
"Maafkan Sena ya Bun." Sena bersimpuh di kaki Bunda. Rizki dalam gendongannya.
"Ya udah, Kamu balik lagi kesini ya." Pinta Bunda.
"Gak Bun. Sena gak mau tinggal disini kalau masih ada anjing itu." Kata Sena kesal.
Bunda menghela nafas. "Dia udah masak sendiri diatas. Cuci piring juga diatas. Bunda serba salah, Kamu dan Bang Tiar, Anak Bunda. Masa Bunda usir Abang Kamu?!" Bunda terdengar kesal.
"Ya udah Bun. Gak apa....Untuk sementara Sena tinggal di rumah Kak Mita aja. Tadi Sena abis ke Mpok Ella, makanya mampir kesini." Kata Sena.
"Apa kata Mpok Ella? Rizki sakit apa?" Tanya Bunda.
"Kangen sama Ayahnya. Biasa ada Ayahnya, sekarang gak ada. Jadi kepikiran." Kata Sena.
"Kamu udah minum air mineral yang Bunda titip ke Kak Mita?" Tanya Bunda.
"Udah Bun. Rizki juga minum." Kata Sena.
Bunda menghela nafas. "Gak enak sama Kak Mita kelamaan tinggal disana." Kata Bunda.
"Nanti Sena mau cari kerja, Bun. Sena udah masukin lamaran ke garmen. Tinggal nunggu panggilan." Kata Sena.
"Ya udah terserah Kamu aja. Kamu udah makan? Makan dulu sana kalau mau balik. Bunda tadi masak buat Bunda aja." Kata Bunda.
"Ya Bun, gak apa..Tadi mau kesini udah makan di rumah Kak Mita." Kata Sena.
Sena pun tak berlama-lama di rumah Bunda. Sena membantu Bunda sedikit merapihkan dagangannya. Dan melayani pembeli.
__________________________
"Tadi Fajri kesini." Kata Kak Mita.
"Kapan Kak? Dia bilang apa?" Tanya Sena antusias.
"Tadi pas Kamu baru jalan ke Mpok Ella." Kata Kak Mita.
"Haaahhh... Kok bisa gak ketemu ya Kak?" Sena heran.
"Ya itu kali, sengaja... Obat dari Pak Datuk." Kata Kak Mita.
"Obat dari Pak Datuk, yang mana Kak?" Sena bingung. Karena Dia tak minum obat dari kemarin.
"Yang kemarin Kamu minum sama Rizki. Terus Kakak cipratin di teras belakang dan depan." Kata Kak Mita.
"Ooohhh..." Sena mengangguk.
"Makanya Kamu sama Dia tak ketemu, selisih jalan." Kata Kak Mita. "Kamu tadi kerumah Bunda, kan?" Tanya Kak Mita.
"Ya Kak... Makanya Aku pulang sore gini. Tadi Aku bantuin menata dagangan Bunda. Kasihan lihatnya gak beraturan. Jadi bingung nyarinya kalau ada yang beli." Jelas Sena.
"Terus Rizki sakit apa?" Tanya Kak Mita.
"Kangen sama Ayahnya. Dia kan deket sama Mas Fajri. Sekarang malah gak pernah bertemu lagi." Sena menunduk sedih. Serba salah, kalau Dia ikuti Ego nya, anaknya sakit-sakitan. Tapi kalau mengalah, sudah pasti Mereka berdua akan sengsara.
"Ya udah... Kan udah diobati. Sebisa mungkin hindari bertemu dengan Dia." Kata Kak Mita.
"Ya Kak... Kemarin juga Sena udah menghindar dari Dia. Eh Kakaknya Sella malah gak suka Sena disana. Mau gak mau Sena mengangkat telpon dari Dia." Kata Sena menyesal.
"Kak... Besok Sena mau ngelamar kerja di garmen. Sena penasaran kenapa belum ada panggilan juga." Kata Sena.
__ADS_1
"Memang garmennya dimana?" Tanya Kak Mita.
"Jawa Barat Kak. Kabupaten..." Kata Sena.
"Ya udah kalau memang mau kerja, nanti biar Rizki sama Kakak." Kata Kak Mita.
"Ya Kak terima kasih." Kata Sena.
________________________
Sena sudah sampai garmen yang Dia lamar tapi belum dipanggil. Kemarin Sena sudah menelpon, Kata pihak garmen bingung mau gaji berapa.
Akhirnya Sena minta standar upah regional disana. Dan kini Sena sedang menunggu. Tapi lama Dia menunggu belum juga dipanggil. Padahal Dia sudah lapor diri.
Ponsel Sena berdering. Sena mengangkatnya.
"Hallo Dijah..." Sapa Sena.
"Sena... Lo dimana?" Tanya Dijah.
"Gw lagi di kabupaten jawa barat. Lagi nunggu interview." Jelas Sena.
