Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Nyong Ambon Manise


__ADS_3

Seminggu sudah sejak kepindahan Rasya ke Jawa Tengah.


Sena masih memikirkan Rasya. Perkenalannya dengan Rasya yang lebih dari 2 bulan. Setiap hari Rasya selalu menghubungi Sena, 3x sehari seperti minum obat.


Tapi kini terasa ada yang hilang. Ponsel itu jadi awet batre nya karena jarang berdering.


Ponsel Sena bergetar, tanda pesan masuk. Sena merogoh kantong celana PDL nya. Sena membuka pesan itu.


"Hai Sena... Aku milla, teman Rasya. Boleh Aku telpon?"


Sena tak menanggapi. "Maleess... Udah suara nya bikin sakit kuping." Batin Sena.


Sena kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kok gak dibales sih?" Kembali pesan masuk.


"Sena lagi sibuk. Ada apa memangnya? Kalau ada berita dari Bang Rasya, bilang aja, Sena minta kalung Sena dikembalikan segera!" Balas pesan Sena.


Tak ada lagi balasan dari Milla. Milla mencoba menelpon Sena, namun Sena tak angkat. Karena Sena sudah bilang kalau Dia sedang sibuk.


"Bebel banget sih jadi perempuan." Gerutu Sena.


Sena melanjutkan menulis laporan uang palsu. Lili sedang check body karyawan ATM. Lili dari tadi melirik Sena yang terlihat BT banget.


"Ada apa sih Kak? Udah seminggu muka nya ditekuk mulu. Kadang terlihat abis nangis?" Selidik Lili.


Sena menggeleng. "Aku gak apa, Lili. Cuma lagi males aja."


"Eh Kak, dapat salam." Kata Lili mencoba mencairkan suasana.


"Dari siapa?" Tanya Sena malas. Sena terus saja menulis.


"Dari Security pengawalan. Pak Ignatius." Kata Lili.


Sena terbatuk. "Uhuk... uhuk..."


Lili memberikan air mineral pada Sena. "Segitu nya Kak. Baru dapat salam dari Pak Ignatius langsung terbatuk-batuk." Goda Lili.


Sena memijat tengkuk dan bahu nya. "Aku kaget aja. Pak Ignatius yang pendiam itu kirim salam?" Sena terkekeh.


"Emang gak boleh Kak, orang pendiam kirim salam?" Tanya Lili.


"Boleh aja sih, cuma ganjal aja. Hehehehe..." Sena terlihat lebih ceria sekarang.


"Kata Pak Ignatius, kok Kakak sekarang gak pernah ke lantai dua lagi? Biasa nya suka mampir ke gudang senjata." Kata Lili.


"Terus Kamu bilang apa?" Tanya Sena.


"Aku bilang aja, Kakak lagi sibuk PDKT." Jawab Lili asal.

__ADS_1


"Hahahaha... Asal Kamu. Tar dibilang bener lagi." Sena mengrucutkan bibir nya. Sena tahu, Bapak-bapak pengawalan sangat perhatian pada Sena, kadang Mereka mengatakan Sena sombong mentang-mentang sudah pindah ke kantor pusat, gak mau lagi ngobrol sama Mereka.


Waktu itu Sena bilang: "Ya gak gitu juga Pak, ini kan Kantor pusat, CCTV terpasang dimana-mana, gak bisa berleha-leha kayak di Kantor cabang."


"Diihhh malah ngelamun." Goda Lili yang menoel dagu Sena.


"Ya nanti istirahat Aku ke gudang senjata." Kata Sena.


"Ciieeee.... Mo janjian sama Aa Ignatius yah?" Goda Lili.


"Huusss!! Enak aja. Ya gak lah... Kamu ada-ada aja. Pak Ignatius itu udah Aku anggap kayak Abang sendiri." Kata Sena.


"Abang ketemu gede... Hahahaha..." Canda Lili.


"Ya gitu deh." Kata Sena biasa saja.


"Pak Ignatius gak jelek-jelek amat kan Kak? Hitam juga hitam manis. Bujangan... Hehehehe..." Lili terus menggoda Sena.


"Kamu ada-ada aja Li... Pak Ignatius kan bega Agama dengan Kita. Lagi pula mana mau Dia sama Aku. Aku kan janda." Kata Sena.


"Lah itu buktinya kirim salam. Berarti kan Dia suka sama Kakak." Lili tak mau kalah.


"Lili... Lili... Pak Ignatius tuh, kalau Aku main ke gudang senjata aja, ngeliat Aku lagi ngobrol sama Pak Didi atau Pak Wahyu aja titip salam buat Aku. Dia teriak gini: Pak Wahyu, titip salam yah buat Sena, Sena sombong ih sekarang! Padahal Aku ada disitu." Jelas Sena.


