
Sebulan berlalu, hari ini tanggal 2 awal bulan. Dari kemarin Pak Roni, Supervisor Security dari kantor pusat menelpon Sena.
"Kapan Kamu ke Pusat? Kamu gak butuh gaji mu?" Tanya Pak Roni.
"Ya Dan... Nanti kalau Sena turun jaga... Sena pasti ke Kantor Pusat." Kata Sena.
Hari ini Sena turun jaga pagi. Dan libur. Dari tempatnya bertugas, Sena langsung ke kantor Pusat. Uang ongkos Sena sudah habis. Hutangnya pada Bunda sudah banyak. Walau Bunda tak pernah menagihnya tapi tetap bagi Sena, Dia meminjam ongkos pada Bunda.
Dengan menahan kantuk Sena turun naik Bus. Sena juga sudah ijin pada Bunda akan pulang terlambat.
Satu jam kemudian Sena sudah tiba di Kantor Pusat. Setelah lapor Diri, Sena diantar oleh seorang security ke lantai 5 Gedung PT CC menghadap Pak Roni.
"Senaaaaa...." Sapa Pak Roni senang. "Gimana? Betah disana?" Tanya Pak Roni.
"Dibetah-betahin Dan." Canda Sena.
Pak Roni Supervisor Security memang sangat ramah. Dia suka dengan Sena yang cepat belajar. "Kok dibetah-betahin? Memang Kamu gak betah?" Tanya Pak Roni.
"Komandan kan tahu, Disana tempatnya seperti apa? Komandan aja enggan berkunjung kesana." Kata Sena.
"Hahahahaha... Sena... sena... Kamu bisa saja." Tawa Pak Roni.
"Security sana kaya anak tiri." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Kok Kamu gitu sih?" Tanya Pak Roni.
"Ya Dan... Sena aja sampe sekarang belum dikasih seragam." Kata Sena agak kesal.
"Ya ampun! Terus Kamu jaga pake seragam siapa?" Tanya Pak Roni.
"Pinjem sama saudara." Kata Sena.
"Pak Taupik... Tolong nih... Sena belum dapat seragam." Perintah Pak Roni.
Ponsel Sena berdering. Sena melihat siapa yang menelpon. "Ck... ganggu aja." Gumam Sena.
"Kok gak diangkat Sena? Dari pacar ya?" Goda Pak Roni.
"Iiihhh pacar...." Sena ngegrutu.
"Loh Kamu kan single... Wajar lah kalau Kamu punya pacar lagi..." Canda Pak Roni.
"Gak lah Pak... Sena mau kerja buat nafkahi anak Sena. Sena gak mau mikir pacar-pacar... Yang ini aja belum kelar..." Kata Sena.
"Memang belum resmi?" Tanya Pak Roni.
Sena menggeleng. "Masih digantung Pak. Lagi juga masih baru Pak... Sena masih trauma..." Kata Sena.
Ponsel Sena kembali berdering. "Angkat dulu Sena... barangkali penting..." Kata Pak Roni.
__ADS_1
Mau gak mau Sena mengangkat ponselnya. Pak Roni menyiapkan gaji Sena.
"Dek... Kamu dimana?" Tanya Fajri.
"Aku di kantor." Kata Sena ketus.
"Kamu udah gajian kan?" Tanya Fajri.
"Memangnya kenapa?" Sena mengerutkan keningnya.
"Aku pake yah 300ribu... Buat nambahin bayar cicilan motor." Kata Fajri.
"Maaf Mas... Aku gak bisa pinjemin. Gajiku udah abis." Kata Sena malas.
"Kok abis sih? Kan baru tanggal 2?" Kata Fajri.
"Ya abis lah Mas... Kemarin sudah buat Aku beliin susu buat Rizki sebulan. Terus Aku ganti uang bunda yang Aku pinjem buat ongkos. Aku pegang buat ongkos ku sebulan kedepan." Kata Sena berbohong, padahal Dia baru saja akan mengambil gaji pertamanya.
"Nanti Kamu, Aku antar jemput deh. Daripada naik Bus. Kata Ibu, Kita balikan aja... Kamu mau ya, Sena..." Rayu Fajri.
"Apaaaa...??!! Kata Ibu? Jadi Kamu mau balik sama Aku karena disuruh Ibu? Terus kalau Ibu Kamu suruh Kamu tinggalin Aku, Kamu bakal ninggalin Aku lagi, gitu Mas?" Sena sangat kesal.
"Bukan gitu Sena..." Fajri hendak merayu Sena.
"Kalau gitu nanti saja Mas, Aku kembali sama Kamu kalau Ibu Kamu sudah gak ada..." Ketus Sena.
"Sena...!! Kok Kamu ngomongnya gitu?!" Fajri terdengar kesal.
"Kok dimatiin Sena?" Tiba-tiba Pak Taufik menegurnya.
