
...Kelam......
...Betapa kelam hidupku......
...Betapa suram nasibku.......
...Di dalam dunia ini.......
...Mungkin... ...
...Sudah suratan hidupku......
...Sudah suratan nasibku......
...Tanpa cinta dan kasih.......
...Langkah apa yang harus ku tempuh...
...Dalam menyusuri hidupku...
...Kadang Aku bertanya...
...Aku lahir ke dunia...
...Hanya untuk menanggung derita.......
...Kelam.......
...Betapa kelam hidupku......
...Betapa suram nasibku.......
...Di dalam dunia ini......
...Sepi......
...Hari-hari kian sepi......
...Tiada yang menemani.....
...Di saat Aku begini......
...Tuhan.......
...Berikanlah Rahmat-Mu...
...Di dalam hidup ini......
Sena kembali terisak. Dia mendengar suara radio entah punya siapa. Sena pun ikut melantunkan lagu Evi Tamala itu dengan deraian airmata.
Lagu itu adalah salah satu lagu favorite Sena. Dia pernah juara satu online di salah satu radio dangdut.
Sella terperanjat karena Sena makin menangis. "Alpa... Siapa yang setel lagu itu!? Matiin!!..." Teriak Sella.
"Gak ada yang setel! Gw lagi beli rujak! Abang rujak yang setel!" Teriak Alpa.
Sella menghela nafas. "Sena... Kamu jangan melo... Kena banget ya lagunya?" Sella mengusap airmata Sena.
Sena mengangguk. Dia masih menangis. Rizki sedang tidur, Dia lelah karena perjalanan jauh.
"Loh kok Sena nangis? Kenapa?" Tiba-tiba Alpa sudah berada didalam kamar Sella.
"Gak apa kok." Kata Sella.
"Sena.. Sella... mau rujak gak? Enak nih seger, panas-panas begini." Tawar Alpa.
"Sena... Kamu mau? Nanti Aku pesankan lagi." Kata Sella.
__ADS_1
Sena mengangguk. Dia mengambil uang dalam tas nya. Dia menyerahkan pada Sella.
"Kamu simpan saja. Aku ada kok." Kata Sella.
"Jangan Sella... Aku gak mau ngerepotin Kamu. Sudah dikasih tumpangan saja, Aku udah bersyukur. Masa jajan Kamu juga yang keluar uang." Kata Sena sambil memberikan selembar uang lima ribuan.
"Baiklah..." Kata Sella menerima uang dari Sena. "Kamu tunggu sini ya. Pedes kan?" Tanya Sella.
Sena mengangguk.
Tak lama rujak pun tiba di kamar Sella. Sena, Sella dan Alpa makan rujak bersama. Rizki terbangun karena mendengar suara tertawa dari Alpa dan Sella.
"Mama...." Dia bergegas turun dari tempat tidur.
"Iihhh Sena... Anaknya pinter banget, bisa turun dari tempat tidur sendiri." Puji Alpa.
Sena tersenyum. "Iya... Aku ajari kalau mau turun kakinya duluan."
"Gemesin banget sih anak Kamu." Kata Alpa yang mencubit pipi Rizki.
"Au Ma..." Kata Rizki.
"Pedes sayaang... Haaammm." Kata Sena.
"Auuu..." Rizki merengek.
Sena memilihkan buah yang belum kena bumbu rujak. Rizki menerimanya dan memakannya.
"Huhaaa... edes Ma..." Kata Rizki tapi Dia masih memintanya.
"Ya ampun....Doyan pedes ya?" Teriak Alpa.
"Alpa... Ngomongnya jangan teriak-teriak." Kata Sella.
"Iya... Rizki suka kaget kalau denger orang teriak. Dia kira dimarahi atau ada yang berantem." Kata Sena.
Rizki mencium pipi Alpa.
"Iiihhh... So sweet banget sih Kamu..." Canda Alpa.
Sena dan Sella tersenyum. Sella melihat Sena yang kembali bisa tersenyum. Sena yang periang dimata Sella ternyata menyimpan banyak duka.
______________________
Ponsel Sena berdering. Adzan isya baru saja selesai berkumandang.
"Sena... Ada telpon tuh." Kata Sella.
Sena melihat nama dilayar ponsel nya. "Kak Mita..." Gumam Sena. Tapi Sena enggan mengangkatnya.
"Siapa Sena?" Tanya Sella.
"Kakak sepupu Gw." Kata Sena.
"Kok gak diangkat? Angkatlah... Barangkali penting..." Kata Sella.
Sena menghela nafas. Deringan itu berhenti. Tapi tak lama berdering lagi. "Mas Fajri...." Gumam Sena. Sena langsung melempar ponselnya ke kasur.
"Loh kok dilempar?" Sella mengambil ponsel Sena.
"Jangan diangkat!" Pinta Sena agak keras.
Sella melihat nama diponsel itu. "Tadi Kamu bilang Kakak sepupumu, kok sekarang Dia yang telpon?" Sella bingung.
