
"Dan... Sena sudah balik ya. Gak telat kan?" Kata Sena yang menenteng bungkusan.
Danru Ridwan mengangkat telpon yang berdering. "Siap Dan." Jawabnya.
"Sena....Kamu disuruh ke lantai 5." Kata Danru Ridwan.
"Siapa yang panggil Dan?" Tanya Sena cemas.
"Danru Taufik." Kata Danru Ridwan singkat.
"Ya Allah... Ada apa lagi ini?" Batin Sena cemas.
Sena sampai lupa dengan bungkusannya. Dia membawa nya ke lantai 5.
Setiba nya di lantai 5
"Sena..!! Kamu terlambat. Saya sudah bilang jangan terlambat!" Bentak Danru Taufik.
"Apa??! Sena gak telat Dan. Pas kok. Danru Ridwan saksinya." Kata Sena mencoba membela diri.
Kebetulan Pak Roni sedang tidak ada di ruangan. Beliau sedang meeting dengan Manager security dan beberapa Manager Divisi lain di ruang kerja Bigbos.
"Sudah Kamu gak usah mengelak. Skor Jump 25 kali." Perintah Danru Taufik.
"Tapi....." Belum sempat Sena menolak Danru Taufik membentak.
"35 kali Sena!" Perintahnya.
Mau tidak mau Sena melakukannya. Daripada Dia membantah malah bertambah lagi hukumannya. Sena meletakan bungkusannya di atas meja. Sena mulai skor jump sambil menghitung.
"Ya Allah... Badanku lemas. Aku belum makan dari pagi. Tadi belum sempat makan karena takut telat. Eh malah kena hukuman. Tahu gini tadi Aku telat sekalian." Batin Sena.
Sena memang gak jadi makan di Restoran padang yang James tuju. Sena melihat jam didinding Resto. Makanya Dia meminta untuk dibungkus saja.
Padahal tadi James sudah berpesan lebih baik makan disana. Tapi Sena begitu cemas takut telat. Akhirnya James mengalah tak jadi makan. Dia membeli sebungkus nasi padang buat Sena.
"Ayooo Sena!! Kenapa melamun! Sudah berapa hitungannya?!" Bentak Pak Taufik.
Sena meneruskan menghitung walau sudah kacau karena pusing.
Sena pun menyelesaikan skor jump nya. "Sudah Dan..." Sena memegang kedua lututnya. Mata nya berkunang-kunang.
"Kamu ikut Saya!" Perintah Pak Taufik.
Sena mengikuti Pak Taufik dan meninggalkan bungkusannya. Sena lupa karena kepalanya terasa pusing.
Pak Taufik mengajak Sena ke roof. Sena sedikit terperanjat. "Kenapa Aku dibawa kesini?" Batin Sena.
"Kamu tahu kenapa Kamu, Saya bawa kesini." Pak Taufik mendekat.
Sena langsung menjauh selangkah ke belakang. Sena menggeleng. "Gak tahu Dan." Kata Sena yang masih bingung.
"Karena Kamu telah menolak Saya mengantar Kamu ke Bank. Kamu lebih suka dibonceng James daripada Saya!" Ketus Pak Taufik.
"Tapi Dan... James itu teman Saya. Apa salah nya Saya pergi dengannya. Saya kan juga jarang bertemu Dia." Sena mencoba membela diri.
"Kamu masih berani jawab, Sena?!" Ketus Pak Taufik.
__ADS_1
Sena menunduk. "Ya Allah... Kenapa jadi begini? Gak profesional banget sih nih orang." Batin Sena.
"Sekarang Kamu lari mengitari roof ini. 10 puteran." Perintah Pak Taufik.
Sena tak lagi protes karena itu akan menambah hukumannya.
Danru Ridwan melihat bayangan orang berlari di atas. Dia mendongak. "Siapa yang lari di atas roof siang-siang begini?" Batinnya.
"Jimmy...! Tolong Kamu lihat Sena di lantai 5. Kok dari tadi belum turun dipanggil Taufik?" Perintah Danru Ridwan pada wakilnya.
"Siap Dan." Kata Jimmy yang bergegas ke lantai 5.
Setiba nya dilantai 5, Jimmy mencari Sena dan Pak Taufik tapi tidak ada. Jimmy menelpon ke posko dari telpon di lantai 5.
"Dan... Sena dan Pak Taufik tidak ada di lantai 5. Di meja ada bungkusan yang tadi Sena bawa." Kata Jimmy.
"Coba Kamu naik ke roof. Lihat siapa yang sedang lari. Saya akan segera menyusul." Kata Pak Ridwan seraya menutup telponnya.
Pak Ridwan memanggil dua orang anak buah nya yang sedang berjaga di loading doc. Jam segini kegiatan loading doc masih sepi.
Tak lama dua orang security datang ke posko.
"Kalian jaga dulu disini. Saya mau ke atas." Kata Pak Ridwan.
"Siap Dan." Hormat kedua Security itu.
Pak Ridwan setengah berlari. Dia terlihat cemas memikirkan Sena.
Di lantai Roof.
"Ngapain Kamu kesini? Ada perintah dari Saya?" Ketus Pak Taufik.
