
Sena membuka kunci kamarnya. Dia tak ingin nanti jika Suami nya terbangun dan ingin mengambil celana panjangnya untuk kerja, akan mengganggunya.
Sena masih terus mencoba memejamkan mata.
Entah sudah berapa lama Sena terlelap. Dia merasa pipinya basah. Sena mengusap pipinya. Matanya mengerjab. Ternyata Rizki yang menciuminya.
Fajri membawanya pada Sena. Fajri mencari STNK motornya. "STNK motor mana Dek..?" Dia bertanya pada Sena, sepertinya amarah Fajri sudah redam.
Sena hanya diam. Bibirnya terasa perih. Sebagian Wajah Sena tertutup rambut panjangnya.
"STNK motor mana?" Tanya Fajri lagi yang sudah bersiap berangkat kerja. Sena tak menjawab. Sena juga tidak menyiapkan sarapan. Hatinya sakit akan perlakuan kasar Fajri semalam.
Dan Fajri tak sedikitpun terlihat menyesal. Dia tak meminta maaf.
Fajri mencari-cari STNK itu. Sena tak peduli, Fajri mau telat atau tidak. Sena membungkam mulutnya. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
Sena hanya memeluk tubuh Rizki yang duduk dipangkuannya. Sena memang telah duduk. Badannya terasa remuk. Tubuh nya rasa tak bertulang. Matanya sembab, pandangannya terasa buram.
Akhirnya Fajri menemukan STNK yang disembunyikan Sena. Fajri berpamitan pada Sena. Tapi Sena seakan tuli. Dia mengacuhkan Fajri.
Tak lama terdengar deru motor menjauh dari kontrakannya. Fajri telah menutup pintu depan.
"Mama...." Panggil Rizki.
Sena menangis. Menciumi wajah Rizki. Sena menahan rasa sakitnya. Dia memandikan Rizki, kemudian membuatkan susu untuk Rizki. Sena juga menyuapi Rizki tapi Dia tak mengurus tubuhnya.
Sena menahan lapar. Tak ada keinginan Sena untuk makan. Perutnya terasa mual. Tubuhnya lemas.
Setelah Rizki Sena lihat sudah kenyang. Sena mengajaknya ke kamar. Sena ingin tidur. Dia tak ingin melakukan apa-apa. Dia hanya ingin tidur.
Warung kecilnya tak Sena buka. Sena memandang wajahnya di cermin di kamar. Bibirnya biru dengan luka yang masih terlihat. Matanya bengkak. Kepalanya sakit. Badannya juga sakit semua.
Sena kembali menangis. Dia meratapi nasibnya. Kebahagiaan yang diharap tapi neraka yang Dia dapat.
Sena merebahkan tubuhnya perlahan.
"Mama...." Rizki memanggilnya lagi.
"Apa sayang? Mama sakit... Mama mau bobo." Kata Sena yang terus berlinang airmata.
Rizki memegang airmata yang terus mengalir dari mata Sena.
Sena sengaja mematikan ponselnya agar Bunda atau Keluarganya yang lain tak bisa menghubunginya.
Jam 12 Siang, Sena terbangun. Badannya tambah sakit. Sena mendengar Rizki yang menangis.
Ternyata Dia pup. Rizki memang belum sehat betul. Sena langsung menggendongnya membawanya ke kamar mandi dan membersihkan tubuh Rizki juga pakaiannya.
Rizki telah bersih. Sena juga telah mengganti bajunya. Kemudian Sena menyuapi lagi Rizki dengan bubur yang Sena buat untuk Rizki. Kemudian Sena juga membuatkan susu untuk Rizki.
__ADS_1
Tak lama Rizki terlelap karena sudah merasa kenyang. Sena kembali membaringkan tubuhnya disebelah Rizki.
Sore menjelang. Sena bergegas bangun dan mandi. Sena tetap enggan untuk makan. Sena hanya membuat teh manis panas. Dia menyeruputnya perlahan. Perutnya terasa hangat.
Rizki sudah terbangun. Dia keluar dari kamar mencari Sang Mama. Rizki meminta teh manis Sena. Sena menyuapinya perlahan.
Kemudian Sena kembali mengurus Rizki, memandikannya juga menyuapinya.
Sena bergegas masuk ke kamar sebelah tempatnya semalam Dia tidur. Sena gak mau tidur satu ranjang dengan Fajri. Sena masih sakit hati.
Hari ini hari sabtu, harusnya Fajri sudah pulang sejak siang tadi. Tapi hingga menjelang maghrib Fajri belum juga pulang.
Rizki merengek. Dia ingin sama Mama nya di kamar. "Sepertinya Ayahmu gak pulang." Kata Sena pelan. "Tapi itu lebih baik." Batin Sena.
Sena menggendong tubuh Rizki. Membawanya ke kamar tapi sebelumnya Sena mengunci pintu depan.
Akhir Sena dan Rizki kembali terlelap. Rizki memang dalam tahap pemulihan. Jadi Dia masih butuh banyak istirahat.