"Gak apa Dan... Gak penting..." Kata Sena sewot. Airmata Sena sudah mengambang. Sena sangat terpukul mendengar Fajri mengatakan ingin kembali karena disuruh Ibu nya bukan karena Dia masih menginginkannya.
Sena terisak. Pak Roni menghampiri Sena. Dia mengelus bahu Sena. Pak Roni sempat mendengar pembicaraan Sena walau Dia fokus mengurus gaji Sena.
"Kamu yang sabar Sena... Semua pasti cepat berlalu... Kamu tenang saja... Disini banyak duda-duda yang mencari istri..." Canda Pak Roni menghibur Sena.
Sena mengusap airmatanya. Pak Taufik memberikan seragam pada Sena. "Coba Kamu pas dulu sepatu PDL nya." Pinta Pak Taufik.
Sena mencoba sepatu PDL baru dari Pak Taufik. "Sempit Dan. Nomor 39 biasa Sena pake." Kata Sena.
"Pas kok itu... Kaki Kamu gede banget... Orangnya kecil kakinya panjang..." Ketus Pak Taufik.
"Iiihhh Pak Taufik..." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Gak ada nomor 39, lagi kosong. Kamu pake dulu itu, nanti juga lama-lama melar." Kata Pak Taufik.
"Ya tapi gak bisa pake kaos kaki, Dan. Kalau Pake kaos kaki tambah sempit." Kata Sena.
"Kamu pakai kaos kaki nya yang tipis, seperti stoking tapi pendek." Kata Pak Taufik.
__ADS_1
"Huuuhhhh..." Sena nampak kesal karena dipaksa pake sepatu nomor 38.
"Nih baju nya. Kamu permak buat pas sama badan Kamu. Badan Kamu gedein dikit biar bagus." Kata Pak Taufik lagi nyinyir.
"Ya komandan bawel..." Ketus Sena.
"Iiihhhh... Ngelunjak... Cuma Kamu aja yang berani sama Saya..." Kata Pak Taufik.
Pak Roni geleng-geleng kepala melihat adu mulut Pak Taufik dan Sena. "Sena... Kamu tanda tangan disini. Ini gaji Kamu... Kamu cepat pulang dan istirahat. Hari ini dan Besok Kamu libur kan?" Tanya Pak Roni.
"Ya Dan." Kata Sena sambil tanda tangan dan menghitung gaji nya.
"Asyiikkk.... Traktir nih..." Canda Pak Taufik.
"Huuuhhhhh...." Ketus Sena.
Pak Taufik menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Pak Taufik.... Sena jangan diganggu terus! Kasihan Dia baru turun jaga..." Tegur Pak Roni.
"Dan Roni... Sena pamit ya..." Kata Sena setelah memasukan seragam dan sepatu baru kedalam ranselnya. Juga uang gajinya. Sena hanya mengeluarkan selembar uang 10 ribu dan lima ribu untuk ongkosnya pulang.
Pak Roni mengangguk. "Kamu hati-hati ya..." Kata Pak Roni perhatian.
"Aku antar pulang ya..." Goda Pak Taufik.
"Taufik....!" Tegur Pak Roni.
Pak Taufik tertawa melihat wajah ketus Sena. Sena buru-buru masuk kedalam lift yang sudah terbuka.
Pintu lift tertutup. Tubuh Sena menghilang disana. Pak Taufik masih memandangi lift itu yang membawa Sena turun kebawah.
"Apa Kamu menyukai Sena?" Goda Pak Roni.
"Entahlah... Aku melihat Sena.... Dia wanita yang berbeda... Dia mandiri... Walau sakit hati nya masih baru, Tapi Dia terlihat tegar..." Kata Pak Taufik.
"Anaknya baru satu, masih kecil..." Canda Pak Roni.
Pak Taufik menghela nafas. "Apakah Dia mau menerimaku yang tak sempurna?" Tanya Pak Taufik.
"Kamu harus sabar kalau memang Kamu menyukainya dan ingin serius dengan Sena. Sepertinya Kamu harus menunggu lama, karena kabarnya Dia baru saja berpisah dengan suami nya. Tadi juga Saya dengar Suaminya minta kembali. Tapi Sena malah memarahinya. Seperti nya Sena sangat spesial hingga Suami nya sangat menyesal meninggalkannya dan ingin kembali." Kata Pak Roni.
"Satu lagi... Kata Sena, Suami nya juga pernah melamar kesini sebagai security tapi gak diterima. Kamu bisa menyelidikinya." Kata Pak Roni.
Pak Taufik menghela nafas.
"Terus gimana sama Rina?" Tanya Pak Roni.
"Aku kurang begitu suka, makin kesini sikapnya makin kecentilan... Aku gak tahu gimana kelakuannya di kantor cabang." Kata Pak Taufik.
__ADS_1
"Hahahaha.... Cari lagi yang bener. Jangan sampe gagal untuk kedua kali nya." Kata Pak Roni.