
"Hasil cek dahaknya positif, Bu. Ibu harus rutin minum obat ya." Kata Dokter.
Sena mengangguk. "Ibu bukan tinggal di daerah kelurahan puskesmas ini ya?" Tanya Dokter.
"Iya Dok. Tapi Saya lebih dekat kesini daripada ke puskesmas kelurahan tempat tinggal Saya." Jelas Sena.
"Mohon maaf Bu, gak bisa. Ibu harus ke puskesmas kelurahan tempat tinggal Ibu atau kecamatan. Sesuai KTP ya Bu. Peraturan pemerintah begitu. Karena ini obatnya gratis. Dinas kesehatan dan pemerintah yang membiayai. Kita gak mau nanti pasien tidak terkontrol." Jelas Dokter.
"Tapi Saya sudah berniat gak akan mangkir kok Dok." Sena nampak kecewa.
"Maaf Bu. Gak bisa. Ibu harus tetap ke puskesmas menurut KTP ibu." Dokter memberi alamat puskesmas kelurahan dan kecamatan.
Dengan rasa kecewa Sena meninggalkan puskesmas. "Sudah bayar mahal, malah dioper. Dari tadi pagi aja. Sudah nunggu lama banget malah gak dilayani." Sena menggerutu.
Sena menyetop mikrolet arah ke puskesmas kecamatan. Karena kalau ke kelurahan, Sena makin ribet harus naik ojek lagi kedalam.
"Pak.. Nanti tolong berhenti di puskesmas Kecamatan ya." Pinta Sena.
"Ya Neng." Kata Supir mikrolet.
Sena nampak gelisah karena hari sudah siang. Sudah hampir jam 11. Sena takut puskesmasnya tidak melayani lagi kalau sudah siang.
20 menit kemudian. Neng udah sampe. Itu puskesmasnya. Kata Pak Supir.
"Terima kasih Pak." Sena memberikan ongkosnya.
Sena bergegas turun dan langsung ke loket pendaftaran. Sena menyerahkan kertas rujukan dari puskesmas tadi pagi.
Petugas loket memproses.
"Pak.. masih bisa kan?" Tanya Sena cemas.
"Masih Bu. Kalau untuk TB Paru masih dilayani. Ibu kenapa siang sekali kesininya?" Tanya petugas itu.
Sena pun menceritakan perihal di puskesmas tadi.
"Ya Bu, memang harus sesuai KTP. Ini kenapa ibu gak ke kelurahan saja?" Tanya petugas.
"Jauh Pak. Harus naik angkot dan ojek. Kalau kesini sekali turun di depan jalan raya, jalan kesini. ?" Jelas Sena.
Petugas mengangguk dan memberikan nomor antrian.
Ternyata yang berobat TB Paru sangat banyak. Lumayan antri. tempat duduk tunggu juga lumayan terisi hampir semua. Beragam usia ada disini.
Sena mendengar keluh kesah pasien TB selama pengalaman mereka minum obat. Ada yang gatal-gatal, ada yang muntah-muntah. Dan lain-lain banyak keluhan.
Sena nampak cemas. "Nanti Aku gimana? Jantung Aku suka deg-degan kalau minum obat." Batin Sena.
Jam 11.45 nama Sena baru dipanggil.
"Sena Fatimah..." Panggil petugas yang membantu Dokter.
Sena bergegas masuk dan memberikan nomor antriannya.
"Dokter Adjie...." Batin Sena membaca nama Dokter yang tertera diatas meja.
Dokter Adjie masih muda. Dia memperhatikan Sena. "Silahkan duduk." Pintanya.
"Terima kasih Dok." Kata Sena sambil menarik kursi dan duduk.
"Ada masalah apa, Bu?" Tanya Dokter.
__ADS_1
Sena mengerutkan keningnya. "Haaahhh... Sena bingung mau jawab apa? Kenapa Dokter bertanya seperti itu?" Batin Sena.
"Apa Suami Ibu jarang pulang?" Tanya Dokter. Dokter membaca profil Sena dan alamat rumah.
"Haaahhh... ng.. Gak kok Dok. Suami Saya tiap hari pulang." Kata Sena pelan.
"Kenapa Ibu bisa sakit seperti ini?" Tanya Dokter.
Sena hanya Diam.
"Suami Ibu, kerja kan?" Tanya Dokter.
Sena mengangguk.
"Sudah punya anak berapa?" Tanya Dokter lagi.
Sena menggeleng. "Saya baru 6 bulan menikah, Dokter."
"Hhmmm... masih pengantin baru ya." Canda Dokter.
Sena hanya diam.
"Nanti dirumah, semua dijemurin ya Bu... Jendela dibuka biar hawa nya masuk. Jangan meludah sembarangan. Gak boleh bekas minum atau makan Kita dipakai orang lain ya. Untuk menjaga supaya orang dirumah tidak tertular." Jelas Dokter Adjie.
Sena mengangguk.
"Jangan banyak pikiran. Yang gak penting dibuang saja." Kata Dokter yang seakan tahu dengan tekanan batin Sena.