Sena mengangkat bahunya. Sena berpesan pada Sella agar tak menyebut nama Fajri di depan Rizki.
Ponsel Sena berdering lagi. Sella melihat. "Kak Mita nih..." Sella menyodorkan ponselnya kepada Sena.
__ADS_1
Sena bergegas mengangkatnya dan pergi keluar rumah. Rizki mengikuti Sena. Sella juga, menggandeng tangan Rizki.
"Sena... Kamu dimana?" Tanya Kak Mita tanpa basa basi.
"Aku... Aku ada Kak." Jawab Sena asal.
"Sena... Kamu ke rumah Kakak saja." Kata Kak Mita. Kak Mita mendengar suara bising kendaraan yang lewat depan rumah Sella.
"Kamu dimana sih Sena? Kok rame banget? Kamu gak lagi dikolong jembatan kan?" Kak Mita terdengar khawatir.
Sena menempelkan jari telunjuknya ke bibir agar Sella tak bersuara. Tapi Rizki malah merengek minta digendong. "Mama... Endong..."
"Sena... Kamu dimana? Biar Mas Tito jemput Kamu! Mas Tito khawatir nih. Mas Tito marah-marah, kenapa Kamu pergi dari rumah gak kesini saja!?" Kak Mita Panik.
"Aku gak apa Kak. Aku dapat lapak kok buat tidur..." Canda Sena.
"Ya Allah, Sena... Jadi Kamu benar di kolong jembatan?" Kak Mita tambah panik. "Sekarang Kamu bilang posisi Kamu dimana? Biar Kakak dan Mas Tito jemput!"
"Kak.. Halloo... halloo..." Sena pura-pura tak jelas dengan suara Kak Mita. Sena memutuskan hubungan telpon.
"Parah Lo, Sena... Kenapa gak Lo bilang, Kalau Lo sama Gw?" Sella tak suka.
"Biarin aja. Biar Mereka khawatir. Gw mau tahu, masih ada rasa peduli gak keluarga Gw sama Gw!" Kata Sena.
___________________________
"Sena dimana?" Tanya Mas Tito.
"Gak tahu Mas. Aku tanya Sena gak mau jawab. Aku bilang dikolong jembatan, iya katanya. Ya ampun Mas... Gimana ini? Aku khawatir Dia kenapa-napa. Perempuan seorang diri sama anak balita, udah malam lagi..." Kak Mita terisak.
"Coba Kamu telpon lagi. Biar Kita jemput malam ini juga." Pinta Mas Tito.
Kak Mita menganguk. Dia menghubungi Sena kembali tapi sudah tak aktif. "Gak aktif Mas..."
Mas Tito menghela nafas. "Kita doakan saja Sena gak apa-apa. Tadi kata Jose apa?" Tanya Mas Tito.
Keluarga Sena memang memutuskan mencari keberadaan Sena lewat Bang Jose. Jose mengatakan kalau Sena pergi ke arah utara.
"Utara itu ke tempat siapa?" Tanya Bunda.
"Fajri kali?" Kata Kak Mita.
"Jadi Sena kembali sama Fajri?: Kata Bunda.
"Belum tahu juga Bun. Gak mungkinlah Kak Sena kembali sama Mas Fajri." Kata Nina.
________________________
Fajri terus menghubungi Sena. Tapi Sena enggan mengangkatnya. Sena terlanjur sakit hati karena Fajri benar-benar gak peduli pada Sena dan Rizki.
Ponsel Sena semalaman bergetar. Sena gak bisa tidur karena getaran ponselnya.
Fajri juga mengirimkan pesan. "Dek... Kamu dimana? Biar Aku jemput."
Tapi Sena juga enggan membalasnya. Akhirnya ponsel Sena silent. Dia sudah sangat mengantuk. Lagi pula Dia tak enak dengan Sella yang sudah terlelap.
Fajri menghela nafas. Membuangnya kasar. "Kamu dimana Dek?! Kenapa gak balas SMS Aku? Kenapa telponku gak diangkat?"
"Apa Kamu marah sama Aku? Aku tadi baru bangun tidur, belum sadar banget." Batin Fajri.
Di waktu yang sama.
"Ya Allah... Lindungilah Puteriku dan cucuku dimana pun Mereka berada. Ampuni Aku Ya Allah... karena telah mengusir Puteri hamba. Hamba tak pernah menghiraukan kesengsaraannya selama ini." Bunda menangis dalam doa panjangnya.
Bunda terbangun di tengah malam. Dia teringat akan Sena dan Rizki. Biasa nya jam segini Sena akan terbangun membuatkan susu untuk Rizki.
Tapi malam ini tak ada aktifitas yang terlihat dari kamar Sena.
__ADS_1
Bunda juga sangat letih hari ini. Warung Sena cukup ramai. Barang dagangan Sena banyak yang sudah kosong. Tadi Bunda melihat kotak uang dagangan Sena kosong, hanya tinggal uang receh saja.