Mata Jimmy celingukan. Karena di tengah roof ada gardu listrik. Jadi pandangan keliling roof terhalang. Sena terlihat sudah tertatih. Wajah nya pucat.
"Dan Jimmy...." Panggil Sena lemah. "Tolongin Sena..." Selesai berkata Sena langsung ambruk, penglihatan Sena sudah gelap.
Pak Taufik dan Jimmy berhambur menghampiri Sena yang pingsan tak sadarkan diri.
Danru Ridwan telah tiba di roof. Dia langsung ke lantai 7 dari lantai dasar.
Danru Ridwan langsung menghampiri Pak Taufik dan Jimmy yang sedang jongkok di depan tubuh Sena.
"Apa yang terjadi?!" Danru Ridwan terkejut.
"Sena pingsan Dan." Kata Jimmy.
"Tapi kenapa? Kenapa Sena berlari di roof tengah hari begini?!" Pak Ridwan kesal.
"Dia Saya hukum karena telat datang ke kantor." Kata Pak Taufik.
"Tapi Sena hanya telat beberapa detik. Tidak sampai 1 menit." Bela Pak Ridwan.
Pak Ridwan dan Jimmy membopong tubuh Sena ke pinggir yang lebih adem tidak kena sinar matahari.
"Dan Saya turun dulu, ambil minum dan makan siang Sena." Kata Jimmy.
"Apppaaaaa??!!" Danru Taufik terperanjat. "Jadi Sena belum makan siang?"
__ADS_1
Pak Ridwan mendengus kesal karena Pak Taufik yang seenaknya saja menghukum anak buahnya. "Buat apa Bapak berbuat seperti ini?! Bapak gak ada hak menghukum Sena. Sena anak buah Saya!" Ketus Pak Ridwan.
"Loh Sena itu kan bawahan Saya juga!" Pak Taufik ketus.
"Harus nya Bapak koordinasi dulu dengan Saya. Jangan main hukum saja. Kalau sudah begini siapa yang repot!?" Bentak Pak Ridwan.
Pak Taufik nampak tak terima. Dia hendak menghajar Pak Ridwan tapi Jimmy dan Pak Roni sudah datang ke lantai roof. Mereka melerai.
"Stooopppp...!!!" Teriak Pak Roni.
Pak Taufik dan Pak Ridwan mundur selangkah.
Pak Ridwan memang sudah memberi kabar pada Pak Roni kalau ada yang berlari di atas roof. Dan Pak Ridwan mengatakan Sena ke lantai 5 tapi gak kembali sudah setengah jam. Makanya Pak Ridwan langsung keatas karena balasan pesan dari Pak Roni untuk melihat apa yang terjadi.
Jimmy memangku kepala Sena, memberikan minyak kayu putih ke hidung Sena. Sena mengerjabkan mata.
"Dan Jimmy... Sena dimana?" Tanya nya lemah.
"Kamu masih di roof." Kata Jimmy sambil menyodorkan minum pada Sena.
Sena langsung duduk. Tak enak karena dipangku kepala nya oleh Jimmy. Jimmy membantu Sena agar bersandar ke tembok roof.
"Terima kasih Dan." Sena menatap Pak Taufik tajam. Ada kebencian dimata Sena.
Pak Taufik menyadari itu.
"Pak Taufik! Ikut Saya!" Perintah Pak Roni.
Pak Ridwan langsung mendekat pada Sena yang sedang bersandar.
"Sebenarnya ada apa Sena?!" Tanya nya.
Sena menangis. "Sena juga gak tahu Dan. Tadi Sena sudah laporan pada Danru Ridwan kalau Sena gak terlambat. Tapi kenapa Pak Taufik bilang Sena terlambat?" Sena mengusap airmatanya.
Pak Ridwan menghela nafas. "Terlalu Taufik!" Kesal Pak Ridwan.
"Kamu belum makan ya?" Tanya Pak Ridwan.
Sena menggeleng. "Tadi James ngajak makan setelah dari Bank. Tapi Sena lihat jam, takut telat akhirnya dibungkus. James malah gak jadi makan. Dia langsung pulang abis nganter Sena kembali kesini." Jelas Sena.
Jimmy datang mengantarkan gayung yang berisi air. "Kamu makan dulu. Nih cuci tangan disini."
"Terima kasih Dan Jimmy." Kata Sena.
"Jimmy Kamu kirim pesan ke Lily, suruh kesini temani Sena. Saya mau menyelesaikan permasalahan ini." Kata Pak Ridwan.
"Dan... Gak usah diperpanjang... Mungkin cuma salah paham. Tadi Sena lihat jam di lantai 5 beda dengan yang di posko." Pinta Sena.
"Haaahhh?!! Sejak kapan jam di lantai 5 beda dengan posko?" Pak Ridwan menggeleng tak percaya.
Tak lama Lily sudah berada di roof. "Sena... Kamu kenapa?" Tanya Lily.
"Lily... Kamu jaga Sena disini sampai Dia bisa turun ke bawah. Jimmy Kamu balik ke posko. Saya akan bertemu Pak Taufik dan Pak Roni." Perintah Danru Ridwan.
"Siap Dan...!" Jawab Jimmy dan Lily.
Pak Taufik memang sudah mengubah jam dinding di lantai 5 sebelum Sena tiba disana.
__ADS_1