"Ngapain jauh-jauh banget. Udah besok Lo ngelamar ke kantor Gw, jadi security." Kata Dijah.
"Memang lagi buka lowongan?" Tanya Sena.
"Ya lagi butuh untuk perempuan. Bodycheck karyawan perempuan." Jelas Dijah.
"Ya deh... Insya Allah besok gw kesana." Kata Sena.
Sena memutus hubungan telpon. Sena melihat kedalam garmen. Sepertinya Dia gak dianggap untuk jadi karyawan sini. Sena langsung meninggalkan pekarangan garmen tanpa berpamitan lagi.
_______________________
Tiba disana, Nina menunggu Sena sampai Sena selesai interview.
"Ijasahmu D3, apa gak sayang?" Tanya personalia PT itu.
"Gak apa Pak. Saya siap kerja. Gak masalah Ijasah saya gak terpakai." Kata Sena.
"Ya sudah nanti Kita hubungi kembali." Kata Personalia itu.
Sena pun berpamitan. Seorang laki-laki memperhatikan Sena dari tadi.
Berulang kali Dia mencuri pandang pada Sena. Tapi Sena tak menggubrisnya. Sena fokus mencari pekerjaan agar Dia punya penghasilan untuk membiayai hidupnya dan Anaknya.
Sena berjalan keluar Kantor. "Ehem... ehem..." Seseorang berdehem. "Sena..." Panggilnya.
Sena menoleh dan mengerutkan keningnya. "Dari mana Dia tahu namaku? Aku aja tak mengenalnya." Batin Sena.
"Maaf... Apa Saya mengenal Anda?" Tanya Sena.
"Tidak... Saya tahu nama Kamu, tadi personalia memanggil nama Kamu." Katanya.
"Oohh.. Ada apa ya?" Tanya Sena.
"Boleh Kita kenalan?" Tanya nya lagi. "Nama Saya Dedi..." Dia memperkenalkan diri.
"Oohhh..." Kata Sena.
__ADS_1
"Kamu baru melamar kesini, yah?" Tanya nya.
Sena mengangguk. "Iya."
"Diterima?" Tanya nya.
"Belum tahu. Katanya nunggu panggilan." Kata Sena.
"Ooohhh... Saya diterima tapi Saya pikir-pikir dulu, abis gajinya belum sesuai." Kata nya lagi.
"Oohhh... Maaf ya... Saya buru-buru. Adik Saya nungguin." Kata Sena.
"Boleh minta nomor telpon Kamu?" Tanya nya yang menghalangi jalan Sena.
"Aku gak punya nomor telpon. Panggilan nanti ke nomor Suami Saya." Kata Sena bohong.
"Ooohhh... Kamu punya suami?" Tanya nya.
Sena mengangguk. "Permisi yah..." Kata Sena sopan.
Dia segera menyingkir dari hadapan Sena. Dia terus memandangi tubuh Sena. Hingga Nina membawa Sena keluar dari parkiran PT itu.
"Siapa Kak?" Tanya Nina.
"Gak tahu." Kata Sena singkat.
"Aku kira teman Kakak." Kata Nina.
"Teman Kakak darimana? Kakak dari tadi dilihatin Dia terus. Kakak juga kaget Dia panggil nama Kakak. Aku kira teman dimana, gak tahunya Dia ngedenger personalia panggil nama Kakak. Jadi tahu Dia nama Kakak." Jelas Sena.
"Mau ngapain Kak, Dia?" Nina makin penasaran.
"Mau kenalan. Tadi minta nomor telpon." Kata Sena.
"Terus Kakak kasih?" Nina nampak tak senang.
"Kata Kakak gak punya nomor telpon. Terus nanti panggilan kerja, telpon kemana? Tanya Dia tadi. Kakak bilang aja ke nomor ponsel Suami Kakak. Hahahaha..... Dia langsung ciut." Sena tertawa.
"Jangan diladeni Kak." Kata Nina.
"Ya gak lah...." Kata Sena lagi.
"Terus gimana Kak? Diterima?" Tanya Nina lagi.
"Nunggu ditelpon kalau diterima." Kata Sena.
"Kira-kira Kakak diterima gak?" Tanya Nina.
"Kaya nya gak. Soalnya yang lain pada ditest PBB, Kakak gak." Sena nampak khawatir.
"Ya mudah-mudahan diterima Kak." Kata Nina.
"Aamiin...." Kata Sena.
"Oh ya Kak. Besok Kakak pindah ke kontrakan Aku aja yang baru. Aku kan dah pindah kerja. Daripada tinggal di rumah Kak Mita, gak enak Kak." Kata Nina.
"Ya... Besok jam berapa?" Tanya Sena.
"Sore aja ya. Aku ngambil gajiku yang terakhir di golf yang lama. Terus baru jemput Kakak." Jelas Nina.
__ADS_1
"Ya..." terserah Kamu aja. Kata Sena.