"Hahahaha... Kocak ya Pak Ignatius." Tawa Lili.


__________________________


"Assalamu alaikum Pak Didi..." Sapa Sena yang melihat Pak Didi sedang di meja depan.


"Wa alaikumussalam..." Jawab yang ada disana. "Sena... Sini masuk..." Ajak Pak Didi.


"Pak Didi! Salam buat Sena yah?!" Teriak Pak Ignatius.


Sontak Bapak-bapak pengawalan tertawa.


"Gak usah pake salam. Orang nya udah disini! Berani nya titip salam aja!" Canda Sena sedikit berteriak karena Sena duduk dekat Pak Didi. Sena gak pernah berani masuk sampe kedalam.


"Sini dong Sena... Aa Igna kangen nih." Canda Pak Wahyu.


"Aa... Uu....??" Sahut Sena.


"Hahahaha...." Mereka tertawa lagi.


"Kamu itu Sena, selalu saja bisa menghibur Kita disini. Tapi Kamu sekarang sombong jarang kesini." Kata Pak Wahyu. Sedang Pak Ignatius hanya berani menatap Sena dari jauh.


"Yah maaf deh Pak. Abis kan kadang Sena lewat sini, Bapak-bapak gak ada. Ada nya Bapak-bapak CIT, Sena kan kurang kenal." Kata Sena.


"Emang kapan Kamu kesini?" Tanya Pak Ignatius yang akhirnya berani buka mulut. Pak Igna menghampiri Sena, memberikan sebotol air mineral dan sekotak donat.

__ADS_1


"Diihh kok repot-repot Pak." Kata Sena tak enak.


"Gak repotlah. Tadi Kita abis pengawalan ke J.Co terus dikasih donat. Saya inget Kamu, makanya Saya pisahin." Kata Pak Igna.


"So sweet...." Canda Pak Wahyu.


Sena mencomot satu buah donat dengan taburan almond. Lalu memakannya. Pak Igna memandangi Sena.


"Kamu besok libur yah?" Tanya Pak Igna.


Sena mengangguk. "Sena kesini dua hari yang lalu. Terus sebelumnya abis shalat ashar. Tapi gak pernah ada. Ada nya Bapak-bapak CIT. Sena lihat wajah nya gak ada yang Sena kenal, yah udah Sena ke atas aja." Jelas Sena.


Pak Igna yang tadi mau ngomong menahan mulutnya. Dia lebih senang mendengar suara Sena yang merdu. Pak Igna menopang dagunya dengan kedua tangannya yang menempel ke meja.


"Igna... Jangan dipandangin terus Sena nya, nanti jadi lumer..." Canda Pak Wahyu.


"Hahahaha..." Sena tertawa lepas. "Emang nya Sena gulali, bisa lumer?!"


"Kamu manis kayak gulali." Goda Pak Igna terdengar serius.


"Mang dah pernah jilat Sena?! Kok tahu Sena manis?! Hahahaha..." Sena kembali tertawa.


Pak Didi, Pak Wahyu dan beberapa Bapak pengawalan tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Sena. Abis Pak Ignatius dibully oleh Mereka.


Telpon berdering. Pak Didi mengangkat telpon.


Sena meneguk air mineralnya setelah donat nya abis. Pak Ignatius tak lepas memandang Sena.


"Siap-siap pengawalan ke Cempaka Mas." Kata Pak Didi.


Sontak Mereka langsung bersiap. Memasang perlengkapan Mereka.


"Nanti Kita ngobrol lagi yah..." Pak Igna menyentuh lengan Sena. Sena sedikit kaget tapi langsung biasa saja.


"Pak Sena mau istirahat dulu yah. Ngantuk." Sena menguap. "Semangat yah Bapak-bapak ku." Kata Sena. Srna memang sedang masuk shift malam.


"Eh donat nya dibawa!" Teriak Pak Ignatius.


"Janganlah... Buat Bapak aja. Sena udah kenyang." Kata Sena.


"Itu sengaja buat Kamu!" Teriak Pak Ignatius sambil tak henti memasang perlengkapannya.


"Bawa aja, Sena. Nanti Lili dan Tina juga mau." Kata Pak Didi.


"Ooohh... Baiklah kalau begitu. Terima kasih yah Pak Ignatius!" Teriak Sena.


"Sama-sama nyong ambon manise! Besok kesini lagi yah!?" Teriak Pak Ignatius.


Sena hanya terkekeh dengan sebutan Pak Ignatius padanya.

__ADS_1


Awal nya Pak Ignatius beranggapan kalau Sena orang Ambon muslim. Karena perawakan Sena juga kulit Sena yang sawo matang. Tapi Sena tak pernah marah kalau dipanggil Nyong Ambon Manise.


__ADS_2