini Dia selalu menutupi perlakuan tidak menyenangkan dari Fajri dan keluarganya terutama Ibunya. Tapi kini, Mereka sendiri yang memperlihatkannya pada Bunda tanpa Sena berbicara.
"Pantes saja... Baru beberapa bulan Kamu tinggal disana, pulang-pulang malah bawa penyakit. Tapi Kamu terus saja menutupinya." Bunda terlihat kecewa akan sikap Sena.
"Sudah sekarang kalau memang Ibu nya menyuruh Kalian pisah, turuti saja. Bunda gak rela anak Bunda diperlakukan seperti tadi." Tegas Bunda.
Sena memeluk Rizki. Rizki melihat wajah Sena. Sena menciumi wajah Rizki. Rizki pun membalas dengan mencium wajah Sena.
"Kasihan sama Rizki... Masa depannya masih panjang Sena. Dia masa depan Kamu... Jangan Kamu sia-siakan Dia." Nasehat Bunda.
Sena mengangguk dengan deraian airmata.
____________________
Lima belas hari sudah Fajri mendekam di sel Polsek C. Sena hanya sesekali saja menjenguknya karena Sena tak punya uang untuk ongkos kesana kalau harus tiap hari bolak balik kesana, belum lagi Fajri yang merengek minta uang untuk makan selama disana.
Rino mengabari Sena, kalau Fajri sudah dipindahkan ke Polres S, hanya satu kali naik angkot dari rumah Bunda.
Nina meminta Sena untuk berbelanja pulsa karena sudah banyak yang kosong.
Sebelum Sena ke Roxi, Dia mampir ke Polres S. Sena melihat Bunda masak ikan. Sena gak membawakan untuk Fajri, karena Sena tahu Fajri gak suka makan ikan.
Sena membelikan beberapa botol air mineral dan dua bungkus nasi padang untuk Fajri.
Sena tiba di Polres dan sudah melapor. Dia menunggu Fajri keluar. Dia hanya dapat berbicara dengan Fajri lewat kaca yang terdapat lima lubang sebesar batang rokok.
Fajri nampak senang melihat Sena datang menjenguknya. Sena bersikap biasa saja. Dia gak mau bermanis-manis dengan Fajri. Sena sudah sangat kecewa dengan kelakuan Fajri dan perlakuan Ibu nya.
"Sayaaang... Kamu baru datang lagi..." Fajri nampak sumringah.
Selama pernikahan jarang sekali Fajri memanggilnya sayang.
"Maaf Mas, Aku gak punya uang. Buat susu Rizki saja, Aku masih minta sama Bunda." Sena menunduk.
"Kamu yang sabar ya. Gimana kabar Kamu? Rizki gimana?" Tanya Fajri.
"Beberapa hari yang lalu Ibu ke rumah. Ibu minta Kita bercerai Mas." Kata Sena. Sena tak sanggup lagi menahan rasa kecewanya.
Fajri terperanjat. "Bener Ibu ngomong begitu?" Tanya Fajri gak percaya.
Sena mengangguk. "Apa ada untungnya Aku berbohong, Mas?"
"Gak Sena... Kamu jangan dengerin ucapan Ibu. Aku gak mau pisah sama Kamu..." Fajri memelas.
"Ya mungkin kalau Mas dengan wanita lain, hidup Mas lebih baik." Kata Sena.
__ADS_1
Fajri menggeleng. "Gak... Aku gak mau. Aku mohon jangan tinggalkan Aku, Sena..." Fajri mulai meneteskan airmata buaya.
Sena hanya terdiam. Dia sudah pasrah takdir akan membawanya kemana.