Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Kebohongan Fajri


__ADS_3

Fajri mengantar dua orang Depkolektor itu keluar dari perumahan dengan membawa motornya.


Sena nampak kecewa. Baru saja Sena merasa senang karena pengobatan TB Paru nya sudah selesai dan Sena dinyatakan sembuh, Fajri sudah berulah.


Tak lama Fajri tiba dirumah Bunda dengan berjalan kaki.


"Jadi benar Mas? Kamu belum bayar cicilan motor?" Tanya Sena.


Fajri menunduk. Dia merasa malu pada Bunda.


Sena menghela nafas. Dia bingung, mau pulang gak ada ongkos. Besok Fajri kerja naik apa.


"Bun... Sena pamit ya." Kata Sena.


"Naik Bus?" Tanya Bunda.


"Ya lah Bun, naik apa lagi." Kata Sena sedih.


"Ada ongkosnya gak?" Tanya Bunda.


"Ada Bun." Sena berbohong.


Bunda masuk ke kamar. Tak lama Bunda keluar kamar dan menyerahkan sejumlah uang pada Sena.


"Gak usah, Bun. Sena ada." Kata Sena.


"Sudah bawa saja. Jangan lupa jahitan orang dikerjain." Pinta Bunda.


Sena mengangguk. Sena sangat bahagia memiliki Bunda yang perhatian.


Sena dan Fajri pulang ke pondok gede dengan naik angkutan umum.


"Mas ada ongkosnya?" Tanya Sena.


Fajri menggeleng. Sena menghela nafas. "Terus uang gaji yang buat bayar motor dikemanain?" Tanya Sena di mikrolet.


"Aku buat nombokin penjualan teh." Kata Fajri.


"Memang uang hasil jual tehnya kemana? Kok nombok?" Tanya Sena penasaran.


"Aku kan harus target, kalau gak target, Aku gak dapat bonus. Jadi Aku yang bayar tehnya." Fajri masih saja mengelak.


"Berarti Mas dapat bonus? Terus bonusnya mana? Aku gak pernah terima. Selama ini Aku ngalah. Gaji Mas buat bayar cicilan motor, kadang kontrakan Aku juga yang bayar. Aku malah sering puasa Mas karena gak punya uang buat makan." Mata Sena mulai berkaca-kaca.


Fajri menunduk. Dia tak jujur pada Sena kalau uangnya habis dia serahkan pada Ibu nya karena sifat matrelialisme nya tak melihat keadaan anak-anaknya.


Sena sering melihat Ibu mertuanya belanja baju mahal-mahal. Tas yang beli sama Sena saja, gak juga dibayar.


Sena hanya pasrah. Dia bersabar. Sekarang masih dijalan. Tak enak kalau orang mendengar pembicaraan Mereka.


Jam 9 malam, Sena dan Fajri tiba di taman mini. Angkot yang menuju kontrakannya sudah jarang yang lewat.


"Terakhir-terakhir...!" Seorang supir angkot berteriak. Fajri menarik tangan Sena setelah Dia lihat nomor angkot itu.


Sena dan Fajri bergegas naik. "Pak.. Bu... Cuma sampe pasar ya. Kesananya naik ojek. Kalau jam segini gak bisa narik sampe dalam." Kata Supir angkot.

__ADS_1


"Ya Bang gak apa." Kata Fajri.


"Terus kita naik apa, Mas? Kalau naik ojek, besok kita makan apa?" Tanya Sena.


"Kita jalan aja. Hitung-hitung jalan-jalan malam." Hibur Fajri.


Sena menghela nafas tapi Sena tersenyum. "Gak apa deh." Batinnya.


Sampai di pasar Mereka turun. Sena memberikan uang ongkos pada Fajri.


"Mas kembaliannya mana?" Tanya Sena.


"Loh bukannya tadi uang pas?" Kata Fajri.


"Ya Allah... Mas..! Memang nya Mas gak lihat uangnya? Tadi Aku sudah bilang minta kembali. Itu kembalinya lumayan Mas. Buat belanja besok." Sena terisak.


Supir angkot tadi langsung melaju tanpa memberikan uang kembalian.


"Aku gak tahu. Aku pikir pas." Kata Fajri pelan.


Sena terkulai lemas. Uang yang diberikan Bunda untuk ongkos, masih ada sisa buat belanja 3 hari. Tapi malah dikasihkan semua ke supir angkot tanpa meminta kembaliannya.


"Tau gitu tadi Aku yang bayarin Mas." Sena kesal.


Fajri diam karena dia ceroboh tak memeriksa uang dari Sena.


Mereka berjalan di kegelapan malam. Jalanan disana jam segini memang sudah sangat sepi.


Sena merasa haus. Tapi dia harus menahannya sampai kontrakan. Dia sudah tak pegang uang lagi.


Fajri merangkul bahu Sena. Mereka berjalan tidak terburu-buru juga tidak terlalu pelan.


"Gak tahu. Mungkin Aku keluar saja." Kata Fajri.