Hari berganti. Suara kokok ayam milik Pak Haji yang punya kotrakan pun beberapa kali terdengar kokokannya.
Sena mengerjabkan mata, Dia memandang wajah buah hatinya.
Sena bergegas bangun tapi tubuhnya terasa tak bertulang. Dia gemetaran. Seharian kemarin tak makan.
Sena bangun memaksakan diri ke dapur. Dia membuka kulkas, hanya ada telur. Sena membuka panci nasi, sudah basi. Kemarin Dia hanya masak air untuk membuat teh manis.
Dia mengolesi roti tawarnya dengan margarin. Sena menggoreng telur dadar kemudian menaruhnya kedalam helaian roti.
Sena duduk berselonjor mencoba menikmati roti dan telurnya. Tapi perutnya tak terima. Perutnya perih karena kaget tak diisi dari kemarin.
"Mama...." Rizki telah keluar dari kamar, Dia berjalan tertatih.
"Sini sayaaang...." Panggil Sena.
Rizki menghampiri Sena. "Mamam..." Pinta Rizki.
Sena tersenyum. Dia menyuapi Rizki dengan roti dan telur yang Sena buat. Rizki menerima suapan Sena. Rizki juga menyuapi Sena. Sena tersenyum bahagia. Walau lukanya masih perih tapi Rizki membawa kebahagiaan bagi dirinya.
Rizki menunjuk pada tivi. Dia ingin menonton tivi. Sena mengangguk. Sena menghidupkan tivi. Dan Rizki sangat senang menonton film kartun.
"Kamu boleh nonton tapi mandi dulu ya..." Kata Sena yang sudah membuka baju Rizki.
Setelah mandi Rizki minum susu sambil nonton film kartun.
Sena menghidupkan ponselnya. Dia takut Bunda khawatir dan malah ke kontrakannya melihat kondisinya seperti ini.
"Gak.. Bunda dan keluarga ku gak boleh tahu kondisi Aku seperti ini." Batin Sena.
Baru saja Sena menghidupkan ponselnya, beberapa pesan masuk.
__ADS_1
Sena membacanya satu per satu. Ada pesan dari Bunda, dari Vina juga. Sena membalas satu per satu pesan itu.
"Ya Bun, besok saja. Hari minggu, Sena mau istirahat." Sena membalas pesan dari Bunda.
Sena ingin bebenah tapi tubuhnya masih lemas. Sena kembali membuat Teh manis panas. Dia menyeruputnya perlahan.
Rizki yang melihat Sena minum teh, Dia ingin juga. Sena menyuapinya dengan sendok.
Hari ini pun Sena tak melakukan apa-apa. Dia tak masak. Dia hanya mengurus Rizki.
Tapi Sena merasa gak betah. Dia mengambil sapu dan mulai menyapu lantai. Sena melihat antingnya yang terlepas karena tamparan Fajri.
"Alhamdulillaah ketemu..." Sena tersenyum. Sena memakainya kembali.
Ponselnya berdering. Sena melihat nama di ponsel itu.
"Mas Fajri..." Gumam Sena. Sena tak menghiraukannya.
Fajri menelponnya kembali. "Mama.... Yayah..." Kata Rizki yang mendengar ponselnya berdering dan mendengar gumaman Mama nya tadi.
Rizki menekan-nekan ponselnya. Kemudian terdengar suara Ayahnya di seberang sana.
"Assalamu alaikum Sena..." Sapa Fajri.
"Mama...." Rizki menyerahkan ponselnya pada sang Mama tapi Sena menggeleng.
"Dek... Mama mana? Kamu sedang apa?" Tanya Fajri. Fajri tahu, Rizki memang bisa mengangkat telpon karena selalu diajari oleh Sena dan Fajri.
"Mama... Atit..." Rizki mengoceh pada Ayahnya.
Sena mematikan ponselnya. Ponselnya berdering lagi. Sena mengacuhkannya.
Fajri mengirimkan pesan. Sena membacanya.
"Dek... Kamu masih marah ya sama Aku? Maafin Aku, Dek. Kalau Kamu gak maafin Aku, Aku gak pulang lagi."
Demikian pesan Fajri. Sena tak membalasnya. Sena menangis. Hatinya masih sakit.
Ponselnya berdering lagi. Sena tetap tak mengacuhkan.
Pesan kembali masuk. "Ya sudah kalau Kamu gak mau memaafkan Aku. Aku gak akan pulang."
Sena tak peduli. "Lebih baik Kamu gak usah pulang Mas." Batin Sena. Sena menghela nafas.
Fajri menghela nafas. "Sena marah padaku. Aku memang keterlaluan. Aku gak sadar memukulinya." Batin Fajri.
Fajri sebenarnya sudah ke arah kontrakan. Dia semalam tak pulang. Fajri terus mencoba menghubungi Sena tapi Sena tak mau menjawabnya.
Fajri teringat tadi Rizki bilang Mama nya sakit. "Aku harus pulang. Aku gak mau Sena kenapa-napa."
__ADS_1