Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Terlalu Fajri


__ADS_3

Sena sangat kecewa pada Fajri. Fajri menjemputnya dari Rumah Bunda, tapi tidak mengantarnya kembali ke rumah Bunda.


"Aku gak bisa. Aku mau mengantar motor ini. Ini motor dagangan." Kata Fajri.


Sena mengrucutkan bibirnya. Ponselnya berdering. Dia bergegas mengambilnya di dalam tasnya. Fajri meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan pada Sena dan Rizki.


"Yayah...." Rizki menunjuk-nunjuk pada sang Ayah yang semakin menjauh darinya.


Sena membenarkan gendongannya. Sena menjawab panggilan ponselnya.


"Sena... Kamu dimana? Jadi ikut gak?" Tanya Kak Mita diseberang sana.


"Ya Kak. Sena lagi nunggu angkot. Jauh banget lagi dari rumah." Kata Sena.


"Memang darimana?" Tanya Kak Mita.


Sena pun menceritakan perihal Fajri yang menjemputnya di rumah Bunda dan meninggalkannya di jalan tak mengantarnya pulang.


"Terlalu Fajri. Ya sudah, Kamu ke rumah Kakak saja. Lebih dekatkan dari sana. Nanti ikut mobil Mas Surya saja." Kata Kak Mita.


"Ya Kak. Sudah dulu ya. Angkotnya sudah ada." Kata Sena.


"Hati-hati..." Pesan Kak Mita.


Tapi tiba-tiba Rizki menunjuk-nunjuk pada sebuah komedi putar yang Dia lihat bergerak di sebuah Mall. Komedi putar itu berada di pekarangan Mall.


"Gak sayang... Kita gak naik itu. Nanti saja... Kita mau pergi..." Kata Sena lembut.


Namun sepanjang perjalanan Rizki menangis menunjuk ke arah komedi Putar. "Mama.... Mama.... Huaaa... Mama..." Rizki terus menangis memanggil Mama nya menunjuk-nunjuk kearah komedi putar yang makin jauh tak terlihat.


Seorang Ibu memperhatikan Wajah Sena dan Rizki. "Memang Mama nya kemana?" Tanya Ibu tersebut, ketus.


"Saya Mama nya, Bu. Anak Saya menangis karena mau naik komedi putar di Mall itu." Kata Sena yang merasa jengah dicurigai Ibu itu. Sena sadar, wajah Rizki dan wajahnya tak mirip. Wajah Sena lonjong dan tirus sedangkan Rizki berwajah bulat dan gembil.


Ibu itu nampak curiga. Dia mengeluarkan ponselnya. Sena terlihat khawatir. Dia takut Ibu itu menuduhnya menculik anak.


"Ya Allah... Lindungi Sena." Batin Sena berdoa sambil terus menenangkan Rizki yang masih terus menangis.


"Mimi susu ya..." Bujuk Sena.


Namun Rizki malah membuang botol susu nya.

__ADS_1


"Ya Allah..." Sena terlihat sedih. Dia menangis karena panik tak dapat menenangkan Rizki dan dicurigai seorang Ibu sebagai penculik anak.


Seseorang memberikan botol susu Rizki yang memggelinding kearah kakinya.


"Terima kasih mbak." Kata Sena ramah masih terlihat sedih.


"Sudah dong Nak... Mama jadi sedih." Sena memeluk Rizki dan terisak.


Rizki mendengar Sena menangis. Dia diam dan mengelus pipi Sena. "Mama...." Kata Rizki.


Sena mendongak. "Jangan nangis lagi. Mama gak punya uang untuk mengajakmu naik komedi putar itu." Kata Sena sesegukan.


Rizki mengusap mata Sena. Dia menciumi wajah Sena. "Mama....: Panggilnya.


Ibu yang mencurigai Sena menghela nafas lega. Dia merasa tak enak karena sudah menuduh Sena sebagai penculik anak, walau tak secara langsung menuduhnya, tapi tatapannya cukup memberi jawaban.


"Memang darimana tadi?" Tanya Ibu itu ramah. Dia merasa bersalah.


"Tadi dari rumah Mertua, Bu sama Ayahnya. Tapi malah gak diantar pulang lagi. Ditinggal dipinggir jalan." Kata Sena sesegukan karena masih khawatir.


"Kok tega banget sih Bu, suaminya?!" Ibu itu nampak kesal.


"Mama...." Panggil Rizki.