"Lagi Mas kenapa bohong sih sama Aku. Kalau tau kemarin belum bayar kan, Aku mungkin bisa usahain pinjem sama Bunda." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Sekarang sudah nunggak 3 bulan, kan jadi berat." Sena sangat kecewa.


Mereka dapat mengambil motor itu kalau sudah ada uang untuk membayar cicilannya selama 3 bulan.


Itu saja Fajri masih berbohong pada Bunda. Dia bilang cuma bulan ini yang belum bayar. Tapi pas Sena terus mendesak ternyata sudah 3 bulan.


Satu Jam sudah mereka berjalan. "Alhamdulillaah... Sampe juga." Sena menyerahkan kunci pada Fajri. Dia sangat letih dan sedikit takut karena situasinya sangat sepi dan masih banyak kebon kosong disepanjang jalan.


_____________________


Sena membuatkan kopi untuk Fajri dan teh manis untuknya.


Hari ini Sena gak masak karena gak punya uang.


"Sayuuurrr...." Tukang Sayur memanggil. "Mbak Sena... Belanja gak?" Teriak tukang sayur.


"Sena, coba Kamu tanya sama tukang Sayur, boleh ngutang dulu gak?" Pinta Fajri.


"Mas aja ah. Sena malu." Kata Sena.

__ADS_1


Fajri menghela nafas. Dia keluar menemui tukang Sayur. Tukang sayur memang sudah jadi langganan Sena beberapa bulan ini. Sena gak perlu lagi keluar lingkungan kalau belanja.


Fajri celingak- celinguk. "Gak ada orang." Batinnya.


"Mas Fajri... Mbak Sena gak belanja?" Tanya Tukang Sayur.


"Sena mau belanja, tapi gak punya uang Mas. Apa boleh ngutang dulu?" Tanya Fajri.


"Yoo gak apa toh Mas. Mbak Sena sudah langganan sama Saya." Kata tukang sayur.


Fajri tersenyum. "Tunggu ya." Kata Fajri.


Tukang sayur mengangguk.


"Sena.... Tuh boleh katanya." Kata Fajri yang sudah masuk kedalam rumah.


Kontrakan Mereka sudah lumayan rame, terisi 4 rumah. Jadi Sena tak merasa kesepian walau Mereka juga jarang ngobrol.


"Mau masak apa Mas?" Tanya Sena.


Fajri menarik tangan Sena. "Yuk... Aku mau lihat ada apa aja disana." Ajak Fajri.


"Sini mbak. Sama Aku kaya sama siapa saja. Kalau gak punya duit gampang mbak sama Aku." Kata tukang sayur.


"Nanti Aku kabur loh Mas, gak bayar." Canda Sena.


"Hahaha.... Mbak Sena bisa saja. Aku percaya kok, Mbak Sena orang baik." Kata Tukang Sayur.


Beberapa kali Sena mengejar tukang Sayur karena uang kembaliannya lebih atau Tukang sayur salah itung belanjaan Sena. Makanya tukang sayur percaya, Sena orang baik dan jujur.


Mereka pun sudah selesai belanja. "Mas nanti kalau sudah ada uang, Saya bayar." Kata Fajri.


"Enggeh Mas Fajri. Santai saja." Kata tukang sayur.


Sena bergegas masuk ke rumah dan mulai mengupas sayuran. Fajri ingin makan sayur asem, Jengkol balado dan teri kacang.


Fajri membantu Sena bebenah rumah selagi Sena memasak. Fajri jadi pengangguran sekarang.


Sebenarnya dikantor ada sewa motor, tapi Fajri gak mau. Percuma, Dia nanti pulang naik bus juga. Abis diongkos, kalau kata Fajri.


"Dek... Tar abis makan, Mas ke rumah Ibu ya." Kata Fajri.


"Mas mau naik apa? Kita kan gak punya uang." Kata Sena.


"Nanti Aku pinjam sama lucas. Kalau motornya nganggur, Aku pake saja motornya." Kata Fajri.


"Terserah Mas saja. Tapi pulangnya jangan malam-malam. Aku takut. Kontrakan ini serem Mas." Kata Sena.


"Sekarangkan sudah rame, Dek. Kamu gak usah takut." Hibur Fajri.


"Kata orang yang disebelah, yang punya kontrakan dulu punya Adik perempuan, Cantik. Sekolah di Belanda. Terus pulang kesini, pacaran sama orang sini tapi gak direstui sama orangtuanya. Akhirnya bunuh diri minum obat serangga di kontrakan ini." Cerita Sena.


"Kok dia bisa tahu? Kamu saja yang lama disini, gak tahu." Kata Fajri.


"Dia ngorek-ngorek sama Bu RT, Mas. Dia kan seneng ngerumpi. Dia waktu itu ngajak ngobrol Aku, eh cerita kemana-mana." Kata Sena.

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat ya, Dek. Nanti malah ribut." Pinta Fajri.


"Ya Mas. Sena juga gak dekat-dekat kok." Kata Sena.


__ADS_2