Sena hanya diam dan mengangguk.
"Seminggu sekali rutin kesini ya Bu, untuk ambil obat. Gak boleh lupa sekalipun. Kalau terlupa harus dari ulang lagi." Jelas Dokter Adjie.
Sena tetap mengangguk tak banyak bicara. Dokter Adjie terus memperhatikan Sena. Sena hanya menunduk.
"Ada yang mau ditanyakan Bu Sena?" Tanya Dokter.
"Gak ada Dokter. Semua sudah jelas." Kata Sena.
"Oh ya Saya lupa. Nanti dari sini abis makan, langsung diminum obatnya. Besok pagi sebelum makan apa-apa, obatnya harus diminum." Tambah Dokter Fajri.
"Perut kosong Dok?" Sena kaget.
"Ya..." Kata Dokter yang terlihat gemas melihat Sena.
"Gak apa Dok, belum makan minum obat." Tanya Sena polos.
Dokter Fajri mengangguk. "Memang itu aturannya."
Sena mengangguk. "Terima kasih Dok." Sena beranjak berdiri.
"Jangan banyak pikiran ya. Rabu depan kesini lagi." Pesan Dokter Adjie.
"Ya Dok. Saya gak lupa." Kata Sena.
Dokter Adjie terus memperhatikan Sena hingga tubuh Sena tak terlihat lagi.
Sena bergegas pulang dan melaksanakan perintah Dokter.
Sampai di rumah. "Huuuhhh... panas banget." Keluh Sena.
"Baru sampe Sena?" Tanya Bunda yang melihat Sena duduk di kursi teras.
__ADS_1
"Assalamu alaikum Bun." Sapa Sena yang segera mencium punggung telapak tangan Bunda.
"Kamu jadi ke puskesmas?" Tanya Bunda.
"Ya Bun. Sena kesel deh Bun. Dijadiin bola di puskesmas tempat Sena cek dahak." Gerutu Sena.
"Jadi bola gimana?" Tanya Bunda.
Sena berlalu ke dapur mengambil air minum. Dia sangat haus karena udara yang cukup panas dan terik matahari.
"Gak boleh berobat disitu. Bilang kek dari tadi sebelum Sena bayar mahal. Kaya sengaja. Udah antri, nunggu lama, Dokter datangnya siang. Eh malah dioper ke puskesmas sesuai KTP." Jelas Sena kesal.
"Terus Kamu sudah ke puskesmas sesuai KTP, belum?" Tanya Bunda.
"Sudah Bun. Makanya Sena siang sampe sini. Tadi Sena ke kecamatan. Enak disana, Dokternya ramah dan perhatian." Kata Sena.
Bunda tersenyum. "Ya sudah sekarang makan dulu sana. Abis itu minum Obatnya. Shalat dzuhur jangan lupa." Kata Bunda.
"Ya Bun." Kata Sena yang dari tadi sampe batuknya tak juga berhenti.
Sena pun makan. Kemudian dia shalat dzuhur. Setelah shalat Sena baru minum obat TB Paru nya.
"Banyak banget obat?" Gumam Sena.
Bunda melihat. "Sebanyak itu?" Tanya Bunda kaget.
Sena mengangguk. "Besar-besar lagi Bun. Kuat gak Aku?"
"Pelan-pelan saja." Kata Bunda.
Sena mengangguk. "Besok pagi malah belum makan apa-apa harus minum obat dulu, Bun." Kata Sena.
"Haaahh... Yang bener?" Bunda terkejut.
"Tadi kata Dokternya begitu, Bun." Jelas Sena.
"Ikuti aja apa kata Dokter. Mungkin biar kumannya cepat mati." Canda Bunda.
Sena mengangguk. Sena mulai meminum obat itu. Satu paket ada 8 butir yang ukurannya cukup lumayan besar.
Sena menghela nafas. "Akhirnya.... Huuuhhhh.."
"Kamu istirahat dulu sana dikamar Bunda, atau di kamar Vina." Kata Bunda.
"Vina kemana Bun?" Tanya Sena.
"Dia lagi pergi sama Risda. Refresing katanya, mumpung libur." Kata Bunda.
Sena mengangguk. "Ya Bun. Nanti aja ngobras bajunya yang mau dibawa." Kata Sena.
"Ya.. Ini juga masih bunda potong. Baru 6 yang Bunda potong." Kata Bunda.
Memang berapa banyak Bun? Tanya Sena sedikit kaget tapi senang. Setidaknya Sena ada kegiatan di kontrakan.
"36 stel." Kata Bunda.
"Alhamdulillaah... Banyak ya Bun. Nanti Sena bawa 10 juga gak apa Bun. Minggu depan Sena kesini sambil bawa jahitan sekalian ambil obat." Kata Sena.
Bunda mengangguk. "Kamu bawa aja berapa sampenya nanti Bunda potong." Kata Bunda.
"Ya Bun." Kata Sena senang. "Sena tidur sebentar ya Bun."
__ADS_1
Bunda mengangguk dan meneruskan memotong celana untuk Sena bawa nanti sore.