"Makanya Kamu jangan bikin Mama sedih, Nak... Mama gak punya uang." Kata Sena pelan.


Tak lama Ibu itu turun. Dia membayarkan ongkos untuk Sena. Sena menolaknya. "Gak usah Bu. Saya ada." Kata Sena yang segera membayar ongkosnya nanti.


"Gak apa Bu... Biar Saya ada kembaliannya." Kata Ibu itu lagi. "Hati-hati ya Bu. Jaga anaknya baik-baik." Pesannya.


Sena mengangguk. Dia memeluk tubuh Rizki. Tak lama kemudian Sena pun turun dari angkot. Kemudian Dia menyambung naik Bus menuju Rumah Kak Mita.


_______________________


"Keterlaluan Fajri." Kata Bunda. "Tahu gitu tadi gak Bunda kasih ijin dibawa ke rumah Ibu nya." Bunda nampak sangat kesal mendengar cerita Kak Mita, karena tadi Sena cerita pada Kak Mita.


Sena juga cerita ada seorang Ibu yang mencurigainya sebagai penculik anak karena Rizki memanggil Mama menunjuk kejauhan.


"Ya Allah... Untung Dia gak melaporkan Kamu ke polisi..." Bunda terlihat cemas.


"Ya abis, Rizki nya gak mau diem gara-gara komedi putar." Kata Sena.

__ADS_1


"Lagi tadi bukannya diturutin dulu." Kata Bunda.


"Sena gak bawa uang Bun. Sena pikir tadi bakal diantar pulang sama Mas Fajri. Tadi aja ongkos pake uangnya Rizki yang dikasih Mas Alif dan Kak Dijah tadi." Jelas Sena.


Bunda menghela nafas. Mereka pun sudah bergegas berangkat ke rumah teman spiritual Bang Tino.


"Memang Kita mau kemana sih, Bun?" Tanya Sena.


"Ke rumah Bang Jose." Kata Bunda.


Sena mengangguk. "Ooohhh...." Sena tahu siapa Bang Jose. Dia yang telah membersihkan rumah yang dulu ditempati Bang Tino dan akhirnya rumah itu laku terjual.


Sena, Rizki dan Nina ikut naik mobil Mas Surya. Sedangkan Bunda dan Vina ikut naik mobil Vina yang dikendarai Bang Tino. Istri dan anak Bang Tino juga berada disana.


Setengah jam kemudian Mereka sudah berada di Rumah Bang Jose. Mereka pun mengobrol ngalor ngidul.


Sena sibuk mengurus Rizki yang tak bisa diam. Sena gak tahu sedang jadi bahan pembicaraan keluarganya pada Bang Jose. Rizki terus berlari-lari kesana kemari.


"Kasihan kan Bang melihatnya." Kata Bunda.


Bang Jose mengangguk-angguk sambil terus memperhatikan Sena. Sena benar-benar tak menyadarinya.


Satu jam lebih Mereka bersilahturahmi di rumah Bang Jose. Tak lama Mereka pun berpamitan.


"Kita mampir makan dulu." Ajak Vina. Diantara Mereka bersaudara, Vina memang yang berlebih ekonominya. Dia tak sadar selalu memakai uang suaminya untuk menyenangkan keluarganya.


Bunda seringkali menasehati Vina agar tidak boros dan royal. Takut nanti Suaminya salah paham. "Gak kok Bun, Suamiku tak seperti itu." Kata Vina waktu itu saat Bunda menasehatinya.


Mereka pun makan di sebuah saung yang berada di tengah kolam ikan. Vina memberikan air mineral pada Sena. Sena tanpa curiga meminumnya dan memberikannya juga pada Rizki.


Bunda tersenyum melihatnya. Bunda sesekali mencubit Vina. Vina dan Bunda nampak grasak grusuk, namun Sena tak curiga. "Ada apa sih Bun?" Tanya Sena.


"Gak apa.... Ini Vina lagi nanya mau pesan apa." Kata Bunda.


"Ohhh..." Kata Sena. Sena kembali meminum air itu. Air itu sudah hampir habis. Bunda nampak khawatir.


"Bun... Sena mau cuci tangan. Sena titip Rizki ya." Pamit Sena.


Bunda mengangguk. Vina langsung mengambil air mineral yang tadi Dia berikan pada Sena. Vina memasukkan ke dalam tas Bunda.


Tak lama Mereka pun makan bersama. Sena menyuapi Rizki dengan telaten. Sesekali menyuap ke mulutnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2